Enam Bulan Kebuntuan Perang Iran

Trump pernah memproyeksikan perang di Iran akan selesai dalam 4-5 pekan. Namun, setelah enam bulan, perang belum berakhir. Upaya perdamaian pun terkatung-katung.

28 Agt 2026 15:13 WIB · Internasional

AP Photo/Vahid Salemi

Oleh Tatang Mulyana Sinaga

Perang Iran yang dipicu serangan Amerika Serikat dan Israel genap berumur enam bulan, Jumat (28/8/2026). Ribuan orang tewas. Pasokan energi dunia terguncang. Stabilitas kawasan goyah. Upaya perdamaian membentur tembok kebuntuan.

Setengah tahun berlalu, tetapi kata-kata Presiden AS Donald Trump yang memproyeksikan perang akan selesai dalam hitungan pekan masih terngiang. Meski terluka dan mengalami banyak kehancuran, Iran masih bisa melawan. Mereka memegang kendali Selat Hormuz, jalur vital energi global yang mengalirkan seperlima minyak mentah dunia.

AS pun menelan banyak kerugian. Anggaran ”Negeri Paman Sam” terkuras untuk mendanai perang. Tak hanya itu, rakyat AS juga menjerit karena lonjakan harga bahan bakar minyak akibat tersendatnya distribusi minyak dari kawasan Teluk.

FORT STOCKTON, TEXAS - AUGUST 14: Gas and diesel prices are displayed at a Chevron gas station on August 14, 2026 in Fort Stockton, Texas. Diesel prices continue to climb as international conflicts across several regions disrupt the global fuel supply chain. Tensions involving Iran have severely disrupted shipping through the Strait of Hormuz, while Ukrainian attacks of Russian refineries have further strained fuel exports from the region.   Brandon Bell/Getty Images/AFP (Photo by Brandon Bell / GETTY IMAGES NORTH AMERICA / Getty Images via AFP)

Sialnya, bukan cuma AS yang menanggung dampaknya, melainkan seluruh dunia. Harga minyak dunia meroket hingga pernah menembus 100 dolar AS per barel. Saat ini harganya sekitar 89 dolar AS per barel, jauh di atas harga sebelum perang sekitar 72 dolar AS per barel.

Perdamaian AS-Iran telah beberapa kali diupayakan. Trump berulang kali menyatakan kesepakatan untuk menyelesaikannya hampir rampung. Namun, ia belum memastikan tanggalnya. Proses perdamaian pun terkatung-katung.

Pertengahan Juni lalu, AS dan Iran menandatangani nota kesepahaman yang membuka jalan untuk mengakhiri perang. Terdapat sejumlah poin kesepakatan, mulai dari penghentian perang, pembukaan blokade Selat Hormuz, pencabutan sanksi terhadap Iran, rekonstruksi Iran, hingga program nuklir Iran. Namun, upaya itu juga terbengkalai tanpa menghasilkan kesepakatan final setelah periode negosiasi 60 hari berakhir.

”Tidak ada negosiasi yang berlangsung saat ini. Hal ini akan terus berlanjut sampai Presiden (Trump) merasa bahwa mungkin mereka (Iran) bersedia duduk di meja perundingan secara serius,” ujar Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt dalam acara televisi Fox & Friends, Kamis (27/8/2026).

Trump

AS telah menggeser prioritasnya dalam perang melawan Iran. Fokus utama negara itu bukan lagi mencegah Iran memiliki senjata nuklir, melainkan menurunkan harga minyak dengan memastikan kelancaran distribusi energi melalui Selat Hormuz.

Iran memblokade selat itu sejak 28 Februari 2026. Tindakan ini dilakukan sebagai respons atas serangan AS dan Israel. AS kemudian membalasnya dengan mengerahkan angkatan lautnya untuk memblokade pelabuhan-pelabuhan Iran.

Trump mengklaim Selat Hormuz berfungsi sebagaimana mestinya. Namun, kenyataannya, sejumlah kapal yang melintasi perairan itu diserang sehingga masih membahayakan untuk dilalui.

”Ya, sesekali mungkin ada drone, roket, atau sesuatu yang ditembakkan. Namun, selat itu tetap berfungsi dengan baik,” ujar Trump.

Sebuah perahu kecil berlayar melewati kapal kargo dan kapal komersial lainnya yang berlabuh di Selat Hormuz di luar Bandar Abbas, Iran, Rabu (5/8/2026).

AP/Amirhosein Khorgooi/ISNA

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan kepada para anggota parlemen AS bahwa Iran telah mengalami kehancuran masif pada basis industri pertahanannya. Bahkan, ia menyebut tingkat penyusutan kekuatan pertahanan Iran sebesar 80-90 persen. Butuh waktu bertahun-tahun bagi Teheran untuk membangunnya kembali.

Akan tetapi, Rubio tidak menampik bahwa Iran masih mampu menyerang menggunakan drone. Namun, menurut dia, kemampuan itu telah jauh berkurang dibandingkan saat awal perang.

Beragam konsekuensi

Keputusan Trump menyerang Iran menimbulkan beragam konsekuensi yang berdampak bagi dirinya, AS, dan dunia. Secara pribadi, Trump harus membayar keputusannya itu dengan harga politik yang mahal.

Kepercayaan publik AS terhadap presiden berusia 80 tahun itu terus merosot. Berdasarkan jajak pendapat terbaru yang dilakukan Reuters dan Ipsos, hanya 33 persen responden yang setuju terhadap kinerja Trump, sedangkan yang tidak setuju mencapai 64 persen. Sebesar 3 persen responden tidak menjawab.

Quote

Perang Iran juga membebani dunia karena membuat biaya ekonomi membengkak. Sebab, kenaikan harga minyak diikuti oleh kenaikan harga sejumlah komoditas.

Terkait perang Iran, 61 persen responden tidak setuju dengan cara Trump menangani isu tersebut. Hanya 27 persen responden yang setuju. Sisanya, 2 persen, tidak menjawab dan 10 persen menjawab tidak tahu.

Bagi AS, perang di Iran telah menghabiskan banyak persenjataan. Perang ini menghabiskan 1.500 rudal Patriot atau setara dengan 65 persen stok AS. Padahal, rudal tersebut merupakan benteng pertahanan udara AS dan sekutunya untuk mencegat serangan musuh.

Perang Iran juga membebani dunia karena membuat biaya ekonomi membengkak. Sebab, kenaikan harga minyak diikuti oleh kenaikan harga sejumlah komoditas.

Syarat Iran

Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Mohsen Rezaei mengatakan, pihaknya sedang menyiapkan daftar syarat untuk membuka kembali Selat Hormuz. Iran dan Oman telah menyepakati koridor pelayaran melalui selat tersebut.

Infografik Navigasi Selat Hormuz Terbagi Menjadi
Dua Rute yang Saling Bersaing

”Sebagian rute berada di perairan Oman dan sebagian di perairan Iran. Kapal akan menggunakan jalur tengah yang ditentukan jika AS memenuhi syarat Iran,” katanya.

Rezaei memperingatkan AS mengenai agresi militer baru apa pun terhadap Iran akan memicu respons keras yang menyasar kepentingan militer dan ekonomi AS. Ia menegaskan, Washington harus mengambil langkah konkret untuk mengakhiri blokade pelabuhan Iran sebelum Teheran membuka kembali Selat Hormuz.

”Kami tidak memercayai AS. Mereka telah berulang kali mengkhianati diplomasi dan perundingan. Jika AS melakukan tindakan jahat apa pun terhadap Iran, kami akan menimpakan dampak buruk sedemikian rupa terhadap kepentingan militer dan ekonominya,” ujarnya dilansir dari media Iran, IRNA.

Di tengah kebuntuan AS mengakhiri perang Iran, sejumlah negara di Timur Tengah berupaya untuk mencari jalan keluar. Perdana Menteri Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman al-Thani mengunjungi Teheran, Kamis. Kunjungan itu sebagai upaya meredakan eskalasi perang di Iran.

Iran War

Kementerian Luar Negeri Qatar menyatakan, pertemuan Al-Thani dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi membahas rencana antara Iran dan Oman untuk menjamin keamanan pelayaran kapal di Selat Hormuz. Keduanya juga berdiskusi mengenai upaya membersihkan jalur perairan tersebut dari ranjau berbahaya.

Lalu lintas kapal di Selat Hormuz masih berbahaya. Organisasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO) menerima laporan mengenai sebuah kapal tanker minyak yang terkena serangan di selat itu, Kamis.

Kapal tersebut terbakar setelah terkena proyektil tak dikenal di perairan antara Oman dan Iran. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian itu. (REUTERS/AP/AFP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Tatang Mulyana Sinaga
 | 

Editor:

Bonifasius Josie Susilo H
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nur Adji