Sembari sejumlah cabor bersiasat untuk Asian Games Aichi-Nagoya 2026, KOI mendorong audiensi Kemenkeu. Adapun Kemenpora meminta peran aktif para ketua cabor.
15 Mei 2026 14:31 WIB · Olahraga
KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN
Problem klasik soal anggaran kembali membayangi langkah cabang-cabang olahraga menjelang partisipasi di ajang olahraga internasional. Terbaru, problem ini menjadi kendala cabang olahraga dalam menyiapkan para atletnya untuk Asian Games Aichi-Nagoya 2026, 19 September-4 Oktober.
Para pengurus cabang olahraga (cabor) mengeluhkan hal tersebut ke Komite Olimpiade Indonesia (KOI), lembaga yang mengatur partisipasi Indonesia dalam ajang olahraga internasional seperti Asian Games. Saat Rapat Anggota KOI 2026 di Jakarta, Sabtu (9/5/2026), Ketua Umum KOI Raja Sapta Oktohari mengemukakan keluhan cabor di pembukaan yang juga dihadiri Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir.
Sejumlah cabor kesulitan menggelar pemusatan latihan nasional (pelatnas) sebagai persiapan Asian Games Aichi-Nagoya 2026 karena dana dari pemerintah belum turun. Atlet pun terkena dampaknya, mulai dari batal mengikuti uji coba hingga dipulangkan ke klub atau daerah masing-masing.
Beberapa cabor sebenarnya bersiasat agar persiapan Asian Games itu tetap bisa berlangsung di tengah keterbatasan. Pengurus Besar Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PB PASI), misalnya, mengeluarkan dana talangan dari federasi untuk keberlangsungan pelatnas, memilah kembali uji coba yang diikuti atlet, serta memprioritaskan atlet peraih medali di SEA Games untuk bertahan di pelatnas.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/21/3d170b16fb061f7ab3fdaa0a7ea7e959-FAK_4937.jpg)
”Dari Bapak (Ketua Umum PB PASI Luhut Binsar Pandjaitan), ingin pelatnas berkesinambungan, tidak boleh terputus, sehingga setelah SEA Games Thailand 2025, atlet kembali berlatih. Memang problemnya lebih ke anggaran yang masih menunggu reviu Kemenpora, tapi bagaimanapun caranya kami coba cari dananya,” ujar Wakil Sekretaris Umum PB PASI Singgih Widiyastono.
Singgih mengatakan, federasi mengeluarkan biaya mandiri untuk menalangi pelatnas sejak kembali digelar pada awal tahun. Dana itu, salah satunya, berasal dari sponsor. Untuk itu, PB PASI menggelar acara-acara yang mendorong keterlibatan swasta untuk mendukung prestasi atlet.
Selain itu, PB PASI juga menyiasati problem pendanaan itu dengan meninjau kembali rencana uji coba atlet. Atlet tetap dikirimkan untuk uji coba internasional, tetapi jumlah keikutsertaannya dikurangi. Adapun rencana pelatnas di luar negeri, seperti sebelum SEA Games, untuk sementara ditunda.
Walakin, Singgih memastikan problem dana itu tidak berpengaruh pada honor atlet dan pelatih. PB PASI menjamin tidak ada pengurangan dari sisi honor ataupun akomodasi.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/14/5715277c44f8233a2df52b8b35bfa104-DSC02963.jpg)
Langkah lain yang ditempuh ialah pengurangan jumlah atlet di pelatnas. Semula terdapat 30 atlet yang berlatih di pelatnas untuk persiapan Asian Games. Mereka adalah peraih medali di SEA Games Thailand 2025.
Sebanyak 15 atlet di antaranya merupakan bagian dari pemusatan latihan nasional peningkatan prestasi olahraga nasional (pelatnas PPON), program pembinaan intensif yang dikelola Kemenpora untuk mempersiapkan atlet menghadapi ajang internasional. Sisanya atlet program pelatnas mandiri.
Per 22 April, PB PASI memangkasnya menjadi total 10 atlet. Mereka adalah sembilan peraih medali emas dan satu peraih perak di SEA Games Thailand 2025, yaitu Lalu Muhammad Zohri. Status mereka pun berubah menjadi atlet pelatnas mandiri atau program yang diselenggarakan secara swadaya oleh pengurus cabor, tanpa dukungan anggaran langsung dari pemerintah.
”Kami menyadari memang tidak bisa sepenuhnya bergantung pada pemerintah sehingga kami mencoba menyiasatinya dengan beragam cara. Meski begitu, kami berharap tetap ada kabar baik dari Kemenpora terkait dengan anggaran,” ujar Singgih.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/19/484bce41b5412643add63dbed19ae785-cropped_image.jpg)
Seharusnya kami bulan ini berangkat ke India untuk Kejuaraan Asia. Namun, kami tidak berangkat karena mungkin keadaan sedang tidak baik-baik saja.
Seperti atletik, angkat besi pun terus menjalankan pelatnas selepas SEA Games Thailand 2025. Namun, para atlet tidak mendapatkan kesempatan uji coba sebelum Asian Games.
Padahal, ada Kejuaraan Asia yang digelar Gandhinagar, India, pada 10-17 Mei 2026. Ajang ini juga bisa menjadi momentum untuk memetakan persaingan di Asian Games. Apalagi, menurut peraih medali emas Olimpiade Paris 2024, Rizki Juniansyah, banyak atlet baru yang bermunculan dari negara lain, seperti Korea Utara dan China.
”Terus ada dari Korea Selatan juga yang saya tidak tahu mereka seperti apa latihannya. Tapi, yang penting, saya tetap berjuang di tempat latihan,” kata Rizki.
”Seharusnya kami bulan ini berangkat ke India untuk Kejuaraan Asia. Namun, kami tidak berangkat karena mungkin keadaan sedang tidak baik-baik saja. Jadi, kami nanti akan fokus ke seleksi nasional sebelum Asian Games,” ujarnya.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/09/24/c6976d0d-c984-40c8-8b8a-6730908c8ed3_jpg.jpg)
Persatuan Olahraga Dayung Seluruh Indonesia (PODSI) juga menggelar pelatnas selepas SEA Games agar program latihan berkesinambungan. Akan tetapi, mereka lebih selektif memilih atlet untuk menyiasati problem anggaran.
Wakil Sekretaris Jenderal I PODSI Brata Tryana Hardjosubroto mengatakan, pelatnas diikuti sekitar 30 atlet yang terdiri atas tiga disiplin, yaitu kano, kayak, dan rowing. Para atlet ini dipilih berdasarkan potensi raihan medali di Asian Games nantinya.
Menurut Brata, problem anggaran memunculkan lagi urgensi komitmen atas peningkatan prestasi olahraga yang tidak bisa dilakukan secara instan. Walakin, Brata pun memahami kondisi geopolitik ataupun ekonomi nasional sedang tidak baik-baik saja. Untuk itu, PODSI memutuskan untuk tetap melanjutkan latihan di tengah keterbatasan, termasuk honor para pelatih yang dibayarkan bertahap.
”Tentu kami berharap segera ada solusi. Namun, pertama-tama, pasti berharap keadaan keuangan negara baik. Karena kami tahu, peningkatan prestasi olahraga hanya salah satu dari kewajiban pemerintah. Tentu ada kewajiban lainnya, seperti menjamin kesehatan masyarakat, pendidikan, dan lainnya,” ujar Brata.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/10/17/52810740ba1a1bd695e21d7b2550fbf8-DSC04521.JPG)
Sembari federasi olahraga bersiasat dengan cara masing-masing, KOI meminta waktu audiensi dengan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa untuk membahas kebutuhan pembiayaan tersebut. Menurut Raja Sapta Oktohari, audiensi ditempuh untuk menyelaraskan kepentingan semua pemangku kebijakan guna mendorong perwujudan komitmen peningkatan prestasi olahraga.
”Semangat Bapak Presiden sudah disampaikan langsung pada saat pemberian bonus prestasi pada saat SEA Games di Istana lalu. Kita langsung merasakan bahwa Presiden sangat antusias dan menggebu-gebu untuk melihat para atlet Indonesia lebih berprestasi lagi di kancah-kancah baik itu Asian Games maupun Olimpiade,” kata Okto.
”Harapannya, stakeholder dari pemerintahan dan semua stakeholder di olahraga itu bisa selaras dan memberikan dukungan yang maksimal,” ujarnya.
Adapun Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir mengatakan, pihaknya tetap akan mengajukan anggaran pelatnas ke Kementerian Keuangan. Namun, selain upaya itu, Erick juga meminta keterlibatan aktif para ketua federasi olahraga untuk memuluskan pencairan anggaran tersebut.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/26/c12c9150f3b9732ec20d75b50f6603e4-cropped_image.jpg)
Seperti diketahui, ada sejumlah ketua induk olahraga yang berada di dalam pemerintahan, bahkan mengisi posisi strategis. ”Saya berharap kepada pimpinan cabang olahraga yang juga ada di kabinet. Ada Pak Rosan (Roeslani) itu pimpinan angkat besi yang memberikan medali emas Olimpiade. Nah, bisa membantu juga bicara dengan tentu kabinet yang lain,” kata Erick.
”Pak Menko Airlangga (Hartanto), itu juga pimpinan wushu. Jadi, nanti saya yakin karena di kabinet juga banyak yang ngerti olahraga, mudah-mudahan juga bisa menjadi jembatan untuk memberi pengertian apa pelatnas yang diinginkan Bapak Presiden itu. Karena kadang-kadang komunikasi itu penting,” ujarnya.
Rosan, Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Angkat Besi Seluruh Indonesia (PB PABSI) juga merupakan Menteri Investasi dan Hilirasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal dan Chief Executive Officer (CEO) Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara. Adapun Airlangga, Ketua Umum Pengurus Besar Wushu Indonesia (PBWI), adalah Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Indonesia.
Sementara itu, Ketua Umum PB PASI Luhut Binsar Padjaitan juga merupakan Ketua Dewan Ekonomi Nasional yang jadi mitra strategis Presiden dalam merumuskan kebijakan ekonomi.
Penulis:
Rebiyyah SalasahEditor:
Wisnu Aji DewabrataPenyelaras Bahasa:
Nur Adji