Reputasi Alex Zwiers dipertaruhkan untuk mencari pelatih timnas Indonesia. Ange Postecoglou kandidat yang bisa dipertimbangkan PSSI dan dapat memenangkan hati fans.
25 Okt 2025 06:56 WIB · Olahraga
KOMPAS/MUHAMMAD IKHSAN MAHAR
Kursi pelatih tim nasional Indonesia belum menemukan penghuninya setelah Patrick Kluivert pergi. Rumor-rumor pun beterbangan. Tuntutan pemilihan juru taktik skuad ”Garuda” mengarah kepada Ketua Umum PSSI Erick Thohir. Nantinya, pilihan pelatih timnas anyar adalah buah dari pikiran dan gagasan Direktur Teknik PSSI Alexander Zwiers.
Zwiers, pria asal Belanda yang beristri warga Indonesia, merupakan orang paling sibuk setelah PSSI mengakhiri kerja sama dengan Kluivert. Kegagalan lolos ke Piala Dunia 2026 jadi biang keladinya.
Berperan sebagai Direktur Teknik sekaligus Ketua Komite Teknik dan Pengembangan PSSI, Zwiers memiliki tanggung jawab untuk mencari, mengaudisi, hingga merekomendasikan pelatih kepala dan staf pelatih tim nasional dari level senior hingga U-17.
Hal itu tertuang dalam Poin (l) Pasal 30 Statuta PSSI 2025 yang mengungkapkan salah satu peran Komite Eksekutif (Exco) PSSI untuk menunjuk pelatih timnas.
Isinya seperti ini, ”Menunjuk pelatih kepala dan perangkat pelatih untuk tim nasional atas usulan dari Departemen Teknisi di Sekretariat Jenderal dan oleh Komite Teknis dan Pengembangan”.
Dalam konferensi pers bersama Erick dan Sekretaris Jenderal PSSI Yunus Nusi, Jumat (24/10/2025), Zwiers mengungkapkan, asal negara dikesampingkan dalam pencarian pelatih timnas Indonesia untuk menghadapi Piala Asia 2027 dan pra-Piala Dunia 2030.
Mencari pelatih timnas tidak mudah dan tidak bisa buru-buru. Banyak faktor yang harus kami pertimbangkan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/26/fbe0925fc12dfdf5d1d89975797fade6-WhatsApp_Image_2025_08_26_at_00.03.27_2.jpeg)
Ia telah mengumpulkan sejumlah nama, tetapi proses pencarian itu perlu dilakukan dengan sejumlah lapisan penilaian agar calon pelatih timnas selaras dengan visi dan identitas permainan Indonesia.
”Kami mempertimbangkan hubungan dengan identitas Indonesia, basis penggemar, juga melihat karakter dan intensitas (calon pelatih). Paling penting adalah (calon pelatih) memahami kualitas pemain demi mengeluarkan kualitas maksimal mereka, mengenali arah pengembangan, dan dapat menyesuaikan tolok ukur kami,” ujar Zwiers yang baru dua bulan bertugas untuk PSSI.
Lowongnya kursi pelatih timnas Indonesia juga menjadi magnet bagi kedatangan agen-agen untuk menawarkan sejumlah pelatih asing. Dari nama-nama yang hanya dikenal di level regional hingga sudah memiliki pamor tingkat dunia.
Mengamati profil sejumlah calon secara saksama perlu dilakukan sebelum PSSI melakukan tahap lanjutan. Pencarian calon pelatih timnas secara mandiri memperkecil kemungkinan adanya risiko dari pemilihan pelatih yang keliru. Ibarat peribahasa ”membeli kucing dalam karung”.
Setidaknya, PSSI telah memiliki kriteria sebelum mencari calon pelatih yang cocok. Bukan sebaliknya. Calon pelatih yang dicocok-cocokkan dengan keinginan dan ekspektasi federasi.
Tentu, setelah mengerucut kepada sejumlah nama, Zwiers dan Erick akan berbicara, yang menjadi uji kelayakan dan kepatutan, dengan calon pelatih sebelum menyodorkan kontrak kerja sama.
Dengan proses yang cukup rumit dan panjang itu, idealnya pelatih baru skuad Garuda paling lambat ditentukan pada Januari 2026. Waktu sekitar dua bulan menuju laga internasional, Maret 2026, cukup bagi pelatih baru untuk mengamati calon-calon pemain timnas Indonesia.
”Mencari pelatih timnas tidak mudah dan tidak bisa buru-buru. Banyak faktor yang harus kami pertimbangkan,” ucap Erick.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/10/17/40e9cb75c4ac1ea87cd759609b727b5b-DSC04533.JPG)
Erick, yang juga Menteri Pemuda dan Olahraga, sudah menutup pintu bagi usulan kembalinya Shin Tae-yong. Keputusan itu cukup bijak. PSSI menyadari besarnya desakan masyarakat pencinta timnas yang ingin Shin ”comeback”, tetapi mengejar prestasi timnas tidak bisa dilandasi pada romantisisme masa lalu belaka.
Zwiers dipastikan tidak memasukkan nama Shin dalam kandidat yang tengah dinilainya. Dengan mengamati sepak terjang Zwiers sebagai Direktur Teknik Asosiasi Sepak Bola Jordania (JFA) periode 1 April 2019 hingga 30 Juni 2025, ia lebih condong memilih pelatih timnas yang sesuai dengan karakter pemain-pemain di dalam skuad.
Jordania, misalnya, diubah dari berkiblat Eropa menjadi Timur Tengah. Sebelum Zwiers datang, JFA sudah mengontrak pelatih asal Belgia, Vital Borkelmans. Setelah kontrak Borkelmans rampung pada Juni 2021, Zwiers mengubah haluan pelatih timnas Jordania ke negara Timur Tengah, terutama Afrika Utara.
Ia memulai kebijakan itu dengan menunjuk Adnan Hamad dari Mesir untuk memimpin tim pada Juni 2021 hingga 2023. Hamad pernah pula memimpin timnas Jordania pada 2009 hingga 2013 yang membuahkan perjalanan hingga perempat final Piala Asia 2011 dan playoff pra-Piala Dunia 2014.
Kembalinya Hamad dilakukan demi mengembalikan identitas sepak bola khas Timur Tengah di dalam tim Jordania. Setelah kontrak Hamad berakhir, Zwiers membantu JFA untuk memilih dua pelatih asal Maroko, yaitu Hussein Ammouta (Juni 2023-Juni 2024) dan Jamal Sellami (Juni 2024-kini).
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/02/07/7e4baa89-9e97-48d3-9dd7-4e51752cc903_jpg.jpg)
Kedua pelatih itu menuliskan capaian monumental untuk Jordania. Ammouta membawa Jordania menembus final Piala Asia 2023. Adapun Sellami mengantarkan Jordania menembus Piala Dunia 2026.
Berbeda dengan Jordania yang dihuni pemain-pemain lokal, Indonesia membentuk skuad bermaterikan kombinasi pemain lokal dan diaspora. Bahkan, mayoritas pemain utama adalah pemain-pemain yang telah melakukan perpindahan federasi.
Situasi itu membuat Zwiers berpeluang condong mencari pelatih-pelatih asal Eropa dengan pengalaman berkarier di Asia. Setelah gagal bersama Kluivert dan 14 orang stafnya yang berbahasa Belanda, Zwiers dan PSSI patut lebih teliti memilih calon pelatih timnas Indonesia.
Pengalaman berprestasi di level Asia patut menjadi pedoman. Nama Jesus Casas dan Felix Sanchez layak menjadi kandidat. Casas membawa Irak menembus putaran keempat pra-Piala Dunia 2026 serta meraih Piala Teluk Arab 2023.
Adapun Sanchez adalah juru taktik pertama Qatar di Piala Dunia, tepatnya edisi 2022. Pengalaman kepelatihannya dilengkapi pula dengan gelar Piala Asia 2019 yang sangat diagungkan Qatar.
Casas dan Sanchez sama-sama berasal dari Spanyol. Namun, mereka bukan pelatih asal ”Negeri Matador” yang berpatokan menyerang khas tiki-taka. Permainan tim asuhan keduanya lebih mengutamakan hasil dibandingkan tim bermain indah.
Namun, jika tetap ingin berkiblat kepada Belanda, Bert van Marwijk dan Marcel Keizer bisa pula menjadi bahan pertimbangan. Van Marwijk sudah pernah melatih Arab Saudi, Australia, dan Uni Emirat Arab. Prestasi cemerlangnya di Asia adalah membawa Saudi lolos ke Piala Dunia 2018.
Sementara Marcel Keizer pernah membawa Al-Jazira mengangkat trofi juara Liga UEA musim 2020-2021. Akan tetapi, berbeda dengan tiga kandidat sebelumnya, Keizer belum pernah melatih timnas dan sedang tidak menganggur karena menjadi asisten pelatih Ajax Amsterdam.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2022/11/19/251b4b78-1aa0-445d-bc18-da2bd796e012.jpg)
Namun, jika PSSI ingin mengontrak pelatih bernama besar dengan kualifikasi pernah berprestasi di Asia dan tengah menganggur, jawabannya adalah Ange Postecoglou. Meskipun dipecat Nottingham Foset hanya dalam delapan gim, Postecoglou memiliki curriculum vitae paling mentereng dari pelatih menganggur yang bisa dijangkau PSSI.
Ia pernah membawa Australia menjadi juara Piala Asia 2015 yang masih prestasi terbaik ”Soccerroos” sejak pindah konfederasi dari OFC ke AFC. Jangan ragukan pula pengalamannya di level ASEAN.
Postecoglou pernah mempersembahkan trofi Piala AFF U-20 untuk tim U-20 Australia pada 2006. Gelar Liga Jepang 2019 bersama Yokohama F Marinos merupakan bukti lain kesuksesan dekat dengan juru taktik berdarah Yunani itu.
Satu modal lainnya, Postecoglou juga tidak perlu lagi berjauhan dengan keluarga besarnya di Australia jika menangani timnas Indonesia. Jarak Melbourne dengan Jakarta bisa ditempuh sekitar tujuh jam penerbangan.
Gaji Postecoglou akan lebih tinggi dari Shin dan Kluivert. Namun, rekam jejaknya bisa memulihkan keraguan publik sepak bola kepada PSSI dan Erick. Di sisi lain, Postecoglou juga sangat ramah dengan media dan suporter.
Pada akhirnya, biarkan Zwiers meramu sajian terbaik demi kebaikan timnas….
Penulis:
Muhammad Ikhsan MaharEditor:
Wisnu Aji DewabrataPenyelaras Bahasa:
Priskilia Bintang Cornelia Sitompul