Hamas setuju membebaskan satu sandera Amerika Serikat-Israel dan empat jenazah berkewarganegaraan ganda. Sebagai gantinya, Israel harus memenuhi semua komitmen.
15 Mar 2025 16:02 WIB · Internasional
GAZA, SABTU — Hamas menunjukkan komitmen untuk menjaga momentum perundingan gencatan senjata. Kesediaan ini terlihat lewat penerimaan usulan mediator untuk membebaskan sandera, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal.
Belum diketahui kapan pembebasan sandera akan dilakukan. Pada Sabtu (15/3/2025), Hamas mengklaim baru akan membebaskan lima sandera jika Israel memenuhi semua komitmen gencatan senjata. Namun, Israel dan Amerika Serikat menuding Hamas bersikap manipulatif.
Lima sandera yang disebutkan akan dibebaskan terdiri atas seorang sandera yang masih hidup dan empat jenazah sandera. Di antara mereka ada sandera yang berkewarganegaraan ganda, Amerika Serikat-Israel. Sandera yang masih hidup bernama Edan Alexander.
”Hamas juga akan menuntut pembebasan lebih banyak tahanan Palestina sebagai ganti sandera,” kata pejabat tersebut dengan syarat anonim.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/15/7548be644468ec0b2cad5e9a1e06b191-Israel_Palestinians_Hostages_127786397.jpg)
Seiring rencana pembebasan tersebut, Kamis (13/5/2025), Hamas mengumumkan kelanjutan perundingan dengan mediator Qatar dan Mesir di Doha. Juru Bicara Hamas, Hazem Qassem, menegaskan, kelompoknya menanggapi negosiasi tersebut secara positif dan bertanggung jawab.
Seorang pejabat senior Hamas mengatakan, pembicaraan gencatan senjata tahap kedua yang tertunda harus dimulai pada hari pembebasan sandera. Pembicaraan berlangsung tidak lebih dari 50 hari. Israel juga harus berhenti melarang masuknya bantuan kemanusiaan ke Gaza dan menarik pasukan di sana.
Sejak 19 Januari 2025, gencatan senjata tahap pertama selesai pada 1 Maret lalu tanpa kesepakatan untuk tahap selanjutnya. Perundingan gencatan senjata dimediasi oleh Amerika Serikat, Mesir, dan Qatar. Perundingan kemudian berlanjut di Doha pada pekan ini. Israel juga mengirimkan negosiator.
”Delegasi pimpinan Hamas menerima usulan dari para mediator pada hari Kamis untuk melanjutkan perundingan. Pergerakan ini ditanggapi dengan penuh tanggung jawab dan positif, dengan menyerahkan balasannya pada hari Jumat pagi,” kata Hamas dalam sebuah pernyataan, Jumat (14/3/2025), dilansir dari kantor berita Anadolu Agency.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/15/52c33547de4fa88bd8d6199ee364e048-TOPSHOT_PALESTINIAN_ISRAEL_CONFLICT_ISLAM_RAMADAN_128226862.jpg)
Sebelumnya, Kantor Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan keraguan mereka terhadap kesediaan Hamas. Israel menuduh Hamas mencoba memanipulasi negosiasi.
Israel mengklaim telah menerima garis besar usulan tim AS yang dipimpin Utusan Khusus AS untuk Timur Tengah, Steve Witkoff, yang tiba di Doha pada Selasa (11/3/2025). Witkoff mengajukan proposal ”jembatan” untuk memperpanjang gencatan senjata tahap pertama setelah Ramadhan sampai pertengahan April jika Hamas membebaskan sandera hidup sebagai ganti tahanan Palestina.
Sementara itu, kedua belah pihak berunding tentang penyelesaian perang. Menurut Israel, Hamas menolak usulan tersebut.
”Pada saat yang sama, Hamas terus menggunakan manipulasi dan perang psikologis—laporan tentang kesediaan Hamas untuk membebaskan sandera Amerika dimaksudkan untuk menyabotase negosiasi,” bunyi surat Pemerintah Israel kepada keluarga sandera.
Tim negosiasi Israel kembali dari Doha pada Jumat. Netanyahu mengatakan, ia berencana untuk mengumpulkan tim menteri guna mendengar dari negosiator dan memutuskan langkah selanjutnya, Sabtu (15/3/2025) malam.
Dalam sebuah pernyataan, Kantor Witkoff dan Dewan Keamanan Nasional AS menyebut Hamas membuat ”taruhan yang sangat buruk” dalam perundingan Gaza. Pernyataan itu juga menyebutkan, Trump bersumpah Hamas akan membayar mahal karena tidak membebaskan sandera.
”Hamas bertaruh dengan sangat buruk bahwa waktu ada di pihaknya. Tidak demikian. Kami akan menanggapinya dengan tepat jika tenggat itu terlewati,” kata pernyataan itu.
Menurut pernyataan tersebut, di depan publik Hamas menunjukkan fleksibilitas. Namun, di belakang, Hamas justru mengajukan tuntutan yang tidak praktis.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/19/c64c1db3d6aad7188656357ea20e18dd-1000000181.jpg)
Ketika ditanya apakah AS memprioritaskan pembebasan sandera AS, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan, AS peduli dengan semua sandera. ”Saya tak akan mengomentari apa yang akan kami terima dan tidak terima, selain bahwa kita semua harus terus mengatakan bahwa apa yang dilakukan Hamas adalah keterlaluan,” kata Rubio kepada wartawan setelah perundingan G7 di Kanada.
Hamas menculik 251 orang sebagai sandera pada pada serangan 7 Oktober 2023. Sebelum serangan itu, Hamas telah menahan dua orang pada 2014 dan 2015 serta dua jenazah tentara yang tewas pada 2014.
Dalam gencatan senjata tahap pertama, Hamas membebaskan 33 warga Israel, termasuk delapan jenazah. Lima sandera Thailand dilepas secara terpisah. Adapun Israel membebaskan sekitar 1.500 tahanan Palestina sebagai ganti para sandera. Dengan demikian, di pihak Hamas tersisa 59 sandera walau Israel meyakini 35 sandera di antaranya telah tewas.
Edan Alexander adalah tentara yang ditawan saat Hamas menyerang Israel pada 7 Oktober 2023. Dikutip dari The Times of Israel, dia adalah pemuda kelahiran Tel Aviv yang tumbuh di New Jersey, AS. Ia diduga menjadi satu-satunya sandera berkewarganegaraan AS yang masih hidup di Gaza.
Perang Hamas-Israel di Gaza yang berlangsung selama 15 bulan telah terhenti untuk sementara. Perang telah menghancurkan sebagian besar wilayah Gaza. Alhasil, sebagian besar penduduk bergantung pada bantuan internasional untuk bertahan hidup.
Meski warga Gaza mulai kembali ke rumah, Israel memutus akses pasokan makanan, obat-obatan, dan listrik untuk Gaza sebagai taktik tekanan terhadap Hamas. Kondisi memburuk akibat ketidakjelasan progres negosiasi gencatan senjata. Pada 9 Maret 2025, Menteri luar Negeri Israel Eli Cohen memutus aliran listrik ke Gaza.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/18/f5044be0-da15-406a-a26b-8b2798b51667_jpg.jpg)
”Sejak 2 Maret, WFP (Program Pangan Dunia) tidak dapat mengirimkan pasokan makanan apa pun ke Gaza dan terpaksa mengurangi jumlah makanan yang diterima keluarga untuk menghemat persediaan,” cuit WFP di platform X, Jumat (14/3/2025).
Sebelumnya, WFP mengirimkan lebih dari 40.000 ton makanan ke Gaza selama gencatan senjata ketika warga Gaza bertahan hidup di masa gencatan senjata tahap pertama. ”Dengan ditutupnya jalur pelintasan di perbatasan, upaya mempertahankan ketahanan pangan yang susah payah ini kini terancam. Akses yang berkelanjutan sangat penting. Progres tidak boleh batal,” tulis WFP.
Pada Jumat (14/3/2025), G7 menyerukan agar bantuan untuk Gaza mengalir tanpa hambatan. Pernyataan ini menandai kemungkinan perubahan posisi AS di era Trump yang belum mengkritik Israel memblokade bantuan kemanusiaan.
”Para pemimpin negara anggota G7 menyerukan pembebasan semua sandera dan agar jenazah yang ditahan Hamas di Gaza dikembalikan kepada orang-orang yang mereka cintai. Mereka menegaskan kembali dukungan untuk dimulainya kembali bantuan kemanusiaan tanpa hambatan ke Gaza dan untuk gencatan senjata permanen,” bunyi pernyataan G7. (AP/AFP/Reuters)
Penulis:
Elsa Emiria LebaEditor:
Bonifasius Josie Susilo H