KLINIK FOTOGRAFI

Foto Jurnalistik di Antara Hoaks dan Propaganda Perang

Konflik atau perang memicu maraknya penyebaran visual hoaks dan propaganda. Tugas jurnalistik jadi instrumen yang menghadirkan fakta dalam bentuk visual teraktual.

10 Mar 2026 08:00 WIB · Klinik Foto

TANGKAPAN LAYAR X

Oleh Iwan Setiyawan

Krisis yang terjadi di Timur Tengah saat ini telah menyebabkan lonjakan konten palsu yang dihasilkan oleh akal imitasi (AI). Di media sosial berseliweran konten visual, baik foto maupun video, yang mengklaim merupakan laporan terkini dari wilayah konflik. Sejak serangan gabungan Israel dan Amerika Serikat ke Iran dimulai pada 28 Februari 2026, konten palsu membanjiri media sosial. Penyebaran konten palsu (hoaks) ini seiring dengan keingintahuan masyarakat akan kabar terbaru dari wilayah konflik.

Kabar tentang kematian Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, yang pertama kali tersiar di unggahan media sosial Presiden AS Donald Trump, memicu berbagai spekulasi informasi. Salah satunya munculnya visual foto bergambar evakuasi jenazah yang diduga Khamenei tertimpa reruntuhan bangunan.

Seseorang yang memegang ponsel yang menampilkan Post Truth Social oleh Presiden AS Donald Trump yang mengumumkan kematian Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei pada Sabtu (28/2/2026).

Serangan AS-Israel juga memicu serangan balasan Iran, yang juga mengarah sasaran di sejumlah negara tetangganya dengan dalih menjadi pangkalan militer AS atau fasilitas-fasilitas lain milik AS dan Israel. Salah satu lokasi yang terkena serangan Iran adalah pangkalan militer AS di Qatar.

Di media sosial X, sebuah akun media Iran, Tehran Times, mengunggah foto satelit yang diklaim sebagai kerusakan pada pangkalan angkatan laut AS di Qatar setelah terkena rudal Iran. Foto satelit yang menggambarkan kondisi sebelum dan setelah serangan terlihat begitu meyakinkan dengan gambaran detail.

Unggahan Tehran Time yang menunjukkan dampak serangan balasan Iran ke pangkalan AS di Qatar. Foto ini hasil AI dari foto satelit kota di Bahrain.

Dari momentum serangan pertama AS-Israel ke Iran juga memuncullkan video serta foto tentang suasana sekolah yang terdampak pengeboman. Di banyak media sosial visual tersebut beredar dengan judul ”serangan rudal di sekolah dasar Minab” berkaitan dengan serangan di Peshawar, Pakistan. Unggahan tersebut menyertakan video yang menunjukkan kerumunan orang berkumpul di depan sebuah bangunan yang hancur.

Cek fakta

Beberapa konten visual palsu di atas hanya sedikit dari puluhan konten palsu terkait konflik di Timur Tengah yang berlarut. Bagi masyarakat awam, informasi yang didapat dari media sosial dengan mudahnya diterima dan disebarluaskan tanpa melakukan verifikasi. Bagi jurnalis, informasi di media sosial hanyalah info awal yang harus diverifikasi berulang kebenarannya.

Menanggapi maraknya konten hoaks yang beredar, sejumlah media dan kantor berita melakukan cek fakta akan konten-konten terkait konflik Timur Tengah yang beredar di media sosial. Terkait visual evakuasi jenazah yang diduga Khamenei dari reruntuhan, berdasarkan penelusuran kantor berita Australian Associated Press (AAP), didapatkan fakta bahwa visual tersebut merupakan hasil dari AI. Saat AAP FactCheck mengunggah gambar tersebut ke alat pendeteksi AI SynthID Google11, ia mendeteksi tanda air digital yang mengonfirmasi bahwa gambar tersebut dihasilkan secara digital.

Foto yang diklaim upaya evakuasi jenazah yang diduga Khamenei dari reruntuhan bangunan. Hasil penelusuran menunjukkan foto ini olahan AI.

Menanggapi visual foto satelit kerusakan pangkalan AS yang diunggah Tehran Times, analisis Financial Times (FT) mengungkapkan bahwa itu adalah gambar area di Bahrain yang diubah oleh AI. Video yang diverifikasi oleh FT menunjukkan beberapa serangan di dekat sistem radar, dan citra satelit yang ditangkap oleh Planet Labs pada tanggal 1 Maret mengonfirmasi bahwa situs tersebut telah rusak.

Pada saat dipublikasikan, postingan Tehran Times sendiri telah ditonton hampir 1 juta kali, dibagikan ribuan kali, dan tetap ada lebih dari 48 jam setelah diunggah. FT menemukan contoh gambar yang dibagikan di platform media sosial dan situs web lain.

Brady Africk, peneliti intelijen independen dan direktur hubungan media di American Enterprise Institute, mengatakan, masyarakat cenderung memercayai citra satelit sebagai sumber kebenaran karena rumitnya teknologi yang terlibat dalam menangkapnya.

”Citra satelit dapat dimanipulasi sama seperti gambar lainnya. AI telah membuat segalanya menjadi lebih mudah dan menimbulkan ancaman yang signifikan bagi orang-orang yang mencoba mendapatkan informasi secara online,” kata Africk.

Foto citra satelit yang menunjukkan kawasan NSA di Bahrain. Cuplikan dari visual ini yang kemudian diolah dengan AI dan disebarkan serta diklaim dampak serangan balasan Iran ke pangkalan militer AS di Qatar.

Dia menambahkan bahwa dia khawatir kemajuan pesat model-model ini hanya akan membuat model palsu semakin sulit dikenali dalam konflik di masa depan. Kesulitan dalam mengidentifikasi citra satelit yang dimanipulasi, dibandingkan dengan deepfake seseorang, adalah ”kurangnya informasi biometrik”, sebagaimana dikutip dari Henk van Ess, pakar metode penelitian online dan penulis buletin Digital Digging.

”Pada wajah, Anda bisa melihat kedipan yang aneh, tekstur kulit yang tidak alami, dan telinga yang tidak berbentuk,” ujarnya. ”Dengan citra satelit, Anda melihat bangunan, jalan, medan—hal-hal yang tidak memiliki isyarat bawaan ini. Dan, kebanyakan orang tidak tahu seperti apa citra satelit asli dari sensor tertentu pada resolusi tertentu,” katanya.

Kemudian, mengenai visual yang diklaim serangan ke sekolah di Peshawar, Pakistan, berdasarkan penelusuran sejumlah media, dinyatakan rekaman yang beredar adalah asli. Namun, tidak menggambarkan serangan di Peshawar, Pakistan.

Saat gelombang pertama serangan rudal AS-Israel ke Iran, sebuah sekolah perempuan di Minab, Iran selatan, terkena serangan. Beberapa media dan organisasi—termasuk PBB—telah melaporkan serangan tersebut. Video terverifikasi setelah serangan itu mengonfirmasi kehancuran tersebut. Laporan PBB menyebutkan sekitar 150 orang tewas. Media Pemerintah Iran melaporkan sedikitnya 165 kematian.

Gambar yang diperoleh dari kantor berita ISNA Iran ini menunjukkan lokasi serangan terhadap sekolah anak perempuan di Minab, di provinsi Hormozgan selatan Iran, pada Sabtu (28/2/2026).
Gambar yang diperoleh dari kantor berita ISNA Iran ini menunjukkan Suasana di lokasi serangan Amerika dan Israel yang menghantam sekolah anak perempuan di Minab, di provinsi Hormozgan selatan Iran, pada Sabtu (28/2/2026).

Serangan teroris memang terjadi di sebuah sekolah di Peshawar, Pakistan, pada 2014. Namun, materi video pada saat itu terlihat sangat berbeda dari rekaman serangan yang terjadi di Iran saat ini. Grok, asisten AI di X, salah menghubungkan rekaman Minab dengan serangan tahun 2014 di Pakistan.

Kantor berita Associated Press (AP) dalam sebuah laporan yang dikeluarkan pada 4 Maret menyebutkan sedikitnya ada tujuh konten hoaks yang mereka identifikasi terkait perang Iran ini. Menurut Melissa Goldin, reporter dan editor verifikasi berita yang membongkar, menganalisis, dan melacak misinformasi/disinformasi di AP, ketika perang Iran berlangsung, dan berdampak di hampir setiap negara di Timur Tengah, gambar-gambar yang disalahartikan terkait perang tersebut terus menyebar luas secara daring. Mereka menampilkan visual lama sebagai rekaman terkini, secara keliru mengklaim bahwa kendaraan militer AS telah dihancurkan dan secara keliru mengklaim menunjukkan korban perang. Pola lain adalah tampilnya visual faktual, tetapi narasi yang menyertai palsu.

Foto jurnalistik dan propaganda

Apa yang kini terjadi dengan maraknya konten visual palsu tentang perang bukan sekadar upaya kreator konten untuk menaikkan keterbacaan atau keviralan konten yang dibuatnya. Di balik itu juga ada bagian dari propaganda para pihak yang berseteru.

Pendiri Yayasan Riset Visual Matawaktu, Oscar Motuloh, mengungkapkan, penggunaan seni visual sebagai bagian dari propaganda perang sudah terjadi sejak lama. Selain bentuk seni mural, poster, atau komik, foto jurnalistik juga telah menjadi bagian propaganda konflik.

Fotografer jurnalistik paham bahwa foto mereka akan menjadi catatan sejarah. Keberadaan mereka di medan konflik adalah untuk merekam peristiwa sejarah, sekaligus mengabarkan fakta terkini di medan perang. Dengan bersandar idealisme dan etika mereka berusaha menempatkan diri menjadi jurnalis yang independen dan berintegritas.

Namun, visual yang mereka hasilkan tanpa disadari juga menjadi bahan propaganda dari pihak yang bertikai. ”Para fotografer jurnalistik dalam sejarahnya paham bahwa foto mereka akan menjadi catatan sejarah. Maka, muncullah foto Iwojima, penembakan di Saigon, termasuk foto krontoversi gadis napalm. Apakah ini bukan foto propaganda?” ujar Oscar.

Marinir AS dari Resimen ke-28, Divisi ke-5, mengibarkan bendera AS di Gunung Suribachi, Iwo Jima, 23 Februari 1945. Berlokasi strategis hanya 660 mil dari Tokyo, pulau Pasifik menjadi salah satu tempat paling berdarah dalam pertempuran paling terkenal selama Perang Dunia II melawan Jepang. (AP Photo/Joe Rosenthal)

Foto prajurit AS mengibarkan bendera di Iwo Jima menjadi propaganda kemenangan AS atas Jepang di Perang Pasifik. Foto penembakan Saigon dan gadis napalm semasa perang Vietnam telah menjadi propaganda melawan kekejaman perang.

Saat ini, di tengah gempuran informasi dan mesin algoritma media sosial, keberadaan AI semakin memudahkan pembuatan konten visual untuk propaganda. ”Di era post truth journalism dan deepfake saat ini, keberadaan AI semakin membuat bias. Tapi orang-orang yang cerdas akan kembali melihat media mainstream. Media yang dianggap berimbang untuk sebuah cara pandang,” tutur Oscar.

Tet Offensive Anniversary Photo
Pasukan Vietnam Selatan berjalan di belakang anak-anak yang ketakutan, termasuk Kim Phuc yang berusia 9 tahun (tengah), saat mereka berlari di sepanjang Rute 1 dekat Trang Bang setelah serangan udara napalm di tempat-tempat yang diduga sebagai tempat persembunyian tentara Viet Cong, 8 Juni 1972. *** Local Caption *** FILE - South Vietnamese forces follow after terrified children, including 9-year-old Kim Phuc, center, as they run down Route 1 near Trang Bang after an aerial napalm attack on suspected Viet Cong hiding places, June 8, 1972. (AP Photo/Nick Ut, File)

Mengenali konten hoaks

Menurut Oscar, maraknya konten hoaks membawa kita pada dunia kebimbangan. Ketika muncul sebuah visual perang Iran terbaru, akan  muncul pertanyaan apakah ini benar dan palsu?

Ketika media sosial dibanjiri dengan video viral yang menggambarkan adegan mengejutkan, semakin sulit untuk melihat apa yang sebenarnya. Bagaimana kita bisa mengenali barang palsu?

Ada beberapa tips yang dirangkum dari berbagai sumber. Pertama perhatikan baik-baik video dengan menonton beberapa kali, baik dengan suara aktif maupun nonaktif. Apakah visual benda-benda menyatu satu sama lain? Apakah audionya masuk akal? Apakah ada gerakan yang menentang gravitasi atau logika, seperti antena di atap yang runtuh sebelum rudal menghantam?

Matahari terbenam di balik gumpalan asap setelah serangan militer AS-Israel di Teheran, Iran, Selasa (3/3/2026).

Periksa apakah video atau foto benar-benar menampilkan kejadian terkini. Ambil tangkapan layar dan jalankan melalui alat pencarian gambar terbalik seperti Google Lens. Ini akan menunjukkan apakah itu pernah digunakan sebelumnya, mungkin dalam konteks yang berbeda. Sering kali, video-video lama yang berisi serangan-serangan sebelumnya didaur ulang dan dikaitkan dengan konflik baru.

Andalkan sumber tepercaya: apakah rekaman dari berbagai sudut tersedia? Apakah organisasi berita tepercaya melaporkan peristiwa yang sama? Apakah ada visual lain yang terverifikasi, seperti foto dari lokasi kejadian?

Ada beberapa platform dan aplikasi yang bisa digunakan untuk mengidentifikasi bias. Salah satunya adalah Ground News. Ground News adalah platform perbandingan berita pertama di dunia yang bertujuan untuk memberikan kejelasan dalam lanskap media yang semakin kacau. Platform ini memungkinkan pengguna untuk membandingkan bagaimana berita diliput oleh berbagai sumber di seluruh spektrum politik. Ground News mengumpulkan liputan dari lebih dari 40.000 outlet berita, memberikan wawasan kepada pembaca tentang bias media dan membantu mereka mengakses pandangan komprehensif tentang peristiwa berita.

Tampilan hasil analisis bias konten berita tentang pengeboman sekolah dampak serangan AS-Israel ke Iran di platform Ground News. Platform ini memungkinkan pengguna untuk membandingkan bagaimana berita diliput oleh berbagai sumber di seluruh spektrum politik.

Platform inovatif ini membantu pengguna mengidentifikasi bias, beradaptasi dengan beragam sudut pandang, dan memahami bagaimana berbagai media menyajikan berita. Fitur ini sangat penting dalam lingkungan informasi saat ini, di mana sensasionalisme dan disinformasi dapat mendistorsi realitas.

Bagaimanapun juga visual dianggap sebagai wakil teraktual dari peristiwa yang terjadi. Media arus utama akan menjadi garda terdepan untuk menyajikan informasi yang  teraktual dan dipercaya.

Kerja jurnalistik digawangi oleh etika dan integritas. Berbeda dengan media sosial yang kontennya bisa diunggah oleh siapa pun tanpa melihat latar belakangnya. ”Bisnis atau industri media itu dunia kepercayaan, jadi trust itu menjadi garis bawah yang paling penting,” kata Oscar.


Kerabat Kerja

Penulis:

Iwan Setiyawan
 | 

Editor:

Heru Sri Kumoro
 | 

Penyelaras Bahasa:

Didik Durianto