Mereka yang Harus Bangkit dan Beradaptasi dengan Keadaan (14)

Pedagang kantin sekolah yang berjualan nasi tidak lagi menjual nasi saat program MBG terlaksana bulan ini. Merek beradaptasi dengan menjual jenis makanan lain

10 Jan 2025 07:30 WIB · Investigasi

Oleh Margaretha Puteri Rosalina, Maria Paschalia Judith Justiari, R Albertus Krisna Pratama P.

Rini (53), pedagang kantin SDN 15 Slipi, Jakarta Pusat, terlihat duduk berpangku tangan memandang ke arah ruang kelas siswa, Senin (16/12/2024). Saat itu, sekitar pukul 10.30, kantin kecilnya sedang sepi pembeli. Ia menanti kehadiran anak-anak SDN 15 ataupun SLB N 5 Slipi yang selalu meramaikan kantinnya. Sementara itu, anak-anak SD dan SLB sedang lomba antarkelas di lapangan depan.

Di depannya masih tersedia gorengan otak-otak dan nugget di dalam wadah plastik ukuran 20 cm x 20 cm warna putih, baru seperempat bagian yang terjual. Di sebelahnya ada enam telur rebus yang terletak dalam cetakan agar-agar bulat yang belum laku. Di sisi kanan Rini, berbatasan dengan dinding kantin, ada satu kulkas kecil yang berisi es teh dalam kemasan plastik seharga Rp 1.000. Juga ada beberapa botol minuman dan puding.

Sambil menunggu pembeli, Rini bercerita bahwa dagangannya makin sepi saat uji coba program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama sebulan ini di SDN 15 Slipi. Sebelumnya, ia berjualan nasi yang dimasukkan dalam wadah plastik. Menunya berganti tiap hari, seperti nasi goreng telur, nasi ayam, atau nasi katsu. Harganya berkisar Rp 3.500-Rp 5.000, disesuaikan dengan kemampuan uang jajan anak SD.

Quote

Ya, saya antepin aja jadinya. Pasrah gitu, maksudnya. Cuma saya harus mikir, ganti dagang apa. Mau ngembangin usaha apa gitu. Saya, kan, gak bisa bilang program ini jangan jalan. Kita, kan, ikut pemerintah.

”Saya biasanya jualan nasi. Jadi sejak uji coba, saya gak jualan nasi lagi. Uji cobanya masih sampai sekarang, hampir sebulan jalan,” kata Rini.

Tak hanya itu, sosis gorengnya yang setiap hari terjual 40 buah, sejak adanya program MBG, hanya laku 10 buah. Anak-anak SDN 15 Slipi dan SLB N 5 Slipi yang tadinya jajan nasi dan sosis, tidak lagi jajan karena sudah kenyang, dengan adanya makan bergizi gratis dari pemerintah.

Alhasil, penghasilan Rini turun drastis. ”Hampir 50 persen. Biasanya pendapatan dagangan saya Rp 500.000-Rp 600.000 per hari,” ujar Rini sedih.

Rini semakin terpuruk, apalagi pada saat yang sama, anak perempuannya yang kelas XII SMK, tidak lagi mendapat Kartu Jakarta Pintar (KJP). Bantuan pendidikan dari KJP selama ini menjadi andalan Rini dan suaminya untuk membiayai pendidikan anaknya di sebuah SMK swasta. ”KJP anak saya dibatalkan gara-gara skala prioritas. Katanya masih ada yang (orang) susah lagi,” kata Rini.

Rini (53), pedagang kantin di SDN 15 Slipi dan SLB N 5 Slipi, Jakarta Pusat sedang melayani pembeli, anak SMP dari SLB Slipi, Senin,16/12/2024 . Setiap harinya ia berjualan nasi goreng, nasi katsu, atau nasi ayam, telur rebus, mi instan, dan minuman seperti es lilin dan air mineral. Adanya uji coba program makan bergizi gratis, membuat dagangan nasinya tidak laku.

Selama ini penghasilan keluarga kecil Rini bergantung pada hasil penjualan di kantin sekolah. Suaminya, yang dulu bekerja sebagai penjaga sekolah SDN 15 Slipi, berhenti karena faktor usia. Sementara itu, selain harus membiayai sekolah anak tunggalnya, Rini juga harus membayar sewa kontrak rumah petak.

Tak hanya penghasilannya yang turun selama sebulan pelaksanaan uji coba program MBG, kantin Rini juga pernah tutup tiga hari karena ada kunjungan pejabat pemerintah yang meninjau pelaksanaan uji coba MBG. Praktis, selama dua bulan terakhir, penghasilan Rini menurun.

Rini cuma bisa pasrah dengan keadaan dan tetap mendukung program pemerintah. ”Ya, saya antepin aja jadinya. Pasrah gitu, maksudnya. Cuma saya harus mikir, ganti dagang apa. Mau ngembangin usaha apa gitu. Saya, kan, gak bisa bilang program ini jangan jalan. Kita, kan, ikut pemerintah,” kata Rini sambil melayani anak-anak yang membeli es lilin, telur rebus, dan mi goreng.

Rini berusaha bersyukur masih bisa berdagang di sini meski rencananya berjualan sate ayam dan lontong di awal tahun ini juga gagal.

Infografik-Perkiraan Kemampuan UMKM jika Menjadi Mitra Penyedia Makan Bergizi Gratis *** Local Caption *** Infografik-Perkiraan Kemampuan UMKM jika Menjadi Mitra Penyedia Makan Bergizi Gratis

Jualan cireng

Akhirnya di tengah rasa kecewa yang mendalam, Rini berusaha bangkit dan beradaptasi dengan keadaan yang ada. Sudah dua minggu terakhir ini, Rini berjualan cireng Rp 2.000-an. Sebelumnya, ia sempat bertanya pada konsumen-konsumen kecilnya. ”Besok budhe mau jual cireng keju, mau beli gak?” kata Rini yang dipanggil budhe oleh anak-anak SD dan SLB.

Rini mendapat respons positif dari anak-anak. Bahkan sehari setelah Rini mengatakan akan berjualan cireng, beberapa anak telah menunggu di depan kantin, tak sabar ingin segera membeli cireng.

Dari berjualan cireng itu, penghasilan Rini bertambah Rp 150.000 per hari dan bisa menambah penghasilannya yang telah berkurang hingga Rp 200.000 per hari. ”Alhamdulillah, dari hasil jualan cireng, saya belikan ayam setengah kilo dan keju, untuk bikin cireng besoknya,” kata Rini.

Setelah program MBG berjalan di sekolahnya Senin lalu, Rini tetap berjualan cireng, gorengan sosis, nugget, dan otak-otak serta minuman. ”Alhamdulillah masih laku,” kata Rini saat dihubungi Rabu (8/1/2025).

Rini tetap berharap bisa kembali menjual nasi seperti sebelumnya. ”Kalau anak-anak minta saya bikin nasi, saya baru jualan nasi lagi,” katanya.

Suasana kantin sekolah SMAN 78 Jakarta ketika waktu istirahat berlangsung. Mayoritas warung-warung yang tersedia di kantin ini menjual minuman kemasan dan makanan yang diolah dengan digoreng.

Turun 50 persen

Sekitar 1 kilometer dari kantin Rini, kantin Heri (39) di SDN 11 Slipi juga bernasib sama seperti Rini. Setelah murid-murid di SDN 11 Slipi mendapat uji coba makanan bergizi gratis, penghasilan Heri turun.

”Penjualan dan omzet kita turun 50 persen. Biasanya sehari pendapatan kotor Rp 600.000-Rp 700.000, tapi sekarang dapat Rp 300.000,” kata Heri, Selasa (17/12/2024).

Quote

Saya gak bisa nombokin juga karena nasinya tidak laku lagi. Mereka juga pasrah, bingung mau setor ke mana lagi. Di kantin bawah juga sudah gak terima titipan jualan nasi.

Heri selama ini berjualan nasi nugget, nasi ayam rica yang dikemas dalam wadah plastik berbentuk bulat. Heri tidak memasak sendiri nasi tersebut, melainkan mendapat titipan dagangan dari warga sekitar sekolah.

Setiap hari Heri menyediakan 20 bungkus nasi seharga Rp 7.000 yang selalu habis sebelum jam pelajaran dimulai di pagi hari. Tak hanya nasi, sosis goreng dan dua lusin mi gelas juga menjadi andalan kantin Heri yang ada di lantai 3 gedung SDN 11 Slipi tersebut, setiap hari.

Sejumlah lapak di kantin SDN 07 CIdeng, Jakarta Pusat pada Kamis, 12 Desember 2024. Para penjual jajanan di kantin ini merasa khawatir omset jualannya menurun jika nanti program MBG berjalan.

Setelah uji coba MBG berjalan, nasi, sosis goreng, dan mi gelas tidak laku. Heri terpaksa menolak dagangan nasi yang dititipkan di kantinnya karena dagangan nasi tersebut tidak laku.

”Saya gak bisa nombokin juga karena nasinya tidak laku lagi. Mereka juga pasrah, bingung mau setor ke mana lagi. Di kantin bawah juga sudah gak terima titipan jualan nasi,” kata Heri.

Setelah penghasilannya menurun, Heri belum mempunyai rencana untuk berjualan makanan lainnya yang sekiranya tetap laku saat program MBG dilaksanakan awal bulan ini. ”Belum ada inovasi. Paling nambah di ATK (alat tulis kantor) aja, sih, kalau ini. Kalau makanan, mungkin akan nambah jualan snack seperti Oreo, biskuit nabati, atau nambah variasi lainnya,” ujar Heri.

Khawatir terdampak

Meski uji coba MBG di SDN 07 Cideng hanya berlangsung sehari, pada Rabu, (21/08/2024), pelaksanaan program MBG awal bulan ini meresahkan Eka (31), pedagang kantin SDN 07 Cideng.

”Saya stres kalau nanti Makan Bergizi Gratis jalan di sini (SDN 07 Cideng). Mikirnya entar aja-lah. Mikir yang sekarang-sekarang aja,” kata Eka saat ditemui di depan lapak kantinnya, Kamis (12/12/2024).

Di lapak kantin berukuran 1 meter x 0,5 meter, Eka berjualan burger nasi, nasi yang dicetak bulat dengan isian ayam atau ikan tongkol rica di dalamnya, keripik pisang dengan berbagai rasa, puding, rujak serut, dan keripik dalam kemasan.

Eka (31) salah satu penjual jajanan di Kantin SDN 07 Cideng, Jakarta Barat ketika ditemui Kompas pada Kamis, 12 Desember 2024.

Setiap hari, 24 burger nasi yang dijual Eka selalu habis saat jam istirahat siang, dibeli murid-murid SD dan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) yang ada di sebelah Gedung SD. Namun, burger nasi akan tersisa setiap hari Kamis karena anak-anak diminta membawa bekal nasi dari rumah dalam program makan bersama di sekolah.

Setiap hari Kamis itu, Eka pun harus mengurangi porsi dagangan nasinya. ”Kira-kira saya kurangi 1 liter dari beras yang saya masak tiap hari,” kata Eka.

Ia masih bingung, makanan apa yang akan dijualnya sebagai pengganti burger nasi, jika program MBG diberlakukan di sekolah tempatnya berjualan. ”Entah, apakah nanti dibanyakin jajanannya kayak keripik gitu, atau apalah,” kata Eka yang sudah berjualan dua tahun di kantin SD tersebut.

Ia pun berharap program makanan gratis itu bisa dikembalikan ke setiap sekolah supaya bisa lebih bisa menyesuaikan dengan anak-anak sekolah.

Quote

Saya stres kalau nanti Makan Bergizi Gratis jalan di sini (SDN 07 Cideng). Mikirnya entar ajalah. Mikir yang sekarang-sekarang aja.

Mengganti jenis jualan

Menanggapi situasi ini, Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan Hasan Nasbi mengatakan, semua pihak harus bahu-membahu melaksanakan program untuk kemajuan generasi muda. Jika ada pedagang kantin yang terdampak, tambah Hasan, mereka bisa berjualan makanan lain.

”Saya lihat di Sukabumi dan Bojong Koneng, Jawa Barat, kantin sekolah tetap hidup dan belum ada yang tutup karena penghasilan turun. Mereka berjualan jajanan. Nanti mungkin ada edukasi bahwa yang dijual adalah makanan sehat,” kata Hasan yang ditemui akhir Desember lalu.

Hasan menambahkan, bahkan ada pedagang kantin sekolah yang berupah menjadi supplier, penyedia bahan baku dapur SPPG. ”Jadi program ini tidak mematikan ekonomi siapa pun. Justru mau menciptakan ekonomi baru,” terang Hasan.

Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan Hasan Nasbi memberikan keterangan kepada wartawan di depan Kantor Sekretariat Negara, Jakarta, Rabu (21/8/2024).

Tidak terpengaruh

Berbeda halnya dengan pedagang kantin yang tidak berjualan nasi, tidak terpengaruh dengan keberadaan program MBG. Seperti Mela (60), pedagang kantin SLB N 5 Slipi, Jakarta Pusat, yang berjualan air mineral, es teh, es susu, es tape, dan mi instan.

”Saya gak jualan nasi, cuma jualan air, ya, tetap laku kalau nanti ada MBG,” kata Mela di kantinnya, Senin 16/12/2024 lalu.

Kantinnya, yang berlokasi di bagian depan sekolah, menjadi tempat menunggu orangtua yang menjemput ataupun anak-anak SLB yang menunggu jemputan. Mereka yang sehari-hari membeli dagangan Mela.

Juga dengan Aminah (50), pedagang kantin di SDN Pekansari 01, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Saat dikunjungi pada pertengahan Desember 2024, ia tampak mondar-mandir menyiapkan pesanan minuman dari ibu-ibu yang sedang menunggu anaknya bersekolah.

Infografik Rekomendasi Kabupaten dan Kota Prioritas Penerima MBG *** Local Caption *** Infografik Jurnalisme Data Makan Bergizi Gratis

Tangannya cekatan menyobek bungkus minuman berisi serbuk teh dan menuangkannya ke dalam gelas. Setelah menuangkan air ke dalam gelas itu, dia mengaduknya dan menambahkan sejumlah bongkahan es batu.

Tak hanya menjual minuman, dia juga menjajakan beragam kudapan kemasan, seperti wafer, biskuit, dan permen. ”Anak-anak tetap jajan. Dagangan saya tetap laris,” katanya saat ditanya tentang penjualan saat uji coba MBG berlangsung di sekolah pada 31 Oktober-4 November 2024.

=======================

Untuk mengikuti liputan tema ini selengkapnya, kami mengajak Anda bergabung dalam grup Whatsapp Pembaca Kompas ”Investigasi & Jurnalisme Data” dengan mengeklik tautan link ini.

Ikuti pembahasan lengkap seputar program Makan Bergizi Gratis dalam sesi diskusi eksklusif Kompas Editor’s Talks: Makan Bergizi Gratis Dilaksanakan, Sudahkah Tepat Sasaran? Daftar melalui https://komp.as/KET-MBG

Kami juga ingin mendengarkan pandangan Anda tentang artikel ini melalui survei lewat berikut ini.


Kerabat Kerja

Penulis:

Margaretha Puteri Rosalina, Maria Paschalia Judith Justiari, R Albertus Krisna Pratama P.
 | 

Editor:

Andy Riza Hidayat