Hydroplus Piala Pertiwi U-14 dan U-16 All Stars memantik gelora pembinaan sepak bola putri di Indonesia. Makin luas kesempatan, makin banyak potensi bermunculan.
12 Jul 2025 18:23 WIB · Olahraga
Saat wasit meniup peluit panjang tanda berakhirnya pertandingan, Jullysti Dayren Gianni Matui (16) hanya bisa menunduk. Di Stadion Supersoccer Arena, Kudus, Jawa Tengah, Sabtu (12/7/2025) siang, Jullysti lantas menutupi wajah dengan jersei kuningnya selepas laga semifinal antara Papua dan Tangerang itu.
Bek tim Papua tersebut tak bisa menahan rasa sedih dan kecewa lantaran gagal melaju ke final turnamen sepak bola putri remaja nasional, Hydroplus Piala Pertiwi U-14 dan U-16 2025 All Stars. Jullysti dan kawan-kawan kalah 0-1 dari tim Tangerang.
Padahal, kata Jullysti, tim Papua datang dengan motivasi besar menembus partai puncak dan membawa pulang gelar juara. Dengan meraih prestasi, mereka ingin membuktikan sepak bola putri Papua juga bisa unjuk gigi di kancah nasional. Maka, ketika yang diraih tidak sesuai harapan, hasil tersebut terasa menyakitkan.
”Tapi, saya tetap bersyukur karena Tuhan membawa kami sejauh ini, sampai semifinal. Kami bisa ketemu lawan-lawan lain, bisa bersaing, bisa tahu rasanya main di turnamen nasional,” ucap Jullysti.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/07/12/13ba0a0d-49fc-4eef-9795-eeeeb6d37dfe_jpg.jpg)
Jullysti sebenarnya sudah pernah masuk tim sepak bola putri Papua di PON Aceh-Sumut 2024. Namun, pemain SSB Batik di Jayapura ini tidak pernah diturunkan. Baru di Piala Pertiwi ini Jullysti mencicipi rasanya bermain di level nasional.
Seperti Jullysti, pemain tim Papua lain di Piala Pertiwi juga tidak pernah merasakan bertanding di level nasional sebelumnya. Jadi, meskipun pada akhirnya terhenti di semifinal, mereka tetap senang karena dapat kesempatan bertanding.
Papua adalah satu dari 16 tim yang berlaga di Piala Pertiwi U-14 dan U-16 2025 All Stars. Sepuluh tim berasal dari kota-kota di Pulau Jawa yang menyeleksi pemain terbaik mereka dari penyelenggaraan Piala Pertiwi U-14 dan U-16 sepanjang April hingga Juni 2025. Tim-tim ini terdiri dari Jakarta, Tangerang, Bandung, Cirebon, Surakarta, Yogyakarta, Kudus, Malang, dan Surabaya.
Adapun enam tim lain berasal dari regional di luar Pulau Jawa yang menyeleksi pemain lewat PSSI dan asosiasi provinsinya masing-masing. Enam tim ini adalah Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Kalimantan, Sulawesi, Bali-Nusa Tenggara, dan Papua.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/12/0ebd7edc941da68808d88fd72d7daafb-DSC00560_2.jpg)
Touskha Oktafia Stevelien Iba, asisten pelatih tim Papua, mengatakan, timnya sebenarnya menjalani persiapan yang sangat singkat. Terhitung hanya dua hari waktu efektif mereka untuk berlatih bersama sebelum berangkat ke Kudus dan bertanding.
Touskha pun bersyukur dan senang. Meskipun dengan kondisi tidak ideal, Papua bisa melaju hingga ke semifinal. Mereka bahkan menjadi tim yang tak terkalahkan di babak penyisihan grup dengan mengoleksi tiga kemenangan, termasuk mengalahkan tuan rumah Kudus 3-1.
”Kami tidak bisa bicara banyak soal target kami ke depannya karena kalau tidak banyak turnamen, kami hanya latihan tanpa tujuan. Kami berharap ada lebih banyak turnamen seperti ini, terutama di Papua. Dengan turnamen seperti ini, kan, potensi-potensi pemain pun terlihat, mereka juga punya kesempatan bertanding,” ujar Toushka.
Di Papua, kata Toushka, para pemain putri tergabung dengan SSB-SSB yang didominasi pemain putra. Mereka biasanya ikut turnamen sepak bola putra. Dari situ juga, tim kepelatihan akhirnya menemukan bakat-bakat sepak bola putri.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/07/12/b2178af6-7650-4fc9-93f1-ae88016b0c8d_jpg.jpg)
Selain dari turnamen sepak bola putra, Toushka juga mencari pemain dari turnamen futsal putri. Berbeda dengan sepak bola, turnamen futsal putri di Papua banyak dan rutin digelar. Dia berharap turnamen sepak bola putri pun seramai futsal putri.
”Jadi, hasil di sini, dengan kondisi kami minim turnamen dan persiapan, sudah luar biasa. Kalau banyak turnamen lagi, kami bisa melatih dan menguji mereka sehingga kemampuannya mungkin bisa sama dengan tim-tim di Jawa. Dari segi pemahaman bermain pun bisa berkembang,” ucapnya lagi.
Seperti Papua, tim Sumut juga mengutarakan harapan serupa. Pelatih Sumut Agus Riyadi mengatakan, jika lebih banyak turnamen sepak bola putri di sana, potensi-potensi pemain bisa terekspos dan tersalurkan.
Selama ini, pemain mengandalkan pertandingan rutin setiap seminggu atau dua minggu sekali yang mereka sebut ”tarisan”. Setiap tim terdiri atas pemain dari semua kelompok umur. Mereka bertanding dengan tim lain secara bergantian.
”Di Piala Pertiwi ini, untuk pertama kalinya, pemain bermain di luar Jawa dan merasakan turnamen nasional dengan usia yang juga sama. Mereka dapat kesempatan itu. Semoga ini jadi awal untuk sepak bola putri terus digalakkan lagi, terutama di luar Jawa,” ucap Agus.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/11/26d9c9943050d25768f58e33c293512f-DSC00418.jpeg)
Meskipun akhirnya terhenti, Sumut dan Papua sebagai tim dari luar Pulau Jawa mampu melaju hingga semifinal. Mereka sama-sama bersaing dengan tim dari Pulau Jawa yang lebih unggul pengalaman bertanding atau ketersediaan klub putri.
Papua menghadapi Tangerang, Sumut melawan Bandung. Sumut juga menelan kekalahan sehingga harus mengubur mimpi tampil di laga puncak. Sumut takluk 1-4 dari Bandung.
Victor Hartono, Presiden Direktur Djarum Foundation yang berkolaborasi dengan PSSI dan Hydroplus untuk menggelar Piala Pertiwi U-14 dan U-16, mengatakan, persaingan di semifinal membukakan mata banyak pihak bahwa banyak bakat sepak bola putri di Tanah Air. Bakat ini tidak hanya terpusat di Pulau Jawa, tetapi juga tersebar di luar Pulau Jawa.
”Ketika mendapatkan kesempatan tampil, mereka bisa menunjukkan kemampuan yang nyaris setara dengan tim dari Pulau Jawa,” ujar Victor.
”Ini menunjukkan, negara kita ini diberkahi dengan banyak bakat. Mereka tumbuh dari Sabang sampai Merauke, tinggal bagaimana mereka dapat kesempatan dan bagaimana nanti tim nasional dapat meramunya,” kata Victor yang juga berkomitmen mendukung gelaran Piala Pertiwi secara rutin.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/12/ae6bc50a3be6fa4ed78f30cfd2dc62eb-DSC00611.JPG)
Adapun Ketua Umum PSSI Erick Thohir menyampaikan, pihaknya mencoba mengurangi disparitas kualitas antara tim-tim dari Pulau Jawa dan dari luar Pulau Jawa dengan mengintensifkan lagi program kepelatihan. Menurut dia, meski PSSI sudah meningkatkan jumlah pelatih dalam dua tahun terakhir, jumlahnya masih belum cukup.
”Kami mendorong terus pelatihan dan pembinaan pelatih. Kalau tidak, kualitas (timnya) tidak akan setara. Keseriusan (pada aspek ini) menjadi penting supaya mulai ada keseimbangan,” ujarnya.
Dari rasa kecewa yang disembunyikan di balik jersei, Jullysti dan kawan-kawan telah menabuh genderang ”perlawanan” bahwa talenta sepak bola putri tak cuma tumbuh di Jawa, tapi juga bersemi dari tanah Sumatera hingga Papua. Dengan wadah dan kesempatan untuk tampil, bakat-bakat ini akan muncul sehingga sepak bola putri kian bergelora di seluruh Indonesia.
Penulis:
Rebiyyah SalasahEditor:
Yulvianus HarjonoPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari