Dunia Menunggu Sandera Terakhir

Hamas telah mengembalikan semua sandera, 20 masih hidup dan 27 jenazah, sebagai ganti sekitar 2.000 tahanan Palestina dan narapidana. Kini tinggal satu sandera.

04 Des 2025 14:15 WIB · Internasional

AP/Jehad Alshrafi

Oleh Ignatius Danu Kusworo

Sepuluh anggota Hamas berpakaian serba hitam lengkap dengan penutup wajah dan senjata berpose di dekat sebuah kantong jenazah berwarna putih di Beit Lahiya, Jalur Gaza utara, Rabu (3/12/2025). Setelah penyerahan dan penandatanganan berkas-berkas kepada petugas Komite Internasional Palang Merah (ICRC), iringan mobil ambulans ICRC bergegas meninggalkan lokasi menuju otoritas Israel. 

Sehari kemudian, Kantor Perdana Menteri Israel menyatakan bahwa jenazah yang diserahkan adalah sandera warga negara Thailand, Sudthisak Rinthalak. Ini menjadikan hanya tersisa satu jenazah sandera yang masih belum diserahkan oleh Hamas. Jenazah warga Israel, Ran Gvili, menjadi sandera terakhir yang masih berada di Gaza.

Anggota Komite Palang Merah Internasional (ICRC) tiba di lokasi Hamas mencari sisa-sisa sandera di Jabalia, Jalur Gaza utara, Senin (1/12/2025).

Sebelumnya, pada hari Selasa, Hamas juga menyerahkan kantong jenazah yang diklaim sebagai sandera. Namun, setelah dilakukan identifikasi forensik, Pemerintah Israel menyatakan bahwa jenazah itu bukan bagian dari sandera yang menurut perjanjian harus dikembalikan kepada pihak Israel.

Penyerahan jenazah sandera akan melengkapi syarat utama dari bagian awal rencana Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk mengakhiri perang Gaza selama dua tahun. Ini juga menjadi syarat atas pembukaan perbatasan Rafah antara Gaza dan Mesir di kedua arah.

Israel telah menutup perbatasan tersebut sejak gencatan senjata mulai berlaku pada bulan Oktober. Dalam perjanjian gencatan senjata ini, Hamas harus memulangkan semua sandera yang masih berada di Gaza, baik yang hidup maupun meninggal.

Pasukan Jihad Islam dan anggota Hamas menyerahkan kantong jenazah yang diyakini berisi sisa-sisa sandera yang telah meninggal ke Palang Merah Internasional untuk dibawa ke otoritas Israel di Beit Lahiya, Jalur Gaza, Rabu (3/12/2025).
Pasukan Jihad Islamdan Hamas bersiap menyerahkan kantong jenazah yang diyakini berisi sisa-sisa sandera yang telah meninggal ke Palang Merah Internasional untuk dipindahkan ke otoritas Israel di Beit Lahiya, Jalur Gaza utara, Rabu (3/12/2025).
Anggota Jihad Islam dan Hamas membawa kantong jenazah putih yang diyakini sebagai sisa-sisa sandera yang telah meninggal di Kota Beit Lahiya, Jalur Gaza utara, Rabu (3/12/2025).
Pasukan Jihad Islam dan Hamas membawa kantong jenazah putih yang diyakini sebagai sisa-sisa sandera yang telah meninggal di Kota Beit Lahiya, Jalur Gaza utara, Rabu (3/12/2025).
Seorang pejabat Komite Palang Merah Internasional (ICRC) memegang kantong plastik setelah pasukan Jihad Islam dan Hamas menyerahkan kantong jenazah putih yang diyakini sandera Israel di Kota Beit Lahia, Jalur Gaza utara, Rabu (3/12/2025).

Perkembangan terbaru, Israel akan segera membuka perbatasan di pelintasan Rafah dalam beberapa hari ke depan. Koordinasi akan dilakukan di bawah pengawasan misi Uni Eropa dengan mekanisme serupa dengan yang digunakan selama gencatan senjata sebelumnya, Januari 2025.

Sebelum perang, penyeberangan Rafah merupakan satu-satunya pintu keluar langsung bagi sebagian besar warga Palestina di Gaza untuk mencapai dunia luar dan merupakan pintu masuk utama bagi bantuan ke wilayah tersebut. Dibukanya kembali penyeberangan Rafah akan memudahkan warga Palestina untuk berobat, bepergian ke luar negeri, atau mengunjungi keluarga di Mesir.

Sebuah kamp tenda yang menampung warga Palestina membentang di kota Gaza, Minggu (30/11/2025).
Pemandangan kota yang hancur di lingkungan Al-Karama di Kota Gaza, Minggu (30/11/2025).
Truk yang membawa barang bantuan melewati Kota Gaza setelah masuk dari Israel melalui penyeberangan Zikim, Jalur Gaza utara, Kamis (13/11/2025).
Komite Palang Merah Internasional (ICRC) berdiri di samping kendaraan yang diparkir di samping puing-puing saat anggota Jihad Islam dan Hamas mengangkut kantong mayat putih yang diyakini sandera Israel di Kota Beit Lahia, Jalur Gaza utara, Rabu (3/12/2025).
Seorang pejabat Komite Palang Merah Internasional (ICRC) berbicara dengan pasukan Jihad Islam dan Hamas setelah penyerahan kantong mayat putih yang diyakini sandera Israel di Kota Beit Lahia, Jalur Gaza utara, Rabu (3/12/2025).
Rateb Mahmoud Qaliq yang berusia sembilan tahun, berasal dari Desa Badui di Jalur Gaza utara, bersama kakeknya Ibrahim Qaliq di Deir al-Balah, Jalur Gaza tengah, Rabu (3/12/2025). Rateb terluka di Khan Yunis, pada 28 Juni 2025, ketika sebuah mobil di dekatnya dibom oleh militer Israel.
Sebuah kendaraan yang membawa mayat diklaim Hamas sebagai sandera yang telah meninggal, tiba di Institut Forensik Abu Kabir di Tel Aviv, Israel, Selasa (2/12/2025).

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan, tercatat lebih dari 16.500 orang sakit dan terluka yang perlu meninggalkan Gaza untuk mendapatkan perawatan medis. Ini juga akan membantu perekonomian Gaza yang hancur sejak perang. Dunia menunggu sandera terakhir. (AP/AFP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Ignatius Danu Kusworo
 | 

Editor:

Heru Sri Kumoro
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nanik Dwiastuti