Indiana Pacers dan Oklahoma City Thunder akan bertemu untuk terakhir kali di gim tujuh final. Mereka akan mempertaruhkan segalanya demi menjadi juara baru NBA.
21 Jun 2025 19:32 WIB · Olahraga
Banyak pihak yang skeptis sebelum seri final NBA 2025 antara Indiana Pacers dan Oklahoma City Thunder. Duel itu diperkirakan jadi partai puncak terburuk dengan berbagai alasan. Mulai dari minim megabintang, klub tidak punya tradisi juara, hingga terlalu banyak pemain muda.
Setelah enam gim berlalu, 1.317 poin tercipta, dan kedua tim saling membalikkan situasi, seri masih imbang 3-3. Pacers dan Thunder akan menjalani duel penentu di gim tujuh. Tim pemenang akan dikenang dalam sejarah, sementara tim yang kalah akan menyesal selamanya.
Gim tujuh final selalu mampu menyajikan drama terbaik. Seluruh pemain akan memberikan segalanya karena tidak ada hari esok. Pilihannya hanya jadi pemenang atau pecundang. Terakhir kali laga final berlangsung hingga tujuh gim adalah sembilan tahun lalu, pada musim 2015-2016.
Ketika itu, LeBron James bersama Cleveland Cavaliers menumbangkan generasi emas Golden State Warriors yang diperkuat Stephen Curry. Duel penentu itu memberikan banyak momen hebat, seperti blok eksplosif James dan tembakan tiga angka Kyrie Irving di menit-menit akhir.
Sepanjang sejarah NBA, hanya 19 kali partai final berlangsung sampai gim tujuh. Momen itu sangat jarang karena kedua tim harus betul-betul seimbang untuk mewujudkannya. Thunder dan Pacers menciptakan momen tersebut sekali lagi di Stadion Paycom Center, Oklahoma City, Senin (23/6/2025) pukul 07.00 WIB.
Momentum sedikit berpihak ke Pacers. Tyrese Haliburton dan rekan-rekan baru saja menaklukkan Thunder di gim enam, Jumat lalu. ”Kami punya satu laga. Semua tentang satu laga terakhir. Tidak penting yang terjadi sebelum atau setelah itu,” ujar Haliburton yang bangkit dari cedera di gim tersebut.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/20/f06ae40f1ecfa796a1e2fc5fbe4cefc6-NBA_Finals_Thunder_Pacers_Basketball_4_.jpg)
Tiga tim terakhir yang juara lewat gim tujuh, selalu memenangi gim enam. Los Angeles Lakers (2010), Miami Heat (2013), dan Cavaliers (2016), sukses membawa keuntungan psikologis dari gim enam ke gim penentu. Pemenang gim sebelumnya pasti memiliki modal kepercayaan diri lebih tinggi.
Thunder juga punya modal besar yang tidak dimiliki Pacers, yaitu status tuan rumah. Shai Gilgeous-Alexander dan rekan-rekan akan didukung belasan ribu penonton yang siap menyambut trofi NBA pertama. Rekor kemenangan kandang Thunder di playoff musim ini mencapai 83,3 persen.
Sepanjang sejarah gim tujuh final, tim kandang lebih dominan dengan rekor 15 menang- 4 kalah. Dukungan penonton terasa seperti pemain tambahan bagi tim tuan rumah ketika situasi sulit. Adapun adrenalin laga tidak hanya bisa memacu pemain, tetapi juga membuat para pendukung lebih berisik.
Salah satu buktinya adalah final 2010. Saat itu, pemain legendaris Kobe Bryant memimpin Lakers menang atas Boston Celtics di kandang sendiri. Dia tampil heroik dengan kondisi jari telunjuk kanan yang diperban karena patah tulang. Rasa sakit itu surut di tengah gelombang sorakan pendukung.
Shai mengatakan, tidak ada yang lebih spesial dibandingkan bisa juara di kandang. ”Kami harus memberikan segalanya. Semua yang sudah kami persiapkan. Satu laga lagi untuk semua yang dimimpikan. Jika menang, Anda mendapatkan segalanya. Jika kalah, Anda pulang tanpa apa pun,” ucapnya.
Duel pamungkas nanti akan bertajuk kolektivitas versus talenta. Thunder, dengan skuad termuda dan rekor kemenangan terbaik di musim reguler, tidak diragukan lagi sebagai tim paling bertalenta. Mereka memiliki bakat individu terbaik di NBA saat ini, seperti sang Most Valuable Player (MVP) Shai dan forward Jalen Williams.
Lihat saja statistik selama final. Duo Thunder yang dijuluki Michael Jordan dan Scottie Pippen versi terbaru itu sangat dominan dalam mencetak skor. Shai mencatat rerata 30,5 poin, sementara Williams dengan 24,2 poin. Tidak ada satu pun pemain Pacers yang menciptakan rerata lebih dari 20 poin.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/09/5fe0816e80686f95ed0a4c9ef7c4f57b-NBA_Finals_Pacers_Thunder_Basketball_1_.jpeg)
Sebaliknya, Pacers sangat mengandalkan kolektivitas. Sebanyak delapan pemain mereka mencetak rerata dua digit poin, antara lain Pascal Siakam (19,8 poin), Haliburton (14,8 poin), dan TJ McConnell (11,3 poin). Hanya empat pemain Thunder yang bisa menghasilkan dua digit poin.
Bukan berarti Thunder tidak baik secara kolektivitas tim ataupun Pacers tidak punya individu berbakat. Hanya saja, kedua pelatih Mark Daigneault (Thunder) dan Rick Carlisle (Pacers) punya pendekatan sendiri untuk mengeluarkan potensi terbaik. Dua pendekatan itu saling mengalahkan di seri final.
”Keabu-abuan” laga nanti menjadi hal paling menarik. Tidak ada satu pun dari kubu Pacers dan Thunder yang pernah merasakan gim tujuh final. Thunder pernah melewati gim tujuh di babak sebelumnya, saat mengalahkan Denver Nuggets di final wilayah. Namun, atmosfer nanti akan berkali-kali lipat lebih intens.
Motivasi dan ambisi besar para pemain pun akan bertemu dengan keraguan dan kehati-hatian. Itu yang membuat gim tujuh final selalu sengit, lebih sering berakhir dengan jarak satu digit dan tidak lebih dari 100 poin. Duel akan ditentukan oleh kebesaran hati dan ketahanan mental.
Carlisle mengatakan, Thunder merupakan tim terbaik di planet saat ini. Namun, itu bukan hal terpenting untuk dipikirkan anak asuhnya. Dia ingin skuad Pacers menikmati momen langka tersebut. ”Kesempatan bermain di laga seperti itu adalah kehormatan dan peluang hebat,” ujarnya.
Tidak dimungkiri lagi, gim tujuh final adalah tiga kata terbaik yang ada di NBA. Kata-kata itu akan berubah menjadi momen yang lebih indah pada Senin nanti, sebab siapa pun pemenangnya akan keluar sebagai juara baru NBA. Sejarah baru pasti terukir di akhir musim ini.
(AP)
Penulis:
Kelvin HianusaEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
Rosdiana Sitompul