Gejala Guardiola Sudah Menyentuh Titik Jenuh di Manchester City

Dua kekalahan menjadi alarm bagi Manchester City guna bersaing di papan atas Liga Inggris. Permainan dominan ”The Citizens” tak lagi dibarengi efektivitas serangan.

01 Sep 2025 00:46 WIB · Olahraga

Oleh Muhammad Ikhsan Mahar

BRIGHTON & HOVE, MINGGU — Keputusan Pep Guardiola untuk melanjutkan masa baktinya di Manchester City pada musim lalu nampaknya menjadi bumerang. Titik jenuh bersama Guardiola semakin menyeruak dalam permainan ”The Citizens”. Dua kekalahan beruntun di awal musim ini menjadi penanda.

Permasalahan utama City pada musim lalu adalah kegagalan mereka menjaga intensitas dan konsistensi permainan. Aktivitas transfer besar dengan empat pemain untum tim utama dengan akumulasi pengeluaran sekitar 176 juta euro (Rp 3 triliun) belum memberikan dampak signifikan.

Kekalahan dari Tottenham Hotspur, lalu dilanjutkan dengan tumbang 1-2 dari Brighton & Hove Albion di Stadion American Express, Minggu (31/8/2025), menunjukkan level permainan terbaik City belum kembali. Unggul lebih dulu melalui Erling Haaland di menit ke-34, The Citizens kemasukan dua gol pada paruh kedua.

James Milner menyamakan angka di papan skor melalui eksekusi penalti di menit ke-67. Kemenangan Brighton dihasilkan melalui kecerdikan pemain pengganti, Brajan Gruda, setelah mengelabui dua pemain City, yakni James Trafford dan Ruben Dias.

Quote

Ini hasil mengecewakan karena kami, Man City, datang ke sini untuk menang. Ini adalah realitas kami. Kami tidak dalam level yang seharusnya.

Britain Soccer Premier League

Hasil itu membuat City masih belum bisa masuk ke zona 10 besar alias duduk peringkat ke-12. Adapun Brighton justru mencatatkan hasil positif perdananya di Liga Inggris musim ini. ”Si Burung Camar”, sebutan Brighton, menghuni peringkat ke-10.

”Ini hasil mengecewakan karena kami, Man City, datang ke sini untuk menang. Ini adalah realitas kami. Kami tidak dalam level yang seharusnya,” ucap Rodri seusai laga kepada Sky Sports.

”Satu-satunya cara kami bangkit adalah membenahi diri sendiri. Kami melakukan dua kesalahan besar yang membuat skor menjadi 1-2,” lanjutnya.

Guardiola sepaham dengan pemain andalannya itu. Ia juga masih mempermasalahkan kendala timnya gagal tampil konsisten selama 90 menit.

”Kami menjalani satu jam yang baik, tetapi pada 30 menit terakhir kami tidak cukup baik. Itu menjadi kendala kami,” tutur Guardiola dilansir laman klub.

CORRECTION Britain Soccer Premier League

Serangan buntu

Selama menjalani laga di markas Brighton, City hanya tiga kali mampu melakukan tembakan mengarah ke gawang. Tembakan terakhir tepat sasaran The Citizens ialah gol yang dicetak Haaland pada menit ke-34.

Setelah turun minum, expected goals (xG) City pun tidak bertambah. Mereka menghasilkan 1,84 xG.

Kreasi peluang itu menunjukkan sia-sianya catatan 64 persen penguasaan bola dan 103 operan di seperti akhir pertahanan Brighton yang dihasilkan City. Empat pergantian yang dilakukan Guardiola di pertengahan babak kedua dengan memasukkan Jeremy Doku, Nico O’Reilly, Rico Lewis, dan Ruben Dias tidak mampu meningkatkan kualitas serangan The Citizens.

Sebaliknya, Brighton mampu tampil membaik setelah turun minum. Enam tembakan tepat sasaran dihasilkan Si Burung Camar. Mereka menjadi tim pertama yang mampu menghasilkan enam tembakan mengarah ke gawang di pertahanan City dalam satu babak sejak Manchester United, Oktober 2022.

Manajer Brighton Fabian Hurzeler menuturkan, kemenangan timnya membuktikan sepak bola menjangkau lebih dari persoalan kemenangan taktik. Demi meraih kemenangan, ucapnya, juga ada faktor lain yang harus ditampilkan seluruh pemain.

Reaksi Manajer Manchester City Pep Guardiola (kiri) saat Manajer Brighton and Hove Albion Fabian Hurzeler merayakan kemenangan tim asuhannya seusai pertandingan Liga Inggris antara Brighton and Hove Albion dan Manchester City di Stadion American Express, Brighton, Inggris, Minggu (31/8/2025).

”Terkadang permainan butuh energi di dalam lapangan. Kami menunjukkan itu hari ini, terutama di babak kedua,” kata Hurzeler, seperti dikutip BBC.

Berbeda dengan Guardiola yang gagal menyajikan pergantian efektif, Hurzeler membuktikan kecermatannya untuk membaca permainan. Empat pergantian sekaligus yang dilakukan pada menit ke-60 menjadi penentu kemenangan Brighton.

Milner, Gruda, Georginio Rutter, dan Yasin Ayari mampu menjawab kepercayaan yang diberikan untuk mengubah permainan dan nasib akhir tim.

”Kami tidak percaya pada diri sendiri sebelum pergantian. Saya memutuskan membuat empat pergantian. Selalu sebuah keputusan yang bisa membuat kami bisa mengeluarkan energi itu,” tutur Hurzeler, juru taktik berpaspor Jerman yang lahir di Amerika Serikat.

”Ketika kami masuk bermain, kami harus memberikan 100 persen. Kami menunjukkan kepada semua kualitas tim ini,” tambah Gruda. (AFP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Muhammad Ikhsan Mahar
 | 

Editor:

Wisnu Aji Dewabrata
 | 

Penyelaras Bahasa:

Galih Rudanto