Indonesia meruntuhkan hambatan demi mengalahkan Korsel di Piala Asia U-17. Terus digempur tak membuat ”Garuda Muda” ceroboh. Kalah postur, tak inferior bola udara.
05 Apr 2025 14:04 WIB · Olahraga
Tim U-17 Indonesia memang kalah segalanya dalam barometer permainan menyerang dan ketahanan penguasaan bola dari Korea Selatan pada laga pertama Grup C Piala Asia U-17 2025, Kamis (4/4/2025), di Stadion Pangeran Abdullah al-Faisal, Jeddah, Arab Saudi. Tetapi, tiga poin yang berhasil dikunci ”Garuda Muda” lebih dari sekadar faktor keberuntungan.
Dalam perjalanan laga yang berlangsung sekitar 105 menit, pemain-pemain skuad remaja Indonesia hanya mengumpulkan durasi penguasaan bola tidak lebih dari 35 menit. Durasi penguasaaan bola itu amat timpang dengan Korsel yang menguasai bola hampir 70 menit.
Minimnya penguasaan bola itu juga disebabkan gaya permainan menekan Korsel yang tidak sedikitpun memberikan “nafas” bagi pemain Indonesia untuk nyaman memainkan bola. Kondisi itu menyebabkan skuad ”Garuda Muda” mudah kehilangan bola sebelum mencapai sepertiga lapangan.
Catatan akurasi operan Indonesia hanya 75 persen. Sebaliknya, pemain-pemain ”Pasukan Taegeuk”, julukan Korsel, di atas 85 persen.
Terlepas dari penguasaan bola dan akurasi operan yang minim, pemain-pemain Indonesia menunjukkan kedewasaan dalam bermain bertahan. Tiga bek tengah yang terdiri dari Muhamad Al Gazani, Putu Panji, dan Mathew Baker tampil sangat tenang meskipun sudah melihat pemain Korsel melepaskan tembakan ketika laga baru berjalan 50 detik.
Mereka tampil bak menyesap kecanduan bertahan. Tidak ada kepanikan dari ketiganya untuk menghadapi gempuran bertubi-tubi Korsel yang diasuh Pelatih Baek Ki-tae.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/05/ee89454847065a9726b5e907af760a7c-IMG_20250405_WA0002.jpg)
Meskipun Korsel bisa merebut kembali penguasaan bola di sepertiga akhir pertahanan Indonesia dalam mayoritas kesempatan, pemain Garuda Muda tidak sedikit pun kehilangan fokus. Chemistry ketiganya membuat pemain-pemain Korsel frustrasi karena berkali-kali gagal.
Pada babak pertama, Korsel bisa melepaskan sembilan tembakan yang dua di antaranya membuat kiper Indonesia, Dafa Al Gasemi, melakukan tangkapan. Setelah turun minum, akurasi 12 tembakan Korsel menurun drastis.
Mereka hanya menghasilkan satu tembakan tepat sasaran. Hal itu dilakukan gelandang, Jin Geon-yong, melalui sepakan mendatar yang bisa ditepis Dafa. Selain itu, lima tembakan lain pemain Korsel bisa diblok pemain bertahan Indonesia.
Indonesia hanya menghasilkan lima tembakan di gim pertama yang menghasilkan dua sepakan mengarah ke gawang. Dwi tembakan tepat sasaran itu diciptakan oleh gelandang Evandra Florasta melalui eksekusi penalti di menit 90+2. Tembakan penaltinya bisa ditepis kiper Korsel, Park Do-hun, tetapi Evandra membalas kegagalannya itu dengan memenangi second ball untuk menggetarkan gawang Korsel.
Secara total, Indonesia hanya bisa lima kali menciptakan penguasaan bola di dalam kotak penalti Korsel. Meski begitu, Garuda Muda menghasilkan dua peluang emas. Selain penalti Evandra, peluang emas pertama Indonesia dimiliki penyerang, Mierza Fijatullah, pada menit ke-14.
Tetapi, pemain yang membawa Asiana juara Liga Kompas U-14 musim 2023-2024 itu gagal memaksimalkan peluang terbaiknya. Park menangkap bola sebelum Mierza melakukan sepakan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/05/2d6c65491c9f625520160ada91d9c852-WhatsApp_Image_2025_04_05_at_12.23.28.jpeg)
Selain bertahan dalam permainan terbuka atau open play, pertahanan Indonesia juga mampu memenangi 100 persen duel ketika menghadapi tujuh sepakan pojok Korsel. Padahal, secara postur tubuh, Korsel unggul mutlak dari ”Garuda Muda”.
Dari daftar 23 pemain yang dibawa ke Piala Dunia U-17 2025, ”Pasukan Taegeuk” mencatatkan rerata 180,61 centimeter (cm). Hanya Iran (182,17) yang memiliki skuad lebih tinggi dari 15 kontestan lainnya.
Evandra (pencetak gol) bermain cukup baik. Tetapi, saya melihat semua pemain tampil luar biasa.
Adapun Indonesia adalah tim terpendek kedua di Arab Saudi 2025. Zahaby Gholy dan kawan-kawan hanya memiliki rerata tinggi 173,13 meter. Sebagai gambaran, Nova tidak punya satu pun outfield players (pemain non-kiper) yang bertinggi 180 cm. Adapun Korsel memainkan enam pemain tinggi lebih dari 180 cm sejak sepak mula.
Indonesia sudah memahami gaya sepak pojok in-swing atau mengarahkan bola dekat sisi gawang dan menyasar sisi tiang dekat Korsel. Dua hingga tiga pemain Indonesia bersiaga di tiang dekat. Kemudian, saat bola dilepaskan ke tiang jauh, Dafa akan berusaha melakukan duel udara.
Penampilan tanpa cela dalam pertahanan itu membantu Indonesia belum kemasukan pada empat laga resmi beruntun. Tiga pertandingan lainnya berlangsung pada babak kualifikasi Piala Asia 2025, tahun lalu.
Nova memuji penampilan kolektif anak asuhannya. Menurut Nova, semua pemain yang berlaga memberikan penampilan terbaik.
“Evandra (pencetak gol) bermain cukup baik. Tetapi, saya melihat semua pemain tampil luar biasa,” tutur Nova.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/05/88dd5a86b070d07c0676cf727cd480cf-IMG_20250405_WA0001.jpg)
Nova, mantan bek timnas Indonesia dekade awal 2000-an, menularkan pengalamannya kepada pemain-pemain Garuda. Tidak hanya tampil apik, permainan bertahan Indonesia juga tanpa cela. Indikasi itu bisa dilihat dari tidak ada kartu kuning yang diterima pemain Garuda Muda, walaupun dalam mayoritas durasi laga ditekan Korsel.
Evandra dan kawan-kawan sudah memahami situasi yang bakal mereka hadapi ketika melawan Korsel yang doyan menyerang. Di sisi lain, Nova menyiapkan pola serangan baku untuk memberikan kejutan kepada pemilik dua gelar juara Piala Asia U-17 itu.
Senjata rahasia Indonesia berasal dari jurus lemparan jarak jauh maut. Dalam dua babak di gim pertama, ”Garuda Muda” mendapat kesempatan dua lemparan jarak jauh pada masing-masing babak.
Seperti ketika menyaksikan timnas Indonesia masih diasuh pelatih asal Korsel, Shin Tae-yong, tiga bek tengah akan maju ke kotak penalti lawan demi menyambut lemparan ke dalam jarak jauh itu. Penalti yang diberikan wasit China, Jin Jingyuan, berasal dari situasi lemparan ke dalam jarak jauh. Lalu, sontekan Mathew mengenai tangan bek Korsel, So Yoon-woo.
Indonesia juga beberapa kesempatan berusaha melakukan serangan balik cepat. Transisi positif diinisiasi oleh penyerang sayap yang diisi Fadly Alberto dan Zahaby Gholy di babak pertama. Di babak kedua, tempat Gholy digantikan oleh rekannya asal tim Persija Jakarta Elite Pro Academy, Fandi Ahmad.
Para penyerang sayap mengandalkan aksi individu dan operan cepat satu-dua untuk membongkar pertahanan Korsel. Minimnya dukungan dari lini tengah menyebabkan pola serangan terbuka itu mudah diantisipasi oleh ”Pasukan Taegeuk”.
“Kami bermain bagus, tetapi masih banyak yang harus kami benahi. Kami memiliki waktu dua hari untuk memperbaiki diri untuk tampil lebih baik di gim selanjutnya (lawan Yaman),” kata Evandra kepada AFC Media.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/05/2d6c65491c9f625520160ada91d9c852-WhatsApp_Image_2025_04_05_at_12.23.28.jpeg)
Nova mengingatkan anak asuhannya bahwa perjuangan mereka untuk merebut tiket Piala Dunia U-17 2025 baru dimulai. Ia tidak ingin pemain Indonesia U-17 terlena dengan kemenangan pertama atas Korsel di ajang Piala Asia U-17.
”Pemain jangan terlena karena masih ada dua pertandingan lagi. Saya akan mempersiapkan tim untuk melanjutkan performa positif melawan Yaman,” tutur Nova.
Pada laga lain, Yaman menumbangkan Afghanistan, 2-0. Dengan situasi itu, pemenang laga antara Indonesia kontra Yaman, Senin (7/4), akan memastikan langkah ke babak perempat final sekaligus memastikan partisipasi di Piala Dunia U-17 2025 di Qatar, November nanti.
Penulis:
Muhammad Ikhsan MaharEditor:
Wisnu Aji DewabrataPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase