Daya beli masyarakat lesu, produk otomotif dipukul tarif Trump. Perekonomian Jepang pun terkontraksi.
16 Mei 2025 14:06 WIB · Internasional
TOKYO, JUMAT — Imbas tarif impor oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump akhirnya terasa oleh Jepang. Perekonomian mereka turun pada triwulan I-2025 sebesar 0,7 persen.
Berdasarkan laporan Pemerintah Jepang di Tokyo, Jumat (16/5/2025), produk domestik bruto negara tersebut turun 0,2 persen. Nilai ekspor tahunan turun 2,3 persen, penanaman modal naik 5,8 persen, dan daya beli masyarakat stagnan.
Padahal, daya beli masyarakat ini salah satu tumpuan perekonomian Jepang. Tren daya beli terus menurun seiring semakin menuanya populasi Jepang. Generasi muda memilih tidak menikah ataupun berkeluarga sehingga konsumsi tidak mengalami peningkatan signifikan.
Sejatinya, terlihat harapan pada Februari 2025. Dilansir Bloomberg edisi 7 Februari 2025, daya beli masyarakat Jepang ketika itu naik, bahkan tertinggi sejak tahun 2022. Penyebabnya adalah penyesuaian upah dengan inflasi 2,7 persen.
Walhasil, konsumsi masyarakat pun naik hingga 7 persen. Konsumsi meningkat di sektor transportasi, cicilan properti, komunikasi, dan obat-obatan. Fenomena ini membantu di tengah kenaikan harga beras.
Namun, pada 2 April 2025, Presiden AS Donald Trump mengumumkan penetapan tarif impor untuk semua negara. Jepang dikenakan tarif balasan 24 persen dengan alasan neraca perdagangan AS defisit. Menurut rencana, kenaikan bea masuk impor diterapkan per Juli 2025.
Tarif ini di luar tarif tersendiri untuk produk-produk otomotif, baik yang diproduksi di Jepang maupun jenama Jepang yang dibuat di negara-negara lain. Produk otomotif, baja, dan aluminium dikenakan tarif 25 persen.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/17/daf1d660d38890ad14341d92e6dbfd61-wires_photo_72.jpg)
”Ongkos produksi bertambah dan pendapatan berkurang gara-gara penjualan di pasar otomotif AS bergantung pada rantai pasok global. Industri otomotif Jepang terpukul,” demikian bunyi laporan firma S&P Global Ratings.
Bank sentral diperkirakan tidak menaikkan suku bunga. Selama ini, suku bunga dijaga agar tidak melebihi 0 persen. Dua tahun belakangan, secara perlahan bank menaikkan suku bunga untuk menyesuaikan dengan kenaikan upah.
Akan tetapi, kali ini, para pengamat berpendapat bank menahan diri. Bahkan, ada usulan agar pajak penjualan sebesar 10 persen diturunkan guna memantik daya beli masyarakat. Sejauh ini, Perdana Menteri Shigeru Ishiba belum menunjukkan tanda-tanda menyetujui gagasan tersebut.
”Perekonomian kita terlalu rapuh. Ada gangguan eksternal sedikit saja, seperti tarif Trump, langsung berdampak serius,” kata ekonom Dai-ichi Life, Yoshiki Shinke.
Ia menerangkan, perekonomian Jepang tidak memiliki pemicu pertumbuhan. Ekspor lesu dan daya beli masyarakat lemah. Daya beli masyarakat selama ini merupakan setengah dari penggerak ekonomi. Berdasarkan data, langkah yang terlihat paling pas adalah meningkatkan pengeluaran fiskal.
Jepang masih di dalam proses perundingan soal tarif secara bilateral dengan Trump. Persoalannya, susah bagi Jepang menentukan strategi karena sikap Trump yang plin-plan.
Menteri Revitalisasi Ekonomi Ryosei Akazawa mengatakan, menaikkan upah bukan solusi permanen. Risiko dari kenaikan tarif Trump masih mengintai. Di samping itu, kenaikan harga barang belum sepenuhnya terkendali.
Menurut rencana, pekan depan Akazawa ke Washington DC guna mengadakan putaran ketiga perundingan tarif dengan Trump. Negosiasi di level bawah masih berjalan dan belum menemukan titik kesamaan antara AS dan Jepang.
Menteri Keuangan Katsunobu Kato dijadwalkan ke Kanada menghadiri pertemuan tujuh negara terkaya atau G7. Di sana, ia akan berdiskusi dengan Menkeu AS Scott Bessent.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/26/fcd97c009c5b9415032cb76f11330e62-000_36RG893.jpg)
Rencana Jepang adalah menawarkan paket ekspor impor kepada AS. Salah satunya, Tokyo akan mengimpor lebih banyak jagung dan kedelai dari AS. Selain itu, Jepang juga turut menawarkan pendampingan teknis untuk galangan kapal dan penjaminan mutu produk-produk otomotif.
Sasaran utama Jepang adalah AS menghapus tarif untuk produk otomotif. Bisa dibilang, industri otomotif adalah tulang punggung perekonomian Jepang.
Jenama mobil Mazda mengalami penurunan laba bersih 45,1 persen per akhir laporan keuangan pada Maret 2025. Jenama Nissan yang sedang mengalami krisis terpaksa memangkas 15 persen karyawannya secara global.
Pada saat yang sama, Jepang juga ragu untuk semakin mendekat ke China. Pasar China penting bagi produk otomotif Jepang, tetapi secara politik dan keamanan kedua negara tidak bisa dibilang dekat.
Apalagi, selama kepemimpinan Presiden AS 2021-2025 Joe Biden, hubungan Tokyo-Washington DC mencapai titik tererat. Akan sukar bagi Jepang menjauhkan diri dari AS. Hubungan dengan China rumit dan Tokyo-Beijing masih memiliki sengketa wilayah. (AP/Reuters)
Penulis:
Laraswati Ariadne AnwarEditor:
Fransisca Romana Ninik WPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari