”Drone” mengatasi keterbatasan jarak, kecepatan, dan jangkauan kamera statis dalam peliputan olahraga.
17 Feb 2026 11:00 WIB · Olahraga
AFP/KIRILL KUDRYAVTSEV
Perkembangan dunia teknologi telah mengubah cara penyiaran Olimpiade Musim Dingin Milano Cortina 2026. Kamera drone mengikuti atlet di sepanjang lintasan untuk mendapatkan gambar cepat dan dari jarak dekat.
Kamera-kamera drone makin menjadi hal yang umum dalam gelaran olahraga pada umumnya. Keterbatasan jarak, kecepatan, dan jangkauan kamera statis berhasil diatasi teknologi drone.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/02/17/13c0767a-18e8-4f1c-95fb-924d6485ecbd.jpg)
Di Milan, kecepatan dan sudut para pemain ski, luge, snowboarder, dan pelompat ski tersaji indah dan menarik dalam setiap siarannya. Pilot kamera drone ibarat atlet yang bertanding di luar arena. Kesiapan dan keterampilan mereka mengendalikan pesawatnya seakan bersaing dengan atlet di lintasan.
Berdiri di atas menara yang menghadap tebing lintasan ski menuruni Cortina, ada orang yang sama terlibatnya dalam perlombaan ski terbesar Olimpiade Musim Dingin. Salah satu orang itu ialah Martin Bochatay, seorang pilot kamera drone.
Ia mengambil gambar-gambar menakjubkan di dalam Tofana Schuss yang ikonik. Ini adalah jalur sempit di antara dua dinding batuan Dolomit. Tofana Schuss dipakai sebagai jalur downhill yang menyajikan kecepatan dan kelincahan.
Bachatay adalah bagian dari tim yang mengendalikan mesin-mesin berisik yang terbang tepat di belakang para atlet Olimpiade saat mereka berjuang meraih medali emas di Olimpiade Milano Cortina. Hasil rekamannya menawarkan visual yang menakjubkan dan berkecepatan tinggi kepada pemirsa TV di rumah.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/02/17/35eb449a-7e5f-4e51-afe4-bb1afdcdf2f9.jpg)
”Dalam pikiran saya, saya tidak menerbangkan drone. Saya terbang bersama para pemain ski,” kata Bochatay kepada Associated Press sebelum Olimpiade. Para penonton memperhatikan suara dengung yang berasal dari mesin-mesin tersebut.
Awalnya keberadaan drone dalam pertandingan juga memunculkan perdebatan. Kamera drone pernah memberikan dampak buruk pada olahraga ski Alpen 11 tahun lalu. Saat itu, sebuah pesawat drone teknologi lama yang berukuran besar jatuh dan hampir menabrak atlet Austria, Marcel Hirscher.
Seiring dengan perkembangan, kini drone-drone tersebut lincah, berukuran sangat kecil dengan berat sekitar 250 gram. Ini menjadikan drone dapat dengan mudah berakselerasi hingga kecepatan lebih dari 160 km per jam.
Dalam semua cabang olahraga, terdapat aturan yang melarang drone menyalip atlet. Selain itu, drone juga harus menjaga jarak aman di belakang para atlet.
Salah satu tantangan penggunaan drone adalah baterai. Selain baterai yang harus diganti terus-menerus, juga diperlukan ”kru pit stop” yang lincah dan terampil. Baterai juga memerlukan penanganan khusus saat penyimpanan untuk mengatasi suhu dingin.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/02/17/5930b3c5-6b23-4786-8ef9-2fb8bb4fffaf_jpg.jpg)
Terlepas dari semua keterbatasan yang ada, drone menyajikan hal baru yang sebelumnya tidak pernah bisa didapatkan saat siaran olahraga. (AP)
Penulis:
Ignatius Danu KusworoEditor:
Iwan SetiyawanPenyelaras Bahasa:
Priskilia Bintang Cornelia Sitompul