Eropa kritik keras Rusia. Perdana Menteri Inggris Keir Starmer sebut Presiden Rusia Vladimir Putin tidak tanggapi serius upaya gencatan senjata.
15 Mar 2025 10:58 WIB · Internasional
LONDON, SABTU — Negara-negara Eropa, khususnya Inggris, mengkritik keseriusan Rusia untuk gencatan senjata Perang Ukraina-Rusia. Partisipasi aktif Inggris atas upaya itu tampaknya tidak mendapat sambutan hangat Moskwa. Sebaliknya, Amerika Serikat optimistis perang akan berakhir.
”Kita tidak dapat membiarkan Presiden Putin mempermainkan kesepakatan Presiden AS Donald Trump. Pengabaian Kremlin sepenuhnya terhadap usulan gencatan senjata Presiden Trump hanya menunjukkan bahwa Putin tidak serius dengan perdamaian,” kata Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, lewat pernyataan dari kantor di Downing Street, London, Jumat (15/3/2025).
Starmer mengatakan, Presiden Rusia Vladimir Putin tidak menanggapi upaya gencatan senjata selama 30 hari di Ukraina dengan serius. Komentar itu keluar setelah Putin menyatakan punya pertanyaan bagaimana gencatan senjata itu akan berjalan.
Melihat sepak terjang Inggris terkini soal Ukraina, sejumlah pejabat Rusia mengatakan, sekarang London dianggap sebagai musuh utama Moskwa. Berbeda dari situasi sebelumnya, di mana Rusia dulu kerap mengecam AS, terutama sebelum era Trump. Namun, sekarang situasinya berubah.
Sebelumnya, Kamis lalu, Putin mengatakan, Rusia mendukung usulan Amerika Serikat soal gencatan senjata dengan sejumlah syarat. Syarat-syarat itu antara lain, Putin ingin Ukraina menghentikan ambisi untuk bergabung dengan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO), Rusia mengendalikan seluruh empat wilayah yang diklaim sebagai miliknya, dan jumlah tentara Ukraina dibatasi. Tuntutan itu ditolak Kyiv.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/02/cf536b0d39c6c662941a5bfa515f9b14-cropped_image.jpg)
Bagi Starmer, syarat yang diajukan Putin itu justru memperlihatkan bahwa Putin berusaha menunda gencatan senjata, bukan sebaliknya, perdamaian. Adapun Ukraina telah menyatakan kesediaan untuk gencatan senjata dan berunding dengan Rusia.
Starmer telah berdiskusi dengan Presiden Perancis Emmanuel Macron dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy terkait situasi yang terjadi. Senada, Macron menyerukan, Rusia mesti menerima usulan kesepakatan gencatan senjata tersebut.
”Rusia sekarang harus menerima usulan AS-Ukraina untuk gencatan senjata selama 30 hari. Agresi Rusia di Ukraina harus diakhiri. Kekejaman harus dihentikan. Begitu pula pernyataan penundaan,” cuit Macron di pelantar X.
Macron melanjutkan, sekitar 40 kepala staf pertahanan bertemu di Paris pada Selasa (11/3/2025). ”Kami akan terus bekerja untuk memperkuat dukungan bagi Ukraina dan mencapai perdamaian yang solid dan abadi,” ujarnya.
Dalam video pidatonya di X, Zelenskyy mengatakan, ia dan Macron telah membahas ”kondisi diplomasi, opsi yang tersedia, dan aspek teknis dalam mengawasi gencatan senjata”. ”Kami memiliki dukungan yang jelas dari Perancis,” ucapnya.
Lewat cuitan, Zelenskyy menambahkan, Rusia mencoba menetapkan syarat untuk gencatan senjata dan ingin membuat proses gencatan senjata goyah. ”Putin tidak dapat dipercaya. Reaksinya sudah menunjukkan bahwa Moskwa tidak menginginkan perdamaian atau mengakhiri perang,” tulis Zelenskyy.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/02/14a1ab468f7174b81fcc5d4a5ba4cde7-000_36YZ4AJ.jpg)
Baik Starmer maupun Macron telah memimpin inisiatif untuk membuat koalisi sukarela (coalition of the willing) sejak Trump memilih bernegosiasi langsung dengan Putin tanpa melibatkan Eropa, bulan lalu. Koalisi ini bertujuan untuk mendukung jaminan keamanan kepada Ukraina dengan menghalangi Putin melanggar gencatan senjata apa pun.
Starmer dan Macron mengatakan, mereka bersedia menempatkan pasukan Inggris dan Perancis di Ukraina. Namun, belum jelas apakah negara lain tertarik melakukan hal yang sama.
Starmer akan mendesak sekitar 25 pemimpin dunia untuk berkomitmen konkret dalam mendukung Ukraina dan meningkatkan tekanan pada Putin tentang gencatan senjata dalam pertemuan virtual, Sabtu (15/3/2025). Ia juga akan mencari dukungan logistik, keuangan, atau militer bagi Kyiv dari Eropa, Australia, Kanada, dan Selandia Baru agar posisi Ukraina kuat dalam perundingan.
Saat Inggris aktif berdiplomasi untuk Ukraina, Inggris kembali mendapat status sebagai musuh publik nomor satu Rusia. Ini adalah satu gelar yang dipegang dan dilepaskan Inggris selama dua abad terakhir, sejak zaman Perang Krimea tahun 1853-1856 saat Inggris masuk aliansi yang mengalahkan Kekaisaran Rusia.
Inggris telah menawarkan pelatihan dan keuangan bagi militer Ukraina. Inggris menjadi negara pertama yang menjanjikan tank tempur kepada Ukraina dan mengirimkan rudal jelajah jarak jauh ketika negara lain ragu.
Tiga pejabat Rusia, yang berbicara dengan syarat anonim, mengatakan, Inggris sekarang dianggap sebagai musuh utama Moskwa. Padahal, Moskwa dulu rajin mengecam AS sebelum era Trump atas dukungannya terhadap Ukraina.
Salah satu pejabat itu mengatakan, London telah menunjukkan bahwa mereka mampu memimpin dengan memberi contoh di Ukraina. ”Mereka adalah lokomotif dan menarik yang lain bersama mereka,” kata pejabat itu.
Dinas Intelijen Asing (SVR) Rusia lewat pernyataan yang tidak biasa, Senin (10/3/2025), menyatakan, London bertindak sebagai ”penghasut perang” global seperti menjelang kedua Perang Dunia lalu. SVR menilai Inggris mencoba menggagalkan upaya Trump untuk menjadi penengah perdamaian di Ukraina.
Baru-baru, dua diplomat Inggris diusir Rusia atas dugaan mata-mata. Kepada CNN, kantor luar negeri Inggris mengatakan, tuduhan Moskwa tidak berdasar. Saling usir diplomat antara Rusia dan Inggris telah menyusutkan jumlah staf di Kedutaan Inggris, yaitu sekitar 10 staf sejak perang berlangsung. Baik Rusia maupun Inggris tak memiliki atase pertahanan di pos tersebut.
Pejabat Rusia pun telah melontarkan ancaman terhadap Inggris. ”Jika hari ini Inggris menyerang wilayah kami dengan rudalnya dari Ukraina, saya menganggap ini sebagai alasan yang tepat bagi Inggris untuk tidak ada lagi,” kata Andrei Gurulyov, anggota parlemen pro-Putin dan mantan komandan militer, Januari lalu.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/13/60d3574c04791a6e436b6ce89623168c-000_36XP6A6.jpg)
Terlepas dari itu, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump menganggap Rusia justru menunjukkan iktikad baik soal gencatan senjata di Ukraina. Dia berpendapat Rusia akan membuat kesepakatan.
”Suasana yang cukup baik datang dari Rusia,” kata Trump, Jumat (14/3/2025).
Trump mengaku bersikap sedikit ”sarkastik” saat berkali-kali mengklaim dapat menyelesaikan perang Ukraina-Rusia dalam 24 jam. Klaim ini dibuat ketika dia masih menjadi kandidat Presiden AS. Sejauh ini sudah 54 hari berlalu sejak dia menjabat.
”Yah, saya agak sarkastis ketika mengatakan itu, yang sebenarnya saya maksud adalah saya ingin menyelesaikannya dan, saya rasa, saya rasa saya akan berhasil,” ujarnya dalam cuplikan wawancara untuk program televisi Full Measure yang tayang pada Minggu (16/3/2025).
Pengakuan semacam itu cukup langka dari Trump. Sang Presiden punya rekam jejak panjang dalam klaim yang dilebih-lebihkan. Partai Republik pun sering mengulang klaim Trump menyelesaikan perang dalam 24 jam selama masa kampanye.
Dalam wawancara tersebut, Trump juga ditanya rencana jika Putin tidak menyetujui gencatan senjata. ”Berita buruk bagi dunia ini karena begitu banyak orang yang meninggal. Tetapi, saya pikir, saya pikir dia akan setuju. Saya pikir saya mengenalnya dengan cukup baik dan saya pikir dia akan setuju,” ucapnya. (AP/AFP/Reuters)
Penulis:
Elsa Emiria LebaEditor:
Bonifasius Josie Susilo HPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari