Tidak hanya berlatih keras di lapangan, anak-anak belia perlu melatih kedisiplinan di rumah. Kerja sama pelatih dan orangtua fondasi bentuk pemain profesional.
04 Mei 2025 15:53 WIB · Olahraga
TANGERANG, KOMPAS — Direktur Akademi Dewa United Firman Utina mengingatkan peran kolaborasi antara pelatih dan orangtua untuk mewujudkan cita-cita anak-anak menjadi pemain sepak bola profesional. Pelatih berperan memupuk kemampuan dasar pemain, sedangkan orangtua menjaga anak-anak guna mendapatkan nutrisi yang baik yang penting bagi pertumbuhan pesepak bola.
Hal itu disampaikan Firman saat menutup sesi klinik pelatihan pada Pekan Raya Liga Kompas U-14 Powered by BRI 2024-2025, Minggu (4/5/2025), di Stadion Indomilk Arena, Tangerang, Banten.
Atas dasar itu, Firman menekankan kepada orangtua pemain untuk percaya dengan rancangan dan proses latihan dari para pelatih di sekolah sepak bola (SSB) yang menempa anak mereka. Di sisi lain, Firman menyebut peran orangtua fokus mendidik kedisiplinan pemain, seperti istirahat cukup dan makan bergizi untuk memenuhi kebutuhan nutrisi.
”Untuk menjadi pemain sepak bola profesional, anak-anak harus mendapatkan pelatihan yang baik dari pelatih berlisensi serta nutrisi dan sikap yang dihasilkan dari kedisiplinan oleh para orangtua,” ujar Firman.
Firman yang dibantu lima anggota tim pelatih Akademi Dewa United memberikan pelatihan teknik dasar sepak bola kepada 100 anak-anak dari dua kategori usia. Sebanyak masing-masing 50 anak berusia 8-10 tahun, lalu 50 anak lagi berumur 11-12 tahun.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/04/2f528c9aab02e10ea27e1c514c461072-YGA_0549.jpg)
Khusus anak-anak yang berusia 8-10 tahun, latihan yang berlangsung selama 1,5 jam itu difokuskan untuk melatih kemampuan operan, sentuhan pertama, dan dribel. Anak-anak menerima instruksi untuk melakukan operan, menahan operan, hingga menggiring bola dengan melakukan zig-zag melewati kerucut mini.
Adrian Mahrez (9), salah satu peserta, terlihat sangat serius mendengarkan instruksi tim pelatih. Ia berusaha mengikuti arahan secara baik.
”Capek, tetapi saya senang,” kata Mahrez yang rutin mengikuti latihan sepak bola di SSB Salfas Soccer.
Kemudian, untuk anak-anak berumur 11-12 tahun, latihan mereka sedikit lebih kompleks. Mereka dilatih melakukan operan satu sentuhan, lalu menahan dan menendang bola dengan kaki yang berbeda.
Sesi untuk kategori usia itu diakhiri dengan gim mini yang memainkan lima pemain lawan lima pemain tanpa penjaga gawang. Gim singkat itu berlangsung sekitar lima menit.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/04/ee01a57993e93db136cd68d442e16ffc-YGA_0210.jpg)
Saya berterima kasih kepada para pelatih mereka di sekolah sepak bola tempat mereka berlatih selama ini. Kemampuan fundamental mereka sudah jauh lebih baik dibandingkan pemain generasi saya di usia mereka saat ini.
Ketekunan berlatih juga ditampilkan Jejak Sisir Langit (12), peserta lainnya. Mengenakan jersei tandang timnas Indonesia berwarna putih, Langit menampilkan ketangkasannya melakukan operan dan sentuhan pertama yang cukup baik.
”Saya punya keinginan untuk bermain di Liga Kompas,” kata Langit yang berlatih bersama Young Warrior dan Persija Muda.
Firman menuturkan, peserta klinik pelatihan Liga Kompas musim ini sudah memiliki kemampuan dasar yang baik. Kata dia, para pemain sudah memiliki bekal untuk meningkatkan lagi kemampuan mereka.
”Saya berterima kasih kepada para pelatih mereka di sekolah sepak bola tempat mereka berlatih selama ini. Kemampuan fundamental mereka sudah jauh lebih baik dibandingkan pemain generasi saya di usia mereka saat ini,” tutur Firman yang mencatatkan 66 penampilan bersama tim nasional Indonesia periode 2001-2014.
Salah satu orangtua peserta, Bimo, juga mengakui anaknya sangat bersemangat mengikuti klinik kepelatihan. Kehadiran Firman dan bermain di stadion sepak bola menjadi penyebabnya.
”(Pelatihan) ini pengalaman berharga untuk anak saya,” ucapnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/04/613ebdc4b73b6ed3ea9bc5a691f9a85a-20250504YGA08.jpg)
Lebih lanjut, salah satu gelandang serang terbaik Indonesia dekade 2000-an itu memuji konsistensi Liga Kompas menjalankan kompetisi usia dini. Menurut dia, perjalanan Liga Kompas yang memasuki musim ke-12 amat jarang ditemui dalam iklim pembinaan sepak bola nasional yang kekurangan kompetisi rutin untuk mengembangkan pemain belia.
”Bagi pengembangan pemain, terpenting adalah penyelenggaraan pertandingan. Pemain butuh pihak-pihak yang menggelar pertandingan setiap pekan bukan hanya satu atau dua minggu,” katanya.
Tidak hanya pemain, tambah Firman, PSSI melalui bidang teknik juga membutuhkan lebih banyak kompetisi untuk memantau bakat-bakat terbaik bangsa.
”Saya tahu Liga Kompas sudah sangat lama berjalan selama 12 tahun. Ketika para pemandu bakat ingin mencari pemain dari liga yang berjenjang, Liga Kompas tentu menjadi pilihan terbaik. Semoga Liga Kompas terus bertahan,” ujar Firman, ayah dari Rayhan Utina, gelandang Persela Lamongan yang dipinjam dari Persija Jakarta untuk Liga 2 2024-2025.
Penulis:
Muhammad Ikhsan MaharEditor:
Wisnu Aji DewabrataPenyelaras Bahasa:
Amin Iskandar