Kemenangan MU atas Arsenal dan City sangatlah memukau. Namun, tren positif itu membawa banyak pertanyaan selanjutnya untuk Michael Carrick, sang pelatih interim.
26 Jan 2026 18:28 WIB · Olahraga
AP
Sepekan terakhir, julukan ”king” atau raja untuk Manchester United mulai berubah makna. Dari hanya satir terhadap klub terbesar di Inggris yang sudah kehilangan aura selama satu dekade lebih, jadi status yang bisa kembali dibanggakan. MU seolah menguasai Liga Inggris setelah dua laga terakhir.
Bagaimana tidak, ”Si Setan Merah” menumbangkan Arsenal dan Manchester City berturut-turut. Dua tim itu merupakan kandidat terkuat juara liga musim ini. Istimewanya, kemenangan itu bukan dihasilkan karena sekadar beruntung. MU berada satu level di atas tim-tim lawan dan layak menang.
Semua itu berkat tangan dingin pelatih interim Michael Carrick. Hanya dalam dua pekan, dia berhasil menyulap status medioker tim di era pelatih sebelumnya, Ruben Amorim. Apakah itu hanya kebetulan, seperti lonjakan performa yang sering terjadi saat transisi sosok pelatih? Mungkin saja.
Ada sesuatu yang istimewa di tim ini. Cara mereka bermain meyakinkan. Saya mesti memberikan selamat kepada Carrick, dia telah menciptakan sesuatu.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/26/61a52c11968ea71bdb67f768d76ce827-wires_photo_2026_01_26T033337.539.jpg)
Namun, perlu diingat, Carrick bukan pelatih interim pertama yang mengisi kekosongan Amorim. Mantan gelandang MU, Darren Fletcher, terlebih dulu memimpin dalam dua laga setelah pemecatan Amorim. Hasilnya, mereka gagal menang berturut-turut dan juga tersingkir dari Piala FA.
Semua penggemar MU di seluruh dunia pasti bisa merasakan, ada yang berbeda dari Bruno Fernandes dan rekan-rekan di era Carrick. Itu pula yang dilihat mantan Pelatih Arsenal Arsene Wenger yang sudah puluhan kali berhadapan dengan Si Setan Merah.
”Ada sesuatu yang istimewa di tim ini. Cara mereka bermain meyakinkan. Saya mesti memberikan selamat kepada Carrick, dia telah menciptakan sesuatu,” ujar Wenger dalam acara Bein Sports seusai Arsenal takluk dari MU 2-3 di Stadion Emirates, London, Senin (26/1/2026) WIB.
Keberhasilan terbesar Carrick adalah mampu mengembalikan DNA klub. MU kembali terlihat seperti tim besar yang haus kemenangan. Mereka menyerang dan bertahan bersama sebagai satu unit layaknya pasukan perang. Faktor kesatuan itu terdengar klise, tetapi sering terlewatkan skuad MU pada era sebelumnya.
Setelah membangkitkan kesadaran pemain, mantan gelandang MU itu bisa dengan mudah menerapkan strategi yang diinginkan. Buktinya terlihat dalam performa pertahanan mereka di dua laga terakhir, terutama versus Arsenal. MU mampu menutup banyak lubang yang sering terekspos sepanjang musim ini.
Pertahanan MU sangat solid dalam semua fase bertahan, dari blok tinggi sampai rendah. Saat menggunakan blok tinggi, hanya dua pemain yang bekerja menekan tiga pemain Arsenal, yaitu Bryan Mbeumo dan Fernandes. Namun, mereka berlari sekuat tenaga untuk membatasi ruang progresi pemain lawan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/26/d792c95e2c14f6078085a93421ecdf00-Arsenal_vs_MU.png)
Berkat kerja keras itu, para pemain MU di lini tengah bisa menjaga lawan dengan satu lawan satu. Arsenal panik menghadapi tekanan itu sempat mengakibatkan blunder Martin Zubimendi yang berujung gol penyeimbang Mbeumo. Blok tinggi MU tidak mudah dilewati seperti biasanya.
Kelemahan terbesar MU dalam blok rendah juga teratasi. Mereka biasanya sering dihukum karena pergerakan lawan dari lini kedua. Versus Arsenal, Si Setan Merah bisa menggunakan lima sampai enam pemain sekaligus di garis terakhir. Pemain lain, seperti gelandang Casemiro, fokus membaca pergerakan dari lini kedua.
Itulah gunanya bermain sebagai satu unit. Jika seluruh pemain menginvestasikan energi yang sama saat bertahan dan menyerang, hasilnya pasti berbeda. ”Michael datang dan sangat luar biasa bersama kami. Dia membawa energi baru. Kelompok ini benar-benar jadi lebih bersemangat,” kata bek MU, Harry Maguire.
Bagi para pelatih hebat, seperti mantan manajer MU Sir Alex Ferguson, salah satu kunci utama kesuksesannya adalah mampu melihat dan mengeluarkan kemampuan terbaik pemain. Carrick tampaknya mewarisi ilmu tersebut dari Ferguson.
Pemain sayap Patrick Dorgu menjadi buktinya. Pemain yang begitu cemas setiap menyentuh bola di era Amorim sekarang menjadi senjata tim paling berbahaya. Dia sudah mencetak dua gol dalam dua laga terakhir, lebih banyak dibandingkan pada separuh musim pertama di liga.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/18/65947a77a73753c4ff7bf6db09019b12-Britain_Premier_League_Soccer_25_.jpg)
Carrick menempatkan Dorgu sebagai gelandang sayap kiri dalam formasi 4-2-3-1. Menariknya, Dorgu diberikan kebebasan bergerak. Dia bisa berada di posisi penyerang tengah ataupun gelandang serang. Pendekatan itu berbuah manis saat Dorgu mencetak gol ke gawang Arsenal dari luar kotak penalti.
Tidak hanya serangan, Dorgu juga menjadi elemen terpenting MU di pertahanan. Dia ditugaskan membantu bek Luke Shaw di sisi kiri untuk mengatasi pergerakan penyerang sayap lawan Bukayo Saka. Dorgu yang semula kurang diperhitungkan tiba-tiba jadi berlian bagi tim.
Carrick sudah sangat mengenal MU setelah pengalaman belasan tahun di klub. Karena itu pula, dia enggan jemawa. ”Saya tidak mau terbawa suasana. Dua laga itu memang membawa banyak emosi dan meningkatkan percaya diri, tetapi Anda harus tetap rendah hati. Untuk tetap maju, Anda harus paham mengapa hasil itu bisa didapatkan,” katanya.
Seperti diketahui, konsistensi merupakan masalah bagi MU dalam beberapa musim terakhir. Mereka sering kali menang dalam laga besar lalu terpeleset saat bertemu tim-tim kecil. Sang pelatih berharap, para pemain bisa menunjukkan komitmen yang sama dalam 15 laga tersisa.
Carrick akan menghadapi tantangan baru di laga-laga selanjutnya. Mereka dinanti tim lain yang menggunakan skema berbeda dibandingkan Arsenal dan City. MU tidak bisa lagi mengharapkan tim lawan bermain dengan garis pertahanan tinggi lalu mengeksekusi serangan balik kilat.
MU akan ditantang Fulham, Tottenham, dan West Ham pada tiga laga selanjutnya. Tim-tim itu menggunakan pendekatan bertahan yang lebih pasif dibandingkan Arsenal dan City. MU pun harus lebih berani menyerang. Saat bersamaan, potensi serangan balik lawan juga menanti mereka.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/26/a171e69e1d5207b95575aa7687868d0e-Britain_Premier_League_Soccer_31_.jpg)
Roy Keane, mantan kapten MU, belum yakin dengan Carrick. “Dua penampilan hebat, tetapi semuanya bisa menang dalam dua laga. Jika mereka menang semua laga sampai akhir musim, saya masih tidak akan memercayakan jabatan (permanen) kepadanya,” katanya kepada Sky Sports.
Di balik fase bulan madu Carrick bersama MU, banyak tanda tanya yang harus dijawab. Jawaban itu yang akan menentukan kelayakan sang pelatih untuk mendapatkan status permanen. Banyak mantan pelatih MU yang membawa segudang harapan setelah era Ferguson, tetapi semua runtuh pada waktunya. (AP/REUTERS)
Penulis:
Kelvin HianusaEditor:
Wisnu Aji DewabrataPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan