Hamas Kehilangan Kontak 2 Sandera Saat Serangan Israel

Sebanyak 66.000 penduduk Palestina tewas dalam perang Israel-Hamas.

29 Sep 2025 05:51 WIB · Internasional

Oleh Ignatius Danu Kusworo

Kementerian Kesehatan Gaza, Minggu (28/9/2025), menyatakan, jumlah korban tewas dalam perang Israel-Hamas telah mencapai 66.000 warga Palestina. Pernyataan ini dikeluarkan sehari sebelum Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menuju Gedung Putih untuk berunding dengan Presiden AS Donald Trump mengenai penghentian serangan Israel yang sedang berlangsung di Kota Gaza.

Sebelumnya, Trump telah melontarkan usulan 21 poin untuk gencatan senjata. Proposal tersebut akan mencakup pembebasan semua sandera dalam waktu 48 jam dan penarikan pasukan Israel secara bertahap dari wilayah Palestina. Hal ini seperti yang dikatakan tiga pejabat Arab yang diberi pengarahan mengenai rencana tersebut. 

Penduduk berjalan di koridor Netzarim, di Nuseirat di Jalur Gaza tengah, Jumat (26/9/2025). Militer Israel mengatakan bahwa 700.000 warga Palestina telah melarikan diri dari Kota Gaza sejak akhir Agustus, karena menghindari serangan udara dan darat di pusat kota.

Mereka mengatakan bahwa proposal tersebut belum final dan kemungkinan besar akan ada perubahan. Trump membahas usulan tersebut dengan para pemimpin Arab di New York di sela-sela Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Seorang pejabat Hamas menyatakan bahwa kelompoknya siap untuk mempelajari setiap proposal secara positif dan bertanggung jawab. Hamas  sebelumnya mengatakan bersedia membebaskan semua sandera dengan imbalan diakhirinya perang dan penarikan penuh pasukan Israel dari jalur tersebut.

Bayi dengan demam tinggi dirawat di rumah sakit lapangan UK-Med di Muwasi, dekat Khan Younis, Jalur Gaza selatan, Sabtu (27/9/2025).
Dokter Paul Ransom dari  UK-Med, dibantu oleh staf medis lokal, merawat pasien di rumah sakit lapangan di Muwasi, dekat Khan Younis di Jalur Gaza selatan, Sabtu (27/9/2025).
Pasien menunggu di luar rumah sakit lapangan UK-Med di Muwasi, dekat Khan Younis, Jalur Gaza selatan, Sabtu (27/9/2025).
Warga Palestina berjuang untuk mendapatkan makanan yang disumbangkan di dapur komunitas di Khan Younis, Jalur Gaza selatan, Sabtu (27/9/2025).
Asap mengepul setelah serangan militer Israel di Kota Gaza, seperti yang terlihat dari Jalur Gaza tengah, Jumat (26/9/2025).

Israel memperkirakan 48 sandera masih ditawan di Gaza dan sekitar 20 di antaranya diyakini Israel masih hidup, sejak serangan militan pimpinan Hamas pada 7 Oktober 2023. 

Netanyahu berada di bawah tekanan internasional yang kuat untuk mengakhiri perang. Semakin banyak negara yang mengakui negara Palestina. Uni Eropa juga sedang mempertimbangkan sanksi dan ada gerakan yang semakin besar untuk memboikot olahraga dan budaya terhadap Israel.

Suar tentara Israel melayang di atas bangunan yang hancur selama operasi darat dan udara Israel di Jalur Gaza utara, Rabu, (24/9/2025).

Ledakan tiada henti di Gaza

Rumah sakit di Gaza tengah menyatakan, sedikitnya 10 orang tewas ketika sedikitnya dua serangan menghantam rumah-rumah di kamp pengungsi Nuseirat. Warga melaporkan mendengar suara ledakan semalam di seluruh kota. ”Ledakan terus-menerus,” ujar Sayed Baker, warga Palestina yang berlindung di dekat Rumah Sakit Shifa.

Militer Israel tidak berkomentar tentang  serangan itu, tetapi mengatakan pihaknya menyerang 140 target militer Hamas selama 24 jam terakhir, termasuk militan, peralatan observasi, dan infrastruktur. Serangan Israel telah menghancurkan sebagian besar wilayah Gaza, menggusur sekitar 90 persen penduduk, dan menyebabkan krisis kemanusiaan yang dahsyat.

Warga Palestina berjalan melalui perkemahan pengungsi di Muwasi, area yang telah ditetapkan Israel sebagai zona aman, di Khan Younis Jalur Gaza selatan, Kamis (25/9/2025).
Warga Palestina memeriksa puing-puing bangunan yang hancur oleh serangan Israel di kamp pengungsi Nuseirat di Jalur Gaza tengah pada Minggu (28/9/2025).
Warga Palestina melarikan diri dari Jalur Gaza utara sambil membawa barang-barang mereka di sepanjang jalan pesisir, dekat Wadi Gaza, Rabu (24/9/2025).
Warga Palestina diri dari Gaza utara di sepanjang jalan pesisir dekat Wadi Gaza, Jumat (26/9/2025).

Pada Minggu, sayap militer Hamas, Brigade Al-Qassam, mengatakan bahwa mereka telah kehilangan kontak dengan dua sandera Israel yang ditawan di Kota Gaza. Mereka meminta Israel untuk menarik pasukan dan menangguhkan serangan udara selama 24 jam agar para pejuang dapat menyelamatkan para tawanan.

Nasib kedua sandera tersebut dapat membayangi pertemuan antara Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden AS Donald Trump pada hari Senin ini.

Kementerian Kesehatan Gaza dalam laporan hariannya menyatakan jumlah korban tewas telah meningkat menjadi 66.005. Jumlah ini belum termasuk 168.162 korban luka sejak perang dimulai. Di antara korban tewas terdapat 79 orang yang dibawa ke rumah sakit dalam 24 jam terakhir.

Seorang pria berjalan di antara kantong mayat yang diletakkan di di luar rumah sakit al-Awda di kamp pengungsi Nuseirat di Jalur Gaza tengah, Sabtu (27/9/2025). Selama hampir dua tahun, operasi militer Israel di Gaza telah menewaskan sedikitnya 66.000 warga Palestina, sebagian besar warga sipil, menurut kementerian kesehatan di Gaza yang dikelola Hamas.

Kementerian tersebut—bagian dari pemerintahan yang dipimpin Hamas—tidak membedakan antara warga sipil dan militan dalam jumlah korban. Mereka menyatakan bahwa perempuan dan anak-anak menyumbang sekitar separuh dari korban tewas. Angka-angka tersebut dianggap sebagai perkiraan yang andal oleh PBB dan banyak pakar independen. (AP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Ignatius Danu Kusworo
 | 

Editor:

Demitrius Wisnu Widiantoro
 | 

Penyelaras Bahasa:

Galih Rudanto