Prestasi olahraga diraih lewat pembinaan, bukan dari jalan pintas seperti naturalisasi. Tantangan ini mengiringi optimisme penunjukan Erick Thohir sebagai Menpora.
17 Sep 2025 18:24 WIB · Olahraga
JAKARTA, KOMPAS — Optimisme sekaligus tantangan menyertai pilihan Presiden Prabowo Subianto atas Erick Thohir sebagai Menteri Pemuda dan Olahraga pengganti Dito Ariotedjo dalam Kabinet Merah Putih. Meskipun kaya pengalaman olahraga, Erick diminta memiliki visi jangka panjang, termasuk menghargai dan memprioritaskan proses pembinaan, bukan dengan jalan pintas seperti naturalisasi.
Setelah menjadi ”misteri” selama lebih dari sepekan sejak pengumuman perombakan Kabinet Merah Putih, sosok Menpora baru pengganti Dito Ariotedjo akhirnya terjawab pada Rabu (17/9/2025). Erick Thohir dilantik sebagai pengganti Dito di Istana Negara pada Rabu sore.
Penunjukan Erick Thohir sebagai Menpora ini terbilang mengejutkan karena namanya hampir tak pernah disebut dalam ”bursa” calon Menpora baru. Nama mantan Presiden Inter Milan ini baru muncul menjelang pelantikan.
Nama Erick tak pernah muncul dalam bursa calon Menpora baru karena dia juga memegang jabatan sebagai Menteri BUMN dalam Kabinet Merah Putih. Di luar jabatan dalam kabinet, Erick pun merupakan ketua umum induk cabang olahraga, yakni PSSI.
Terlepas dari itu, penunjukan Erick ini mengundang optimisme. Guru Besar Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Yogyakarta Djoko Pekik Irianto mengatakan, Erick punya latar belakang yang mumpuni untuk menjadi Menpora. Dengan pengalamannya selama ini, Djoko menilai, Erick bisa menjalankan tugas untuk mendongkrak prestasi Indonesia di kancah dunia.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/09/17/044d0137-042b-4796-a3f9-0b3338b7cff7_jpg.jpg)
Erick memang sosok yang kaya rekam jejak di dunia olahraga, baik sebagai ketua induk cabang olahraga nasional dan internasional, pemilik klub, ketua organisasi olahraga, maupun ketua penyelenggara ajang olahraga. Sebelum menjadi Ketua Umum PSSI, Erick pernah menjadi Ketua Umum Persatuan Bola Basket Seluruh Indonesia (Perbasi) pada periode 2004 hingga 2006 dan menduduki posisi sebagai Ketua Federasi Bola Basket Asia Tenggara (SEABA) pada 2006-2019.
Sejak 2014, Erick juga menjadi anggota Dewan Pusat (board member) Federasi Bola Basket Internasional (FIBA). Erick pun menjadi anggota dewan FIBA Asia sejak 2015.
Tidak ada jalan pintas dalam pembinaan olahraga. Keberhasilan seperti itu (lewat jalan pintas) sifatnya temporer, tidak punya akar di bawah.
Erick pernah menjadi Ketua Komite Olimpiade Indonesia (KOI) pada 2015-2019. Sosok berlatar belakang pengusaha ini juga menjadi anggota Komite Olimpiade Internasional (IOC) sejak 2019.
Pada 2018, dia ditunjuk sebagai Ketua Panitia Penyelenggara Asian Games Jakarta-Palembang 2018 (INASGOC). Figur berusia 55 tahun ini juga pernah dipercaya menjadi Chef de Mission Kontingen Indonesia di Olimpiade London 2012.
Erick tercatat pernah atau masih memiliki sejumlah tim olahraga. Selain klub basket Liga Basket Indonesia (IBL), Satria Muda, yang sekarang diakuisisi PT Persib Bandung Bermartabat, Erick juga pernah memiliki tim Liga Bola Basket AS (NBA), Philadelphia 76ers.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/08/14/7584ef31-d004-4131-8352-4ffc20bd45cf_jpg.jpg)
Selain itu, Erick pernah menjadi pemilik klub sepak bola Inter Milan dan DC United. Saat ini, Erick tercatat sebagai pemilik klub Championship Inggris atau satu tingkat di bawah Liga Primer Inggris, Oxford United.
Pada 2018, Erick mulai berkecimpung di dunia politik sebagai Ketua Tim Kampanye Nasional pasangan Joko Widodo-Ma’ruf Amin dalam pemilihan presiden periode 2019-2024.
Dengan pengalaman yang kaya di bidang olahraga itu pula, Erick dinilai seharusnya bisa langsung bekerja tanpa adaptasi terlalu lama. Sebab, menurut Djoko, ada banyak pekerjaan rumah yang menanti, termasuk menyinergikan pemangku kepentingan dalam pembinaan olahraga antara Kemenpora, KOI, dan KONI serta induk cabang olahraga.
”Ada juga pekerjaan rumah tentang anggaran dalam UU Nomor 11 Tahun 2022 tentang Keolahragaan, salah satunya mendorong pembentukan dana perwalian untuk mem-backup kekurangan dalam anggaran olahraga. Selain itu, hal teknis terkait persiapan SEA Games, kualifikasi Piala Dunia, Asian Games, dan Olimpiade,” ucap Djoko.
Senada dengan Djoko, Guru Besar Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan Universitas Negeri Surabaya Ali Maksum mengatakan, Erick punya pengalaman di bidang olahraga sebagai bekal sebagai Menpora. Namun, Ali menekankan, Erick juga harus punya visi jangka panjang untuk mendukung pengalaman itu.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2023/01/01/49eedf33-b822-44df-b132-d376625b793d.jpg)
Seorang Menpora, kata Ali, harus punya visi jangka panjang sehingga tidak hanya berpikir program yang berkaitan dengan masa jabatannya. Jika demikian, Menpora akan cenderung melakukan sesuatu yang bersifat instan, bertolak belakang dengan intisari olahraga yang menghargai dan membutuhkan proses panjang dari pembinaan.
Untuk itu, Ali mengingatkan Erick tentang pentingnya pembinaan dalam olahraga. Sebagai Ketua Umum PSSI, alih-alih pembinaan, yang menonjol dalam kepemimpinan Erick adalah fenomena naturalisasi untuk mendongkrak prestasi.
”Tidak ada jalan pintas dalam pembinaan olahraga. Keberhasilan seperti itu (dengan naturalisasi) sifatnya temporer, tidak punya akar di bawah,” ucap Ali.
Ditemui seusai pelantikan, Erick mengatakan, kerjanya sebagai Menpora baru akan mencakup dua hal, pemuda dan olah raga. Saat ini, ada 131 juta pemuda yang harus dibangun kapabilitasnya supaya bisa bersaing secara global dan cinta Tanah Air.
Ia berharap olahraga menjadi alat pemersatu bangsa. "Olahraga adalah duta bangsa di dunia. Artinya, kita harus menaikkan marwah dan martabat kita dan kedigdayaan kita sebagai bangsa " tuturnya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/08/09/feedd88213c72638cf8c95b058dfc9ba-WhatsApp_Image_2024_08_09_at_3.07.17_PM.jpeg)
Ke depan, menurut Erick, harus didorong banyaknya kompetisi olahraga di daerah dan pusat. Hal ini akan mendorong pertumbuhan ekonomi, membuka lapangan pekerjaan, sekaligus menguatkan daya saing para olahragawan.
"Karena tadi ini basis yang penting kenapa manusia itu perlu tidak hanya badan, juga pikiran yang sehat untuk membangunnya," ucapnya kemudian.
Terkait program kerja, Erick mengatakan, hal itu baru bisa dibahas setelah serah terima jabatan dan evaluasi. "(Kalau program) jangka pendek, ngurusin badan karena udah mesti bulu tangkis lagi, renang lagi," ucapnya berseloroh.
Kerja Erick telah dinanti para pemangku kepentingan olahraga, termasuk atlet. Lifter peraih medali emas Olimpiade Paris 2024, Rizki Juniansyah, misalnya, berharap Menpora baru bisa langsung bekerja untuk memajukan olahraga nasional. Terlebih, akan ada banyak ajang olahraga internasional menanti, termasuk Olimpiade LA 2028.
”Intinya harus punya visi dan misi untuk olahraga, bukan untuk pribadi atau kepentingannya sendiri. Atlet berjuang untuk Indonesia di ajang sekelas Olimpiade, pemerintah juga berjuang dengan mendukungnya,” tuturnya menambahkan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/28/09bdae30-1204-4d6c-b0e0-72f847e184b8_jpeg.jpeg)
Harapan juga disampaikan atlet kickboxing Indonesia, Andi Mesyara Jerni Maswara. Dia berharap Menpora bisa jadi sosok yang jadi perwajahan inklusivitas, memajukan olahraga tanpa membeda-bedakan cabang olahraga.
”Tanpa kepentingan politik, mudah mendengarkan dan menerima masukan serta keluh kesah atlet, memberi perhatian khusus pada atlet disabilitas dan cabang olahraga non-DBON, tidak harus menunggu viral dulu,” ucapnya yang cukup vokal ketika efisiensi anggaran berdampak pada keberlangsungan latihan atlet.
Penunjukan Erick sebagai Menpora menimbulkan pertanyaan tentang statusnya sebagai Ketua Umum PSSI. Kendati tidak ada ketentuan yang mengatur larangan rangkap jabatan Menpora dengan Ketua Umum PSSI dalam statuta PSSI, menurut Djoko, persoalan itu berkaitan dengan sisi etika dan potensi konflik kepentingan.
Di sisi lain, statuta FIFA mengusung prinsip independensi federasi sepak bola. Salah satunya tercantum dalam Pasal 14 Ayat 1 (i) yang menyebut anggota asosiasi harus independen dan tidak terpengaruh pihak ketiga.
Djoko berharap, Erick bisa menyikapi dengan bijaksana statusnya yang juga merupakan Ketua Umum PSSI. ”Kalau kemarin sebagai Ketua Umum PSSI, fokusnya adalah menduniakan sepak bola Indonesia. Sekarang, harus menduniakan semua olahraga di Indonesia,” ucap Djoko.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2022/10/06/454b9bcd-6758-40e5-8ad5-3121a93b610f.jpeg)
Guru Besar Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan UPI Dikdik Zafar Sidik mengatakan, Erick harus fokus menjalankan amanah UU Nomor 11 Tahun 2022 tentang Keolahragaan. Tidak hanya dengan tidak menerbitkan kebijakan yang bertentangan dengan undang-undang, tetapi juga mengerjakan tugas sesuai payung hukum itu.
Jika merujuk pada undang-undang itu dengan Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2024 tentang Penyelenggaraan Keolahragaan sebagai salah satu turunannya, Dikdik menilai Erick harus mundur dari kursi Ketua Umum PSSI. Dalam peraturan itu disebutkan, pemerintah pusat memiliki tugas menetapkan dan melaksanakan kebijakan keolahragaan secara nasional serta mengawasi dan mengevaluasi pelaksanaan kebijakan keolahragaan secara nasional.
Tugas pemerintah pusat tersebut menjadi tanggung jawab Menpora. Maka dari itu, jika tidak mundur, akan ada risiko terjadi konflik kepentingan sebagai pihak yang mengawasi serta mengevaluasi kebijakan keolahragaan nasional.
Terkait rangkap jabatan itu, Erick mengatakan akan menunggu proses di FIFA. (INA/SYA/NCA)
Penulis:
Rebiyyah SalasahEditor:
Yulvianus HarjonoPenyelaras Bahasa:
Amin Iskandar