Sebuah kapal induk tidak bergerak sendiri, tetapi diiringi sebuah gugus tempur yang terdiri dari beberapa kapal dan kapal selam. Siapkah Indonesia?
14 Sep 2025 14:21 WIB · Politik & Hukum
Tidak lagi desas-desus, rencana Pemerintah RI untuk membeli kapal induk tampak semakin serius. Bukan membangun kapal baru, Indonesia memilih untuk membeli kapal induk bekas negara lain. Pilihan jatuh pada Giuseppe Garibaldi, sebuah kapal induk milik Angkatan Laut Italia.
Rencana pembelian kapal induk Giuseppe Garibaldi disampaikan Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Muhammad Ali, pada Senin (8/9/2025). ”Kita berusaha untuk mengakuisisi kapal induk yang dulu dimiliki Angkatan Laut Italia, yaitu (Giuseppe) Garibaldi. Dan, nanti harapannya bisa memperkuat jajaran kita,” katanya.
Keberadaan kapal induk, menurut Ali, dibutuhkan untuk mendukung operasi militer selain perang (OMSP). Namun, ia tidak menampik bahwa kapal induk itu juga tetap dapat digunakan untuk operasi militer untuk perang (OMP).
”Lebih kita gunakan untuk OMSP, tapi bisa juga digunakan untuk operasi militer untuk perang,” ujarnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2022/12/28/9053ce69-b19e-40d5-b6a6-10a8bfb79d14_jpg.jpg)
Niat Indonesia untuk membeli kapal induk juga dibenarkan Direktur Penjualan Bisnis Angkatan Laut Fincantieri, Mauro Manzini. Ficantieri merupakan produsen kapal terbesar di Eropa dan berkantor pusat di Trieste, Italia.
Sebagaimana dikutip dari navalnews.com, Manzini mengatakan, pembahasan terkait pembelian Giuseppe Garibaldi oleh Pemerintah Indonesia tengah dibahas, tetapi belum ada keputusan resmi yang dibuat.
Lebih jauh ia mengatakan, kapal induk Giuseppe Garibaldi dirancang untuk mampu mengoperasikan pesawat tanpa awak, helikopter, pesawat sayap tetap, dan aset amfibi. Kapal induk tersebut juga pernah menjalankan misi kemanusiaan, yakni mengirimkan bantuan medis pasca-gempa di Haiti pada 2010.
”Giuseppe Garibaldi dalam kondisi baik dan punya sisa masa operasional sekitar 15-20 tahun. Kapal ini bisa pindah kepemilikan setelah proses perbaikan yang disesuaikan dengan kebutuhan Angkatan Laut Indonesia,” kata Manzini.
Kapal tersebut dirancang perusahaan Fincantieri dan diresmikan pada 1985. Setelah kurang lebih berdinas selama empat dekade, sejak 1 Oktober 2024, kapal induk itu ditempatkan sebagai cadangan setelah Angkatan Laut Italia mendapatkan penggantinya yang lebih baru.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2023/01/11/79ea0c7a-a786-4386-a7ac-77689efcf08b.jpg)
Mengutip armyrecognition.com, akuisisi kapal induk Giuseppe Garibaldi merupakan bagian dari perluasan kerja sama antara Indonesia dan Turki. Diberitakan, Indonesia memesan drone tempur Medium Altitude Long Endurance (MALE) Bayraktar TB3. Bayraktar TB3 dirancang untuk lepas landas dan mendarat dari kapal dengan keterbatasan landasan pacu.
Di Turki, Bayraktar TB3 akan ditempatkan di kapal induk drone Turki yang baru, yakni TCG Anadolu. Perusahaan Fincantieri pun dikabarkan telah mengajukan penawaran untuk mengonversi kapal induk Giuseppe Garibaldi menjadi kapal induk untuk drone sehingga dapat digunakan sebagai markas drone Bayraktar TB3.
Giuseppe Garibaldi adalah kapal induk ringan (light aircraft carrier) yang mulai dibangun pada 1980-an. Di Angkatan Laut Italia, Giuseppe Garibaldi merupakan kapal induk pertama Italia sejak Perang Dunia II.
Kapal dengan panjang 180 meter, lebar 33 meter, dan bobot sekitar 13.000 ton itu mampu mencapai kecepatan maksimum 30 knot atau 56 km per jam. Ditenagai oleh 4 mesin turbin gas, Giuseppe Garibaldi memiliki jangkauan 7.000 mil laut pada kecepatan 20 knot.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/09/10/8781587b3c36ecb9af248b912c2d5cef-20250910BAH6.jpg)
Giuseppe Garibaldi mampu membawa 18 pesawat tempur dengan kemampuan lepas landas dan mendarat secara vertikal dan helikopter tempur. Untuk kemampuan tempur, kapal induk tersebut mampu membawa peluncur rudal permukaan ke udara, meriam otomatis, serta sistem senjata jarak dekat (close-in weapon system). Selain itu, Giuseppe Garibaldi juga disebut mampu membawa 550 awak kapal ditambah dengan sekitar 350 personel udara.
Sebagai kapal induk ringan, ukuran Giuseppe Garibaldi hanya sekitar separuh dari kapal induk kelas Nimitz yang dioperasikan Angkatan Laut Amerika Serikat. Kapal induk kelas Nimitz, seperti USS George Washington, memiliki panjang 333 meter dan bobot 100.000 ton. Kapal induk yang digerakkan dengan tenaga nuklir itu mampu mengangkut 90 pesawat tempur dan helikopter, serta diawaki 6.000 personel.
Kapal induk Giuseppe Garibaldi mungkin lebih mirip dengan kapal induk Royal Thai Navy, yakni HTMS Chakri Naruebet. HTMS Chakri Naruebet memiliki panjang 182,6 meter, lebar 22,5 meter, berat 11.485 ton, dan mampu menampung 62 perwira, 393 pelaut, 146 awak pesawat, beserta 675 pesonel marinir.
Ditanya perihal rencana pembelian kapal induk Giuseppe Garibaldi, akademisi dari Universitas Paramadina, Anton Aliabbas, berpandangan, rencana pembelian kapal induk tersebut memperlihatkan adanya upaya penguatan untuk TNI AL. Meski disebut kapal itu nantinya digunakan untuk OMSP, pada dasarnya fungsi kapal induk adalah untuk memberikan efek gentar secara militer.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2022/10/30/c0172688-0420-4308-b151-8a98147351e5.jpg)
Namun, sambung Anton, kapal induk bukanlah alutsista yang sederhana. Sebab, kapal induk menyangkut senjata, kemudian alutsista strategis yang bakal dibawa, serta sumber daya manusia yang mengawaki.
Seiring dengan itu, mengoperasikan kapal induk berarti juga menyiapkan anggaran yang besar, baik untuk operasional maupun perawatan kapal. Terlebih, jika melihat kapal induk AS beroperasi, bisa dipastikan kapal induk tersebut tidak berlayar sendiri, melainkan dalam satu gugus tempur dengan didampingi kapal-kapal lain.
”Penguatan matra laut membutuhkan biaya besar. Jangan sampai membeli kapal induk, tapi nanti hanya kosongan,” kata Anton.
Penjelasan mengapa Indonesia mengakuisisi kapal induk itu penting. Bagaimana rencana ke depan dan apa ancamannya, yang kemudian diturunkan dalam kebijakan teknis di bidang pertahanan.
Terkait dengan itu, menurut dia, yang mesti dipikirkan betul-betul adalah tujuan diadakannya kapal induk. Sebab, kapal induk mestinya akan beroperasi bersama dengan matra udara yang lebih banyak dilakukan oleh TNI AU. Dalam hal ini, koordinasi kedua matra mutlak harus dilakukan.
Oleh karena itu, menurut Anton, yang diperlukan saat ini adalah penjelasan yang lebih komprehensif dari pemerintah terkait tujuan pembelian kapal induk tersebut. Hal itu penting karena terkait dengan rancangan postur pertahanan Indonesia ke depan.
Tidak hanya itu, penjelasan tersebut juga diperlukan oleh negara-negara tetangga di kawasan yang bisa melihat tindakan Indonesia sebagai sebuah ancaman. ”Penjelasan mengapa Indonesia mengakuisisi kapal induk itu penting. Bagaimana rencana ke depan dan apa ancamannya, yang kemudian diturunkan dalam kebijakan teknis di bidang pertahanan,” tutur Anton.
Senada, peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional, Muhamad Haripin, berpandangan, dalam proses pengadaan kapal induk tersebut, yang perlu diperhatikan, pertama-tama, adalah persoalan interoperabilitas antara kapal tersebut dan perangkat atau sistem persenjataan yang lain. Karena kapal itu merupakan kapal bekas, pemerintah perlu menimbang biaya operasionalnya.
”Mulai soal kebutuhan maintenance, spare part, dan kebutuhan operasional lainnya. Apakah itu semua mesti tetap impor dari produsen (Italia) atau bisa diproduksi industri pertahanan dalam negeri,” tutur Haripin.
Hal penting lain yang perlu dipersiapkan adalah sumber daya manusia. Dalam hal ini, personel TNI AL perlu dilatih dan dibiasakan untuk menangani kapal jenis kapal induk. Hal ini memerlukan pelatihan yang tepat bagi personel, terutama dikaitkan dengan operasi militer di kawasan Indonesia.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/09/10/27aedbd10c6fc9730e22fb7b8f57d546-20250910BAH8.jpg)
Hingga saat ini, rencana pembelian kapal induk Giuseppe Garibaldi masih dalam tahap negosiasi. Belum ada keputusan resmi yang telah dibuat.
Namun, jika benar terjadi, kapal induk tersebut kemungkinan akan diberi nama kerajaan di Nusantara dengan nomor lambung berawalan 1, yakni awalan untuk nomor lambung kapal induk. Kita tunggu.
Penulis:
Norbertus Arya Dwiangga MartiarEditor:
C. Wahyu Haryo PPenyelaras Bahasa:
Galih Rudanto