Dampak bencana di Aceh bukan hanya dirasakan manusia, melainkan satwa pun ikut merasakan deritanya. Pemerintah Aceh menyebut bencana ini sebagai "tsunami jilid dua".
29 Nov 2025 19:45 WIB · Lingkungan
ANTARA FOTO/Irwansyah Putra
Bukan hanya manusia, dampak bencana hidrometeorologi akibat siklon tropis Senyar di Aceh turut dirasakan satwa liar. Satu individu gajah sumatera ditemukan mati di antara timbunan kayu dan lumpur pascabanjir bandang di Kabupaten Pidie Jaya, Aceh. Pemerintah Aceh menyebutkan, bencana kali ini menjadi yang terparah setelah gempa dan tsunami 2004.
Dilansir dari Kompas.com, bangkai gajah itu ditemukan di Gampong Meunasah Lhok, Kecamatan Meureudu, Pidie Jaya, Sabtu (29/11/2025).
Lokasinya di wilayah yang masih terisolasi karena akses di sekitarnya masih terendam luapan Sungai Meureudu. Akses ke sana hanya bisa dilakukan dengan berjalan kaki sekitar dua jam.
Saat ditemukan, kepala dan setengah tubuh gajah itu terkubur material sisa banjir bandang, Selasa (25/11/2025). Gajah itu diduga terseret arus banjir bandang yang berasal dari kawasan hutan di hulu Sungai Meureudu.
Akan tetapi, lantaran kondisi medan yang sulit dan peralatan yang terbatas, warga belum mampu mengevakuasi bangkai gajah tersebut. Saat ini, bangkai satwa langka itu dikabarkan sudah mengeluarkan bau menyengkat.
Warga Desa Meunasah Lhok, Muhammad Yunus meyakini, bangkai gajah itu berasal dari hutan. Sebab, sepengetahuan Yunus, tidak pernah ada gajah yang hidup berkeliaran di sekitar kampungnya.
”Di desa ini tidak ada gajah, kami belum pernah lihat gajah. Biasanya gajah ada di hutan. Baru sekarang ini, kami lihat gajah di sini yang sudah mati karena banjir,” ujar Yunus.
Bukan hanya keberadaan bangkai gajah yang mengejutkan warga, tumpukan kayu-kayu besar di antara bangkai itu pun tidak kalah mengagetkan. Selama ini, warga tidak pernah melihat kayu-kayu berukuran raksasa tersebut.
”Kaget juga melihat kayu-kayu hutan sebesar ini bisa terbawa sampai ke sini. Saya pribadi tidak pernah melihat kayu-kayu sebesar ini,” kata Yunus.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/29/9a93e84ecfc1e62e7e577fc36b711b6d-antarafoto_gajah_mati_akibat_banjir_di_aceh_1764401895.jpg)
Wakil Bupati Pidie Jaya Hasan Basri membenarkan temuan bangkai gajah tersebut. Namun, dia belum bisa memastikan apa penyebab gajah itu ikut terseret material banjir bandang. Dia juga tidak bisa memastikan kenapa material banjir bandang itu dipenuhi tumpukan kayu hutan berukuran besar.
”Sampai hari ini, saya belum tahu kondisi di gunung (hutan) bagaimana. Apakah kayu-kayu ini akibat penebangan (ilegal) atau apa, kami belum tahu. Insya Allah, setelah ini, kami akan cek kondisi hutan,” tutur Hasan.
Terlepas dari itu, Hasan menduga, material kayu tersebut yang menjadi pemicu utama kerusakan parah terhadap permukiman warga maupun fasilitas umum.
”Material kayu yang terbawa derasnya limpasan banjir mengakibatkan kerusakan parah pada rumah warga, sekolah, rumah ibadah, dan fasilitas umum lainnya di sejumlah wilayah di Pidie Jaya,” ujarnya.
Kisah penemuan bangkai gajah itu kembali menjadi bukti nyata dampak bencana di Aceh sangat luar biasa. Bagi masyarakat, dampak bencana itu ibarat ”tsunami kecil”. Mereka membandingkannya dengan dampak gempa dan tsunami Aceh 2004.
Sejauh ini, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mendata, ada 35 orang meninggal, 25 orang hilang, dan delapan orang luka-luka akibat bencana di Aceh.
Hingga kini, banyak warga yang masih terisolasi karena akses transportasi maupun telekomunikasi dari dan menuju wilayahnya masih terputus. Warga yang terisolasi mulai mengeluhkan kekurangan stok makanan, air bersih, bahan bakar minyak (BBM), hingga mulai terjangkit penyakit pascabencana.
Situasi semakin sulit karena banyak warga yang kehilangan tempat tinggalnya. Hal itu membuat mereka semakin rentan terserang penyakit. Salah satunya dialami warga Peudada, Kabupaten Bireuen, Yusnawati M Saleh (60).
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2025/11/29/eecb984e-14f6-41c4-adb9-41b5b2a414a4.jpg)
Rumah Yusnawati yang sudah rapuh akibat hantaman banjir akhirnya ambruk dan hanyut pada Jumat (28/11/2025) sore. Saat ini, hanya lantai yang tersisa dari rumahnya. Untuk tempat bernaung, dia hanya mengandalkan pondok sementara yang berada tak jauh dari bekas halaman rumahnya.
Dia tidak mau ikut tinggal ke lokasi pengungsian yang berada di sejumlah bangunan pemerintah. Lokasi pengungsian dinilai tidak layak. Saat ini, ratusan orang berkumpul tanpa sanitasi yang baik.
Mau pergi ke rumah anak atau sanak keluarga lainnya, keadaannya tidak lebih baik. Bahkan, rumah anaknya masih tertimbun lumpur setinggi kurang lebih setengah meter.
”Tidak tahu apa yang harus saya harapkan. Pasrahkan saja semuanya kepada Allah. Semoga segera ada pertolongan agar kami bisa kembali dapat tempat tinggal yang layak,” kata Yusnawati.
Pemerintah Aceh mengklaim dampak bencana kali ini menjadi yang terparah sejak gempa dan tsunami Aceh 2004. Gubernur Aceh Muzakir Manaf alias Mualem bahkan menyebut bencana ini sebagai ”tsunami jilid dua”.
”Dampak bencana ini sangat besar dan begitu luas. Aceh seakan mengalami tsunami yang kedua kalinya,” ujar Mualem saat Apel Tim Pemulihan Bencana di Lapangan Udara Sultan Iskandar Muda, Banda Aceh, Sabtu.
Karena dampak yang begitu parah dan warga sudah terdampak berhari-hari, Mualem menginstruksikan penanganan bencana harus dipercepat, terukur, dan tanpa jeda.
Dia menekankan, pembukaan akses darat harus menjadi prioritas utama agar wilayah terisolasi segera bisa diakses. Itu menjadi faktor kunci untuk memperlancar dan memperluas jangkauan pendistribusian bantuan.
Apalagi, dari informasi yang dihimpun pemerintah Aceh, banyak wilayah yang mulai kritis karena kekurangan stok makanan, air bersih, BBM, dan peralatan pengungsian.
”Buka segera akses, buka segera jalan, dan percepat pengantaran bantuan,” kata Mualem.
Dampak bencana ini sangat besar dan begitu luas. Aceh seakan mengalami tsunami yang kedua kalinya.
Di sisi lain, Mualem mengingatkan seluruh personel tim gabungan dari BNPB, Badan SAR Nasional, TNI, dan Polri tetap mengutamakan keselamatan. Alasannya, sejumlah kawasan masih rawan mengalami banjir dan longsor susulan.
”Kita punya tanggung jawab moral kepada masyarakat, tetapi keselamatan petugas juga harus diprioritaskan,” tuturnya.
Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo usai menyerahkan bantuan kemanusian kepada Pemerintah Aceh menyampaikan, pihaknya mengerahkan seluruh kemampuan untuk segera memulihkan jaringan kelistrikan di Aceh, terutama jalur Arun-Bireuen dan Bireuen-Takengon.
Secara keseluruhan, bencana di Aceh menyebabkan 12 menara transmisi listrik roboh. Itu yang mengakibatkan listrik di Aceh sempat padam total di awal-awal masa bencana yang turut berimbas terhadap gangguan telekomunikasi.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/29/dd6a4d81290e179ec1f84da131f85288-antarafoto_penyisiran_daerah_terdampak_banjir_di_pidie_jaya_1764401925.jpg)
”Selain memulihkan, tower-tower jaringan kelistrikan yang roboh, kami juga mengirim 220 unit genset ke berbagai titik kritis, memastikan penyediaan BBM, dan menyiapkan bantuan sosial melalui zakat pegawai serta program CSR untuk masyarakat terdampak,” ujar Darmawan.
Dampak bencana hidrometeorologi di Aceh melebihi yang dibayangkan manusia. Bahkan, bukan hanya manusia, satwa pun ikut merasakan deritanya. Semoga penanganan bencananya bisa sesuai harapan, cepat, tepat, dan akurat agar ”Bumi Serambi Mekkah” segera tersenyum kembali.
Penulis:
Adrian FajriansyahEditor:
Cornelius Helmy HerlambangPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase