Gizi Anak Sekolah Belum Seimbang (10)

Konsumsi makanan rata-rata anak sekolah dasar hingga sekolah menengah atas belum seimbang. Program Makan Bergizi Gratis diharapkan menjadi solusi persoalan ini.

08 Jan 2025 06:21 WIB · Investigasi

Oleh R Albertus Krisna Pratama P., Maria Paschalia Judith Justiari, Margaretha Puteri Rosalina

JAKARTA, KOMPAS — Program Makan Bergizi Gratis atau MBG yang telah dimulai pada Senin (6/1/2025) diharapkan dapat menjadi solusi masalah gizi yang dialami warga Indonesia. Masalah gizi ini tidak hanya terkait dengan kecukupan kalori yang dikonsumsi, tetapi juga dalam hal gizi seimbang.

Tim Jurnalisme Data Harian Kompas mengolah konsumsi kalori rata-rata anak sekolah menurut angka kecukupan gizi (AKG), merujuk pada aturan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) tahun 2019 mengenai AKG yang dianjurkan untuk masyarakat.

Olahan data mikro Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) BPS tahun 2022 menunjukkan, angka rata-rata kecukupan energi anak sekolah dasar (SD) di Indonesia sudah melebihi AKG, sementara anak sekolah menengah pertama (SMP) dan sekolah menengah atas (SMA) justru lebih rendah dari AKG.

Rata-rata kalori per hari anak SD kelas 1-3 sebesar 1.993 kilokalori (kkal) per hari, melebihi anjuran AKG 1.650 kkal. Rata-rata anak SD kelas 4-6 sebesar 2.015 kkal per hari, juga di atas ketentuan AKG 1.950 kkal per hari.

Sementara rata-rata AKG anak SMP sebesar 2.042 kkal per hari dan defisit dari anjuran AKG, yakni 2.225 kkal per hari. Begitu juga rata-rata anak SMA sebesar 2.051 kkal per hari yang kurang dari ketentuan AKG sebesar 2.310 kkal per hari.

Meski melebihi anjuran AKG, konsumsi makanan rata-rata anak SD belum seimbang. Data mikro Susenas 2021 menunjukkan anak kelas 1-3 SD lebih banyak mengonsumsi karbohidrat. Ketentuan karbohidrat di AKG tahun 2019 untuk anak kelas 1-3 SD sebesar 250 gram per hari, sementara rata-rata konsumsinya 296,1 gram per hari.

Infografik Asupan Gizi Siswa SD, SMP, SMA di Indonesia

Selain karbohidrat, rata-rata konsumsi protein juga melebihi anjuran. Dari ketentuan AKG 2019 sebesar 40 gram, rata-rata konsumsi harian anak SD kelas 1-3 sebesar 59 gram.

Sementara itu, konsumsi lemak justru kurang. Ketentuan AKG sebesar 55 gram, tetapi konsumsi rata-ratanya hanya 53,2 gram per hari. Hal serupa juga terjadi pada rata-rata konsumsi anak kelas 4-6 SD meski dengan besaran yang berbeda.

Sebagai gambaran, mengutip aturan AKG Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 28 Tahun 2019 tentang Angka Kecukupan Gizi yang Dianjurkan untuk Masyarakat Indonesia, makanan yang banyak mengandung karbohidrat di antaranya nasi, roti, umbi, kentang, dan jagung. Kandungan protein ada di makanan seperti tempe, tahu, telur, dan susu. Sementara makanan banyak lemak, seperti kacang-kacangan, daging merah, daging olahan, dan minyak.

Memilih makanan

Meski manis dan segar, tidak semua anak suka makan buah. Seperti Fathir (12), siswa kelas 6 SDN 07 Cideng, Jakarta Pusat, yang mengaku tidak suka makan buah. Setiap kali mendapat kesempatan makan apa pun jenis buahnya, Fathir sama sekali tidak tertarik menyantapnya.

Fathir (12) siswa kelas 6 SDN 07 Cideng Jakarta Pusat ketika ditemui Kompas pada Jumat, 13 Desember 2024. Fathir merasa senang dengan adanya program makan bergizi gratis, karena dapat menghemat sebagian uang jajannya.

Bocah yang bercita-cita menjadi pemain sepak bola ini melahap menu uji coba MBG Agustus 2024 lalu berupa nasi, dua jenis lauk, dan sayur, kecuali buah. ”Tidak suka buah. Kemarin makan gratis ada pisangnya tidak aku makan,” ujar Fathir, Jumat (13/12/2024).

Tak semua anak di bangku SD gemar beragam makanan. Seperti Raffi (9), siswa SDN 07 Cideng, Jakarta Pusat, yang tinggal bersama kakek, nenek, dan tantenya. Nyimas (22), tantenya Raffi, menceritakan, keponakannya susah sekali makan. ”Dia tidak mau sarapan, dibawakan bekal juga tidak mau,” ujarnya di Kedoya, Jakarta.

Kalaupun membawa bekal, lanjutnya, hanya karena ada hari yang diwajibkan. Setiap Kamis, sekolahnya Raffi meminta semua murid membawa bekal. Karena tidak suka sayur, Raffi hanya membawa nasi dan telur. Neneknya Raffi pernah memasak sup dan menawarkan kepada cucunya. Sayang, Raffi menolaknya.

Kodim 0104/ Aceh Timur mulai menyalurkan 700 paket makan bergizi gratis mulai dilaukan di Desa Telaga Tujuh, Kecamatan Langsa Barat, Kota Langsa dan Desa Simpang Jernih, Kecamatan Simpang Jernih, Kabupaten Aceh Timur pada Selasa (7/1/2025).

Program MBG juga membuat orangtua senang karena anaknya mendapat makanan bergizi setiap hari. Seperti Sari (49), orangtua murid di SDN 07 Cideng, Jakarta Pusat. ”Kalau tidak ada bekal, uang jajan Rp 10.000 habis sehari. Jajannya sembarangan dan takut berbahaya. Kalau ada bekal kan enak, ada nasi dan lainnya,” jelas Sari, Kamis (12/12/2024).

Sebelumnya, setiap hari Kamis, Sari dan orangtua lain selalu membawa bekal untuk anak-anaknya. Program membawa bekal dari rumah itu diinisiasi oleh Masna Saragih, Kepala SDN 07 Cideng sejak tahun 2023. Sari biasa menyiapkan menu gizi berimbang sesuai anjuran dari guru wali kelas anaknya.

Makan bergizi seimbang

Makanan bergizi seimbang, menurut Riani Witaningrum, dosen Departemen Gizi Kesehatan Fakultas Kedokteran, Keperawatan, dan Kesehatan Masyarakat Universitas Gadjah Mada, harus mengandung komponen gizi, yakni karbohidrat, protein hewani dan nabati, sayur, buah, dan sumber minyak.

”Tak hanya bergizi saja, tapi juga harus seimbang. Tiga kali makan utama dan dua kali ada makan selingan di antara makan utama,” terang Witaningrum.

Menu makanan untuk program Makan Bergizi Gratis yang disiapkan di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Palmerah, Jakarta Barat, Senin (6/1/2025). Program makan bergizi gratis yang dimulai hari ini akan diberikan kepada ibu hamil, anak balita, dan siswa SD hingga SMA. Pemerintah menargetkan dapat menyelesaikan 40 persen dari target 82 juta penerima manfaat pada tahun pertama pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis. KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA (YGA) 06-01-2025

Semua komponen gizi itu, lanjut Witaningrum, harus dikonsumsi karena dalam satu bahan makanan tidak mengandung komponen gizi yang lengkap sehingga harus dicukupi dari makanan yang lain.

Contohnya, makan nasi dan lauk saja tidak cukup karena membutuhkan vitamin dan mineral dari sayuran. Makan daging saja juga tidak cukup sebagai sumber protein hewani karena ada zat lain, seperti prebiotik yang terkandung dalam protein nabati seperti tempe.

Direktur Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak di Kementerian Kesehatan Lovely Daisy menilai, edukasi gizi seimbang masih perlu ditingkatkan. ”Gizi seimbang sudah ada aturannya. Berapa banyak makanan pokoknya, proteinnya, buahnya, sayurnya,” kata Daisy.

Siswa sebuah sekolah dasar di Tangerang Selatan, Banten mengikuti mata pelajaran pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan di lapangan sekolah, Kamis (24/1/2019). Olahraga merupakan salah satu kegiatan luar ruang di sekolah yang bisa mengontrol obesitas pada anak.

Menurut Daisy, kebutuhan kalori harusnya tercakup dari karbohidrat, lemak, dan protein yang tepat. Ia menganjurkan kebutuhan kalori baiknya tidak didapat semua dari karbohidrat sebab kelebihan karbohidrat dapat memicu obesitas dan diabetes.

Melalui program MBG, ia berharap ada porsi makan sehari yang digantikan dengan makanan bergizi seimbang. Jika pemenuhan gizi sudah cukup berimbang, itu dapat mengurangi masalah gizi di tengah masyarakat.

=======================

Untuk mengikuti liputan tema ini selengkapnya, kami mengajak Anda bergabung dalam grup Whatsapp Pembaca Kompas ”Investigasi & Jurnalisme Data” dengan mengeklik tautan link ini. Kami juga ingin mendengarkan pandangan Anda tentang artikel ini melalui survei lewat berikut ini.


Kerabat Kerja

Penulis:

R Albertus Krisna Pratama P., Maria Paschalia Judith Justiari, Margaretha Puteri Rosalina
 | 

Editor:

Andy Riza Hidayat, Margaretha Puteri Rosalina
 | 

Penyelaras Bahasa:

Kusnadi .