Saat tim dari ”liga petani” menjuarai Liga Champions untuk pertama kali, tim-tim Inggris yang mengklaim punya liga terbaik malah gagal lolos ke partai puncak.
01 Jun 2025 17:46 WIB · Olahraga
Kejayaan Paris Saint-Germain di Liga Champions memberikan tamparan tidak langsung ke tim-tim dari Liga Inggris. Jangankan juara, bahkan tidak ada finalis dalam dua musim terakhir dari liga yang digadang-gadang paling kompetitif sedunia tersebut. PSG yang berasal dari Liga Perancis, sering disebut ”liga petani”, justru mampu merajai Eropa.
Dominasi tim-tim Inggris mencapai puncak pada musim 2017-2018 sampai 2022-2023. Selalu ada wakil Inggris di final, kecuali dalam musim spesial di tengah pandemi Covid-19 (2019-2020). Dua kali di antara rentang waktu tersebut, partai puncak bahkan berlangsung antarsesama wakil Inggris.
Tren itu mendadak berubah dalam dua musim terakhir. Seperti musim ini, finalis justru datang dari Liga Perancis yang kurang kompetitif dan Liga Italia yang tertinggal dalam sisi finansial. Pertanyaan pun muncul, apakah faktor yang menyebabkan lunturnya dominasi dari tim-tim Inggris tersebut?
Alasan yang sering keluar dari para pelatih Liga Inggris adalah jadwal padat dan kompetisi ketat. Tim-tim besar biasanya bersaing di empat kompetisi sekaligus saat mayoritas klub di negara lain hanya mengikuti tiga kompetisi. Selain jumlah kompetisi, persaingan juga jauh lebih ketat karena kualitas antartim yang cukup seimbang.
Alasan tersebut kurang relevan dipakai musim ini. Arsenal dan Liverpool, wakil terkuat dari Inggris, sudah tereliminasi sejak babak awal Piala FA. Mereka juga tidak terlalu memfokuskan konsentrasi di liga domestik. Liverpool sudah unggul terlalu jauh atas Arsenal dalam perburuan gelar liga. Namun, hasilnya, Liverpool tersisih di 16 besar dan Arsenal di semifinal.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/01/46d0f83d9bae79e7df7459fcae698792-APTOPIX_Germany_Soccer_Champions_League_Final_3_.jpg)
Penyebab utama kegagalan para wakil Inggris pada musim ini adalah PSG. Juara baru Liga Champions itu datang ke final dengan julukan ”pembunuh tim-tim Inggris”. Tim asuhan Pelatih Luis Enrique menumbangkan Liverpool, Aston Villa, dan Arsenal berturut-turut sejak 16 besar hingga semifinal.
Apakah wajar kalah dari PSG? Tanyakan saja itu kepada Inter Milan, lawan mereka di partai puncak. PSG meraih trofi ”Si Kuping Lebar” setelah kemenangan terbesar dalam sejarah final, 5-0, di Stadion Muenchen Football Arena, Minggu (1/6/2025) WIB. Hasil itu memperlihatkan mereka sedang berada di dunia berbeda.
Steven Gerrard, mantan gelandang Liverpool, sampai terkagum-kagum dengan PSG seusai final. Menurut dia, PSG merupakan tim terlengkap di turnamen dan pantas juara. ”Tim ini bisa mengalahkan Anda dengan kecepatan, kualitas teknik, atau bola mati. Begitu banyak pengubah permainan dan bakat di dalamnya, termasuk pelatih yang spesial,” ujarnya.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/01/4d50f735-db82-4b7e-abd7-02db23ea6d62_jpg.jpg)
Tim-tim Inggris selalu diunggulkan di turnamen terbesar se-Eropa tersebut karena sangat kuat dari sisi finansial. Mereka bisa meningkatkan kualitas skuad dengan belanja pemain, tanpa perlu khawatir lebih terhadap neraca keuangan klub. Terbukti, dalam data Transfermarkt, tiga wakil Inggris menempati enam besar skuad dengan total nilai pasar tertinggi.
Jika kekuatan finansial dan nilai pasar skuad menjadi parameter, dominasi PSG menjadi relevan. PSG memang berasal dari ”liga petani” yang terbilang kurang kompetitif. ”Liga petani” adalah istilah informal dalam dunia sepak bola untuk menyebut liga yang hanya didominasi satu atau beberapa tim yang selalu menjadi juara. Meskipun berasal dari ”liga petani”, kemampuan berbelanja PSG yang dimiliki oleh pengusaha kaya raya asal Qatar, Nasser al-Khelaifi, itu tidak perlu diragukan.
Jangan tertipu dengan status PSG sebagai tim termuda di turnamen, berusia rerata 23,6 tahun. Meskipun muda, tim asuhan Enrique diisi oleh para pemain terbaik yang sedang naik daun. Para pemain itu, seperti Desire Doue dan Khvicha Kvaratskhelia, dibeli dengan harga yang luar biasa besar dalam dua musim terakhir.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/12/dc4443f248dbeab62d06c82d5f8df94b-wires_photo_2025_03_12T140356.384.jpg)
PSG telah mengeluarkan 519,4 juta euro (Rp 9,61 triliun) dalam empat jendela transfer terakhir sejak musim panas 2023. Hanya Chelsea, tim yang melampaui jumlah belanja tersebut. Jika dihitung pengeluaran bersih atau neto, pembelian dikurangi penjualan, PSG menempati peringkat ketiga sebagai tim dengan defisit terbesar se-Eropa (240,7 juta euro).
Itu yang membuat PSG tetap mampu bersaing di level tertinggi setelah kehilangan penyerang megabintang Kylian Mbappe pada musim panas lalu. Nilai skuad PSG, tanpa Mbappe, masih mencapai 923,5 juta euro atau terbesar kelima di Eropa. Alhasil, sangat wajar mereka bisa bersaing tanpa rasa inferior dengan tim-tim Inggris.
Terlepas dari itu, kebangkitan PSG musim ini terbilang cukup unik. Mereka adalah tim yang jauh berbeda pada paruh pertama musim. Terbukti, di babak grup, Doue dan rekan-rekan sempat ditaklukkan 0-2 oleh Arsenal. Mereka menemukan identitas sebenarnya pada paruh kedua musim, termasuk setelah kedatangan Kvaratskhelia pada Januari.
Saking sulit ditebak dan penuh kejutan, kata Enrique, kisah perjalanan PSG musim ini cocok untuk dijadikan film horor atau thriller. ”Penyelesaian akhir kami sangat buruk pada awalnya. Efektivitas tim ini begitu rendah. Sampai akhirnya kami menemukan ketajaman di depan gawang. Kami berkembang terus,” ujar sang pelatih.
Di turnamen seperti Liga Champions, tren dan momentum adalah segalanya. Konsistensi penting, tetapi bukan jaminan. Apalagi di babak gugur. Adapun Liverpool melaju dari babak grup berstatus pemuncak klasemen, sementara PSG hanya menempati peringkat ke-15 dan harus melewati jalur playoff terlebih dulu.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/01/fdef346b11d25b7dc105007b6d9c7b36-wires_photo_2025_06_01T043812.702.jpg)
Dewi Fortuna turut berperan dalam sistem turnamen. Itu bisa dilihat dari duel PSG versus Liverpool yang berujung dengan adu penalti setelah imbang selama 210 menit, dua kali waktu normal dan dua babak tambahan waktu. Seperti kata mantan kiper tim nasional Inggris, Peter Shilton, ketenangan dan fokus dibutuhkan dalam adu penalti, tetapi faktor terbesar adalah keberuntungan.
Walaupun eksistensi tim-tim Inggris dipertanyakan, tidak perlu khawatir. Mereka akan kembali pada musim depan dengan ancaman lebih besar, sebab terdapat enam wakil Inggris untuk pertama kali dalam sejarah turnamen. Artinya, sebanyak 16,6 persen peserta turnamen merupakan tim-tim dari liga paling kompetitif tersebut. (AP/REUTERS)
Penulis:
Kelvin HianusaEditor:
Emilius Caesar AlexeyPenyelaras Bahasa:
Amin Iskandar