Ketimpangan kualitas antara Curacao dan Jerman memantik perdebatan penambahan jumlah peserta Piala Dunia. Disparitas kekuatan rentan menurunkan kualitas kompetisi.
15 Jun 2026 07:01 WIB · Olahraga
AP Photo/Eric Gay
TEXAS, SENIN — Jerman tampil dominan pada laga penyisihan Grup E Piala Dunia dengan mengalahkan Curacao, 7-1, di Stadion NRG, Texas, Amerika Serikat, Senin (15/6/2026) dini hari WIB. Besarnya jurang perbedaan kekuatan kedua tim memunculkan kembali perdebatan mengenai urgensi penambahan peserta Piala Dunia dari 32 menjadi 48 tim.
Ketika suatu turnamen menjadi lebih inklusif, rentang kualitas tim yang berpartisipasi menjadi berbanding lurus. Alih-alih menyaksikan pertarungan sepadan antara David melawan Goliath, yang paling mungkin terjadi ialah pembantaian. Ini karena semakin banyak tim yang terlibat dalam Piala Dunia, tingkat kekuatan peserta menjadi kian acak. Bahkan, kualitasnya berpotensi melebar.
Kekhawatiran menurunnya tingkat persaingan di Piala Dunia akibat peningkatan jumlah peserta sebelumnya disampaikan Presiden UEFA Aleksander Ceferin. Dalam suatu wawancara, Ceferin mengatakan bahwa format baru Piala Dunia akan menghasilkan lebih banyak pertandingan yang ”sama sekali tidak menarik”.
Meski demikian, Curacao sempat hampir mementahkan keraguan yang dialamatkan pada negara-negara kecil debutan Piala Dunia. Curacao memberikan harapan terjadinya keajaiban saat Livano Comenencia mencetak gol penyeimbang pada menit ke-21. Jerman saat itu sudah memimpin lebih dulu lewat gol cepat Felix Nmecha saat laga baru berjalan enam menit.
Namun, gol perdana Curacao di Piala Dunia itu ternyata hanya sekadar pemanis sesaat karena Jerman segera membalikkan keadaan lewat sundulan Nico Schlotterbeck dari skema sepak pojok.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/15/e14037395a8913773adeec4bb4b18dfc-263967b28b99405d850b12425b75dbe2_0_d3602de99ea64ab49cbf29a9c9cfbd96.jpg)
”Mereka (Curacao) menyamakan kedudukan dengan, saya rasa, tembakan pertama ke gawang kami. Kemudian menarik untuk melihat bagaimana kami bisa mengatasinya. Kami mencoba menemukan momen keberuntungan kami dalam serangan, mencoba mencetak lebih banyak gol, dan kemudian kami memiliki bola mati yang sangat penting untuk kembali unggul,” kata Pelatih Jerman Julian Nagelsmann.
Gol Comenencia tidak ayal sempat membuat para pemain Jerman kehilangan kepercayaan diri. Kerentanan pertahanan Jerman hingga bisa dibobol oleh negara terkecil di Piala Dunia mengingatkan kembali pengalaman kegagalan lolos dari penyisihan grup pada edisi 2018 dan 2022. Saat itu Jerman yang lebih difavoritkan justru kalah dari Korea Selatan (2018) dan Jepang (2022).
Namun, mentalitas juara para pemain Jerman yang dikomandoi Joshua Kimmich sebagai kapten terlalu mengakar. ”Die Mannschaft” tampil menggila dengan terus mencetak gol melalui Kai Havertz (dua gol), Jamal Musiala, Nathaniel Brown, dan Deniz Undav.
Kami bisa sangat bangga bermain melawan negara seperti Jerman dan mencetak gol. Bangkit dari ketertinggalan dan mencetak gol, 1-1.
Ketimpangan kekuatan itu membuat pertandingan berjalan menjemukan. Harapan akan timbulnya keajaiban setelah gol Comenencia tidak terbukti. Curacao kehilangan daya juang untuk memberikan perlawanan pada babak kedua. Alhasil, babak kedua begitu berat sebelah. Jerman mendominasi dengan enam tembakan tepat sasaran. Mereka memaksa Curacao nyaris tidak bisa keluar dari area pertahanannya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/15/f0f70be3bcc1bb9f43fb856fdfcc5262-fac31acb53c6464e86cbcd9622dede65_0_e5f74a3dd5404978b869f4cd03a86a04.jpg)
"Kami bisa sangat bangga bermain melawan negara seperti Jerman dan mencetak gol. Bangkit dari ketertinggalan dan mencetak gol, 1-1. Setelah itu, kami memberi mereka gol dengan mudah. Setiap kali, jika Anda melihat gol-gol tersebut, itu adalah gol 1-2 dan kami tidak menjaga pemain mereka dengan baik. Di level ini, Anda tidak bisa membuat kesalahan seperti ini. kami harus introspeksi diri, mengambil sisi positif dari pertandingan ini," tutur Gelandang Curacao, Leandro Bacuna.
Pelatih Curacao, Dick Advocaat, menekankan perlunya melupakan kekalahan telak ini dan terus bermain dengan penuh percaya diri ke depannya. Hanya saja, pernyataan Advocaat setelah laga tidak mencerminkan ambisi besar Curacao untuk menandingi negara-negara besar hingga akhir.
"Kami harus menyadari bahwa kami hanya sedang menyusun performa yang bagus, mungkin dengan (akan adanya) kejutan di pertandingan kedua atau ketiga. Tetapi bisa juga tidak ada kejutan sama sekali. Kami tetap senang telah berpartisipasi dalam acara terbesar di dunia," katanya, dikutip dari ESPN.
Sulit mengharapkan adanya perlawanan berarti dari Curacao pada dua laga berikutnya jika tampil di Piala Dunia saja sudah menjadi sebuah prestasi yang tak terhingga bagi mereka.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/15/6b04be2f7d57923a413f6a3541f781ab-8ac66b7567664b829b1916d48e658fd0_0_25d52ec21555432f9553615f499b5729.jpg)
Dengan tiga poin dan unggul enam selisih gol, Jerman hampir dipastikan lolos ke fase gugur. Namun, mereka masih membutuhkan hasil positif melawan Pantai Gading dan Ekuador untuk tetap berada di posisi teratas di Grup E.
Penulis:
I Gusti Agung Bagus Angga PutraEditor:
Wisnu Aji DewabrataPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan