Ekonomi China Bertumbuh Walau Ditekan Tarif Trump

Ancaman tarif ke depannya akan merepotkan perekonomian global jika tak segera ditangani.

15 Jul 2025 16:00 WIB · Internasional

Oleh Laraswati Ariadne Anwar

BEIJING, SELASA — Di tengah penangguhan perang dagang dengan Amerika Serikat, ekonomi China dikatakan tumbuh 5,2 persen. Meskipun begitu, China masih memiliki persoalan serius pada rendahnya daya beli masyarakat.

Data itu dikeluarkan oleh Pemerintah China di Beijing, Selasa (15/7/2025). Data itu untuk periode April-Juni 2025. Pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) China triwulan II 2025 di atas prediksi. Jajak pendapat Reuters ke 40 ekonom memproyeksikan PDB China periode itu hanya tumbuh 5,1 persen.

Meski demikian, pertumbuhan PDB China triwulan II 2025 menunjukkan dampak tekanan tarif yang diumumkan Presiden AS Donald Trump. Pada 2 April 2025, Trump mengumumkan serangkaian tarif bea masuk impor komoditas China. Dari 5,4 persen pada triwulan I 2025, pertumbuhan PDB China triwulan II 2025 jadi 5,2 persen.

Pertumbuhan semester I 2025 masih di atas target yang ditetapkan pemerintah yakni 5 persen. Sejak target diumumkan Maret 2025, banyak pihak ragu Beijing bisa mencapainya.

Sheng Laiyun, Wakil Kepala Biro Statistik Nasional China mengatakan, walaupun turun, China masih bisa bertahan dan tumbuh di tengah segala hambatan. Penandanya ialah kestabilan produksi, permintaan pasar, ketenagakerjaan, dan belanja rumah tangga.

Menurut kantor berita pemerintah, Xinhua, pertumbuhan ini gambaran optimistis perkembangan China. Di dalam tajuk rencana Xinhua, Senin (14/7/2025), dikatakan bahwa ketika China pertama kali membuka diri 40 tahun lalu ada 14 zona pengembangan ekonomi dan teknologi nasional.

Zona-zona itu terletak di 12 kota pesisir. Sekarang, ada 232 zona serupa yang tersebar di seluruh negeri. Setiap zona adalah pusat pembangunan bagi kawasan sekitar. ”Setiap zona adalah gerbang keterhubungan global,” kata Ji Xiaofeng, pejabat urusan investasi asing di Kementerian Perdagangan China.

FILE - A man works at a manufacturer of Integrated Chip encapsulation in Nantong in eastern China's Jiangsu province on Friday, Sept. 16, 2022. (Chinatopix Via AP, File)

Di keseluruhan zona itu terdapat 60.000 perusahaan penanaman modal asing. Ada pula 99.000 perusahaan yang bergerak di bidang perdagangan internasional. Salah satunya ialah Panasonic, perusahaan perangkat elektronik dari Jepang.

”Lokasi zona yang strategis, kemudahan rantai pasok, dan dukungan pemerintah melalui kebijakan membuat Panasonic konsisten menjaga investasinya di China selama 47 tahun ini,” kata Direktur Utama Panasonic China Zhao Bingdi.

Menurut pemerintah, penyumbang terbesar pertumbuhan ialah peningkatan manufaktur. Komoditas yang paling laku di pasaran ialah mesin cetak tiga dimensi, kendaraan listrik, dan robot industri. Peringkat kedua adalah di sektor jasa. Pertumbuhan besar ada di layanan transportasi, keuangan, dan teknologi.

Di sisi lain, data NBS juga mengungkap beban pada perekonomian. Penjualan eceran Juni 2025 hanya tumbuh 4,8 persen. Pada Mei 2025, pertumbuhannya tercatat 6,4 persen.

Pasar perumahan juga melambat dibanding 2024. Tahun lalu, ada stimulus yang bisa menggerakkan pasar perumahan China. Investasi sektor perumahan sepanjang semester I 2025 lebih rendah 11,2 persen dibanding periode sama tahun lalu

Pasar Asia melorot

Meskipun begitu, pertumbahan ekonomi China tetap dipandang skeptis oleh dunia internasional. Salah satunya karena minimnya data pembanding dari angka-angka yang dikeluarkan oleh pemerintah.

Apalagi, perundingan Bejing dengan Washington DC masih terus berlangsung. Sebelumnya, dunia nyaris terjerembab kembali ke dalam perang dagang kedua negara. AS memukul China dengan tarif 145 persen dan China membalasnya dengan 125 persen.

China juga berisiko kehilangan mitra dagang strategis mereka, yakni Vietnam. Negara di Asia Tenggara itu kerap bertindak sebagai hub yang memasok produk setengah jadi dari China, memolesnya, dan menjualnya ke AS.

Vietnam ingin mempertahankan AS sebagai pasar terbesar mereka. Ketika Hanoi dikenai tarif 46 persen oleh Trump, mereka segera menyetujui untuk mengurangi hubungan dengan China. Trump lalu menurunkan tarif untuk Vietnam ke angka 20 persen.

<p>This aerial photo shows shipping containers for export stacked at a port in Lianyungang, in China&#8217;s eastern Jiangsu province on March 7, 2021, as the country&#8217;s export growth jumped to the highest in over two decades according to official data shown on March 7. (Photo by STR / AFP) / China OUT</p>

Bursa saham di Asia juga tidak menunjukkan tanda terlalu optimistis. Bursa Shanghai bahkan sempat minus sebelum terkoreksi. Sementara itu, Tokyo, Sydney, Taipei, Seoul, Singapura, Manila, dan Wellington merosot.

Di AS, bursa Wall Street mengalami peningkatan, tetapi lesu. Saham perusahaan S&P 500 naik cuma 0,1 persen, Dow Jones naik 0,2 persen, dan Nasdaq naik 0,3 persen.

Analisis Universitas Nasional Singapura (NUS) yang dikutip BBC terhadap data Pemerintah China menunjukkan, penjualan turun dari 6,4 persen pada Mei 2025 menjadi 4,8 persen di bulan Juni.

Industri properti juga belum pulih dari krisis sejak pandemi Covid-19. Harga properti terus turun dan industri itu kesulitan menghasilkan uang.

”Ke depan, keadaan makin tidak bisa ditebak. Tampaknya, pemerintah semakin banyak memberi intensif agar pertumbuhan tetap stabil di angka 5 persen,” kata Gu Qinyang, ekonom dari NUS.

Para pakar di AS juga menanti kepastian. Trump mengatakan siap menerapkan tarif impor balasan per 1 Agustus 2025. Jika itu terjadi, ada risiko besar resesi. Konsumen di AS akan menanggung beban keuangan yang dahsyat.

Tekanan utang Pemerintah AS terhadap level ekonomi juga bertambah. Apalagi, pemerintah berencana mengurangi pajak yang pasti menambah defisit.

”Pemerintah memaksimalkan daya ungkit mereka dalam perundingan tarif. Apabila bursa saham terus bergejolak, soal tarif ini pasti akan deeskalasi,” kata Ulrike Hoffman-Burchardi dari konsultan UBS Global.

Selain itu, Trump juga baru mengeluarkan ancaman tarif anyar sebesar 100 persen untuk negara-negara yang masih berdagang dengan Rusia. China, Brasil, India, dan Turki adalah negara-negara mitra dagang terbesar Rusia. 

Ancaman ini dikeluarkan Trump apabila tidak tercapai kesepakatan damai antara Rusia dan Ukraina selama 50 hari ke depan. Selain itu, AS tengah membuat aturan menaikkan ancaman tarif kepada mitra dagang Rusia menjadi 500 persen. Ini akan kian menekan perekonomian global.

(AP/AFP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Laraswati Ariadne Anwar
 | 

Editor:

Bonifasius Josie Susilo H
 | 

Penyelaras Bahasa:

Apolonius Lase