Dubes Suriah untuk Indonesia Abdul Monem Annan menegaskan, penggulingan Bashar al-Assad murni keinginan rakyat Suriah yang ingin lepas dari kekuasaan tangan besi.
11 Des 2024 20:49 WIB · Internasional
JAKARTA, KOMPAS — Duta Besar Suriah untuk Indonesia Abdul Monem Annan, Rabu (11/12/2024), menegaskan, tidak ada intervensi asing dalam pergantian kekuasaan di Suriah. Penggulingan Assad terjadi karena keinginan masyarakat Suriah sendiri.
Pernyataan ini menjawab kecurigaan adanya campur tangan asing dalam kejatuhan rezim Bashar al-Assad di Suriah yang begitu cepat. Rezim Assad jatuh hanya 12 hari sejak kelompok oposisi mulai bergerak dari Idlib pada 27 November 2024 untuk merebut Aleppo, Hama, Homs, dan ibu kota Damaskus.
Dipimpin kelompok Hayat Tahrir al-Sham (HTS), serangan oposisi merebut kota-kota strategis itu hingga menggulingkan pemerintahan Assad. Dengan dukungan Rusia dan Iran, Assad mampu mempertahankan kekuasaan selama 13 tahun perang saudara di Suriah.
Pada Minggu (8/12/2024), Damaskus akhirnya jatuh dalam tangan oposisi. Media Rusia melaporkan, Assad melarikan diri ke Rusia.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/09/9761cbb52540c69dcbfce5b6eb4c859b-SYRIA_CONFLICT_125978372.jpg)
Annan menegaskan, tak ada intervensi asing dalam peralihan kekuasaan itu. Peralihan ini juga tak terkait konflik Timur Tengah yang dimulai dengan perang di Gaza antara Hamas dan Israel yang dimulai oleh serangan Hamas ke Israel pada 7 Oktober 2023.
Penggulingan Assad itu terjadi karena keinginan masyarakat Suriah sendiri. ”Sudah lama masyarakat Suriah menginginkan keluar dari pemerintahan Bashar al-Assad ini yang memang dikenal kejam. Salah satu (kekejaman)-nya terlihat di penjara Sednaya,” kata Annan dalam Gelora Talks yang digelar Partai Gelora bertajuk ”Tumbangnya Bashar al-Assad dan Eskalasi Konflik di Timur Tengah” di Jakarta, Rabu (11/12/2024).
Menurut Annan, saat serangan kelompok oposisi itu bergulir, perhatian Iran dan Rusia tengah terfokus pada masalah lain. Rusia harus fokus pada perang Ukraina sehingga kekuatannya berkurang di Suriah. Begitu juga Iran yang sibuk dengan gencatan senjata antara Hizbullah dan Israel di Lebanon.
Annan juga memastikan tak ada peran Israel dan AS dalam HTS kendati saat ini AS terlihat lebih bersahabat dengan pemimpin HTS Abu Mohammed al-Golani.
Di masa lalu, AS memasukkan Golani sebagai teroris dan menawarkan imbalan 10 juta dollar AS untuk menangkap pemimpin HTS itu. Namun, kata Annan, sikap ini sekarang berubah. AS dan Israel menunjukkan sikap lebih bersahabat setelah penggulingan Assad karena Golani sudah memperlihatkan ia meninggalkan ideologi Al Qaeda.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/11/20d18d35f58f9af49e2ca03a9ec252f9-Screenshot_20241211_161129_YouTube.jpg)
Annan mengatakan, sejak saat itu, Golani hanya ingin berjihad membebaskan Suriah dari kekuasaan Assad yang berkuasa dengan sangat kejam. ”Sekarang ini adalah era baru Suriah, masa depan yang baru, yang diinginkan rakyat, damai dan pemerintahan yang demokratis,” katanya.
Mengikuti forum itu dari Damaskus, Duta Besar RI untuk Suriah Wajid Fauzi mengabarkan, saat ini sekitar 98 persen kehidupan di Damaskus sudah terlihat normal. Toko-toko sudah buka, transportasi sudah berjalan, dan kegiatan masyarakat sudah berjalan bebas tanpa hambatan.
Wajid mengatakan, semua warga negara Indonesia (WNI) di Suriah juga dilaporkan aman serta tak mengalami dampak apa pun dari pergantian kekuasaan ini. Indonesia terus memantau proses transisi kekuasaan di Suriah.
Menurut Wajid, Indonesia berharap dan menilai persoalan Suriah ini hanya bisa dilalui dengan transisi yang demokratis, damai, inklusif, serta mengedepankan kepentingan rakyat dengan menghormati kedaulatan dan integritas wilayah Suriah.
Indonesia berharap persoalan Suriah ini bisa dilalui dengan transisi yang demokratis, damai, inklusif, serta mengedepankan kepentingan rakyat dengan menghormati kedaulatan dan integritas wilayah Suriah.
Menurut Wajid, dari dulu, Suriah merupakan sahabat Indonesia. Sikap Indonesia menghadapi perubahan ini adalah memantau secara dekat dan berharap persahabatan Indonesia-Suriah semakin erat dengan perubahan ini.
Wajid mengatakan, persahabatan Indonesia dan Suriah sudah terbangun sejak 1947. Pada tahun itu, Suriah mengajukan kepentingan Indonesia ke sidang Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan mendukung kemerdekaan Indonesia.
”Saat itu, Indonesia sangat butuh dukungan, dan Suriah memberikan dukungan. Ini nilai yang harus selalu dipegang,” ujar Wajid.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/11/ecf67f8605b9109f57c7cc97fc085079-Screenshot_20241211_164505_YouTube.jpg)
Dalam pernyataan resminya, Wakil Menteri Luar Negeri Anis Matta mengatakan, Indonesia terus memantau dengan cermat perkembangan situasi di Suriah. Indonesia juga menyerukan kepada pihak-pihak terkait untuk menjaga keamanan dan keselamatan rakyat Suriah.
”Indonesia menghormati keutuhan wilayah Suriah dan mengharapkan rakyat Suriah dapat memulai kehidupan baru yang lebih baik,” katanya.
Kedutaan Besar Indonesia di Damaskus juga telah mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk memastikan keselamatan warga negara Indonesia. Hal ini termasuk persiapan untuk kemungkinan evakuasi ke lokasi yang lebih aman jika situasi keamanan memburuk.
Wartawan Indonesia di Suriah, Pizaro Gozali Idrus, yang meliput konflik Suriah sejak setidaknya 2014, mengatakan, kekuatan oposisi di Suriah terus bertambah besar dan kuat sejak 2016. Saat itu, HTS belum terbentuk. Namun, kelompok dan faksi-faksi oposisi di sana terus berkonsolidasi untuk menggulingkan Al-Assad.
Konsolidasi itu juga melibatkan Turki, Iran, Rusia, dan Amerika Serikat. Namun, suara AS tak banyak didengar kelompok oposisi Suriah. Konsolidasi tersebut menguat dalam beberapa bulan terakhir.
Menurut Pizaro, setahun terakhir, Turki tampaknya mulai mencium gelagat Israel yang semakin kuat berniat menggulingkan Assad. Apalagi, kekuatan Rusia dan Iran sendiri sudah tak bisa banyak bergerak sejak perang Rusia-Ukraina dan perang Gaza yang meluas ke Lebanon berlangsung.
Turki pun mulai berkomunikasi dengan berbagai pihak soal Assad. Oleh sebab itu, kata Pizaro, tak heran Iran seolah begitu cepat menarik diri dari Suriah saat gerakan oposisi menyerang.
”Assad sadar dia sedang ditargetkan oleh kekuatan-kekuatan asing itu. Maka, terjadilah transisi kekuasaan yang sangat cepat dan sangat mulus seperti yang terjadi saat ini. Assad tak dikejar atau ditangkap atau dibunuh,” katanya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/11/03070a3e813d6aac2bb8ff118124fca4-TOPSHOT_SYRIA_CONFLICT_ASSAD_126098306.jpg)
Pizaro mengatakan, saat wartawan di Suriah ditanya apakah HTS punya hubungan ke AS, mereka menjawab bahwa mereka sadar gerakan mereka sangat mudah dibajak oleh AS. Namun, sebagian besar oposisi Suriah tak menginginkannya.
Meskipun saat itu ada faksi oposisi yang dekat dengan AS, sebagian besar kelompok oposisi itu tidak mau diwakili AS. Bahkan, sebagian besar rakyat Suriah juga menolak AS menjadi bagian dalam penggulingan Assad.
Ketua Bidang Hubungan Luar Negeri DPP Partai Gelora Henwira Halim mengatakan, kompromi terbaik perlu terus dicari di Suriah, baik pihak-pihak di dalam Suriah maupun negara-negara asing yang memainkan pengaruh di sana.
”Dan ini permasalahan yang tidak mudah. Sebab, kepentingan-kepentingan ini bisa menjadi efek domino, bisa berdampak ke Ukraina dan Korea Utara yang sekarang juga ada di Rusia. Kepentingan-kepentingan asing ini harus saling berkompromi untuk transisi kekuasaan yang terbaik,” ujar Henwira.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/11/b8486a2d0de646155f371864ac382f81-Screenshot_20241211_171000_YouTube.jpg)
Menurut Henwira, dalam pemerintahan baru Suriah, Indonesia bisa berperan dengan memberikan bantuan, baik bantuan kemanusiaan, makanan, dan obat-obatan, serta bantuan diplomasi. Sebab, sesudah perang, Suriah sangat membutuhkan bantuan untuk bangkit kembali.
Ia menegaskan, saat ini masih banyak hal bisa terjadi di Suriah, termasuk apakah proses transisi damai masih bisa terus dilakukan. Untuk itu, peran PBB juga akan sangat penting. Utamanya, untuk mengendalikan pengaruh AS, Turki, dan Iran.
PBB masuk sebagai pelantar multilateral untuk memfasilitasi peta masa depan yang adil untuk Suriah. PBB juga mempunyai legitimasi kuat sehingga diharapkan PBB bisa lebih aktif di Suriah.
Penulis:
Irene SarwindaningrumEditor:
Muhammad Samsul Hadi