Wimbledon adalah turnamen tenis tertua di dunia. Telah berusia 148 tahun sejak digelar pada 1877, Wimbledon dikenal dengan berbagai tradisi yang tetap dipertahankan.
04 Jul 2025 07:00 WIB · Olahraga
Cori Gauff memasuki Lapangan 1 All England Club, London, Inggris, Selasa (1/7/2025), dengan memakai pita putih besar di rambutnya. Setelah jaket putihnya dibuka, terlihatlah gaya modis dari pakaian yang dikenakannya untuk menjalani babak pertama Wimbledon.
Meski dibalut warna serba putih dari kepala hingga kaki seperti petenis lain, petenis putri Amerika Serikat bernama panggilan Coco itu memperlihatkan sesuatu yang berbeda pada pakaiannya. Dia mengenakan rok lipit yang terinspirasi pakaian tradisional Skotlandia, kilt. Tank top-nya berlapiskan renda dengan hiasan stroberi dan kupu-kupu tiga dimensi.
Coco dan sponsornya, New Balance, berkreasi dalam desain pakain dengan mengikuti peraturan harus menggunakan warna serba putih. Namun, Coco hanya berkesempatan sekali mengenakan pakaian itu karena dia kalah dari Dayana Yastremska.
Meski awalnya hanya menjadi bagian dari tradisi, dress code putih akhirnya menjadi peraturan di Wimbledon. Warna serba putih ini bahkan sudah berlaku sejak Grand Slam di lapangan rumput tersebut pertama kali digelar pada 1877. Peraturan memakai pakaian, sepatu, kaus kaki, hingga asesori kepala warna putih ini, akhirnya menjadi ciri paling terkenal dari Wimbledon.
Sebagai turnamen tenis tertua di dunia, Wimbledon memiliki prestise lebih tinggi dibandingkan tiga Grand Slam lain, yaitu Australia Terbuka, Perancis Terbuka, dan Amerika Serikat Terbuka. Status itu dan berbagai tradisi yang beberapa di antaranya berubah berdasarkan kebutuhan membuat Wimbledon tak hanya menjadi turnamen terkenal di arena tenis, melainkan telah menjadi salah satu ajang olahraga populer.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/07/02/4f23dc39-2a18-404a-8467-2694598ef1c6_jpg.jpg)
Selain dress code putih, berikut ini berbagai keunikan dan tradisi di Wimbledon:
Wimbledon diselenggarakan di turnamen lapangan rumput All England Club, London. Turnamen ini menjadi puncak persaingan petenis profesional di lapangan rumput yang berlangsung singkat, yaitu pada Juni-Juli.
Seperti lapangan tanah liat yang lebih banyak berada di Eropa, lapangan rumput pun demikian. Jenis lapangan ini banyak terdapat di Inggris sehingga turnamen ATP/WTA, yang dijadikan pemanasan para atlet untuk Wimbledon, pun banyak digelar di Inggris. Selain itu, ada pula turnamen pemanasan yang digelar di Halle, Berlin, dan Bad Homburg, Jerman.
Wimbledon menjadi satu-satunya Grand Slam yang diselenggarakan di lapangan rumput sejak awal. Kecuali Perancis Terbuka, turnamen Australia dan Amerika Serikat Terbuka pernah berlangsung di lapangan rumput. Namun, Australia Terbuka mengubah diri menjadi Grand Slam di lapangan keras sejak 1988.
AS Terbuka diselenggarakan di lapangan rumput pada 1881-1974, lalu berganti ke lapangan tanah liat berwarna hijau (1975-1977), dan berstatus sebagai Grand Slam lapangan keras sejak 1978.
Sebanyak 19 lapangan di All England Club ditanami ryegrass, jenis rumput yang paling tahan lama dan pulih dengan cepat setiap hari untuk digunakan selama dua pekan. Rumput dirawat dengan cara dipotong setinggi 8 milimeter dan disiram agar tak kering.
Dalam buku Wimbledon: 101 Reasons to Love the Greatest Tournament in Tennis diceritakan, mempersiapkan lapangan untuk Wimbledon tak hanya dilakukan menjelang kejuaraan, melainkan sepanjang tahun. Awal persiapan adalah menebar benih, yang didatangkan dari Belanda, dengan total 1 juta ton.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/03/419ceb58c614c86419fada3ce6d0de8a-wimbledon_grass7.png)
Musuh terkejam pada masa persiapan adalah salju di musim dingin dan matahari yang menyengat pada musim panas.
Empat pekan menjelang laga, pekerjaan harian yang dilakukan adalah memotong rumput, menyiram, dan menandai garis. Pekerjaan ini tetap dilakukan selama pertandingan, yaitu pada malam hari agar rumput tetap hidup.
Neil Stubley, pria yang bertanggung jawab atas kondisi semua lapangan rumput di All England Club, mengatakan, fokus utama dia dan timnya adalah memastikan kondisi lapangan pada hari ke-13 sama seperti hari pertama turnamen.
”Ini mungkin mimpi yang mustahil terwujud, tetapi kami berusaha keras untuk itu,” kata Stubley, yang bekerja di All England Club sejak 1995.
Stadion dan lapangan outdoor di All England Club tetap dibiarkan dengan nama Lapangan Utama, Lapangan 1, Lapangan 2, dan seterusnya karena bentuk ikatan kerja sama antara All England Club dan berbagai perusahaan adalah partner. Untuk itulah, tak banyak tempelan logo sponsor di Lapangan Utama hingga stadion dengan kapasitas hampir 15.000 tempat duduk ini berkesan bersih dan indah.
Lapangan Utama All England Club, yang pernah rusak akibat bom saat Perang Dunia II, mengalami perubahan drastis ketika atap yang bisa dibuka-tutup untuk pertama kalinya difungsikan. Atap dibuat karena Wimbledon sering terganggu hujan yang membuat pertandingan ditunda.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/03/3e05feee2d03426a2400ee74b328203f-wimbledon_rufus.jpg)
Selain sekitar 5.000 orang yang terlibat di bagian administrasi, transportasi, akomodasi, lapangan, taman, pertandingan, kesehatan, dan banyak bidang lainnya, ada binatang yang juga menjadi bagian dari panitia penyelenggara sebagai petugas lapangan. Dia adalah elang berjenis American Harris's hawk bernama Rufus.
Dimulai pada tahun 2000, Wimbledon menggunakan elang untuk mengusir merpati yang bisa mengganggu jalannya pertandingan karena suka memakan rumput. Selain itu, merpati-merpati ini biasanya juga ramai-ramai bertengger di atap stadion.
Sebelum Rufus, yang bertugas di Wimbledon sejak 2008, elang lainnya dengan tugas yang sama adalah Hamish.
Rufus, yang berasal dari Brigstock, Northhamptonshire, bekerja di area All England Club sepanjang tahun. Pada saat Wimbledon, dia bekerja setiap hari mengitari kompleks lapangan tenis seluas 17 hektar mulai pukul 09.00. Dia bertugas sekitar dua jam sebelum pertandingan pertama dimulai setiap hari.
Pada 2012, Rufus dicuri dari dalam mobil pemiliknya. Dia ditemukan tiga hari setelah hilang dengan kondisi bengkak di kaki.
Saking terkenalnya, Rufus The Hawk memiliki hampir 6.000 pengikut di Instagram.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/03/773e1b03c98006875a3d613ee9652c40-wimbledon_dresscode_musetti.png)
Di antara semua turnamen tenis, hanya Wimbledon yang mempunyai peraturan tentang pakaian yang harus dikenakan petenis saat bertanding. Dress code untk mereka adalah putih. Putih yang sebenar-benarnya putih bukan putih off-white, yaitu putih yang bercampur dengan warna lain, di antaranya krem.
Bukan hanya pakaian, petenis juga harus memilih warna putih untuk sepatu, kaus kaki, bandana, dan topi. Roger Federer bahkan pernah diminta mengganti sepatu saat tampil pada Wimbledon 2013 ketika bagian bawahnya berwarna oranye. Federer bermain dengan sepatu itu pada babak pertama, lalu diminta menggantinya pada babak berikutnya.
Baru sejak 2023, panitia mengizinkan warna lain untuk celana pendek yang dipakai di bagian dalam rok petenis putri. Peraturan ini dilonggarkan karena petenis putri bisa saja bermain ketika dalam kondisi datang bulan. Saat melawan Alexandra Eala pada babak pertama, misalnya, Barbora Krejcikova mengenakan celana warna hitam.
Pemilihan warna putih bukan tanpa alasan. Warna serba putih dalam tenis, olahraga yang populer di masyarakat kelas atas, menjadi tren pada era 1800-an. Agar noda bekas keringat tak terlihat, orang-orang kaya ini mengenakan kostum putih.
Pada Wimbledon 1962, pakaian yang dikenakan Maria Bueno memiliki aksen garis merah muda. Setahun berikutnya, kewajiban mengenakan serba putih ditulis dan ditempel di ruang ganti pemain.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/03/326b832782e520858726a0b7253e0c0c-wimbledon_dress_code_osaka2.jpg)
Setelah peringatan yang sama ditempel saat Wimbledon 1949, kali ini, tulisan dibuat dengan huruf kapital dan ancaman diskualifikasi saat melanggar.
Oleh karena tak suka dengan peraturan tersebut, Andre Agassi memboikot Wimbledon pada 1988-1990. Martina Navratilova juga pernah menyebut bahwa peraturan pakaian di Wimbledon berlebihan.
Meski demikian, banyak peserta yang masih bisa tampil modis dengan warna serba putih. Bersama sponsor, mereka merancang desain unik. Pada Wimbledon 2008, Maria Sharapova mengenakan celana pendek dengan atasan model tuksedo.
Di Wimbledon 2024, Osaka mengenakan tank top dengan aksen kain yang dikerut dari pundak kanan melingkari bagian atas tubuh. Bahan kain yang ringan untuk aksen ini sama seperti rok sehingga selalu terlihat berkibar ketika dia Osaka bergerak. Berasal dari Jepang dan suka akan mode, Osaka sering sering membawa gaya Harajuku pada pakaiannya saat bertanding, termasuk dalam warna serba putih di Wimbledon.
Penulis:
Yulia SapthianiEditor:
Emilius Caesar AlexeyPenyelaras Bahasa:
Galih Rudanto