Sebanyak 5.000-6.000 orang mengalami amputasi akibat perang Gaza. Dari jumlah itu, 25 persen di antaranya anak-anak.
16 Des 2025 10:10 WIB · Internasional
AP/Abdel Kareem Hana
Yassin Marouf berbaring di atas kasur tipis dengan seprai berwarna merah di dalam tenda di Gaza tengah. Kaki kirinya diamputasi, sementara kaki kanannya hanya ditopang oleh batang besi.
Pria berusia 23 tahun itu dan saudara laki-lakinya terkena serangan artileri Israel pada bulan Mei lalu saat mereka kembali dari mengunjungi rumah mereka di Gaza utara yang terpaksa ditinggalkan keluarga mereka. Saudara laki-lakinya tewas. Marouf tergeletak berdarah di tanah, kaki kirinya hancur.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2025/12/16/a01ec557-77fd-4506-a812-fe08692e16d6.jpg)
Dokter mengatakan, kaki kanannya juga perlu diamputasi, kecuali jika ia bisa bepergian ke luar negeri untuk menjalani operasi yang mungkin bisa menyelamatkannya. Saat ini, Marouf tidak mampu membeli obat penghilang rasa sakit dan tidak bisa pergi ke rumah sakit secara teratur untuk mengganti perban seperti yang seharusnya.
Korban lain, Haneen al-Mabhouh, yang duduk di kursi rodanya, bermimpi membangun kembali keluarganya, menggendong bayi baru. Ia bermimpi bisa berjalan lagi. Namun, dengan kakinya yang hilang, hidupnya di Gaza terhenti.
Serangan udara Israel pada Juli 2024 menghancurkan rumahnya di Gaza tengah saat ia dan keluarganya sedang tidur. Keempat putrinya tewas, termasuk bayinya yang berusia 5 bulan.
Suaminya mengalami luka bakar parah. Kaki Al-Mabhouh hancur tertimpa reruntuhan dan dokter terpaksa mengamputasi kaki kanannya di atas lutut. ”Selama satu setengah tahun terakhir, saya tidak bisa bergerak bebas, tidak bisa hidup seperti orang lain,” katanya.
Marouf dan Al-Mabhouh adalah perwakilan dari ribuan korban lain, yang harus menderita karena perang antara Israel dan Hamas sejak 7 Oktober 2023. Ini belum terhitung dengan korban tewas yang telah mencapai lebih dari 70.000 orang.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/12/16/2f44ea44-7aed-4173-ad9f-af0a32633efd_jpg.jpg)
Gencatan senjata selama dua bulan di Gaza berjalan lambat dalam memberikan bantuan kepada ribuan warga Palestina yang menderita amputasi akibat bombardir Israel selama dua tahun terakhir. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan 5.000-6.000 orang mengalami amputasi akibat perang tersebut. Dari jumlah itu, 25 persen di antaranya anak-anak.
Mereka yang kehilangan anggota tubuh berjuang untuk beradaptasi, menghadapi kekurangan anggota tubuh palsu dan penundaan panjang dalam evakuasi medis dari Gaza.
Gencatan senjata tersebut hampir tidak membawa peningkatan evakuasi medis bagi 16.500 warga Palestina yang menurut PBB sedang menunggu perawatan penting di luar negeri. Selain korban amputasi, banyak juga pasien menderita berbagai macam penyakit kronis atau luka.
Per 1 Desember, 235 pasien telah dievakuasi sejak gencatan senjata dimulai pada bulan Oktober atau hampir lima orang per hari. Pada bulan-bulan sebelumnya, rata-rata tiga orang per hari. Bagi mereka yang menunggu evakuasi untuk pengobatan, kehidupan serasa berhenti.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/12/16/aa168666-73d7-47b4-b46f-18c12ff6bc92_jpg.jpg)
Berdasarkan laporan WHO bulan Oktober, sekitar 42.000 warga Palestina menderita cedera yang mengubah hidup mereka akibat perang. Selain amputasi, trauma otak, cedera sumsum tulang belakang, dan luka bakar parah adalah kelompok cedera yang terbanyak.
Ini diperparah dengan terbatasnya alat bantu seperti kursi roda, alat bantu kalan dan kruk. Saat ini, Gaza hanya memiliki delapan ahli prostetik yang mampu membuat dan memasang anggota tubuh buatan.
Pusat alat bantu buatan dan polio di kota Gaza merupakan salah satu dari dua pusat prostetik yang masih beroperasi di wilayah tersebut. Mereka menerima kiriman material untuk pembuatan alat bantu buatan tepat sebelum perang dimulai pada 2023. Kiriman kecil lainnya masuk pada Desember 2024, tetapi tidak ada lagi kiriman sejak saat itu.
Ibrahim Khalif menginginkan kaki palsu untuk kaki kanannya agar bisa mendapatkan pekerjaan kasar atau membersihkan rumah untuk menghidupi istri dan anak-anaknya yang sedang hamil. Pada bulan Januari, ia kehilangan kakinya ketika serangan udara Israel menghantam kota Gaza saat ia sedang membeli makanan.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/12/16/4073cd25-f6de-4d56-9490-a25fb32fda4f_jpg.jpg)
”Dulu saya adalah tulang punggung keluarga, tetapi sekarang saya duduk di sini,” kata Khalif. (AP)
Penulis:
Ignatius Danu KusworoEditor:
Yuniadhi AgungPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan