Halo SEA Games, Barisan Atlet Gen Z Unjuk Gigi Nih!

Di SEA Games Thailand 2025, para atlet generasi Z Indonesia bersinar terang. Sebagai pesta olahraga ”level” pertama, ini memang waktunya mereka!

16 Des 2025 13:51 WIB · Olahraga

KOMPAS/KELVIN HIANUSA

Oleh Rebiyyah Salasah, Kelvin Hianusa, Rian Septiandi, dan Fakhri Fadlurrohman dari Bangkok, Thailand

Di tengah sorotan lampu dan kamera saat perkenalan atlet di Stadion Gymnasium 5 Universitas Thammasat Rangsit, Pathum Thani, Kamis (11/12/2025), Alarice Prakoso (17) dan Salsabilla Hadi (20) tak gentar. Dua anak generasi Z atau gen Z yang mewakili Indonesia di senam artistik putri ini enggan muncul tanpa kesan. Mereka berpose ala film Petualangan Sherina.

Alarice dan Salsabilla melakukan tos, lalu mereka saling memunggungi sambil melipat tangan. Para penonton terhibur dengan aksi tersebut. Sebab, pesenam-pesenam dari negara lain tidak ada yang punya ide unik serupa. ”Siapa lagi yang ngide, pasti dia orangnya (Alarice),” kata Salsabilla saat ditanya inisiator koreografi itu.

Sebelum ”manggung”, kedua pesenam penerus Rifda Irfanaluthfi itu ternyata sudah mengunggah tari-tarian ala Tiktok terlebih dulu. Salsabilla yang berkepribadian introver tampak luwes. Alarice jangan diragukan. Energi remaja ekstrover itu seperti tidak pernah habis. Hari itu mereka tutup dengan penampilan apik di matras lomba.

SEA Games Thailand 2025 memang menjadi ajang unjuk gigi anak-anak gen Z dari Indonesia seperti Alarice dan Salsabilla. Indonesia mengirim total 1.021 atlet, sebagian besar merupakan atlet-atlet muda.

Pesenam putri Indonesia Alarice Prakoso menyapa penonton setelah selesai menjalani rutin gerakan  dalam babak kualifikasi balok keseimbangan di Stadion Gymnasium 5 Universitas Thammasat Rangsit, Bangkok, Thailand, Rabu (10/12/2025). Alarice, 17 tahun, merupakan satu dari dua pesenam tim putri Indonesia di SEA Games Thailand 2025.

KOMPAS/KELVIN HIANUSA

Bahkan, di panjat tebing yang beranggotakan 18 atlet, semuanya merupakan anak-anak yang lahir antara tahun 1997 hingga 2012 ini. Meski punya skuad muda, rata-rata 19 tahun, bukan berarti tak bisa berprestasi.

Alma Ariella Tsany (16) dan Ardana Cikal Damarwulan (15) bahkan langsung membuka kiprah panjat tebing di SEA Games dengan mengawinkan medali emas disiplin lead di Bangkok Sport Climbing Center Stadion SAT, Bangkok, Thailand, Jumat (12/12/2025).

Alma menjadi satu-satunya pemanjat dari delapan finalis putra dan putri yang bisa mencapai puncak dinding panjat. Inti dari perlombaan lead adalah memanjat mengikuti jalur hingga mencapai titik setinggi mungkin.

Pada perlombaan disiplin speed sehari setelahnya, gen Z juga kembali menebar pesona. Antasyafi Robby Al Hilmi (18) dan Puja Lestari (22) menambah dua emas untuk tim panjat tebing Indonesia yang memang menempatkan SEA Games untuk batu loncatan pemanjat muda. Total, panjat tebing meraih 4 emas, 3 perak, dan 1 perunggu.

”Kami punya lapisan kekuatan yang lumayan. Itu yang kami dorong agar dapat jam terbang sehingga mereka bisa jadi pesaing untuk senior-senior. Beberapa tahun ke depan, merekalah yang jadi andalan tim nasional,” ujar Hendra Basir, pelatih tim panjat tebing Indonesia.

Pemanjat tebing disiplin lead Indonesia, Alma Ariella Tsany, meraih medali emas SEA Games Thailand 2025 setelah menjadi satu-satunya pemanjat yang mencapai puncak pada perlombaan di Bangkok Sport Climbing Center Stadion SAT, Bangkok, Thailand, Jumat (12/12/2025) malam.

Di cabang renang, anak-anak gen Z Indonesia juga bukan sekadar pelengkap lomba. Walaupun masih sangat muda, mereka sudah menjadi tulang punggung tim renang ”Merah Putih”. Semua emas tim Indonesia, tiga keping, disumbangkan oleh dua perenang. Mereka adalah Masniari Wolf (20) dan Jason Donovan Yusuf (18).

Jason paling spesial karena menyumbang dua emas sekaligus dalam debutnya di SEA Games. Pelatih tim renang Indonesia, Albert C Sutanto, mengatakan, Jason dan para perenang kelahiran 2000-an akan jadi tumpuan mulai saat ini. ”Mereka sudah membuktikan bisa berprestasi, menggantikan para seniornya,” ujar Albert.

Selain senam artistik, panjat tebing, dan renang, cabor-cabor lain juga memberikan kesempatan kepada para atlet muda gen Z, seperti atletik. Ketika diberi kesempatan, mereka pun membuktikan dengan torehan medali emas.

Diva Renatta Jayadi, yang baru berusia 23 tahun, misalnya, memecahkan rekor SEA Games loncat galah putri dan meraih medali emas. Diva bahkan membasuh dahaga emas dari loncat galah putri Indonesia selama 22 tahun.

Pelari Indonesia Dina Aulia (tengah) tampil di babak kualifikasi nomor 100 meter lari gawang SEA Games 2025 di Stadion Nasional Suphachalasai, Bangkok, Thailand, Jumat (12/12/2025). Dina Aulia meraih medali emas dengan catatan waktu 13,21 detik, disusul rekan senegaranya Emilia Nova yang mendapatkan medali perak dengan catatan waktu 13,27 detik. Sementara itu medali perunggu diraih pelari Vietnam Thi My Tien Huynh dengan catatan waktu 13,43 detik.


KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN (FAK)
12-12-2025

Di lari gawang, ada Dina Aulia yang usianya hanya setahun lebih muda dari Diva. Seperti Diva, Dina juga mempersembahkan medali emas untuk Indonesia di Thailand. Diva dan Dina membuka keran emas atletik yang hingga Senin (15/12/2025) mengumpulkan delapan emas.

Tim bola voli putri juga menurunkan skuad kombinasi pemain senior berpengalaman dan pemain yunior potensial. Megawati Hangestri Pertiwi, dengan usia 26 tahun, memang masih termasuk gen Z. Namun, secara pengalaman, dia bisa dibilang senior.

Berbeda dengan empat edisi SEA Games sebelumnya yang dia ikuti, Megawati bukan lagi pemain paling muda di tim. Justru kali ini, dia mengemban tugas memomong rekan setim yang selisih usianya hingga sembilan tahun.

Syelomitha Wongkar pemain muda berpotensi dari Indonesia. Tim voli putri Indonesia menghadapi FIlipina dalam perebutan medali perunggu di SEA Games Thailand 2025 di Hua Mak Indoor Stadium, Bangkok, Thailand, Senin (15/12/2025). Tim voli putri Indonesia berhasil meraih medali perunggu setelah mengalahkan Filipina (26-28. 25-13, 28-30, 24-26).

Bersama para pemain muda ini juga, Megawati mempertahankan peringkat ketiga di SEA Games. ”Kalau kombinasi seperti ini memang awalnya tidak langsung ada koneksi, yang senior terlalu serius, yang yunior lebih santai. Tetapi, ketika mereka sudah nyambung, koneksinya bagus,” ujar Marcos.

SEA Games, yang selalu disebut-sebut sebagai sasaran antara, memang seharusnya jadi kesempatan untuk para atlet muda. Apalagi, SEA Games diselenggarakan dua tahunan. Jika pendekatan yang digunakan adalah semata-mata meraih medali sebanyak-banyaknya demi mengejar peringkat, upaya regenerasi atlet bisa terhambat.

Keberhasilan beberapa cabor meraih prestasi meski menurunkan para atlet gen Z seolah menepis anggapan bahwa keduanya tidak bisa berjalan bersamaan. Kementerian Pemuda dan Olahraga, lewat Menpora Erick Thohir, memang pernah mengatakan tidak ingin membeda-bedakan atlet dari status yunior ataupun senior. Yang terpenting, kata Erick, mereka bisa memberi prestasi.

Namun, anak-anak gen Z ini perlu diberi pengalaman dan panggung untuk unjuk gigi. Dengan sikap khas generasi ini yang cenderung terbuka, ekspresif, dan kreatif, mereka akan jadi tumpuan prestasi Indonesia pada masa depan.


Kerabat Kerja

Penulis:

Rebiyyah Salasah, Kelvin Hianusa, Rian Septiandi, dan Fakhri Fadlurrohman dari Bangkok, Thailand
 | 

Editor:

Emilius Caesar Alexey
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nanik Dwiastuti