Untuk kedua kali, Novak Djokovic tersingkir awal pada turnamen di lapangan tanah liat. Setelah Monte Carlo, dia kalah pada babak kedua di Madrid Master.
27 Apr 2025 15:56 WIB · Olahraga
Novak Djokovic belum pernah berbicara tentang rencana pensiun. Meski masih tetap berbicara akan berusaha menjadi lebih baik pada turnamen yang berada dalam agendanya, dia harus terbiasa dengan situasi baru, yakni kalah beruntun pada babak-babak awal turnamen.
Situasi tersebut semakin sering dialami pada 2025. Dalam waktu kurang dari setengah musim, dia mengalami dua momen ketika kalah secara beruntun.
Mantan petenis nomor satu dunia itu tersingkir pada babak kedua turnamen ATP Masters 1000 Madrid dalam pertandingan di lapangan tanah liat Caja Magica, Madrid, Spanyol. Dia kalah dari petenis Italia yang merupakan penggemarnya, Matteo Arnaldi, dengan skor 3-6, 4-6, Sabtu (26/4/2025) waktu setempat.
Pertandingan tersebut adalah laga awal Djokovic di Madrid karena dia mendapat bye pada babak pertama. Dia tiba di Madrid setelah tersingkir dengan skenario yang sama di Monte Carlo Masters, dua pekan sebelumnya. Djokovic kalah dari Alejandro Tabilo setelah tiga pekan sebelumnya kalah dari Jakub Mensik pada final Miami Masters.
Tabilo pun menjadi salah satu dari hanya sembilan petenis/mantan petenis yang selalu menang pada dua pertemuan awal dengan Djokovic. Delapan yang lainnya adalah Rafael Nadal, Roger Federer, Fernando Verdasco, Olivier Rochus, Nick Kyrgios, Jiri Vesely, Marat Safin, dan Guillermo Coria. Di antara mereka, Vesely dan Tabilo (berstatus petenis aktif) belum kalah dari Djokovic.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/27/9095f48a590f5925fef9e000a853bc83-TENNIS_ATP_ESP_MADRID_OPEN_129291447.jpg)
Saya harus meninggalkan turnamen lebih cepat. Namun, itulah siklus karier dan kehidupan.
Sebelum kalah pada penampilan pertama di Monte Carlo dan Madrid secara beruntun, Djokovic mengalami hal serupa di turnamen lapangan keras pada tahun ini. Dia kalah di babak pertama ATP 500 Doha saat melawan Matteo Berrettini, pertengahan Februari, lalu tersingkir di babak kedua Indian Wells Masters, awal Maret. Di Indian Wells, Djokovic mendapat bye di babak pertama.
”Ya, sekarang saya harus terbiasa dengan realitas baru, kalah di babak awal. Setiap menghadapi turnamen, saya hanya mencoba menang dalam satu atau dua pertandingan, tidak berpikir terlalu jauh. Ini sangat berbeda dengan apa yang saya dapat dalam 20 tahunan sebelumnya,” tutur Djokovic dalam wawancara dengan ATP.
Djokovic memang tak terbiasa dengan apa yang dilaluinya pada tahun ini. Kekalahan beruntun sebelumnya dialami pada pertengahan 2022 ketika kalah dalam perempat final ATP 500 Dubai, lalu tersingkir di babak kedua Monte Carlo Masters.
Meski demikian, petenis Serbia tersebut masih bisa menjuarai Roma Masters, Wimbledon, dan Final ATP pada tahun tersebut. Ini berbeda dengan yang dialaminya sejak 2024. Untuk pertama kalinya sejak 2017, ketika didera cedera punggung, Djokovic tak menjuarai turnamen ATP Masters 1000 dan Wimbledon.
”Situasi baru ini sangat menantang, terutama untuk mental saya. Saya harus meninggalkan turnamen lebih cepat. Namun, itulah siklus karier dan kehidupan. Bagaimana pun, itu akan terjadi,” tuturnya dengan nada bicara yang tenang saat konferensi pers di Madrid.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/27/93d93341f1d6981c224fbc2dc7ff3bea-TENNIS_ATP_ESP_MADRID_OPEN_129291456.jpg)
Djokovic, yang akan berusia 38 tahun pada 22 Mei, menjadi tunggal putra tertua pada peringkat 40 besar dunia. Petenis yang memiliki 40 gelar juara ATP Masters 1000 itu menjadi petenis ”Big Three” tersisa setelah Roger Federer pensiun pada 2022 dan Rafael Nadal pada 2024. Setelah kehilangan pesaing di antara petenis terbaik dunia (greatest of all time/GOAT), kompetitornya datang dari generasi baru. Pesaing terberatnya adalah petenis berusia 21 tahun, Carlos Alcaraz, dan Jannik Sinner (23).
Delapan pertemuan Djokovic-Sinner memberi hasil imbang 4-4 bagi mereka, tetapi Djokovic kalah pada tiga pertemuan terakhir. Alcaraz juga menyulitkannya meski Djokovic unggul 5-3. Dari delapan pertemuan itu, empat di antaranya terjadi di final Grand Slam dan Olimpiade Paris 2024. Mereka berbagi dua kemenangan.
Djokovic mengatakan, target utamanya dengan usia seperti saat ini adalah turnamen Grand Slam, seperti Perancis Terbuka, 25 Mei-8 Juni, yang menjadi puncak persaingan di lapangan tanah liat. Namun, ini bukan berarti dia menyepelekan turnamen lain.
Sosok yang bersaing di arena tenis profesional sejak 2003 itu bercerita, dia merasakan tekanan berbeda ketika harus mengikuti turnamen pada tahun ini. ”Tekanan adalah bagian dari olahraga, apalagi dalam persaingan setinggi ini. Namun, saya merasakan tekanan berbeda pada saat ini. Setiap kali memasuki lapangan, saya merasa stres. Bertanding menjadi sebuah tantangan yang lebih besar. Namun, saya akan tetap berusaha lebih baik,” katanya. (AFP/IYA)
Penulis:
Yulia SapthianiEditor:
Wisnu Aji DewabrataPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra