Kompas.id Brief
KOMPAS BRIEF

Seberapa Mahal Ongkos yang Ditanggung AS dalam Perang di Iran?

Amerika Serikat menanggung ongkos yang sangat mahal dalam perang di Iran. Stok senjata mereka menyusut drastis. Namun, ada pihak yang diuntungkan oleh perang ini.

06 Agt 2026 12:00 WIB · Internasional

AP Photo/Mark Schiefelbein

Oleh Tatang Mulyana Sinaga

Apa yang dapat Anda pelajari dari artikel ini?

1. Berapa biaya yang dikeluarkan AS dalam perang di Iran?

2. Penggunaan senjata AS apa saja yang menelan biaya tinggi?

3. Mengapa perang berkepanjangan justru merugikan Donald Trump?

4. Berapa estimasi biaya jangka panjang yang ditanggung AS dalam perang melawan Iran?

5. Siapa yang diuntungkan dari perang yang telah menelan ribuan korban jiwa tersebut?

Berapa biaya yang dikeluarkan AS dalam perang di Iran?

copy title

Keputusan Amerika Serikat bersama Israel menyerang Iran pada 28 Februari 2026 menimbulkan efek berantai terhadap perekonomian AS. Perang yang telah berlangsung selama lebih dari lima bulan itu membebani keuangan ”Negeri Paman Sam” karena membengkaknya biaya militer.

Beban keuangan ini disumbang dari berbagai aspek, mulai dari biaya senjata hingga mobilisasi pasukan militer dalam skala besar. Selain itu, perang memicu lonjakan harga minyak dunia sehingga berdampak terhadap ekonomi domestik AS.

Dalam rapat dengar pendapat dengan legislatif AS pada Juli lalu, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menyampaikan, perang di Iran sudah menguras biaya 37,5 miliar dolar AS atau sekitar Rp 670 triliun. Sebagai perbandingan, biaya itu lebih dari 15 persen APBN Indonesia 2026.

US President Donald Trump and US Secretary of Defense Pete Hegseth (R) salute, alongside US Senator Thom Tillis (2R), Republican from North Carolina, during a dignified transfer solemn event for US service members killed during operations in the Middle East, at Dover Air Force Base in Dover, Delaware, on July 22, 2026.  (Photo by SAUL LOEB / AFP)

Biaya perang diprediksi akan terus membengkak. Apalagi, Dewan Perwakilan Rakyat AS telah menyetujui rancangan undang-undang anggaran untuk perang di Iran sebesar 95 miliar dolar AS atau setara Rp 1.700 triliun.

Jika Kongres AS menyetujui RUU ini, mayoritas anggaran akan diberikan kepada Pentagon guna mendanai perang. Sebanyak 60 miliar dolar AS diproyeksikan untuk angkatan bersenjata dan 13 miliar dolar AS untuk badan intelijen dan keamanan nasional lainnya.

Penggunaan senjata AS apa saja yang menelan biaya besar?

copy title

AS menggunakan berbagai senjata berteknologi tinggi untuk menggempur Iran. Di satu sisi, senjata-senjata itu dapat menghancurkan target serangan dengan cepat. Namun, di sisi lain, hal ini juga menelan biaya sangat besar.

AS diperkirakan menghabiskan lebih dari 1.000 rudal pencegat Patriot untuk menghalau serangan rudal balistik Iran. Estimasi harganya 3 juta-4 juta dolar AS per unit. Selain itu, AS juga menggunakan ratusan rudal pencegat THAAD yang dihargai 12 juta-15 juta dolar AS per unit.

Menurut CNN, rangkaian serangan AS ke Iran menguras 80 persen rudal THAAD dan 50 persen rudal Patriot. Rudal-rudal itu untuk pertahanan udara. Menurut Centre for Strategic and International Studies (CSIS), AS punya 2.200 rudal patriot dan 425 rudal THAAD sebelum menyerang Iran.

Akan tetapi, Presiden AS Donald Trump menyanggah cadangan persenjataan AS menipis. ”AS punya amunisi melebihi siapa pun di dunia dan melebihi dari yang kita butuhkan,” katanya.

Mengapa perang berkepanjangan justru merugikan Donald Trump?

copy title

Dengan biaya militer yang sangat tinggi, perang berkepanjangan di Iran justru akan semakin merugikan AS dan Donald Trump. Bukan hanya karena menguras anggaran, melainkan juga potensi menguatnya tekanan politik, baik dari dalam maupun luar negeri.

Pengamat Timur Tengah, Nasir Tamara, mengatakan, perang yang berlarut-larut di Iran berisiko membawa AS dalam posisi yang kurang menguntungkan dalam persaingan geopolitik. Sebab, saat AS menghabiskan banyak sumber daya melawan Iran, kompetitor utama mereka, Rusia dan China, justru tidak mengalami penurunan kekuatan militernya.

”Perang ini bisa dikatakan sebagai perang terbesar AS dalam 70 tahun terakhir. Kehilangan banyak aset militer membuat AS menjadi lebih lemah dalam persaingan dengan China dan Rusia. Itu tidak menguntungkan buat mereka,” ujarnya.

Infografik Estimasi Biaya Perang AS Menyerang Iran

Selain itu, militer Iran juga masih mampu membalas serangan AS. Padahal, sebelumnya, Trump mengklaim dapat mengakhiri perang di Iran dalam 4-5 minggu. Akhir perang yang semakin tidak pasti membuat Trump dikritik oleh berbagai pihak.

Trump menuai protes dari rakyat AS karena perang turut memicu lonjakan harga bahan bakar minyak dan kebutuhan pokok lainnya di negara itu. Hal ini dinilai tidak menguntungkan Trump secara politik menjelang pemilu sela pada November mendatang.

Berapa estimasi biaya jangka panjang yang ditanggung AS dalam perang melawan Iran?

copy title

Biaya jangka panjang yang ditanggung AS dalam perang melawan Iran diprediksi lebih besar daripada penghitungan Pemerintah AS. Sebab, ada indikator lain di luar biaya senjata dan pengerahan pasukan dengan kebutuhan pembiayaan dalam jangka waktu yang relatif lama.

Pakar penganggaran perang di Harvard Kennedy School, AS, Profesor Linda Bilmes, memasukkan item yang lebih kompleks, mulai dari biaya rudal, pesawat tempur, kapal selam, kapal perusak, hingga gaji personel untuk penugasan jangka panjang. Selain itu, ia juga menghitung kerugian akibat tiga jet tempur F-15 yang jatuh di Kuwait pada Maret 2026 akibat friendly fire serta jet tempur F-15 dan pesawat serang A-10 yang ditembak Iran pada April lalu.

”Sulit untuk mengukur biaya pastinya. Namun, berdasarkan apa yang kita ketahui sekarang, biayanya sekitar 2 miliar dolar AS (sekitar Rp 34,59 triliun) per hari dalam biaya jangka pendek dan ini merupakan puncak gunung es,” ujarnya.

Biaya perang akan terus membengkak karena dibutuhkan biaya tambahan, seperti perbaikan fasilitas dan pengisian kembali persediaan dengan sistem senjata yang jauh lebih canggih. Puluhan instalasi militer AS di Timur Tengah telah rusak parah selama perang, termasuk pangkalan militer dan sistem rudal. Perbaikan ini akan memakan waktu bertahun-tahun.

Biaya jangka panjang lainnya adalah perawatan veteran yang berhak atas kompensasi cacat seumur hidup dan perawatan medis selama sisa hidupnya.

Penghitungan di atas belum memasukkan biaya ekonomi lebih luas akibat kenaikan harga minyak, asuransi, makanan, dan kebutuhan lainnya. ”Saya yakin kita (AS) akan menghabiskan 1 triliun dolar AS (sekitar Rp 17,3 kuadriliun) untuk perang melawan Iran,” kata Bilmes.

Siapa yang diuntungkan dari perang yang telah menelan ribuan korban jiwa tersebut?

copy title

Selain AS, Iran juga menelan kerugian yang tidak sedikit selama perang. Kerugiannya ditaksir menembus ratusan miliar dolar AS. Kerugian itu disebabkan oleh sejumlah faktor, mulai dari kerusakan fasilitas vital, hilangnya pendapatan negara, hingga dampak dari penutupan berbagai sektor industri.

Akan tetapi, ada pihak yang diuntungkan dari perang yang telah merenggut ribuan korban jiwa tersebut. Saat amunisi Pentagon (Departemen Pertahanan AS) mulai terkuras karena perang, dua perusahaan asal AS ketiban cuan, yaitu Lockheed Martin dan RTX Corporation. Selain perang Iran, perang Ukraina-Rusia juga berkontribusi terhadap keuntungan perusahaan tersebut.

Dalam perang melawan Iran, AS mengerahkan banyak alutsista canggih. Beberapa di antaranya berupa jet tempur dan sistem pertahanan antibalistik buatan Lockheed Martin. Ada juga rudal jelajah Tomahawk dan rudal Patriot produksi RTX.

A Patriot Advanced Capability-3 (PAC-3) Cost Reduction Initiative (CRI) missile is launched during the recent successful Integrated Battle Command System (IBCS) flight test at White Sands Missile Range.

Lockheed Martin dan RTX sama-sama memperkirakan keuntungan yang lebih besar saat AS membutuhkan pasokan senjata lebih banyak. Apalagi Presiden AS Donald Trump mendorong kontraktor pertahanan di negara itu untuk meningkatkan produksinya seiring perang yang berkepanjangan.

Pendapatan Lockheed Martin dari rudal dan pengendali tembakan saja meningkat hampir 20 persen menjadi 4,1 miliar dolar AS (sekitar Rp 73 triliun). Sementara penjualan di Raytheon, bisnis senjata RTX, naik 18 persen menjadi 8,27 miliar dolar AS (Rp 148 triliun).


Kerabat Kerja

Penulis:

Tatang Mulyana Sinaga
 | 

Editor:

Nur Hidayati
 | 

Penyelaras Bahasa:

Apolonius Lase