Di Pesantren, Makan Bergizi Gratis Tak Boleh Sekadar Makan

Selain diberikan makan bergizi gratis, para santri juga akan diajarkan etika makan dan minum, membawa peralatan makan sendiri, dan mencucinya sendiri setelah makan.

06 Jan 2025 08:00 WIB · Humaniora

Oleh Stephanus Aranditio

JAKARTA, KOMPAS — Tidak hanya untuk para pelajar di sekolah umum, program Makan Bergizi Gratis diberikan kepada para santri di pesantren seluruh Indonesia mulai Senin, 5 Januari 2025. Ini tidak sekadar pemberian makan untuk pemenuhan kebutuhan jasmani, tetapi juga penguatan nilai spiritualitas.

Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama (Kemenag) Abu Rokhmad mengutarakan, dalam seporsi makanan bergizi yang dibagikan, ada pengajaran etika makan dan minum sebagai bagian pendidikan karakter.

Para pemimpin pesantren harus mengoptimalkan momen ini untuk memperkuat penanaman karakter bagi santri. ”Program Makan Bergizi Gratis bukan sekadar inisiatif untuk memenuhi kebutuhan gizi peserta didik, tetapi juga jadi media pembelajaran karakter,” kata Abu Rokhmad dalam siaran pers, Senin (5/1/2025).

Program Makan Bergizi Gratis di pondok pesantren akan menggunakan sistem prasmanan. Oleh karena itu, sebelum mendapatkan makan pun para santri diajarkan nilai toleransi dan tenggang rasa untuk mengantre dengan tertib, mengambil makanan secukupnya, dan menghormati teman-teman sekelasnya.

Etika makan

Adapun etika makan dan minum yang akan diajarkan kepada para santri, antara lain, ialah berwudu ketika hendak makan, membaca basmalah sebelum makan, makan dengan tangan kanan, dan makan memakai tiga jari.

Selain itu, etika makan dan minum lainnya ialah mengambil makanan yang terdekat, tidak makan sambil berbaring, tidak mencaci makanan, tidak membiarkan makanan jatuh, dan tidak berlebihan dalam makan.

Quote

Total ada 190 titik Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang beroperasi pada hari pertama ini.

Kemudian, tidak makan dan minum dengan berdiri, minum dengan tiga tegukan dan membaca basmalah, tidak bernapas dalam tempat minum, membaca hamdalah setelah makan, dan diakhiri dengan berkumur setelah makan.

Tak berhenti di situ, para santri disuruh membawa peralatan makan dari rumah yang kemudian dicuci sendiri setelah makan. Hal ini mengajarkan para peserta didik tentang nilai tanggung jawab terhadap barang pribadi serta membiasakan hidup bersih dan mandiri.

Panduan ini tertuang dalam Surat Edaran (SE) Nomor 10 Tahun 2024 tentang Panduan Makan Bergizi Gratis (MBG) di Lingkungan Pesantren. Surat ini diterbitkan pada 31 Desember 2024 untuk pondok pesantren di seluruh Indonesia.

”Seluruh entitas pendidikan Islam siap menyukseskan makan bergizi gratis yang merupakan program prioritas Presiden Prabowo,” ucapnya.

Menteri Agama RI Nasaruddin Umar meninjau pelaksanan simulasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Pondok Pesantren Nahdlatul Ummat, Polewali Mandar, Sulawesi Barat, Sabtu (30/11/2024).

Dalam aturan itu juga sudah ditentukan jadwal pembagian makan bergizi gratis. Peserta didik PaudQu dan Kelas 1-2 Satuan Pendidikan Mu'adaalah (SPM)/Pendidikan Diniyah Formal (PDF)/Pendidikan Kesetaraan pada Pondok Pesantren (PKPPS) jenjang Ula akan dibagikan pukul 08.00 waktu setempat.

Peserta didik kelas 3-6 SPM/PDF/PKPPS jenjang Ula akan dibagikan pukul 09.30 waktu setempat. Terakhir, peserta didik SPM/PDF/PKPPS jenjang Wustha dan Ulya akan dibagikan pukul 12.00 waktu setempat.

Sebelum memulai program ini secara resmi pada hari ini, Kemenag beberapa kali menguji coba program tersebut, seperti di Pondok Pesantren Nahdlatul Ummat, Polewali Mandar, Sulawesi Barat, Sabtu (30/11/2024). Saat itu, Menteri Agama Nasaruddin Umar meninjau langsung pelaksanaan simulasi.

Secara umum, tidak sulit melaksanakan program tersebut kepada para santri karena mereka sudah menerapkan tradisi makan bersama sejak lama di pesantren walau belum terstandardisasi. Menag menyatakan, lembaga pendidikan binaan Kemenag siap menjalankan program ini.

”Tidak ada bedanya dengan sekolah umum, sama-sama menikmati hasil pembangunan yang dicanangkan oleh Presiden Prabowo. Semua makan gratis,” ucap Nasaruddin.

Para santri makan bersama dalam simulasi program Makan Bergizi Gratis di Pondok Pesantren Nahdlatul Ummat, Polewali Mandar, Sulawesi Barat, Sabtu (30/11/2024).

Seperti diketahui, program Makan Bergizi Gratis merupakan program prioritas Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka untuk mencapai visi Indonesia Emas 2045. Badan Gizi Nasional (BGN) yang dibentuk pun resmi memulai ini pada 6 Januari 2025.

Program ini dirancang untuk meningkatkan status gizi peserta didik, ibu hamil, ibu menyusui, dan anak balita. Selain menyediakan makanan bergizi, program ini juga berfokus pada edukasi masyarakat tentang pentingnya pola makan sehat dan gizi seimbang sebagai fondasi generasi masa depan.

Kepala Biro Hukum dan Humas BGN Lalu Muhammad Iwan Mahardan mengungkapkan, total ada 190 titik Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang beroperasi pada hari pertama ini. Dapur-dapur yang memasak menu MBG itu tersebar di 26 provinsi.

”Sebanyak 190 lokasi SPPG siap operasional per tanggal 6 Januari 2025,” kata Lalu, Senin (6/1/2024).

Suasana dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Tanah Sareal, Kota Bogor, Senin 9/12/2024. Makanan setelah dimasak oleh petugas masak, akan dimasukkan ke dalam wadah stainlesstel oleh petugas pemorsian.

Pemerintah menargetkan penerima Makan Bergizi Gratis tahun 2025 sebanyak 19,47 juta jiwa. Program ini menurut rencana akan terus berlanjut hingga lima tahun ke depan hingga mencapai 82,9 juta penerima pada tahun 2029.

Pada tahun 2025, alokasi anggaran yang dikucurkan untuk program ini sebesar Rp 71 triliun bersumber dari APBN. Rinciannya, anggaran sebesar Rp 63,36 triliun digunakan untuk pemenuhan gizi nasional dan sisanya dana Rp 7,43 triliun untuk program dukungan manajemen operasional.

Tahun 2026, penerima MBG akan lebih banyak, yakni menjadi 30,46 juta dengan anggaran Rp 109,7 triliun. Tahun 2027 menjadi 41,45 juta penerima dengan anggaran Rp 149,2 triliun.

Tahun 2028 menjadi 62,17 juta penerima dengan anggaran Rp 223,8 triliun. Kemudian pada 2029 naik bahkan hingga 82,9 juta penerima dengan anggaran Rp 298,4 triliun. Dengan anggaran tersebut, Badan Gizi Nasional (BGN) mematok harga per porsi MBG sebesar Rp 10.000.


Kerabat Kerja

Penulis:

Stephanus Aranditio
 | 

Editor:

Evy Rachmawati
 | 

Penyelaras Bahasa:

Kusnadi .