Kompas.id Brief

Dibayangi Ancaman Israel, Bagaimana Sebenarnya Perkembangan Teknologi Nuklir Iran?

Badan Tenaga Atom Internasional atau IAEA melaporkan perkembangan mengkhawatirkan dari teknologi nuklir Iran. Sedikit lagi, Iran bisa membuat bom atom.

02 Jun 2025 11:59 WIB · Internasional

Oleh Elsa Emiria Leba

Apa yang Anda bisa pelajari dari artikel ini?

  1. Apa temuan Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA)?
  2. Bagaimana sikap IAEA?
  3. Apa tanggapan Iran?
  4. Bagaimana kelanjutan perundingan antara AS dan Iran?
  5. Bagaimana pengaruh Israel terhadap hubungan AS-Iran?

Apa temuan Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA)?

copy title

IAEA melaporkan, Sabtu (31/5/2025), Iran melanggar ketentuan kepemilikan nuklir. Iran kini memiliki 408,6 kilogram uranium atau naik 133,8 kg dari data per Februari 2025. Pengayaan uranium tersebut telah mencapai 60 persen.

”Dari taraf itu, hanya butuh sedikit waktu untuk mencapai pengayaan 90 persen, yaitu level yang cukup untuk membuat bom,” tulis Kepala IAEA Rafael Grossi.

Satu bom atom hanya memerlukan 42 kilogram uranium dengan pengayaan 90 persen. Perkiraannya, uranium Iran bisa mencapai jumlah 953,2 kilogram pada akhir Mei 2025.

Dalam laporan yang berbeda, IAEA mengatakan, terdapat tanda-tanda pengolahan nuklir di empat tempat di Iran. Tempat-tempat ini tidak terdaftar sebagai lokasi resmi pengayaan nuklir. Tiga tempat yang sudah dipastikan adalah Lavisan-Shian, Varamin, dan Turquzabad.

Bagaimana sikap IAEA?

copy title

Fakta terbaru tentang nuklir Iran mengkhawatirkan. Iran satu-satunya negara di luar perjanjian non-proliferasi nuklir yang melakukannya. Menurut IAEA, sikap Iran selama ini susah diajak bekerja sama.

Empat negara dari 35 negara anggota Dewan Gubernur IAEA kini sedang menggodok usulan mengenai rekomendasi sikap dan tindakan IAEA terhadap Iran. Keempat negara anggota tersebut adalah Inggris, Perancis, Jerman, dan Amerika Serikat.

Pada 22 Mei 2025, AS sudah menjatuhkan sanksi baru terhadap sektor konstruksi Iran. Sektor itu, menurut Washington, mengimpor material strategis bagi Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) serta program pengayaan uranium Iran.

“Dengan sanksi ini, AS memiliki kewenangan menjatuhkan sanksi yang lebih luas untuk mencegah Iran mendapatkan material strategis di bawah IRGC dan juga program proliferasinya,” kata Departemen Luar Negeri AS.

Apa tanggapan Iran?

copy title

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyayangkan laporan IAEA karena pengembangan nuklir Iran sudah sesuai aturan. ”Jelas sekali laporan IAEA dibuat berdasarkan bias dan sarat muatan politis untuk memojokkan Iran,” katanya.

Araghchi menekankan, Iran tidak berminat mengembangkan senjata nuklir. Fatwa dari Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei juga melarang pengayaan nuklir untuk persenjataan, termasuk senjata untuk bertahan. Pengayaan nuklir hanya untuk penggunaan di sektor kesehatan, energi, dan pertanian.

Iran juga balas mengkritik IAEA karena tidak kritis atas keluarnya AS di bawah pemerintahan Presiden AS Donald Trump periode pertama dari Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA).

JCPOA adalah prakarsa mantan Presiden AS Barack Obama. Obama berjanji mencabut sanksi ekonomi Iran apabila pengayaan nuklirnya tidak untuk membuat senjata.

Bagaimana kelanjutan perundingan antara AS dan Iran?

copy title

Gedung Putih telah mengirim proposal perjanjian nuklir untuk Iran. Orang yang membawa proposal itu adalah Menlu Oman Badr Albusaidi ketika berkunjung ke Teheran. Oman adalah negara penengah untuk perundingan AS-Iran yang dimulai kembali sejak April 2015.

Araghchi mengaku masih mempelajari proposal AS yang menekankan Iran tidak boleh membuat senjata nuklir itu. ”Kami harus memastikan proposal ini sejalan dengan kepentingan nasional dan hak-hak rakyat Iran,” ucapnya.

Perundingan nuklir AS-Iran babak baru berlangsung di Oman. Sudah ada dua kali perundingan pada April. Pertemuan ketiga dilakukan di Italia pada 23 Mei 2025.

Namun, perundingan AS-Iran terjadi secara tidak langsung. Menlu Albusaidi bolak balik mengantar pesan tertulis dari kedua pihak yang berada di ruangan yang berbeda.

Bagaimana pengaruh Israel terhadap hubungan AS-Iran?

copy title

Israel berperan atas keluarnya AS dari JCPOA. Trump mendengar masukan dari Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bahwa Iran tidak bisa dipercaya.

Israel juga ikut campur dalam perundingan AS-Iran. Times of Israel, Kamis (22/5/2025), memberitakan, Kepala Mossad David Barnea dan Menteri Urusan Strategis Pemerintah Israel Ron Dermer terbang ke Italia untuk bertemu Steve Witkoff, utusan khusus Presiden AS Donald Trump. Witkoff memimpin delegasi AS saat berunding dengan Iran.

Komunitas intelijen Israel meyakini, tidak akan ada kesepakatan antara kedua negara tersebut. Intelijen AS juga mendapati adanya potensi serangan militer Israel ke sejumlah fasilitas nuklir Iran.

Sebaliknya, Iran juga mendesak dunia internasional harus memberi tekanan yang sama terhadap Israel yang memiliki senjata nuklir. ”Tidak hanya membongkar persenjataan nuklirnya, Israel juga harus tunduk dan patuh pada perjanjian perlucutan senjata,” kata Araghchi, dilansir IRNA.


Kerabat Kerja

Penulis:

Elsa Emiria Leba
 | 

Editor:

Bonifasius Josie Susilo H
 | 

Penyelaras Bahasa:

Kusnadi .