Toni Nadal adalah sosok penting di balik sukses Rafael Nadal. Pelatih yang juga pamannya itu mendidik Nadal menjadi petenis tangguh dan manusia yang baik.
22 Nov 2024 07:11 WIB · Olahraga
Jika hanya bisa memilih satu orang yang paling berpengaruh pada perjalanan 23 tahun Rafael Nadal sebagai petenis profesional, sosok itu adalah Toni Nadal. Tempaan keras sejak Nadal berusia belia membuat keponakannya itu menjadi sosok yang dikenal paling tangguh oleh para kompetitornya.
Nadal, yang bersaing di arena tenis profesional sejak 2001, pensiun pada kejuaraan Piala Davis di negaranya sendiri, Spanyol, pada 19-24 November. Dikelilingi keluarga, petenis tim lain, dan penonton yang memenuhi Palacio de Deportes Jose Maria Martin Carpena, Malaga, Nadal meninggalkan kompetisi tenis yang telah menjadikannya sebagai ”Raja Lapangan Tanah Liat”.
Banyak nama besar di tenis, salah satunya John McEnroe, yang mengakui bahwa melawan Nadal di lapangan tanah liat bukan hanya tantangan terberat di arena tenis, melainkan dalam persaingan olahraga secara umum.
McEnroe tak hanya menilai dari sisi kemampuan teknis, dia juga melihat renjana Nadal pada dunia tenis yang tak berkesudahan. Petenis yang pensiun pada usia 38 tahun ini memiliki kegigihan, sikap disiplin, karakter sportif, dan berbagai faktor tidak kasat mata lainnya yang membentuk mental juara.
Oleh banyak pesaingnya, Nadal dinilai sebagai petenis paling kompetitif. Dia akan mengejar bola ke mana pun meskipun dalam posisi sulit. Nadal akan melakukan itu dengan melakukan sprint dari sudut atau sisi lapangan yang berlawanan sehingga penampilannya dikenal atraktif oleh penonton. Sifatnya itu menjadi contoh bagi banyak petenis muda dan anak-anak yang menjadi penggemarnya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2023/01/27/ff870c4c-e7e0-4782-bd1f-13f23cefdcd1.jpg)
Karakter tersebut terbentuk dari salah satu filosofi yang diajarkan Toni, yaitu ”bermain untuk setiap poin seolah-olah itu adalah poin terakhir yang diperebutkan”.
Toni dan Nadal menjadi hubungan pelatih dan petenis dari kalangan keluarga yang paling sukses. Nadal pensiun dengan 22 gelar Grand Slam, kedua terbanyak di bawah Novak Djokovic (24 gelar). Sebanyak 14 gelar didapat Nadal dari Grand Slam Perancis Terbuka yang digelar di lapangan tanah liat Roland Garros, Paris.
Toni (63 tahun) adalah kakak Sebastian Nadal (61), ayah Nadal. Keduanya mempunyai adik bernama Miguel Angel Nadal (58), pesepak bola klub Barcelona pada 1991-1999 dan anggota tim nasional Spanyol pada 1991-2002. Namun, Nadal—yang juga piawai bermain sepak bola— justru menjadi fans Real Madrid, rival utama Barcelona.
Miguel Angel adalah sosok yang paling tahu bagaimana terjalnya jalan untuk menjadi atlet yang bukan berlabel atlet biasa, melainkan atlet yang pada akhirnya bisa meninggalkan warisan bagi penerusnya. Dari Miguel Angel, Nadal belajar tetap rendah hati meski telah menjadi bintang.
Jika Nadal bermain bagus, dia akan melambungkan bola dengan buruk yang membuat Nadal kesulitan mengembalikannya.
Nadal bersaudara yang lain adalah Rafael. Dia juga terjun di dunia olahraga, sebagai pesepak bola di Liga Mallorca. Hanya Sebastian yang tak menekuni dunia olahraga. Dia adalah pebisnis sejati.
Sebastian membuat bar pada usia 16 tahun dan membuka bisnis jual-beli mobil bekas pada usia 19 tahun. Dari Sebastian, yang saat ini memiliki bisnis pembuatan kaca untuk jendela, pintu, dan meja, Nadal mewarisi karakter suka tantangan baru.
Meskipun karier Toni di dunia olahraga tak setinggi Miguel Angel, dia pernah menjadi atlet tenis meja dan tenis di masa remaja. Toni juga menekuni sepak bola, renang, dan catur.
Toni menjadi pelatih di Manacor Tennis Club yang berada tak jauh dari tempat tinggal keluarga besar Nadal. Mereka tinggal di apartemen pada gedung yang sama, di Manacor, Mallorca.
Carlos Costa, mantan petenis Spanyol yang sangat dekat dengan keluarga Nadal, mengenal Toni sebagai sosok yang mudah marah. Dia terbiasa berbicara apa adanya dan sangat suka berargumen.
Toni mendidik Nadal dengan keras hingga dinilai terlampau keras oleh orang lain, termasuk anggota keluarga. Namun, seperti berulang-ulang dikatakan Nadal, dia tak akan menjadi seperti saat ini tanpa pamannya itu.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/11/20/113d5bfbaf5696a0e3c997a95f2266d2-AFP_36MW3QN.jpg)
Sang paman melihat keistimewaan Nadal sejak keponakannya itu mengayunkan raket tenis pada usia empat tahun. Bersama anak-anak yang lebih tua darinya, Nadal berbaris di lapangan tenis untuk memukul bola.
”Saat saya mengarahkan bola pada Rafael—Toni selalu memanggil Nadal dengan sebutan Rafael—dia berlari ke arah bola. Umumnya, saat saya melempar bola pada anak kecil, mereka tetap berdiri dan menunggu bola mendekati mereka. Namun, keponakan saya berbeda. Bagi saya, apa yang dilakukannya sangat istimewa,” tutur Toni pada BBC setelah Nadal menjuarai Australia Terbuka 2022.
Insting Toni tentang bakat Nadal kecil tak salah. Nadal pensiun dengan status sebagai salah satu petenis terbaik dunia. Dominasinya di lapangan tanah liat tak tertandingi petenis lain. Dari 92 gelar, sebanyak 63 didapat dari turnamen tanah liat.
Hubungan Toni dan Nadal cukup unik. Dia mendidik Nadal ibarat tanpa belas kasih, tetapi selalu ada tujuan dari apa yang dilakukannya itu. Nadal menerima semuanya, yaitu saat Toni melatihnya pada 1990-2017, tanpa mengeluh.
Saat Nadal mulai berlatih tenis, Toni berusia di awal 30 tahunan. Nadal dinilai sebagai anak yang cukup pendiam. Toni tak memedulikan bahwa Nadal adalah keponakannya. Didikan pada Nadal lebih keras dibandingkan pada muridnya yang lain.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2024/11/20/50a70eef3c8475eda689944c8d3b3120-RAFA_2.png)
Sejak awal, dia mengajarkan Nadal untuk memukul bola sekeras mungkin. Setelah itu, barulah mencari cara agar bola dari pukulan itu tetap jatuh di dalam lapangan.
Seperti diceritakan dalam Buku Rafa My Story, Toni mengajarkan itu dengan mengadopsi cara Jack Nicklaus dalam mengajar golf pada anak-anak. ”Pertama, pukul bola sejauh mungkin, setelah itu, pikirkan caranya masuk ke dalam lubang,” kata Nicklaus, pemegang 18 gelar juara turnamen mayor.
Saat Nadal hanya berdua bersama Toni di lapangan dan cuaca sangat panas, Toni akan menyuruhnya bermain. Jika Nadal bermain bagus, dia akan melambungkan bola dengan buruk yang membuat Nadal kesulitan mengembalikannya.
Saya sangat percaya dengan yang namanya kerja keras. Atlet yang bisa melalui itu semua adalah atlet yang kuat. Itulah mengapa saya bersikap keras pada Rafael. (Toni Nadal)
Pada hari lainnya, mereka berlatih tanding dengan peraturan bahwa pemenang adalah yang mendapat 20 poin lebih dulu. Nadal antusias ketika mendapat 19 poin lebih dulu, tetapi Toni meningkatkan level permainannya hingga keponakannya itu kalah.
Tanpa Nadal pahami ketika itu, Toni mengajarkan untuk bertahan dalam berbagai situasi. Larangan Toni pada Nadal untuk mengeluh menjadi bagian dari caranya membangun kekuatan mental.
Selesai latihan, Nadal diberi tugas mengumpulkan bola dan menyapu lapangan di kala anak-anak lain diizinkan pulang. Ibu Nadal, Ana Maria, sering melihat anak pertama dari dua bersaudara itu menangis sepulang dari latihan, tetapi Nadal jarang bercerita apa yang dialaminya.
Suatu kali, Nadal mengatakan pada ibunya bahwa Toni menyebutnya ”anak mama”. Ana Maria tak menerima perlakuan itu dan dia berniat mendatangi kakak iparnya. Namun, Nadal melarangnya karena tak ingin keadaan bertambah buruk.
Saat Nadal mulai mengikuti turnamen pada usia tujuh tahun, didikan Toni kian keras. Suatu hari, Nadal lupa membawa minum ketika akan bertanding dalam cuaca panas. Alih-alih mengambilkan minum, Toni membiarkannya. Dia ingin Nadal belajar menerima konsekuensi atas apa yang dilakukannya.
”Mengapa saya tidak berontak? Karena saya menyukai tenis dan saya semakin menikmatinya ketika mulai menang. Jika saja Toni tidak membiarkan saya tanpa minum pada hari pertandingan itu dan bersikap keras di saat saya kecil, mungkin saya tidak akan seperti sekarang. Saya tidak akan belajar mengatasi kelemahan dan rasa sakit, memaksakan diri untuk melaluinya, dan bisa menjadi atlet elite,” tutur Nadal.
Toni mengatakan, sikapnya yang ”kejam” pada Nadal karena sangat peduli pada keponakannya itu. ”Saya sangat percaya dengan yang namanya kerja keras. Atlet yang bisa melalui itu semua adalah atlet yang kuat. Itulah mengapa saya bersikap keras pada Rafael. Saya tahu dia bisa mengatasinya,” katanya.
Mariabel, adik yang dua tahun lebih muda dari Nadal menilai, dengan didikan Toni, kakaknya telah berubah dari ”seekor kucing yang ketakutan” menjadi ”banteng yang mengamuk”. Nadal pun memiliki logo pemasaran berbentuk tanduk banteng, hewan yang identik dengan karakternya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2024/11/19/1a5645fdf7a8f42db4c9c7a90d907452-nadal_grafis_biodata.png)
Selain kedisiplinan, Toni mengajarkan banyak nilai sebagai atlet dan manusia. Nadal dikenal tak pernah membanting atau merusak raket. Hal itu menjadi salah satu didikan Toni. Ia mendidik bagaimana Nadal harus berperilaku sebagai manusia.
Seusai Nadal mengumumkan akan pensiun melalui media sosial pada 10 Oktober 2024, Babolat (sponsor untuk raket selama 25 tahun) merilis bahwa Nadal tak pernah merusak sekitar 1.250 raket Pure Aero Rafa yang digunakan untuk bertanding.
”Keluarga tidak akan pernah mengizinkan saya mematahkan raket. Jika saya melakukan itu, berarti saya tidak bisa menahan emosi,” kata Nadal dalam acara 60 Minutes yang disiarkan CBS pada 2019.
Nadal punya alasan lain untuk tidak melempar, membanting, atau mematahkan raket, termasuk saat bermain buruk, yaitu karena dia berempati pada anak-anak yang ingin mempunyai raket, tetapi tak bisa mendapatkannya. ”Jika saya kalah, itu bukan salah raket, tetapi salah saya sendiri,” katanya.
Sementara Toni pun bukan tanpa tujuan ketika melarang Nadal membanting raket. Sejak Nadal kecil, Toni ingin keponakannya itu menjadi orang yang rendah hati dan menghormati lawan, apa pun hasil pertandingan yang didapat.
”Saya tidak suka melihat seorang petenis menjadi ’diva’ saat sudah berkembang dan saya lihat banyak yang seperti itu. Untuk itu, saya melarangnya melempar raket. Saya menegaskan bahwa dia harus tetap tenang, tidak marah atau terganggu hal negatif ketika bertanding,” ujarnya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/11/21/f6671ed50373b9caad4348a504bba1c9-nadal_toni_rio.png)
Tak hanya Toni, orangtua Nadal juga mendidik kedua anaknya untuk selalu rendah hati. Bagi mereka, menjadi orang baik lebih penting dibandingkan menjadi petenis hebat.
Sikap mendasar lainnya dalam olahraga yang diajarkan Toni sejak Nadal belia adalah tak boleh cepat puas dengan kemenangan. Saat Nadal kembali dari turnamen internasional di Afrika Selatan pada usia 14 tahun, ibu baptisnya menyiapkan penyambutan di rumah. Rumah mereka pun dihias dengan perlengkapan pesta dan tulisan selamat datang untuk Nadal.
Namun, Toni mencabut tulisan yang dipasang di dinding itu, melarang Nadal datang ke pesta yang telah disiapkan, dan justru mengajaknya latihan pada keesokan paginya. Melarang Nadal merayakan kemenangan telah berkali-kali dilakukan Toni. Dia berpendapat, semua yang diperoleh Nadal pada usia muda tidaklah terlalu penting.
”Saya ingin Rafael tahu bahwa apa yang diperolehnya saat muda hanya langkah kecil. Jika ingin mendapat keberhasilan lebih besar, dia harus bekerja lebih keras,” ujar Toni.
Toni bukan sekadar pelatih yang mengajarkan hal-hal teknis pada keponakannya itu. Perannya lebih besar dalam menciptakan karakter seperti ”banteng” yang memiliki ketahanan, intensitas, tak pernah berhenti, dan menolak untuk dikalahkan. Pada akhirnya, Nadal lahir menjadi petenis yang dikenal punya daya tahan fisik dan ketangguhan mental.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/11/15/b25fa1a682fd6241f1caf102b3769713-nadal_toni2.jpg)
Kegigihannya tampak sejak remaja. Dia bermain dalam Kejuaraan Nasional U-14 di negaranya dalam kondisi jari kelingking yang patah, tetapi tak ingin memperlihatkan rasa sakitnya pada Toni.
Kemampuan untuk bermain dalam tekanan dan mencari cara untuk keluar dari tekanan tersebut juga tumbuh berkat pamannya. Toni selalu mengajak Nadal untuk menganalisis setiap penampilan, terutama kesalahannya.
Semua karakter itu terlihat pada beberapa pertandingan penting, di antaranya, saat mengalahkan Roger Federer dalam final Wimbledon 2008. Nadal mengalahkan salah satu rival beratnya itu setelah kalah pada laga puncak 2006 dan 2007.
Final Wimbledon 2008, yang berlangsung dalam lima set, dua kali tertunda hujan dan selesai saat All England Club telah gelap. Laga itu bahkan disebut sebagai pertandingan tenis terbaik sepanjang masa.
Gelar juara Australia Terbuka 2022, sebagai gelar Grand Slam ke-21, didapatnya berkat sikap pantang menyerah. Nadal tiba di Melbourne Park setelah didera cedera telapak kaki kiri pada 2021 dan hanya sekitar dua pekan setelah pulih dari Covid-19. Namun, Nadal mengalahkan Daniil Medvedev di final dalam lima set, setelah kehilangan dua set awal.
Pada tahun yang sama, Nadal menjuarai Perancis Terbuka, juga dalam kondisi tidak begitu bugar. Kegigihan dan motivasi besar mengalahkan rasa sakitnya ketika berhadapan dengan Casper Ruud di final. Parahnya cedera Nadal terlihat ketika dia harus berjalan menggunakan kruk, sehari setelah final itu.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/11/16/c52ab6154770cd79b26dadec7672707e-Nadal_RG_2009.png)
Toni mendampingi keponakannya hingga 2017 saat Nadal mendapat La Decima, yaitu 10 kali menjadi juara di Perancis Terbuka. Toni turut menerima trofi juara di Stadion Philippe Chatrier, lapangan terbesar di Roland Garros.
Setelah itu, Toni fokus mengelola akademi tenis milik Nadal, Akademi Rafa Nadal, di Mallorca. Pada 2021, dia ”turun gunung” dengan menjadi pelatih bagi petenis Kanada, Felix Auger-Aliassime. Namun, pada saat ini, statusnya di tim Auger-Aliassime tak aktif. Toni tak pernah mendampingi lagi dalam turnamen, meski masih tetap berhubungan dengan semifinalis Amerika Serikat Terbuka 2021 itu.
Selama 27 tahun mendampingi Nadal, Toni menyebut bahwa dia telah menjadi pelatih yang baik. ”Pertama, karena saya adalah pamannya dan sulit untuk memecat pelatih yang punya hubungan keluarga. Kedua, saya adalah pelatih yang dibayar paling murah dibandingkan yang lain,” ujarnya seraya bergurau.
Dalam momen ketika ”melepas” keponakannya itu pada 2017, Toni bercerita, saat melihat kembali ke masa lalu, dia tak akan percaya jika ada yang mengatakan bahwa Nadal akan mendapat banyak gelar Grand Slam. ”Kami telah membuktikan bahwa seorang anak dari Manacor, dengan usaha dan pengorbanan yang besar, telah mewujudkan cita-citanya sejak muda,” katanya.
Meskipun fokus di Akademi Rafa Nadal, dia tetap memantau Nadal. Toni pun tahu bagaimana perjuangan Nadal menjelang akhir kariernya. Walaupun masih memiliki semangat untuk berkompetisi, Nadal harus merelakan keinginan itu.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/11/15/e1428d7914445d7b78e4a70e5a7cbfd5-toni_nadal_IG.jpeg)
Toni kemudian bercerita mengapa Nadal sempat menunda pensiun. Saat menjalani pemulihan cedera pinggul dan kaki kiri sepanjang 2023, Nadal menyebut bahwa dia akan segera pensiun pada 2024.
Banyak yang menduga bahwa kariernya akan berakhir di Perancis Terbuka 2024, turnamen yang bermakna begitu dalam bagi Nadal. Panitia turnamen bahkan telah menyiapkan acara perpisahan. Namun, acara tersebut dibatalkan karena Nadal menyatakan ada kemungkinan dia akan kembali ke Perancis Terbuka 2025.
”Rafael hidup dalam cedera dan telah belajar menghadapinya pada banyak ajang besar. Dia berkali-kali ragu, tetapi berkali-kali pula mengatasinya. Tak hanya berujung juara, melainkan juga lahir kembali menjadi lebih kuat. Itu sebabnya dia sempat memiliki harapan untuk kembali pada 2025,” tutur Toni.
Namun, tubuh Nadal tak mampu lagi menanggung beban jika melanjutkan karier. Nadal akhirnya memutuskan pensiun pada 2024 karena tak mampu lagi tampil dengan kompetitif.
Saat Nadal mengumumkan akan pensiun melalui media sosial, pada 10 Oktober, Toni mengunggah fotonya pada momen Perancis Terbuka 2017 sambil menulis ”GRACIAS!!”
”Ada atlet, yang berkat kemampuannya yang luar biasa, bisa menjadi hebat di bidangnya. Beberapa dari mereka berhasil mengembangkan, bahkan membawa olahraga yang ditekuninya naik level. Lalu, hanya sedikit, yang karena sikap dan cara menjalaninya, membuat seorang atlet bisa menjadi panutan masyarakat,” tutur Toni menjelaskan kata terima kasih dalam unggahannya.
Rasa terima kasih Nadal pada Toni bahkan tak terukur. Mereka adalah dua orang yang saling melengkapi dalam kelebihan dan kekurangan. Toni dan Nadal menjadi sosok yang lebih kuat ketika bersama-sama.
Penulis:
Yulia SapthianiEditor:
Yulvianus HarjonoPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase