Gol "Olimpico", Ketika Teknik Kelas Wahid Dibalut Keberuntungan

Stadion San Siro, arena terbanyak bagi gol "olimpico", sedangkan Man United adalah korban terburuk gol spesial itu. Apakah gol spektakuler itu hanya keberuntungan?

29 Des 2024 18:53 WIB · Olahraga

Oleh Muhammad Ikhsan Mahar

Desember 2024 menyajikan fenomena unik yang mustahil terulang di dunia sepak bola. Dari ratusan, bahkan ribuan, pertandingan dihelat pada bulan pamungkas tahun ini, tercipta lima gol ”olimpico” yang merupakan gol langsung dari eksekusi sepak pojok. Tak ayal, tahun 2024 menjadi periode terbanyak gol istimewa itu tercipta sejak sepak bola masif dimainkan pada akhir abad ke-19.

Berlatar pemandangan indah nan menawan indera penglihatan di Stadion Gelora Kie Raha, Ternate, Maluku Utara, Sabtu (28/12/2024), gelandang asing Persija Jakarta, Maciej Gajos, menciptakan gol ”olimpico” terakhir di tahun 2024. Gol yang tercipta pada menit ke-24 itu sekejap mengalihkan penonton laga Persija kontra tuan rumah Malut United dari fokus hamparan alam di sekitar stadion terbaru yang menggelar laga BRI Liga 1 2024-2025.

Quote

Tetapi, melalui sedikit keberuntungan bola langsung masuk ke gawang.

Gajos dan rekan setimnya di ”Macan Kemayoran” terkejut sekaligus bahagia menyambut gol penentu kemenangan Persija 1-0 itu. Pemain berpaspor Polandia itu pun tak menyangka bisa mencetak gol ”olimpico” pertama dalam era Liga 1 Indonesia.

”Saya tidak berniat langsung (mencetak gol). Saya hanya melepaskan bola untuk mengeksekusi sepak pojok untuk membantu tim mencetak gol. Tetapi, melalui sedikit keberuntungan bola langsung masuk ke gawang,” ujar Gajos dalam konferensi pers seusai laga pekan ke-18 Liga 1 musim ini.

Gajos mencetak gol ”olimpico” kelima pada Desember ini atau keenam selama 2024, setidaknya yang tercatat dalam laga resmi. Gol Gajos hanya berselang dua hari dari gol serupa yang diciptakan penyerang Wolverhampton Wanderers, Matheus Cunha, pada laga boxing day Liga Inggris, Kamis (26/12/2024), di Stadion Molineux.

Gelandang Persija Jakarta, Maciej Gajos, merayakan gol "olimpico" ke gawang Malut United pada BRI Liga 1 2024-2025, Sabtu (28/12/2024), di Stadion Gelora Kie Raha, Ternate, Maluku Utara. Persija unggul 1-0.

MU pun mengukuhkan diri sebagai tim yang paling apes karena menjadi tim paling sering kemasukan melalui gol ”olimpico” dalam satu tahun kalender. Sebelumnya, Son Heung-min, penyerang dan kapten Tottenham Hotspur, mencetak gol spektakuler itu demi memastikan Spurs mengungguli ”Setan Merah” pada babak perempat final Piala Liga Inggris, Kamis (19/12/2024).

Di hari yang sama dengan Son, gelandang Inter Milan, Kristjan Asllani, mencetak gol ”olimpico” pada pengujung babak pertama di gim 16 besar Coppa Italia kontra Udinese. Asllani mengunci kemenangan Inter 2-0.

Sebelumnya, pada 8 Desember lalu, pemain Venezia, Gaetano Oristanio, membantu timnya terhindar dari kekalahan melawan Como melalui gol ”olimpico” di menit ke-69. Laga itu pun berakhir remis 2-2.

Adapun pemain pertama yang mencetak gol ”olimpico” melalui sepak pojok perdana di musim 2024-2025 adalah penyerang sayap AC Milan, Christian Pulisic. Kapten tim nasional Amerika Serikat itu mencetak gol pembuka untuk kemenangan timnya atas Club Brugge 3-1 di gim kedua Liga Champions.

Jika MU menjadi tim yang paling sering dibobol secara gol ”olimpico”, Stadion San Siro adalah arena yang paling banyak menyajikan gol unik yang dibalut keberuntungan tingkat tinggi. Dua penghuni San Siro, Milan dan Inter, sudah sama-sama mencetak gol itu di musim 2024-2025.

Gol indah dari sepak pojok pemain Wolverhampton Wanderers, Matheus Cunha, pada laga boxing day Liga Inggris antara Wolverhampton Wanderers dan Manchester United, Kamis (26/12/2024), di Stadion Molineux, Wolverhampton.
Gol indah dari sepak pojok pemain Wolverhampton Wanderers, Matheus Cunha, pada laga "boxing day" Liga Inggris antara Wolverhampton Wanderers dan Manchester United, Kamis (26/12/2024), di Stadion Molineux, Wolverhampton
Gol indah dari sepak pojok pemain Wolverhampton Wanderers, Matheus Cunha, pada laga "boxing day" Liga Inggris antara Wolverhampton Wanderers dan Manchester United, Kamis (26/12/2024), di Stadion Molineux, Wolverhampton.
Kiper Manchester United Andre Onana kecewa setelah gawangnya kebobolan dari sepak pojok pemain Wolverhampton Wanderers, Matheus Cunha, pada laga "boxing day" Liga Inggris antara Wolverhampton Wanderers dan Manchester United, Kamis (26/12/2024), di Stadion Molineux, Wolverhampton.

Hanya 1 persen

Jika merujuk laman statistik seperti Opta dan Fotmob, probabilitas lima gol ”olimpico” yang tercipta di kompetisi Eropa tersebut hanya mencapai 1 persen alias 0,01 expected goal (xG). Angka itu tentu menjadi angka kemungkinan gol terendah sejak xG mulai jamak digunakan untuk menilai persentase sebuah peluang di laga sepak bola.

Tak heran, legenda timnas Perancis, Thierry Henry, juga pernah merasakan keterkejutan ketika mencetak gol ”olimpico” saat membela New York Red Bulls pada gim Liga Amerika Serikat (MLS) edisi 2012 menghadapi Columbus Crew.

”Bukan sebuah gol yang buruk, kan?” ujar Henry merespons gol itu seperti dilansir NESN.

Adapun istilah gol ”olimpico” diperkenalkan untuk menyambut gol pemain sayap Argentina, Cesareo Onzari, pada laga uji coba internasional menghadapi Uruguay, 2 Oktober 1924, di Stadion Barracas, Argentina. Onzari mencetak gol spektakuler dari sepak pojok pada menit ke-12.

Sebutan ”olimpico” pun digunakan karena Onzari mampu memperdaya pemain-pemain Uruguay yang berstatus penguasa sepak bola dunia berkat raihan emas Olimpiade. Laga itu hanya berjarak kurang dari empat bulan dari keberhasilan Uruguay meraih emas Olimpiade di Paris 1924.

Tottenham's Son Heung-min reacts after the English League Cup quarter-final soccer match between Tottenham and Manchester United, at the Tottenham Hotspur Stadium in London, Thursday, Dec. 19, 2024. (AP Photo/Dave Shopland )

Tiga faktor

Meskipun gol ”olimpico” diakui oleh para pencetaknya tak lepas dari hoki alias keberuntungan, tetap ada tiga faktor yang menyebabkan semesta mendukung hadirnya gol itu.

Faktor pertama didasari kemampuan para pemain yang menjadi eksekutor sepak pojok. Henry, lalu David Beckham adalah pemain yang pernah mencetak gol ”olimpico” di MLS. Keduanya adalah pemain yang dikenal piawai mengeksekusi bola mati dengan teknik kelas wahid.

Lima pencetak gol ”olimpico” selama Desember ini juga bukan pemain biasa-biasa saja. Gajos, misalnya, adalah pemain asing dan gelandang terbaik yang dimiliki Persija dalam dua musim terakhir.

Hal itu juga berlaku bagi Cunha, Son, Asllani, dan Oristanio. Tanpa kemampuan bola mati yang mumpuni dan di atas rata-rata, mereka tentu tidak akan mendapat amanah untuk menjadi eksekutor utama sepak pojok bagi tim masing-masing. Tak heran, mereka bisa mencetak gol meski hanya memiliki kemungkinan gol sebesar 1 persen. Ya, 1 persen.

Faktor kedua adalah kelengahan tim bertahan. MU yang menjadi tim paling sering dibobol melalui gol ”olimpico” adalah tim terburuk menghadapi situasi bola mati. Sebanyak delapan dari 30 gol yang bersarang di gawang Setan Merah pada Liga Inggris dan Piala Liga Inggris musim ini tercipta lewat bola mati, baik sepak pojok maupun tendangan bebas.

Penyerang AC Milan, Christian Pulisic, menggiring bola saat pertandingan Liga Champions antara Slovan Bratislava dan AC Milan di Bratislava, Slowakia, 26 November 2024.

Itu artinya 27 persen gol yang bersarang ke gawang MU berawal dari bola mati. Jika merujuk gol ”olimpico”, maka sebesar dua gol spektakuler itu tercipta dalam 86 situasi sepak pojok yang dialami MU pada dua kompetisi domestik itu.

Andre Onana, kiper MU, terlihat tidak dalam posisi terbaik untuk mengantisipasi eksekusi sepak pojok Cunha dan Son sehingga bola bisa melewati tangannya dan menghunjam sisi pojok kiri gawangnya. Onana terlalu maju yang menyebabkannya tidak mampu menjangkau bola sepakan dua sepak pojok itu.

Di sisi lain, pemain belakang MU juga gagal menghadang bola sepak pojok itu dengan baik. Tidak hanya Onana, penempatan posisi pemain-pemain MU juga tidak tepat untuk mengantisipasi datangnya bola ke kotak penalti mereka.

Tak heran, Pelatih MU Ruben Amorim bertekad membenahi antisipasi sepak pojok timnya. ”Kami tidak bisa menangisi itu. Kami harus fokus untuk melakukan segalanya di dalam kotak penalti sesuai dengan aturan yang berlaku untuk menjauhkan ancaman,” kata Amorim seperti dikutip Manchester Evening News.

Dan, faktor ketiga adalah pengaruh semesta. Empat gol ”olimpico” yang tercipta di kompetisi Eropa selama Desember ini berpotensi dipengaruhi angin yang berembus pada iklim musim dingin saat ini. Kecepatan angin yang lebih tinggi bisa memengaruhi laju lengkungan bola.

Italy Soccer Italian Cup

Di Stadion Gelora Kie Raha, embusan angin pun cukup tinggi karena jarak arena sepak bola itu hanya sekitar 1 kilometer dari pantai. Tak heran, hamparan laut bisa terlihat dari tribune stadion terbesar di Bumi Maluku itu.

Dengan lima gol ”olimpico” tercipta Desember ini, maka Penghargaan Puskas 2025 mendatang berpeluang disesaki tipe gol spektakuler ini. Setidaknya ada harapan Liga 1 Indonesia mengirimkan kandidat untuk anugerah gol terindah di dunia.


Kerabat Kerja

Penulis:

Muhammad Ikhsan Mahar
 | 

Editor:

Wisnu Aji Dewabrata