Melambatnya pertumbuhan ekonomi dan konsumsi masyarakat terus menjadi tantangan bagi perekonomian domestik untuk minimal tumbuh stabil 5 persen.
06 Mei 2025 08:00 WIB · Ekonomi
JAKARTA, KOMPAS — Pelemahan daya beli masyarakat kian kentara dari melambatnya laju pertumbuhan ekonomi nasional pada triwulan I tahun 2025. Kondisi ini pun dirasakan oleh industri perbankan dalam penyaluran kredit konsumsi, khususnya kredit pemilikan rumah.
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, produk domestik bruto (PDB) nasional pada triwulan I-2025 tumbuh 4,87 persen secara tahunan. Laju pertumbuhan ini melambat dibandingkan triwulan IV-2025 yang tumbuh 5,03 persen dan triwulan I-2024 yang tumbuh 5,11 persen.
Sebagai mesin utama pertumbuhan dengan kontribusi 54,53 persen, konsumsi rumah tangga tumbuh 4,89 persen. Laju pertumbuhan ini juga lebih rendah ketimbang triwulan IV-2024 yang tumbuh 4,98 persen dan triwulan I-2024 yang tumbuh 4,91 persen.
Senior Economist PT Samuel Sekuritas Indonesia Fithra Faisal Hastiadi berpendapat, pertumbuhan ekonomi RI pada triwulan I-2025 jauh di bawah perkiraan dan ekspektasi pasar yang masih pada angka 4,9 persen.
”Perlambatan yang signifikan dari 5,02 persen pada triwulan IV-2024 serta laju paling lambat sejak triwulan III-2023 itu menggarisbawahi tantangan yang terus berlanjut saat ini dan mencerminkan permintaan domestik yang kurang optimal,” katanya, Senin (5/5/2025).
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/03/ebc88e074c6ec88d0e38569e3c367b2a-Screenshot_2025_05_03_164803.png)
Lebih lanjut, porsi konsumsi rumah tangga terhadap PDB juga menyusut dari triwulan I-2024 yang sebesar 54,9 persen menjadi 54,5 persen pada triwulan I-2025. Sekalipun dalam momentum Ramadhan, kondisi itu mencerminkan kepercayaan konsumen yang melemah.
Ke depan, Fithra memperkirakan, proyeksi pertumbuhan ekonomi nasional pada 2025 akan turun ke level 4,8 persen. Penurunan ini mencerminkan adanya tantangan struktural dan siklus yang akan terus membebani ekonomi domestik dalam beberapa triwulan mendatang.
Selain itu, kondisi keuangan global yang ketat dan ketidakpastian pemangkasan suku bunga acuan oleh bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), turut menjadi hambatan bagi pertumbuhan ekonomi domestik.
”Secara keseluruhan, perekonomian domestik masih mengkhawatirkan, terutama karena gejolak dari sisi eksternal. Jika sektor swasta dan sektor riil membaik secara signifikan, pertumbuhan ekonomi setahun penuh (2025) dapat berada di bawah estimasi kami saat ini,” ujar Fithra.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/05/af97b1d1726b187889303566ad54a6a7-IMG_0275.jpeg)
Adapun pemerintah memiliki target pertumbuhan pada 2025 sebesar 5,2 persen. Dengan kondisi saat ini, dibutuhkan penguatan secara signifikan pada paruh kedua 2025, terutama di sektor investasi, konsumsi swasta, serta produksi industri.
Senada, Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan, pertumbuhan ekonomi RI yang melambat di bawah 5 persen pada triwulan I-2025 telah diperkirakan sebelumnya. Namun, pelemahan itu mencerminkan lebih dari sekadar tren musiman atau efek basis.
”Penurunan konsumsi rumah tangga menandakan adanya tekanan nyata terhadap daya beli masyarakat, terutama pada segmen menengah ke bawah,” katanya.
Kondisi itu juga tampak dari data Survei Penjualan Eceran Bank Indonesia yang menunjukkan kontraksi signifikan secara tahunan. Kendati konsumsi tetap berada di zona ekspansi didorong faktor musiman Ramadhan dan Idul Fitri, tekanan harga dan pelemahan investasi membuat konsumsi tidak cukup kuat menopang pertumbuhan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/02/97ee208c-8c44-4961-ae39-e81e87b7a852_jpeg.jpg)
Di sisi lain, perlambatan ekonomi tersebut akan turut berdampak signifikan terhadap kinerja industri perbankan, khususnya penyaluran kredit konsumtif. Ini telah terefleksi dari pertumbuhan kredit konsumsi rumah tangga oleh perbankan yang turut melambat, khususnya kredit pemilikan rumah (KPR).
Berdasarkan data Statistik Sistem Keuangan Indonesia, kredit rumah tangga oleh perbankan per Maret 2025 mencapai Rp 1.868,55 triliun atau tumbuh 9,49 persen secara tahunan. Pertumbuhan itu melambat dibandingkan Februari 2025 yang tumbuh 10,52 persen dan Maret 2024 yang tumbuh 10,35 persen.
Pertumbuhan KPR sebagai komposisi terbesar kredit rumah tangga pun ikut merosot dari tumbuh dua digit sepanjang setahun terakhir menjadi 8,9 persen pada Maret 2025. Adapun porsi penyaluran KPR rumah tangga mencapai 42,99 persen dari total kredit rumah tangga perbankan.
Perbankan kemungkinan akan lebih selektif dalam menyalurkan kredit konsumtif, sambil memperkuat portofolio di sektor produktif yang lebih resilien, seperti infrastruktur, agrobisnis, dan ekspor.
Josua menjelaskan, ada dua faktor utama yang menyebabkan pertumbuhan kredit tersebut melambat, yakni penurunan permintaan akibat daya beli yang melemah dan sisi kehati-hatian perbankan dalam menyalurkan kredit ke sektor konsumsi yang risikonya meningkat.
”Perbankan kemungkinan akan lebih selektif dalam menyalurkan kredit konsumtif, sambil memperkuat portofolio di sektor produktif yang lebih resilien, seperti infrastruktur, agrobisnis, dan ekspor,” ujarnya.
Ke depan, ia memperkirakan, prospek konsumsi rumah tangga akan sangat bergantung pada pemulihan keyakinan konsumen, percepatan realisasi belanja pemerintah, serta kemungkinan pelonggaran kebijakan moneter.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/01/aa3cf9a4-ec06-4a71-8bbf-f5a100962a31_png.png)
Menurut Josua, penurunan suku bunga acuan dalam jangka pendek akan memberikan ruang bagi pemulihan konsumsi dan penyaluran kredit. Namun, pemangkasan itu cenderung moderat atau terbatas dengan mempertimbangkan tekanan eksternal akibat ketegangan dagang.
Sementara itu, Corporate Secretary PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk atau BTN Ramon Armando mengatakan, penyaluran KPR oleh BTN dalam lima tahun terakhir tetap menunjukkan tren positif, baik KPR subsidi maupun nonsubsidi.
Terkait suku bunga, ada dua skema yang ditawarkan sesuai kebutuhan calon debitor, yakni suku bunga berjenjang serta fix and cap (kombinasi suku bunga tetap dan mengambang).
Pada skema pertama, suku bunga akan dikenakan meningkat secara bertahap sesuai ketentuan awal akad. Lalu, dalam skema fix and cap berlaku bunga tetap di masa awal, disusul suku bunga mengambang (floating) dengan batas kenaikan (cap rate) yang terkontrol.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/15/0d394d61-8dfe-46db-96a7-46ebf97041e5_png.png)
Oleh sebab itu, kenaikan suku bunga kredit dalam skema yang ditawarkan oleh BTN berjalan terukur, transparan, dan sesuai skema yang telah disepakati saat akad kredit. Dengan demikian, tidak akan terjadi lonjakan suku bunga secara mendadak.
”Bank BTN menjaga agar perubahan suku bunga tidak membebani nasabah. Dengan skema fix and cap, kenaikan bunga dibatasi pada ambang tertentu. Untuk KPR berjenjang, kenaikan suku bunga telah diinformasikan sejak awal dan bersifat terencana,” kata Ramon.
Di sisi lain, stabilnya suku bunga acuan sebesar 5,75 persen memberikan landasan positif bagi stabilitas suku bunga KPR. Ramon menyarankan, generasi muda dapat segera memulai proses kepemilikan rumah di tengah harga properti yang terus meningkat serta mengelola keuangan pribadi untuk memastikan kemampuan pembayaran cicilan.
Dalam memilih hunian, calon debitor muda dapat memilih skema suku bunga yang sesuai rencana keuangan pribadi, baik berjenjang maupun fix and cap. Lalu, perlu dipersiapkan pula tabungan tambahan untuk biaya terkait pembelian rumah, seperti notaris, asuransi, dan pajak.
”Bank BTN tetap memantau kondisi makroekonomi nasional dan global serta berupaya menjaga agar suku bunga KPR tetap kompetitif. Kami percaya bahwa kestabilan ini membuka peluang agar suku bunga floating ke depan dapat tetap dijaga dalam batas yang rasional dan tidak memberatkan debitor,” ujarnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2023/03/03/3f8dcdb0-9b4b-4020-9356-efad6222194e.jpg)
Adapun penyaluran kredit dan pembiayaan BTN pada Maret 2025 mencapai Rp 363,11 triliun atau tumbuh 5,5 persen secara tahunan. Pertumbuhan ini utamanya ditopang oleh meningkatnya permintaan kredit di sektor perumahan, baik KPR subsidi maupun nonsubsidi.
Hingga Maret 2025, penyaluran KPR subsidi BTN sebesar Rp 179,70 triliun atau naik 7,6 persen secara tahunan. Sementara itu, KPR nonsubsidi tumbuh 8,1 persen secara tahunan menjadi Rp 106,80 triliun.
Kami optimistis kredit properti dapat terus bertumbuh, namun tetap memperhatikan kondisi ekonomi dan kebijakan pemerintah.
Senada, Executive Vice President Corporate Communication and Social Responsibility PT Bank Central Asia Tbk (BCA) Hera F Haryn menuturkan, BCA senantiasa berupaya menjaga tingkat suku bunga kredit pada level yang dapat diterima pasar dan memperhatikan daya beli masyarakat.
”Kami senantiasa melakukan penyesuaian suku bunga secara berkala. Secara keseluruhan, suku bunga dasar kredit BCA menjadi salah satu yang paling kompetitif,” katanya.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/06/30/2c192a3f-bad5-457c-8b56-e967647ff269_png.png)
Bagi generasi muda yang ingin mengajukan KPR, Hera menganjurkan, penting untuk memulainya dengan perencanaan keuangan yang matang dan memilih skema pembiayaan sesuai kemampuan.
”Kami optimistis kredit properti dapat terus bertumbuh, namun tetap memperhatikan kondisi ekonomi dan kebijakan pemerintah, baik untuk sektor industri properti maupun pelaku perbankan dalam pembiayaan KPR,” ujarnya.
Per Maret 2025, kredit konsumer BCA meningkat 11,3 persen secara tahunan menjadi Rp 225,7 triliun, ditopang KPR yang tumbuh 10,5 persen secara tahunan menjadi Rp 135,3 triliun. Secara keseluruhan, total kredit yang disalurkan BCA Rp 941 triliun atau naik 12,6 persen secara tahunan.
Penulis:
Agustinus Yoga PrimantoroEditor:
Agnes TheodoraPenyelaras Bahasa:
Nanik Dwiastuti