Doncic di Antara Lakers dan Mavericks yang Berbagi Luka

Setelah LA Lakers tereliminasi di babak pertama ”playoff”, keputusan Nico Harrison ternyata jadi tidak terlalu buruk. Siapa yang menang dari pertukaran Luka Doncic?

02 Mei 2025 20:47 WIB · Olahraga

Oleh Kelvin Hianusa

Jika ada pemungutan suara tentang sosok terbodoh di NBA, jawabannya pasti mengarah ke Nico Harrison. Manajer Umum Dallas Mavericks itu menukar aset klub paling berharga, Luka Doncic, dengan pertimbangan kurang masuk akal. Katanya, pertahanan memenangkan kejuaraan. 

Harrison menukar Doncic ke Los Angeles Lakers untuk mendapatkan center Anthony Davis yang andal dalam bertahan. Hanya berselang dua bulan dari transaksi pada awal Februari 2025 itu, Mavericks dipastikan gagal lolos playoff. Adapun mereka sukses mencapai final bersama Doncic pada musim lalu.

Hasil buruk itu membuat Harrison semakin terlihat seperti ”badut”. Sampai akhirnya, Kamis (1/5/2025), Lakers tersisih di babak pertama playoff setelah takluk 1-4 dari Minnesota Timberwolves. Doncic yang semula membawa harapan juara untuk Lakers kini dijadikan ”kambing hitam”.

Di media sosial, warganet mulai sepakat dengan Harrison. Kelemahan Doncic di sisi defensif menjadi sorotan. ”Doncic adalah pemain bintang dengan pertahanan terburuk yang pernah terlihat di era basket modern. Titik,” kata Kendrick Perkins, peraih sekali juara NBA, di acara First Take.

Lakers memiliki Doncic (30,8 poin) dan LeBron James (28,3 poin), dua pemain yang masuk dalam daftar enam besar dengan rerata produktivitas tertinggi sepanjang sejarah playoff. Di antara enam pemain itu, hanya mereka yang terlibat di playoff musim ini. Empat nama lain sudah pensiun atua gagal lolos playoff.

Los Angeles Lakers guard Luka Doncic, left, shoots as Minnesota Timberwolves center Rudy Gobert defends during the second half in Game 1 of an NBA first-round playoff series Saturday, April 19, 2025, in Los Angeles. (AP Photo/Mark J. Terrill)

Namun, tim unggulan ketiga Wilayah Barat itu tetap tidak bisa berbicara banyak. Problem di pertahanan Lakers terlampau besar. Sumbangan Doncic dengan rerata 30,2 poin, 7 rebound, dan 6 asis terasa percuma karena dia dijadikan sasaran empuk bagi Anthony Edwards dan rekan-rekan.

Kebenaran Doncic

Di dunia olahraga, hasil sudah seperti dewa. Perspektif bisa berubah drastis hanya dari satu laga. Itu yang dirasakan Doncic. Guard 26 tahun itu digadang-gadang sebagai pemain paling berharga di akhir musim lalu, tetapi dianggap overrated atau terlalu dilebih-lebihkan saat ini. Mana yang benar?

Cara terbaik memaknai hasil adalah dengan penempatan konteks. Bola basket bukan matematika. Satu ditambah satu tidak serta-merta menjadi dua. Penggabungan Doncic dengan James, sebagai dua pemain paling dominan di playoff, sama sekali tidak menjamin kemenangan atau gelar juara. 

Banyak faktor yang memengaruhi antiklimaks Lakers. Pertama dan paling penting adalah waktu. Doncic didatangkan saat tenggat pertukaran pemain, hanya dua bulan sebelum playoff. Kapan terakhir kali sebuah tim bisa menjuarai NBA setelah melakukan pertukaran besar jelang playoff?

Lihat saja juara lima musim terakhir, antara lain Boston Celtics dan Denver Nuggets. Tim-tim itu mayoritas dibentuk selama bertahun-tahun, bukan simsalabim langsung jadi. Proses juara tersingkat dijalani James bersama Davis di Lakers (2020). Itu pun butuh setahun lebih setelah mereka bersama.

Basket adalah olahraga tim yang membutuhkan chemistry, kepingan-kepingan tepat, dan momentum. Lakers tidak memiliki itu semua. Saga kepindahan Doncic yang tiba-tiba membuat rencana pelatih JJ Redick berubah total. Mereka kehilangan center sekelas Davis dan tidak punya pengganti.

”Kami membuat pertukaran besar pada masa tenggat, memberikan center utama untuk point guard. Pastinya itu menyebabkan masalah besar di dalam tim. Itu yang harus kami perbaiki dan menjadi prioritas di pramusim untuk menambah pemain center,” kata Manajer Umum Lakers Rob Pelinka.

Minnesota Timberwolves guard Anthony Edwards, bottom, goes up for a shot as Los Angeles Lakers forward LeBron James, back, defends during the second half of Game 3 of an NBA basketball first-round playoff series, Friday, April 25, 2025, in Minneapolis. (AP Photo/Abbie Parr)

Lakers terpaksa memainkan skema ”bola kecil” di sepanjang seri. Akibatnya, area dalam mereka dieksploitasi Timberwolves yang unggul dari sisi fisik. Seperti di gim lima, center lawan, Rudy Gobert, sampai mampu mencatatan rekor poin (27) dan rebound (24) terbanyak dalam kariernya di playoff. 

Di final wilayah musim lalu, Timberwolves versus Mavericks, Gobert, menjadi bahan olok-olokan karena dipermainkan oleh Doncic. Mavericks menang 4-1 atas Timberwolves berkat aksi Doncic. Musim ini, Gobert membalikkan keadaan dengan mempermalukan pemain asal Slovenia itu.

Dunia berbanding terbalik itu bisa terjadi karena dukungan yang berbeda. Di Mavericks, sistem permainan tim disesuaikan dengan kebutuhan Doncic. Tim dibangun selama bertahun-tahun untuk memaksimalkan potensi Doncic di sisi ofensif dan menutupi kelemahannya di sisi defensif. 

Faktor ”X”

Kejatuhan Lakers juga dipengaruhi banyak hal lain. James, misalnya, yang gagal mengeluarkan kemampuan terbaik. Pemain berusia 40 tahun itu merupakan sosok paling berpengalaman di playoff, tetapi seolah menghilang dalam kuarter penentu pada gim empat dan lima. 

”Raja James”, julukannya, hanya menghasilkan lima poin dari dua kuarter krusial tersebut. Dia memasukkan dua kali tembakan dari sembilan percobaan. Adapun selama dia di lapangan, Lakers tercatat mengalami defisit skor total minus 19.

Redick sempat menyampaikan seusai gim dua, kondisi kebugaran James sudah lebih baik, tetapi belum di level tertinggi. ”Faktanya, ada beberapa pemain yang seharusnya bisa berada dalam kondisi yang lebih prima. Perbaikan itu yang ada di pikiran saya untuk musim depan,” katanya.

Redick, sang pelatih debutan, turut bertanggung jawab. Dia berperan besar terhadap kekalahan Lakers di gim empat. Saat itu, dia tidak mengganti pemain selama separuh akhir babak, termasuk James. Hasilnya mereka kelelahan di penghujung laga dan kalah 113-116.

Pengaruh nonteknis, seperti kesiapan mentalitas pemain, memang jarang diperhatikan spesifik. Namun, itu agaknya berperan dalam penampilan keseluruhan Doncic. Sang pemain seolah tidak siap meninggalkan Kota Dallas setelah membela Mavericks sejak 2018.

MINNEAPOLIS, MINNESOTA - APRIL 25: Luka Doncic #77 of the Los Angeles Lakers passes the ball against Jaden McDaniels #3 and Rudy Gobert #27 of the Minnesota Timberwolves in the first quarter of Game Three of the First Round of the 2025 NBA Playoffs at Target Center on April 25, 2025 in Minneapolis, Minnesota. NOTE TO USER: User expressly acknowledges and agrees that, by downloading and or using this photograph, User is consenting to the terms and conditions of the Getty Images License Agreement.   David Berding/Getty Images/AFP (Photo by David Berding / GETTY IMAGES NORTH AMERICA / Getty Images via AFP)

Sebelum laga Lakers versus Mavericks pada awal April lalu, pemain berjuluk ”Luka Magic” itu menangis ketika disambut video perpisahan dari mantan klubnya. ”Sejujurnya, saya merasakan patah hati. Saya syok. Berada di sana merupakan sesuatu hal yang sangat spesial,” kata Doncic.

Jika ditanya siapa yang menang dalam pertukaran Doncic, Lakers atau Mavericks? Untuk musim ini, jawabannya tidak ada. Kedua tim sama-sama terluka. Namun, itu masih menjadi misteri di masa depan. Doncic bisa saja membawa Lakers juara atau justru tidak memperpanjang kontrak.

Quote

Sejujurnya, saya merasakan patah hati. Saya syok. Berada di sana merupakan sesuatu hal yang sangat spesial.

Hal serupa berlaku untuk Harrison. Bisa jadi, Mavericks bisa kompetitif lagi pada musim depan saat pemain kunci seperti Kyrie Irving kembali dari cedera. Harrison yang sekarang memerankan tokoh antagonis bagi publik Kota Dallas mungkin saja menjadi pahlawan. (AP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Kelvin Hianusa
 | 

Editor:

Prasetyo Eko Prihananto
 | 

Penyelaras Bahasa:

Teguh Candra