Hamas Bebaskan Sandera di Tengah Ketidakpastian Gencatan Senjata

Pertukaran keenam sejauh ini berjalan sesuai kesepakatan dan dinilai sebagai sinyal positif kelanjutan gencatan senjata antara Hamas dan Israel.

15 Feb 2025 18:50 WIB · Internasional

Oleh Iwan Santosa

GAZA, SABTU – Hamas membebaskan tiga warga Israel yang disandera di tengah ketidakpastian kelanjutan gencatan senjata. Sebagai gantinya, Israel membebaskan 369 warga Palestina yang ditahan di penjara. Pertukaran keenam pada Sabtu (15/2/2025) sejauh ini berjalan sesuai kesepakatan dan dinilai sebagai sinyal positif.

Tiga sandera Hamas yang dibebaskan adalah Iair Horn (46), Sagui Dekel-Chen (36), dan Sasha (Alexander) Troufanov (29). Mereka tiba di titik pembebasan pada Sabtu setelah para mediator dari Mesir dan Qatar membantu menengahi perselisihan Hamas-Israel yang mengancam kelanjutan gencatan senjata.

Ketiga sandera dibawa ke atas panggung, dikawal anggota Hamas yang menyandang senjata di Khan Younis. Di panggung, para sandera diminta menyampaikan sambutan singkat dalam bahasa Ibrani. Para pejuang Hamas menyerahkan sebuah jam pasir kepada Horn serta foto salah satu sandera di Gaza bersama ibunya disertai tulisan “Waktu Segera Habis” (bagi sandera yang tersisa di Gaza).

Mereka kemudian diserahkan kepada petugas dari Palang Merah. Kondisi mereka bertiga terlihat lebih baik dibandingkan sandera yang dibebaskan sebelumnya yang tampak lemah dan kurus kering.

Mereka ditangkap di Kibbutz Nir Oz saat Hamas menyerang Israel pada 7 Oktober 2023. Horn ditangkap bersama saudaranya, Eitan, yang masih disandera. Troufanov disandera bersama ibu, nenek, dan kekasihnya. Ketiganya telah dibebaskan dalam gencatan senjata ingkat pada November 2023.

Tak lama setelah ketiga sandera dibebaskan, bus pertama yang membawa tahanan Palestina berangkat dari penjara Ofer di wilayah pendudukan Tepi Barat. Israel membebaskan 369 tahanan, termasuk 36 orang yang dijatuhi hukuman penjara seumur hidup karena serangan mematikan terhadap Israel. Saat bus tiba di Ramallah, mereka disambut sorak-sorai warga, beberapa di antaranya melambaikan bendera Palestina.

A male Palestinian prisoner is greeted after being released from Israeli prison following a ceasefire agreement between Israel and Hamas, in the West Bank city of Ramallah, Saturday, Feb. 15, 2025. (AP Photo/Nasser Nasser)

Israel menyatakan tengah bekerja bersama Amerika Serikat untuk membebaskan seluruh sandera yang tersisa sesegera mungkin. “Kami bekerja dalam koordinasi penuh dengan Amerika Serikat untuk menyelamatkan semua sandera, baik yang hidup maupun meninggal, secepatnya, dan kami bersiap penuh untuk menghadapi yang ada di depan,” sebut pernyataan Kantor Perdana Menteri Israel, segera setelah pembebasan tiga sandera.

Sejauh ini pembebasan sandera dan tahanan berjalan sesuai kesepakatan. Gencatan senjata terancam kolaps setelah Hamas menyatakan akan menghentikan pembebasan sandera karena Israel melanggar kesepakatan. Hamas menuding Israel menghalangi bantuan masuk ke Gaza

Israel menanggapi dengan ancaman “perang baru” jika sandera tidak dibebaskan sesuai waktunya pada Sabtu ini. Ditengahi Qatar dan Mesir, kedua pihak kembali ke kesepakatan semula.

Menurut pernyataan Hamas, mediator Mesir dan Qatar akan terus berupaya menyingkirkan hambatan dan menutup celah agar gencatan senjata tahap pertama dapat terus berlangsung.

Hamas tidak ingin kesepakatan itu runtuh. Namun, mereka juga menolak ancaman dan intimidasi dari PM Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden AS Donald Trump yang mengatakan gencatan senjata harus dibatalkan jika para sandera tidak dibebaskan akhir pekan ini.

Para pemuda Palestina di tengah reruntuhan bangunan di Khan Younis, Jalur Gaza, Sabtu (15/2/2025) menyaksikan pembebasan sandera Israel gelombang enam dari gencatan senjata tahap 1 antara Israel dan Hamas.

Seharusnya, bersamaan dengan dua kali pembebasan sandera terakhir, perundingan gencatan senjata tahap kedua dimulai. Namun, pembicaraan untuk gencatan senjata tahap kedua mundur dari jadwal semula.

Sampai saat ini, sudah 24 warga Israel yang disandera dibebaskan, ditambah lima warga Thailand. Masih ada 73 sandera, diperkirakan separuhnya tewas akibat serangan Israel ke Gaza.

Sesuai kesepakatan yang berlaku pada 19 Januari, tahap pertama akan dibebaskan 33 sandera, termasuk perempuan, anak, sandera sakit, dan pria lansia untuk ditukar pembebasan ratusan tahanan Palestina dari penjara Israel.

Kondisi sandera yang kurus kering memicu unjuk rasa oleh warga Israel yang mendesak pemerintah serius mengupayakan pembebasan sandera tersisa dan mencegah perang. Demi mencegah tudingan perlakuan buruk terhadap sandera, kelompok Jihad Islam mengeluarkan video menampilkan Troufanov sebelum dibebaskan sedang menikmati ikan di tepi pantai di Jalur Gaza, Jumat (14/2/2025).

Selain perselisihan kedua belah pihak, kemungkinan kelanjutan gencatan senjata tahap 2 dibayangi ketidakpastian setelah Trump mengeluarkan komentar yang dinilai memperkeruh situasi. Trump mengancam akan terjadi ”situasi hancur-hancuran” di Jalur Gaza jika seluruh sandera warga Israel tidak dibebaskan.

Selain itu, ia mengatakan akan membeli dan memiliki Gaza lalu memindahkan penduduk Palestina dari Gaza. Trump bermaksud membangun Gaza menjadi resor mewah seperti di Perancis tenggara.

Gagasan itu dinilai memenuhi kriteria genosida atau pemusnahan etnis. Negara-negara Arab, sekutu AS di Barat, dan negara-negara lain, termasuk Indonesia menolak mentah-mentah gagasan Trump memindahkan warga Gaza. (AP/AFP/Reuters)


Kerabat Kerja

Penulis:

Iwan Santosa
 | 

Editor:

Fransisca Romana Ninik W
 | 

Penyelaras Bahasa:

Apolonius Lase