Derita Korban di Gaza

Sebanyak 5.000-6.000 orang mengalami amputasi akibat perang Gaza. Dari jumlah itu, 25 persen di antaranya anak-anak.

16 Des 2025 10:10 WIB · Internasional

AP/Abdel Kareem Hana

Oleh Ignatius Danu Kusworo

Yassin Marouf berbaring di atas kasur tipis dengan seprai berwarna merah di dalam tenda di Gaza tengah. Kaki kirinya diamputasi, sementara kaki kanannya hanya ditopang oleh batang besi. 

Pria berusia 23 tahun itu dan saudara laki-lakinya terkena serangan artileri Israel pada bulan Mei lalu saat mereka kembali dari mengunjungi rumah mereka di Gaza utara yang terpaksa ditinggalkan keluarga mereka. Saudara laki-lakinya tewas. Marouf tergeletak berdarah di tanah, kaki kirinya hancur.

Yassin Marouf, pemuda berusia 23 tahun, kehilangan kaki kirinya dan menderita cedera parah pada kaki kanannya setelah terkena penembakan Israel pada bulan Mei 2025. Ia berbaring di sebuah tenda yang dikelilingi oleh keluarganya di Zawaida, Gaza tengah, Kamis (6/12/2025).

Dokter mengatakan, kaki kanannya juga perlu diamputasi, kecuali jika ia bisa bepergian ke luar negeri untuk menjalani operasi yang mungkin bisa menyelamatkannya. Saat ini, Marouf tidak mampu membeli obat penghilang rasa sakit dan tidak bisa pergi ke rumah sakit secara teratur untuk mengganti perban seperti yang seharusnya.

Korban lain, Haneen al-Mabhouh, yang duduk di kursi rodanya, bermimpi membangun kembali keluarganya, menggendong bayi baru. Ia bermimpi bisa berjalan lagi. Namun, dengan kakinya yang hilang, hidupnya di Gaza terhenti.

Fadi al-Balbisi (12) kaki kanannya diamputasi setelah sebuah peluru ditembakkan oleh tentara Israel pada 28 April 2025. Ia menerima pelatihan rehabilitasi dengan kaki palsu di Rumah Sakit Hamad, Zawaida, Jalur Gaza tengah, Kamis (4/12/2025).
Fadi al-Balbisi (12), yang kaki kanannya diamputasi setelah tembakan peluru oleh tentara Israel pada 28 April, mencoba anggota badan palsu selama pelatihan rehabilitasi di Rumah Sakit Hamad, Zawaida, Jalur Gaza tengah, Kamis (4/12/2025).
Fadi al-Balbisi menerima pelatihan rehabilitasi dengan kaki palsu di Rumah Sakit Hamad, Zawaida, Jalur Gaza tengah, Kamis (4/12/2025).

Serangan udara Israel pada Juli 2024 menghancurkan rumahnya di Gaza tengah saat ia dan keluarganya sedang tidur. Keempat putrinya tewas, termasuk bayinya yang berusia 5 bulan. 

Suaminya mengalami luka bakar parah. Kaki Al-Mabhouh hancur tertimpa reruntuhan dan dokter terpaksa mengamputasi kaki kanannya di atas lutut. ”Selama satu setengah tahun terakhir, saya tidak bisa bergerak bebas, tidak bisa hidup seperti orang lain,” katanya.

Marouf dan Al-Mabhouh adalah perwakilan dari ribuan korban lain, yang harus menderita karena perang antara Israel dan Hamas sejak 7 Oktober 2023. Ini belum terhitung dengan korban tewas yang telah mencapai lebih dari 70.000 orang.

Warga Palestina berjalan di jalan di Jabaliya, Jalur Gaza utara, Sabtu (6/12/2025).

Evakuasi medis berjalan lambat

Gencatan senjata selama dua bulan di Gaza berjalan lambat dalam memberikan bantuan kepada ribuan warga Palestina yang menderita amputasi akibat bombardir Israel selama dua tahun terakhir. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan 5.000-6.000 orang mengalami amputasi akibat perang tersebut. Dari jumlah itu, 25 persen di antaranya anak-anak.

Mereka yang kehilangan anggota tubuh berjuang untuk beradaptasi, menghadapi kekurangan anggota tubuh palsu dan penundaan panjang dalam evakuasi medis dari Gaza.

Haneen al-Mabhouh menunjukkan foto salah satu putrinya di ponsel saat duduk di kursi roda di rumah keluarganya di Nuseirat, Jalur Gaza tengah, Kamis (4/12/2025).
Haneen al-Mabhouh (34) kehilangan kakinya dalam serangan Israel di rumahnya yang juga menewaskan keempat putrinya, termasuk bayinya yang berusia 5 bulan. Ia duduk di kursi roda di rumah keluarganya di Nuseirat, Jalur Gaza tengah, Kamis (4/12/2025).
Terlihat dari sebuah bangunan yang rusak berat selama operasi udara dan darat Israel, tenda-tenda memenuhi kamp darurat di Deir al-Balah, Jalur Gaza tengah, Sabtu (13/12/2025).
Haneen al-Mabhouh melihat foto-foto putrinya di ponsel saat duduk di kursi roda di rumah keluarganya di Nuseirat, Jalur Gaza tengah, Kamis (6/12/2025).

Gencatan senjata tersebut hampir tidak membawa peningkatan evakuasi medis bagi 16.500 warga Palestina yang menurut PBB sedang menunggu perawatan penting di luar negeri. Selain korban amputasi, banyak juga pasien menderita berbagai macam penyakit kronis atau luka.

Per 1 Desember, 235 pasien telah dievakuasi sejak gencatan senjata dimulai pada bulan Oktober atau hampir lima orang per hari. Pada bulan-bulan sebelumnya, rata-rata tiga orang per hari. Bagi mereka yang menunggu evakuasi untuk pengobatan, kehidupan serasa berhenti.

Teknisi anggota badan palsu Ahmed Al-Ashqar, menyiapkan peralatan pembuatan kaki palsu di Rumah Sakit Hamad di Zawaida, Jalur Gaza tengah, Kamis (27/12/2025).

Gaza kekurangan alat bantu prostetik

Berdasarkan laporan WHO bulan Oktober, sekitar 42.000 warga Palestina menderita cedera yang mengubah hidup mereka akibat perang. Selain amputasi, trauma otak, cedera sumsum tulang belakang, dan luka bakar parah adalah kelompok cedera yang terbanyak.

Ini diperparah dengan terbatasnya alat bantu seperti kursi roda, alat bantu kalan dan kruk. Saat ini, Gaza hanya memiliki delapan ahli prostetik yang mampu membuat dan memasang anggota tubuh buatan.

Youssef al-Samri, yang kehilangan kakinya saat mengambil air di dekat rumahnya setelah serangan udara Israel pada bulan Mei, berjalan dengan tangannya di taman kanak-kanak tempat dia mengungsi di lingkungan Al-Tuffah, kota Gaza, Senin (24/11/2025).
Fadi al-Balbisi berjalan dengan kruk kembali ke rumah setelah menerima pelatihan rehabilitasi dengan kaki palsu di Rumah Sakit Hamad, Zawaida, Jalur Gaza tengah, Kamis (4/12/2025).
Kaki palsu yang dibuat untuk Fadi al-Balbisi, yang kaki kanannya diamputasi setelah sebuah peluru ditembakkan oleh tentara Israel pada 28 April, di Rumah Sakit Hamad, Zawaida, Jalur Gaza tengah, Kamis (4/12/2025).

Pusat alat bantu buatan dan polio di kota Gaza merupakan salah satu dari dua pusat prostetik yang masih beroperasi di wilayah tersebut. Mereka menerima kiriman material untuk pembuatan alat bantu buatan tepat sebelum perang dimulai pada 2023. Kiriman kecil lainnya masuk pada Desember 2024, tetapi tidak ada lagi kiriman sejak saat itu.

Ibrahim Khalif menginginkan kaki palsu untuk kaki kanannya agar bisa mendapatkan pekerjaan kasar atau membersihkan rumah untuk menghidupi istri dan anak-anaknya yang sedang hamil. Pada bulan Januari, ia kehilangan kakinya ketika serangan udara Israel menghantam kota Gaza saat ia sedang membeli makanan.

Youssef al-Samri, 16 tahun, kehilangan kakinya saat mengambil air di dekat rumahnya dan terkana serangan udara Israel pada bulan Mei 2025. Ia duduk di kursi roda di taman bermain taman kanak-kanak tempat dia mengungsi di lingkungan Al-Tuffah, Kota Gaza, Senin (24/12/2025).

”Dulu saya adalah tulang punggung keluarga, tetapi sekarang saya duduk di sini,” kata Khalif. (AP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Ignatius Danu Kusworo
 | 

Editor:

Yuniadhi Agung
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan