ASIAN BEACH GAMES 2026

Desak dan Asih, Pemanjat Putri Indonesia yang Kembali Setelah Lama ”Hilang”

Tujuh tahun nama pemanjat putri Indonesia hilang dari daftar pemecah rekor dunia. Desak Made dan Kadek Adi Asih mengembalikannya, melanjutkan kiprah Aries Susanti.

30 Apr 2026 12:22 WIB · Olahraga

Naif Muhammad Al as

Oleh Rebiyyah Salasah

Desak Made Rita Kusuma Dewi dan Kadek Adi Asih mengukir rekor dunia dan rekor Asia di Asian Beach Games 2026. Pemecahan rekor ini bermakna besar bagi prestasi pemanjat putri Indonesia setelah era legenda hidup Aries Susanti. Desak dan Asih membuktikan, pemanjat putri bisa melanjutkan kiprah gemilang Aries dengan terus berprestasi di level Asia dan dunia.

Butuh sepersekian detik bagi Asih untuk sadar bahwa ia dan Desak adalah pemenang adu kecepatan melawan pasangan China, Zhou Yafei-Deng Lijuan, di semifinal panjat tebing nomor estafet putri Asian Beach Games 2026.

Dalam perlombaan sengit di Tianya Haijiao Venue Cluster, Sanya, China, Rabu (29/4/2026) malam, Asih yang merupakan pemanjat kedua baru emosional setelah melihat reaksi Deng di jalur pendakian sebelah dan total catatan waktu miliknya bersama Desak, yaitu 31,174 detik.

Lewat finis 13,174 detik, Desak dan Asih mengalahkan Zhou-Deng dengan selisih hanya 0,004 detik. Duet pemanjat asal Buleleng, Bali, ini lantas melaju ke final, memastikan akan pulang dengan membawa medali. Lalu, hal yang paling utama, mereka menjadi pemilik rekor dunia baru pada kategori estafet putri. Rekor dunia ini juga sekaligus menjadi rekor Asia.

Asih mengepalkan tangan ke atas dan berteriak. Saat menuruni papan panjat, pemanjat berusia 19 tahun ini tak bisa menyembunyikan rasa haru.

”Asih tentunya merasa senang dan tidak menyangka karena pecah rekor itu belum ada di benak Asih. Tapi, Asih bersyukur mendapatkan kesempatan itu,” ujarnya setelah lomba.

Pemanjat tebing disiplin ”speed” Indonesia, Kadek Adi Asih, terharu setelah menyelesaikan perlombaan final kategori estafet putri Asian Beach Games 2026 di Tianya Haijiao Venue Cluster, Sanya, China, Rabu (29/4/2026).

Dengan pencapaian di Sanya, Desak dan Asih mengembalikan nama pemanjat putri Indonesia ke daftar pemecah rekor dunia panjat tebing disiplin speed setelah sekian lama. Pemanjat putri Indonesia terakhir yang memecahkan rekor dunia adalah Aries Susanti Rahayu untuk kategori individu pada 2019.

Aries merupakan pemanjat putri pertama di dunia yang mampu memanjat dalam waktu di bawah 7 detik, tepatnya 6,99 detik. Aries mengukir rekor dunia itu di seri Piala Dunia 2019 yang juga digelar di China, yakni di Xiamen.

Sejak Aries pensiun

Aries juga menjadi pemanjat Indonesia pertama yang mencatatkan namanya di daftar pencetak rekor dunia. Setelah itu, nama pemanjat putri Indonesia ”menghilang” dalam daftar, digantikan Iuliia Kaplina (Rusia), lalu Aleksandra Miroslaw (Polandia) yang mendominasi hingga saat ini. Adapun Aries pensiun sebagai atlet profesional pada 2021.

Sampai akhirnya dari 2021 hingga 2023, Indonesia kembali memecahkan rekor dunia lewat pemanjat putra. Kiromal Katibin dan Veddriq Leonardo secara bergantian menjadi pemegang rekor dunia lewat penampilan impresif mereka. Veddriq bahkan menjadi manusia pertama yang mampu memanjat dinding panjat dalam waktu di bawah 5 detik.

Atlet panjat tebing Indonesia Aries Susanti Rahayu mengucapkan syukur setelah berhasil memecahkan rekor dunia di nomor Speed World Record putri dengan catatan waktu 6,995 detik pada partai final Kejuaraan Dunia IFSC Climbing Worldcup di Xiamen, China, Sabtu (19/10/2019).

”Yang pasti saya ikut bangga dan bahagia rekor dunia itu dipecahkan oleh tim Indonesia,” kata Aries yang menjadi bagian dari ofisial tim panjat Indonesia di Sanya.

”Kebanggaan saya berlipat karena ada yang melanjutkan jejak saya di sektor putri dan karena saya juga bisa menyaksikan dan mendampingi langsung dalam prosesnya,” ujarnya lagi.

Aries, yang datang ke Sanya sebagai analis performa tim, menyaksikan langsung bagaimana Desak dan Asih mengatasi tantangan melawan Zhou-Deng, lalu memecahkan rekor dunia. Aries memahami bahwa berduel melawan Zhou-Deng bukan perkara mudah bagi Desak-Asih.

Selain didukung publik sendiri, Zhou-Deng adalah pemegang rekor dunia dan Asia estafet putri dengan catatan waktu 13,28 detik yang mereka torehkan di World Games 2025, Chengdu, China. Namun, Asih dan Desak mampu mengatasi tantangan berat itu.

Pemanjat tebing disiplin ”speed” Indonesia, Desak Made Rita Kusuma Dewi (kiri) dan Kadek Adi Asih, berlomba pada final kategori estafet putri Asian Beach Games 2026 di Tianya Haijiao Venue Cluster, Sanya, China, Rabu (29/4/2026).

Perlombaan estafet diawali dengan adu kecepatan dari pemanjat pertama dari dua tim berbeda. Setelah pemanjat pertama menyentuh tombol finis, baru pemanjat kedua bisa mulai pemanjatan mereka dengan waktu terus berjalan. Total waktu pemanjatan akan menentukan siapa pemenang dalam duel tersebut.

Desak, sebagai pemanjat pertama, mengawali duel dengan beradu kecepatan melawan Zhou. Kendati waktu reaksinya lebih lambat dengan 0,183 detik dibandingkan dengan Zhou 0,173 detik, Desak mampu mengimbangi lawannya dan akhirnya finis lebih cepat dengan 6,473 detik. Zhou finis 0,010 detik kemudian.

Asih kemudian melaju dengan kecepatan yang nyaris berimbang dengan Deng. Penentunya, seperti juga pada Desak, ialah pada penyelesaian akhir, yakni ketika memegang tombol finis. Asih dan Desak mampu memegang tombol finis lebih cepat dari lawannya.

Tidak seperti Asih, Desak tampak lebih tenang setelah memastikan rekor dunia dan kemenangan itu. Wajar, perlombaan belum sepenuhnya selesai karena mereka masih harus menuntaskan laga final. Lengkap sudah malam istimewa itu bagi Desak dan Asih karena mereka melanjutkan performa positif dengan medali emas.

Pemanjat tebing disiplin ”speed” Indonesia, Desak Made Rita Kusuma Dewi (kiri) dan Kadek Adi Asih, berlomba di kategori estafet putri Asian Beach Games 2026 di Tianya Haijiao Venue Cluster, Sanya, China, Rabu (29/4/2026).

Desak-Asih memenangi perlombaan final melawan Jeong Jimin-Sung Hanareum (Korea Selatan). Mereka finis dalam waktu 13,76 detik, sedangkan lawannya 16,50 detik. Setelah perlombaan, Desak pun tersenyum bahagia.

Sejak tahun lalu, Desak sebenarnya menargetkan untuk memecahkan rekor dunia. Impian itu terus ia pupuk. Pada Kejuaraan Asia 2026, ia ”merebut” kembali rekor Asia dengan catatan waktu 6,07 detik.

Juara seri Piala Dunia 2025 Krakow, Polandia, ini butuh lebih dari 0,04 detik lebih cepat untuk mengalahkan rekor dunia Aleksandra Mirslaw (Polandia) yang pernah finis dalam waktu 6,03 detik. Di latihan, Desak sudah mampu melakukannya, bahkan dengan catatan waktu lebih cepat lagi.

Kendati sudah punya target itu, Desak juga tetap tidak menyangka bisa mengukir rekor dunia bersama Asih. Apalagi, prestasi lengkap itu datang setelah pada perlombaan kategori individu, Selasa (28/4/2026), Desak tersingkir pada babak perempat final. Tangannya ternyata belum menyentuh tombol finis sehingga catatan waktunya terus bergulir dan ia dianggap fall.

Pemanjat tebing disiplin <em>speed</em> Indonesia, Desak Made Rita Kusuma Dewi (kanan) dan Kadek Adi Asih, berlatih bersama di pemusatan latihan nasional panjat tebing di Hotel Santika Premiere Kota Harapan Indah, Bekasi, Jawa Barat, Selasa (21/4/2026).
Pemanjat tebing disiplin <em>speed </em>Indonesia, Desak Made Rita Kusuma Dewi (kiri) dan Kadek Adi Asih, berlatih estafet di pemusatan latihan nasional panjat tebing di Hotel Santika Premiere Kota Harapan Indah, Bekasi, Jawa Barat, Selasa (21/4/2026).
Pemanjat tebing disiplin <em>speed</em> Indonesia, Kadek Adi Asih, berlatih di pemusatan latihan nasional panjat tebing di Hotel Santika Premiere Kota Harapan Indah, Bekasi, Jawa Barat, Selasa (21/4/2026).
Pemanjat tebing disiplin <em>speed</em> Indonesia, Kadek Adi Asih (kiri) dan Desak Made Rita Kusuma Dewi, berlatih di pemusatan latihan nasional panjat tebing di Hotel Santika Premiere Kota Harapan Indah, Bekasi, Jawa Barat, Selasa (21/4/2026).
Pemanjat tebing disiplin <em>speed</em> Indonesia, Desak Made Rita Kusuma Dewi, berlatih di pemusatan latihan nasional panjat tebing di Hotel Santika Premier Kota Harapan Indah, Bekasi, Jawa Barat, Selasa (21/4/2026).

Kata Desak, sulit mengungkapkan kegembiraannya. Ia hanya tahu, baik rekor dunia maupun medali emas tak lepas dari hasil latihan dan kuasa Tuhan.

”(Ini hasil) kami berlatih, bersama-sama dengan tim, lalu mengevaluasi gerakan hingga sedetail mungkin. Namun, di kompetisi ini, saya tidak mau berpuas diri karena masih banyak kompetisi selanjutnya,” ujar Desak.

Modal penting

Galar Pandu Asmoro, pelatih tim speed Indonesia, mengatakan, hasil di Sanya jadi modal penting untuk menatap serangkaian kompetisi yang akan dijalani anak-anak asuhannya, yakni seri Piala Dunia dan Asian Games. Kendati target dua emas tidak terpenuhi, Galar mengatakan, hasil di Asian Beach Games dapat menjadi indikator kesiapan mereka untuk menyambut agenda kompetisi selanjutnya.

Selain itu, Galar juga menyoroti performa dan catatan waktu pemanjat-pemanjat muda seperti Asih dan Antasyafi Robby Almi yang meraih medali perak di kategori individu serta estafet putra bersama Raharjati Nursamsa. Menurut Galar, para atlet muda menunjukkan perkembangan yang cukup membanggakan.

Dari Sanya, para pemanjat Indonesia total mengoleksi satu emas, dua perak, dan satu rekor dunia serta Asia. Adapun prestasi dari Desak dan Asih semakin membuktikan, pemanjat putri Indonesia tetap ada dan ”menyala”.


Kerabat Kerja

Penulis:

Rebiyyah Salasah
 | 

Editor:

Yulvianus Harjono
 | 

Penyelaras Bahasa:

Didik Durianto