Ruben Amorim menandai era kepelatihannya di MU dengan pembelian Matheus Cunha. Apakah Cunha yang bersinar di Wolves bisa berbicara banyak dalam sistem ala Amorim?
02 Jun 2025 07:30 WIB · Olahraga
Setelah rentetan hal buruk yang menimpa pada musim lalu, Manchester United akhirnya menghadirkan berita baik pada awal jendela transfer musim panas. Mereka berhasil memboyong pemain tim nasional Brasil, Matheus Cunha, dari Wolverhampton Wanderers.
”Setan Merah” telah mengaktifkan klausul pelepasan gelandang serang 28 tahun itu, sebesar 62,5 juta pound sterling (Rp 1,37 triliun), untuk membawanya ke Stadion Old Trafford. Cunha akan menandatangani kontrak selama lima tahun dengan opsi perpanjangan setahun.
Cunha berada di Manchester selama akhir pekan untuk menyelesaikan pemeriksaan medis dengan calon klub baru. Kesepakatan yang tinggal menunggu persetujuan visa kemungkinan akan rampung setelah sang pemain pulang dari tugas bersama timnas pada akhir Juni 2025.
Pelatih Kepala Ruben Amorim akhirnya menandai rezim di MU dengan pembelian besar. Cunha akan menjadi pemain pertama yang dibeli lebih dari 50 juta pound sterling di era Amorim. Transfer itu sekaligus membuka aktivitas jendela transfer musim panas MU yang akan sangat sibuk.
Apakah Cunha akan cocok di MU dan sistem bermain ala Amorim? Pertanyaan itu bisa terjawab dengan betapa cepat Setan Merah merampungkan transfer sang pemain. MU bahkan tidak ragu menebus klausul pelepasan Cunha tanpa negosiasi berlarut-larut.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/29/42d8dde0398b8a4a61c6f0c61bc07f94-Britain_Soccer_Premier_League_126370287.jpg)
Cunha berkontribusi dalam 40 gol Wolves di Liga Inggris selama dua musim terakhir (27 gol dan 13 asis). Catatan itu saja sebenarnya sudah cukup untuk menggambarkan kebutuhan MU terhadap sang pemain serba bisa tersebut. Adapun MU bermasalah dalam urusan gol nyaris sepanjang musim lalu.
Lihat saja klasemen akhir liga musim 2024-2025. MU finis di peringkat ke-15 dengan hanya mencetak 44 gol. Jumlah tersebut jauh lebih rendah dari Wolves (54 gol) yang berada satu peringkat lebih rendah. Tim asuhan Amorim masuk dalam lima tim dengan catatan gol paling sedikit.
Pelatih Kepala Wolves Vitor Pereira berkata, Cunha adalah solusi paling instan ketika tim sedang butuh gol. ”Dia pemain yang spesial, bisa membuat perbedaan dalam detail kecil. Itu tidak ada urusan dengan kerja keras. Semua itu murni kualitas, kualitas individu dalam dirinya,” ujarnya.
Sepak bola jelas bukan matematika. Hitung-hitungan di atas kertas tidak berlaku. Kontribusi gol Cunha di Wolves tidak serta-merta berpindah ke MU. Meskipun begitu, potensi Cunha di Setan Merah terbilang besar karena banyak kecocokan dalam banyak hal.
Salah satu dan terpenting adalah keahlian Cunha bermain dalam formasi tiga bek. Wolves, di era pelatih sebelumnya, Gary O’Neil hingga Pereira, sangat mengandalkan formasi tiga bek. Cunha sudah terbiasa dalam skema 3-4-2-1, 3-4-3, ataupun 3-5-2 dalam dua musim terakhir.
Seperti diketahui, Amorim datang ke MU pada pertengahan musim lalu dengan pendekatan baru. Dia mengubah sistem empat bek ala pelatih sebelumnya, Erik ten Hag, menjadi tiga bek. Perubahan itu tidak berjalan lancar sesuai dengan harapan karena banyak pemain kesulitan beradaptasi.
Menariknya, Cunha bisa bermain di banyak posisi sekaligus dalam formasi tiga bek. Dia bisa menjadi penyerang sayap, gelandang serang, ataupun penyerang tengah. Mantan pemain Atletico Madrid itu paling sering diturunkan sebagai gelandang serang sisi kiri dalam formasi 3-4-2-1.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2021/08/07/52ab1259-f6fa-4d7a-bf42-c5ad7ba819b3.jpg)
Amorim juga sering menggunakan skema 3-4-2-1. Hanya saja, dua pemain di belakang penyerang biasanya berbagi tugas. Satu pemain sebagai kreator peluang, seperti Bruno Fernandes, dan satu lagi pemain cepat yang beroperasi di sayap, seperti Alejandro Garnacho.
Bersama Cunha, peran dua pemain bisa disatukan. Dia bukan pemain kreatif murni yang punya visi dan sentuhan magis layaknya Fernandes. Akan tetapi, Cunha bisa menghasilkan peluang dari dribel progresif. Dia mampu dan berani membawa bola dari lini tengah ke depan seorang diri, atribut khas pesepak bola Brasil yang tidak ada di skuad MU saat ini.
Kemampuan Cunha itu sangat efektif dalam membongkar pertahanan lawan. Menurut data Opta, dia sudah menghasilkan 55 tembakan dan 38 kreasi peluang dari dribel progresif dalam dua musim terakhir. Aksi individu tersebut berujung dengan enam gol dan enam asis untuk Wolves.
Micah Richards, mantan bek Manchester City, sangat paham dengan kemampuan para bemain bertipe menyerang. Dia mengamati itu sepanjang kariernya. Menurut dia, Cunha tidak hanya memiliki modal dribel apik, fisik kuat, dan insting gol, tetapi juga kecerdasan bermain yang memukau.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/27/79f1b17d356a99854d0d7be265b686c0-cropped_image.png)
”Kecerdasan bermainnya sangat sensasional. Dia adalah salah satu pemain yang bisa membongkar pertahanan lawan dengan mudah. Dia bisa menemukan ruang kecil dan membuat keputusan tepat di waktu tepat. Saat bersama bola, dia adalah pemeran utama di lapangan,” puji Richards.
Walaupun belum terbukti akan berhasil atau tidak, pembelian Cunha bisa dikatakan sangat sesuai dengan kebutuhan MU saat ini. Pembelian itu tepat untuk mendukung sistem ala Amorim. Penggemar Setan Merah bisa sedikit tersenyum mengingat pembelian tepat merupakan hal langka bagi MU dalam beberapa musim terakhir. (AP/REUTERS)
Penulis:
Kelvin HianusaEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .