Drama Politik Thailand-Kamboja, Hun Sen Ancam Buka Rahasia PM Thailand

Rakyat meminta pengunduran diri. PM Thailand Paetongtarn berusaha menyelamatkan diri dengan merombak kabinet.

28 Jun 2025 18:02 WIB · Internasional

Oleh Laraswati Ariadne Anwar

BANGKOK, SABTU — Drama politik Thailand dan Kamboja belum berakhir pasca-bocornya pembicaraan telepon antara Perdana Menteri Thailand Paetongtarn Shinawatra dan Presiden Senat Kamboja Hun Sen. Kini, ribuan warga Thailand berunjuk rasa menuntut Paetongtarn mengundurkan diri.

Peserta unjuk rasa berkunjung di Monumen Demokrasi di Bangkok, Sabtu (28/6/2025). Perkiraan media-media arus utama di ”Negara Gajah Putih”, pada tengah hari saja ada 4.000 orang yang berdemonstrasi. Mayoritas peserta adalah dari golongan kaus kuning, yaitu mereka yang dulu melengserkan ayah Paetongtarn, Thaksin Shinawatra, dari kursi perdana menteri pada 2006.

”Paetongtarn tidak bisa dipercaya. Ia menggadaikan kedaulatan negara,” kata Seri Sawangmua (70), salah seorang pengunjuk rasa.

Ketua Jaringan Mahasiswa dan Rakyat untuk Reformasi Thailand Pichit Chaimongkol di dalam pidatonya menyebut Paetongtarn (38) sebagai mata rantai terlemah di dalam pemerintahan. Dikutip oleh harian The Nation, Pichit mengatakan, Paetongtarn tidak tahu apa-apa soal memimpin negara sehingga Thailand seolah kehilangan wibawa.

This handout photo from the Royal Thai Government taken and released on June 20, 2025 shows Thailand's Prime Minister Paetongtarn Shinawatra (2nd R) standing next to Royal Thai Army Lieutenant General Boonsin Padklang during a visit to Morakot Operations Base in Ubon Ratchathani province. Thai Prime Minister Paetongtarn Shinawatra held make-up talks on June 20 with an army commander she criticised in a leaked phone call as she struggled to defuse a crisis threatening to topple her government. (Photo by Handout / ROYAL THAI  GOVERNMENT / AFP) / RESTRICTED TO EDITORIAL USE - MANDATORY CREDIT "AFP PHOTO / ROYAL THAI GOVERNMENT" - NO MARKETING NO ADVERTISING CAMPAIGNS - DISTRIBUTED AS A SERVICE TO CLIENTS

Menurut dia, kejatuhan Thailand dimulai sejak kepulangan Thaksin dari pengasingan pada akhir 2023, sebelum pemilihan umum. Srettha Thavisin terpilih sebagai perdana menteri, tetapi kemudian dilengserkan oleh mosi tidak percaya dan digantikan Paetongtarn. Akan tetapi, rakyat Thailand menganggap bahwa Srettha ataupun Paetongtarn hanya boneka politik Thaksin.

”Thailand bisa maju tanpa Paetongtarn, kita harus menyelamatkan negara,” kata Pichit.

Di hari yang sama, menurut laporan Bangkok Post, Paetongtarn melakukan perombakan kabinet. Salah satu yang dirombak ialah Kementerian Pertahanan. Wakil Perdana Menteri Thailand sekaligus Menteri Pertahanan Phumtham Wechayachai dialihkan menjadi Menteri Dalam Negeri Thailand. Kemungkinan, wakil menhan yang akan naik ke posisi menhan.

Paetongtarn menjadikan dirinya merangkap jabatan menteri kebudayaan. Para pengamat politik dalam negeri Thailand menduga ini strategi Paetongtarn untuk menjaga posisinya tetap di dalam kabinet, kalau-kalau mahkamah konstitusional memvonis ia mundur dari jabatan PM.

Skandal telepon

Pada 19 Juni 2025, Presiden Senat Kamboja Hun Sen membocorkan pembicaraan telepon antara dia dan Paetongtarn. Hun Sen adalah Perdana Menteri Kamboja sampai dengan 2023. Pada tahun itu, ia mundur dari kepala pemerintahan dan mengalihkan jabatan itu kepada putranya, Hun Manet. Hun Sen juga merupakan teman dekat Thaksin selama 30 tahun terakhir.

Pembicaraan telepon itu menyangkut sengketa perbatasan antara Thailand dan Kamboja. Sempat terjadi kontak senjata yang menewaskan satu tentara Kamboja. Pembicaraan terjadi pada 15 Juni 2025, Hun Sen kemudian membocorkannya kepada 80 pejabat negaranya, lalu mengunggahnya ke Facebook. Unggahan ini yang kemudian tersebar di Thailand.

Di dalam percakapan itu, Paetongtarn berbicara dengan lemah lembut dan memanggil Hun Sen ”paman”. Bahkan, di tengah percakapan terdengar Paetongtarn menghardik salah seorang petinggi militer Thailand yang memberinya masukan mengenai situasi keamanan di perbatasan.

This handout photo taken and released by the Cambodia National Assembly on June 2, 2025 shows Cambodia's Senate President Hun Sen raising his hand during a joint congress between the Senate and the National Assembly building in Phnom Penh. (Photo by Handout / CAMBODIA NATIONAL ASSEMBLY / AFP) / RESTRICTED TO EDITORIAL USE - MANDATORY CREDIT "AFP PHOTO / CAMBODIA NATIONAL ASSEMBLY" - HANDOUT - NO MARKETING NO ADVERTISING CAMPAIGNS - DISTRIBUTED AS A SERVICE TO CLIENTS

Rakyat Thailand marah dan menilai Paetongtarn tidak menjaga martabat negara. Pembicaraan itu seolah membuat Thailand membungkuk di hadapan Kamboja. Paetongtarn berusaha menenangkan suasana dengan mengatakan bahwa cara berbicara penuh hormat dan informal itu sebagai taktik bernegosiasi.

Namun, rakyat tidak terima. Selain itu, Paetongtarn juga mengkritik Hun Sen. Ia mengatakan, keputusan orang yang paling berkuasa di Kamboja itu menyebar informasi melalui media sosial sangat tidak profesional.

Menambah runyam masalah ialah sikap Hun Sen terkait pembicaraan itu. Dikutip oleh Phnom Penh Post edisi Jumat (27/6/2025), Hun Sen menganggap dirinya diperalat oleh Paetongtarn. ”Mana saya tahu bahwa dia (Paetongtarn) menggunakan saya untuk merendahkan militer Thailand. Padahal, saya tidak punya niatan begitu. Persahabatan saya dengan Thaksin dirusak oleh putrinya,” kata Hun Sen.

Ia menyebut Paetongtarn tidak tahu membalas budi. Hun Sen mengingatkan publik bahwa ketika Thaksin dikudeta pada 2006, ia mengungsi ke Kamboja dan tinggal di rumah Hun Sen. Demikian pula dengan Yingluck Shinawatra, adik Thaksin, dilengserkan dari jabatan PM pada 2014.

Hun Sen mengatakan siap mengumumkan situasi yang terjadi pada 27 Juni 2006. Ia membocorkan, di hari itu, Thaksin mengkhianati monarki Thailand. Akan tetapi, Hun Sen belum mau membeberkan semua karena menunggu sikap Pemerintah Thailand terlebih dulu.

PM Kamboja Hun Manet mencuit di X bahwa ketidakstabilan politik Thailand membuat pencarian jalan keluar untuk sengketa perbatasan semakin sulit. ”Saya menanti sosok yang sebenarnya berkuasa dan mampu memimpin Thailand untuk berunding menyelesaikan persoalan,” ujarnya. (AFP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Laraswati Ariadne Anwar
 | 

Editor:

Bonifasius Josie Susilo H
 | 

Penyelaras Bahasa:

Retma Wati