Menilik statistik, ada empat tim yang paling merugi dalam laga awal Piala Dunia 2026 karena menyia-nyiakan superioritas performanya untuk menang. Siapa saja?
16 Jun 2026 22:22 WIB · Olahraga
GETTY IMAGES VIA AFP/MATTIA OZBOT
Sebanyak 8 dari 12 grup Piala Dunia 2026 telah memainkan laga pembukanya. Hasil 16 laga pun membawa berbagai kejutan, termasuk tersandungnya sejumlah tim unggulan. Menilik statistik, ada empat tim yang paling merugi dalam laga awal ini karena menyia-nyiakan kesempatan besar untuk menang.
Hasil analisis Opta menguak bahwa Spanyol, Turki, Uruguay, dan Swiss menjadi tim yang tak mampu mengonversi melimpahnya keunggulan performa mereka menjadi kemenangan.
Salah satu yang menonjol adalah keempat tim tersebut mencatatkan angka penguasaan bola (ball possession) tertinggi dari 16 partai perdana grup.
Penguasaan bola paling superior dicatatkan oleh Spanyol, yakni sebesar 74,3 persen, saat menghadapi Tanjung Verde di Grup H. Namun, di luar dugaan semua prediksi, juara dunia 2010 tersebut malah ditahan imbang sang skuad debutan dengan skor 0-0.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/16/2b3c76ae71029724ba8c30c755d558c5-1000242587.jpg)
Nasib paling apes dialami Turki. Tim dengan penguasaan bola tertinggi kedua itu justru ditekuk 0-2 oleh Australia pada laga Grup D. Padahal, dalam partai tersebut, Turki mengontrol 71,6 persen jalannya bola.
Swiss menempati urutan selanjutnya dengan dominasi 68 persen saat melawan Qatar di Grup B. Namun, hasilnya juga mengecewakan bagi tim ”La Nati” karena hanya meraih satu poin setelah ditahan 1-1 oleh tim yang terpaut 37 anak tangga di ranking FIFA.
Kemubaziran penguasaan bola juga dilakukan Uruguay. Dengan kontrol 66,8 persen bola dalam pertandingan kontra Arab Saudi di Grup H, skuad ”La Celeste” harus puas hanya membawa hasil seri 1-1.
Dari statistik Opta itu, terdapat 9 tim dengan penguasaan bola di atas 60 persen dalam laga pembukanya. Hasilnya, hanya empat tim yang menang, yakni Amerika Serikat, Jerman, Korea Selatan, dan Meksiko.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/16/77c4d52202bb596fcedbcc69f1c4401a-6fcf0c20451542b0b6ae7c61182f94c5_1_75c7fd9275414b93bb8c4d7636efa82a.jpg)
Jika dibedah lebih jauh, soal passing atau operan, Spanyol, Turki, Uruguay, dan Swiss juga bercokol di level teratas statistik Opta. Spanyol lagi-lagi tertinggi melalui total 800 operan dengan kesuksesan 91,8 persen.
Lalu, Turki di peringkat kedua (704 operan/90,2 persen) dan Uruguay di posisi keempat (612/88,2 persen). Adapun Swiss berada di tangga ke-6 dengan total 576 passing, tapi tingkat keberhasilannya 91,5 persen, selevel di bawah Spanyol.
Dua tim lain di daftar teratas itu adalah Jerman di posisi ke-3 (637 operan/87 persen) dan Amerika Serikat di peringkat ke-5 (598 passing/85,1 persen). Namun, kedua tim itu memetik hasil optimal karena menang besar atas lawan masing-masing, yakni 7-1 untuk Jerman saat mencukur Curacao dan 4-1 bagi AS kala membantai Paraguay.
Dari aspek produksi tembakan ke arah gawang, giliran Turki yang berada di peringkat teratas, yakni 30 tembakan dengan 8 di antaranya tepat sasaran. Kualitas peluang yang diciptakan (XG) pun mencapai 1,36 yang berarti setidaknya mereka bisa mencetak satu gol.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/14/35e6cc1d239f66ba6060872338bf2437-1000242366.jpg)
Spanyol dan Uruguay menyusul di posisi kedua dan ketiga. Spanyol mencatatkan 27 tembakan dengan 7 tepat sasaran dan Uruguay dengan 27 tembakan pula, tetapi 10 tepat sasaran. Adapun Swiss berada di peringkat kelima dengan 26 tembakan dan 7 tepat sasaran.
Dari ketiga tim itu, Swiss yang paling besar menyia-nyiakan peluang. Dengan angka XG (gol yang diekpektasikan) 3,2, La Nati seharusnya bisa mencetak paling tidak tiga gol, tetapi hanya sanggup merealisasikan satu gol. Adapun Spanyol membukukan XG 2,1 dengan realisasi nihil gol dan Uruguay XG 1,72 dengan 1 gol.
Saya pikir kami perlu lebih tajam di depan gawang.
Buruknya penyelesaian akhir Swiss ini diakui sang pelatih, Murat Yakin. Seusai laga, dia menyebut 26 tembakan yang dilepaskan para pemainnya seolah hanya memberi kiper Qatar latihan menangkap. ”Saya pikir kami perlu lebih tajam di depan gawang,” ucapnya dikutip dari laman FIFA.
Swiss masih memiliki peluang untuk lolos ke babak 32 besar jika bisa mengoptimalkan dua laga tersisa melawan Bosnia-Herzegovina pada 19 Juni dan tuan rumah Kanada pada 25 Juni.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/14/15859dd7927d4f11fd21b924f6c66ec1-Switzerland_Qatar_WCup_Soccer.jpg)
Sementara Pelatih Turki Vincenzo Montella merasa sangat sedih dengan hasil buruk timnya pada partai melawan Australia. Namun, dia menyebut timnya masih memiliki kesempatan untuk menebus hasil itu pada laga selanjutnya, kontra Paraguay dan AS.
Adapun Pelatih Spanyol Luis de la Fuente merasa tak habis pikir dengan hasil akhir melawan Tanjung Verde. Menurut sang arsitek, anak asuhannya seharusnya bisa menang melalui segala situasi menguntungkan yang diciptakan.
”Akan tetapi, kami kurang kesegaran dan ketajaman akhir,” tuturnya.
(AP/Reuters)
Penulis:
Mohamad Final DaengEditor:
Yulvianus HarjonoPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra