Melihat Myanmar memperbaiki kerusakan akibat gempa bumi beberapa waktu lalu.
05 Sep 2025 13:13 WIB · Internasional
Gempa dahsyat berkekuatan 7,7 skala Richter yang menggucang Myanmar, Jumat (28/3/25) lalu menghancurkan bangunan-bangunan dan infrastruktur umum. Gempa juga menewaskan lebih dari 3.800 warga dan ribuan lain menderita luka-luka.
Situasi konflik pemerintah dan pemberontak, serta hancurnya infrastruktur, seperti jalan dan jembatan telah menambah kesulitan menyalurkan bantuan ke daerah-daerah yang paling terdampak. Rumah sakit, sekolah, tempat ibadah, dan bangunan masyarakat lainnya telah rusak atau hancur sehingga hanya menyisakan sedikit tempat bagi warga untuk berlindung atau mendapatkan bantuan dan perawatan saat itu.
Jurnalis Associated Press mendapat kesempatan dari pemerintah junta militer yang berkuasa di Myanmar untuk mengunjungi dan melaporkan kerusakan dan perkembangan pembangunan akibat gempa tersebut, baru-baru ini. Kunjungan ke dua kota terbesar, Naypytaw dan Mandalay, didampingi perwakilan resmi junta yang berkuasa.
Thae Mama Swe berdiri di atas tumpukan puing gempa di tengah hujan saat ia menyaksikan ekskavator menghancurkan beton dan tulangan besi. Buldoser yang lain menyapu puing-puing dan mengumpulkannya di sudut bangunan. Ritual ini telah dijalani penjahit berusia 47 tahun ini selama lima bulan. Tepatnya sejak gempa merobohkan sebuah kondominium dan gedung perkantoran 10 lantai.
Sebanyak 200 jenazah telah ditemukan dari lokasi kejadian, termasuk tujuh jenazah dalam seminggu terakhir, tetapi belum termasuk jenazah putranya. ”Jika saja bisa, aku akan menukar hidupku dengan nyawanya,” katanya. Kacamatanya basah karena hujan dan matanya bengkak karena air mata.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/09/05/c00fbd75-60d6-46bb-a9c6-eba18eb03cbd_jpg.jpg)
Di sepanjang jalan raya utama dari kota terbesar di negara itu, Yangon ke Mandalay, kuil-kuil yang roboh dan bagian-bagian trotoar yang melengkung menjadi pengingat abadi akan kekuatan destruktif gempa. Insinyur militer telah membangun jembatan sementara untuk memungkinkan lalu lintas melintasi sungai-sungai yang bentangnya telah hancur.
Jembatan-jembatan rusak yang masih berdiri sedang diperbaiki. Di seluruh wilayah Mandalay, hampir 29.000 rumah, 5.000 pagoda Buddha, dan 43 jembatan hancur seluruhnya atau sebagian.
Di kompleks parlemen di Naypyitaw, 500 orang bekerja siang dan malam, tujuh hari seminggu, di lima gedung terpenting yang rusak. Para pekerja memperbaiki langit-langit dan dinding yang runtuh serta memperkuat fondasi agar dapat digunakan tepat waktu untuk pemilihan umum yang dijadwalkan akhir Desember.
Di tempat lain di ibu kota, sebuah tim yang terdiri dari sekitar 40 pekerja, sebagian besar perempuan, bekerja memperbaiki jalan di banyak lokasi. Para pekerja membawa keranjang berisi batu-batu besar di kepala dan bahu mereka, lalu menumpuknya untuk membentuk fondasi, diikuti dengan tumpukan kerikil yang dilapisi aspal.
Seiring berjalannya rekonstruksi, para pejabat mengatakan Myanmar membutuhkan bantuan dari negara lain yang berpengalaman membangun bangunan tahan gempa. Di lokasi salah satu rumah sakit terbesar di ibu kota, yang tersisa hanyalah besi beton berkarat, pipa plastik, dan beton yang telah dihancurkan.
Tempat tidur dan perabotan rumah sakit ditumpuk di bawah naungan agar dapat digunakan kembali, tetapi insinyur yang bertanggung jawab atas proyek tersebut, Thin Thin Swe, mengatakan belum jelas apakah Rumah Sakit Ottara Thiri akan dibangun kembali.
Banyak orang masih belum menemukan anggota keluarganya yang hilang sejak gempa melanda. Thin Thin Swe kehilangan dua temannya, seorang akuntan rumah sakit dan apotekernya, ketika lobi utama rumah sakit itu ambruk. ”Saya masih berdoa untuk mereka setiap hari,” katanya. (AP)
Penulis:
Ignatius Danu KusworoEditor:
Yuniadhi AgungPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra