Hasil Maksimal Sabar/Reza Tanpa Kondisi Ideal

Tampil tanpa kondisi fisik ideal, Sabar/Reza bertumpu pada semangat juang tinggi di Indonesia Terbuka. Final pun menjadi hasil maksimal.

08 Jun 2025 22:13 WIB · Olahraga

Oleh Yulia Sapthiani, Rebiyyah Salasah

JAKARTA, KOMPAS — Sabar Karyaman Gutama/Mohammad Reza Pahlevi Isfahani tak berhasil mempersembahkan gelar bagi Indonesia dalam turnamen bulu tangkis Kapal Api Indonesia Terbuka 2025. Namun, dengan bertarung hingga laga puncak, ganda putra Indonesia ini meraih capaian terbaiknya dengan kondisi tak ideal.

Sabar/Reza merupakan satu-satunya wakil Indonesia yang tampil dalam final Indonesia Terbuka 2025 di Istora Gelora Bung Karno, Jakarta, Minggu (8/6/2025). Namun, mimpi meraih gelar juara harus pupus setelah mereka kalah dari pasangan Korea Selatan, Seo Seung-jae/Kim Won-ho.

Di hadapan penonton di Istora, Sabar/Reza tak bisa menyembunyikan kekecewaan atas kekalahan dengan skor 21-18, 19-21, 12-21. Mereka pun hanya bisa tertunduk lesu dengan hasil tersebut.

Dengan hasil tersebut, bulu tangkis Indonesia kembali tanpa gelar juara dari turnamen BWF World Tour level Super 500, 750, dan 1000. Skuad ”Merah Putih” baru mendapat dua gelar juara dari turnamen Super 300 melalui Siti Fadia Silva Ramadhanti/Lanny Tria Mayasari di Thailand Masters 2025 dan Jafar Hidayatullah/Felisha Alberta Nathaniel Pasaribu di Taiwan Terbuka 2025.

Penantian juga terjadi dalam lingkup turnamennya sendiri. Sejak Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon juara pada 2021, tak ada atlet tuan rumah yang juara. Akhirnya, medali juara dan hadiah uang menjadi milik atlet-atlet negara lain di Indonesia Terbuka.

Peraih gelar juara Indonesia Terbuka 2025 lebih beragam dibandingkan setahun sebelumnya. Selain ganda putra, atlet Korea Selatan lainnya, yaitu An Se-young, menjadi yang terbaik di tunggal putri. Atlet lain yang membawa gelar juara adalah Anders Antonsen (Denmark) di tunggal putra, Liu Sheng Shu/Tan Ning (ganda putri, China), dan Thom Gucquel/Delphine Delrue (ganda campuran, Perancis).

Pemain ganda putra Korea Selatan, Seo Seung-jae/Kim Won-ho, menjuarai Kapal Api Indonesia Terbuka 2025 setelah di final mengalahkan pasangan Indonesia, M. Reza Pahlevi Isfahani/Sabar Karyaman Gutama, di Istora Gelora Bung Karno, Jakarta, Minggu (8/6/2025). Pasangan Sabar/Reza takluk dalam tiga gim, 21-18, 19-21, dan 12-21.

Bagi Sabar/Reza, perjalanan di Indonesia Terbuka kali ini mencampuradukkan perasaan mereka. ”Kami bersyukur bisa menjadi finalis turnamen Super 1000 untuk pertama kalinya, di Indonesia dan Istora pula. Namun, kami cukup sedih tidak bisa juara. Semoga dengan hasil ini kami bisa menjadi lebih percaya diri untuk turnamen berikutnya,” kata Sabar.

Peluang untuk meraih gelar juara sebenarnya terbuka ketika Sabar/Reza mengamankan gim pertama dan menumbuhkan harapan pada gim kedua. Setelah tertinggal sepanjang gim kedua, Sabar/Reza mampu mengejar dan mengganggalkan tiga kali match point lawan.

Dari ketertinggalan 16-20, Sabar/Reza mendekat menjadi 19-20. Namun, peluang untuk menyamakan kedudukan dan membalikkan keadaan itu melayang setelah kok pengembalian Sabar membentur net.

Pada gim penentu, Sabar/Reza tertinggal sejak awal. Mereka tertekan setelah sulit mengantisipasi permainan lawan, terutama Seo, yang menurut Reza, punya pertahanan kuat dan mampu bermain dengan tenang. Hal itu membuat Reza kebingungan untuk melawan Kim/Seo.

Tidak bugar

Meski demikian, apresiasi patut diberikan pada Sabar/Reza yang berstatus atlet independen. Di dunia bulu tangkis Indonesia, sangat sedikit atlet berstatus profesional/independen karena cabang ini menerapkan sistem pelatnas jangka panjang.

Selain harus berjuang sendiri mempersiapkan semua hal untuk turnamen, Sabar/Reza mencapai final Indonesia Terbuka dengan kondisi fisik tidak bugar. Reza, seperti pada dua laga sebelumnya, mendapat semprotan setiap interval untuk mengurangi rasa sakit pada pinggang bagian belakang yang ditapping. Setiap kali mendapat semprotan untuk mengurangi rasa sakit, dia meringis.

Pelatih menyemprotkan pereda rasa sakit di pinggang Sabar Karyaman Gutama, disela-sellaga melawan pasangan Korea Selatan, Seo Seung-jae/Kim Won-ho, pada babak final Kapal Api Indonesia Terbuka 2025 di Istora Gelora Bung Karno, Jakarta, Minggu (8/6/2025). Pasangan Sabar/Reza takluk dalam tiga gim, 21-18, 19-21, dan 12-21.

Reza menuturkan, rasa sakitnya menjalar ke lutut kanan dan kiri, bagian tubuhnya yang harus lebih banyak ”bekerja” ketika pinggangnya tak banyak bergerak. Dia juga menyebut bahwa punggungnya terasa sakit.

Untuk mengantisipasi itu, Sabar/Reza sebenarnya coba menerapkan pola permainan yang menempatkan Sabar lebih banyak bermain di belakang dan Reza di depan. Reza menghindari smes, tetapi sering kali gerakan itu tidak terhindarkan dalam permainan ganda putra yang bertempo cepat.

”Mungkin karena saya menahan gerakan pinggang, sekarang lutut juga sakit. Kemarin yang kiri. Tadi pagi, saat bangun tidur, yang kanan sakit juga. Yang paling sakit di punggung,” kata Reza yang menilai rasa sakitnya pada level 6-7 dari skala 10.

Selain Reza, Sabar juga tidak dalam kondisi 100 persen bugar. Sabar mengatakan, otot perutnya tertarik dan menimbulkan rasa perih selepas tampil di Singapura Terbuka. Dia sempat tak bisa smes, akhirnya membaik menjelang Indonesia Terbuka.

Rasa sakitnya menjalar ke pinggang dan paha. ”Karena mungkin dari hari pertama memaksa main terus dengan kondisi perut tidak seratus persen. Oleh karena badan sakit semua, jadi tidak bisa tidur pulas. Tapi, kami sudah mencoba yang terbaik dan hasilnya di luar ekspektasi,” tutur Sabar.

Tanpa kondisi fisik yang ideal, mereka pun mengandalkan semangat juang yang tinggi. Apalagi, Sabar/Reza yang tampil di Istora tahun ini bukanlah pasangan yang menjadi satu-satunya wakil Indonesia pada semifinal Indonesia Terbuka 2024 ketika masih berperingat ke-29 dunia.

Saat tampil di Indonesia Terbuka 2025, 3-8 Juni, mereka telah menjadi bagian dari peringkat sepuluh besar dunia. Peringkat mereka naik setelah menjadi finalis Hong Kong Terbuka, Makau Terbuka, dan China Masters 2024.

ganda Korea Kim Won Ho/Seo Seung Jae meladeni permainan di depan net lawan dalam partai final di Istora Senayan, Jakarta, Minggu (8/6/2025). Ganda putra Indonesia Sabar Karyaman Gutama/Moh Reza Pahlevi Isfahani gagal menjuarai Kapal Api Indonesia Terbuka 2026, setelah dikalahkan ganda Korea Kim Won Ho/Seo Seung Jae 21-18, 19-21, 12-21 di final.

Adapun pada 2025, hasil terbaik sebelum menjadi finalis di Istora adalah menjadi semifinalis All England yang juga berlevel Super 1000.

Sejak akhir Januari, mereka menempati peringkat ke-10, lalu naik ke posisi ketujuh, dan sekarang peringkat kedelapan dunia. Mereka menjadi ganda putra nomor dua Indonesia di bawah Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto pada peringkat kelima.

Peningkatan prestasi itu dilatarbelakangi status mereka yang sudah menjadi kepala keluarga. Hal itu menjadi tambahan motivasi untuk menjalani status sebagai pemain profesional.

Pada akhir 2021, Sabar/Reza memilih keluar dari pelatnas meski baru berpasangan dalam tiga turnamen. Dengan memilih jalur profesional, mereka tetap menjadi atlet, tetapi dengan meninggalkan status dan hak sebagai pemain pelatnas. Mereka punya fleksibilitas dalam banyak hal, termasuk waktu latihan.

Quote

Untuk pemain profesional seperti kami, lebih tantangannya karena kami banyak mengurus sendiri.

Sementara dengan menjadi atlet pelatnas, atlet harus mengikuti semua program dari pelatih yang teratur dan sistematis. Semua sektor berlatih enam hari dalam sepekan hingga waktu bersama keluarga biasanya hanya dimiliki sejak Sabtu siang hingga Minggu malam.

Biaya sendiri

Namun, memilih jalur ini bukan tanpa tantangan. Mereka harus mengeluarkan biaya sendiri untuk semua kebutuhan latihan dan pertandingan, mencari tempat latihan sendiri, dan pelatih.

Sabar/Reza kerap mengikuti turnamen dengan kondisi yang tidak maksimal. Dalam tur Eropa tahun lalu, misalnya, mereka bermain tanpa dampingan pelatih karena minim biaya. Mereka mengakui kesulitan karena tak ada orang yang memberi arahan maupun saran di dalam lapangan.

Hendra Setiawan (kanan) memeluk anak asuhnya, pasangan ganda putra nonpelatnas Indonesia, Moh. Reza Pahlevi Isfahani/Sabar Karyaman Gutama, usai mengalahkan pasangan Malaysia, Goh Sze Fei/Nur Izzuddin, pada babak perempat final Kapal Api Indonesia Terbuka 2025 di Istora Gelora Bung Karno, Jakarta, Jumat (6/6/2025).

Saat persiapan, tutur Reza, mereka tidak bisa benar-benar menguji kemampuan karena tak ada lawan latih tanding yang sepadan. Mereka pun berharap bisa lebih sering jadi sparring partner di pelatnas.

”Untuk pemain profesional seperti kami, lebih tantangannya karena kami banyak mengurus sendiri. Sekarang, Alhamdulillah ada coach Hendra yang bantu, ada coach Jansen (pelatih fisik) juga, dan ada istri yang biasa bantu-bantu untuk cari tiket dan pesen hotel. Jadi, kami lumayan terbantu,” kata Sabar.

Hasil di Indonesia Terbuka juga membuat mereka optimistis menatap impian untuk menembus Olimpiade Los Angeles 2028.

”Pastinya, kalau target besarnya kami ingin main di Olimpiade Los Angeles 2028, tapi kami akan fokus step by step. Lalu, karena usia kami tidak muda lagi, kami harus meningkatkan semua faktor, teknis, dan nonteknis. Meski demikian, kami ingin menatapnya dengan positif,” ujar Sabar.

Dua gelar bagi Eropa

Semua juara Indonesia Terbuka 2025 berbeda dengan setahun sebelumnya, termasuk pada juara nomor ganda yang merupakan juara baru. Perancis, misalnya, untuk pertama kalinya menempatkan wakil sebagai juara pada turnamen yang diselenggarakan sejak 1982 ini.

Thom Gicquel/Delphine Delrue menjuarai ganda campuran setelah mengalahkan Dechapol Puavaranukroh/Supissara Paewsampran (Thailand) 21-16, 21-18. Gicquel/Delrue menjadi juara dengan status sebagai pasangan nonunggulan.

Ganda campuran Perancis, Thom Gicquel/Delphine Delrue, berselebrasi usai mengalahkan pasangan Thailand, Dechapol Puavaranukroh/Supissara Paewsampran, pada final Kapal Api Indonesia Terbuka 2025 di Istora Gelora Bung Karno, Jakarta, Minggu (8/6/2025). Gicquel/Delrue memenangi Indonesia Terbuka setelah menang 21-16 dan 21-18 dalam waktu 48 menit.

”Saya tak percaya bisa menjadi juara di sini. Awal turnamen sangat berat dan kami tak pernah berpikir bisa sejauh ini setelah babak pertama. Ini adalah salah satu target, juara pada turnamen besar. Banyak kerja keras di balik gelar ini,” ucap Gicquel.

Babak pertama yang dimaksudnya adalah ketika berhadapan dengan pasangan tuan rumah, Rehan Naufal Kusharjanto/Gloria Emanuelle Widjaja. Gicquel/Delrue kehilangan gim pertama, lalu hampir kalah karena tertinggal 15-20 pada gim ketiga. Pasangan peringkat kesepuluh dunia itu akhirnya menang 17-21, 21-15, 24-22.

Gicquel/Delrue menjadi pemain Eropa pertama yang meraih gelar dari turnamen Super 1000 pada tahun ini, setelah Malaysia Terbuka dan All England diselenggarakan, masing-masing, pada Januari dan Maret lalu. Beberapa jam kemudian, pemain Eropa lainnya membawa gelar juara dari tunggal putra, yaitu Anders Antonsen.

Pemain Denmark itu mendapat kesempatan membalas kekalahan dari Chou Tien Chen yang terjadi pada final Indonesia Terbuka 2019 dan tak menyia-nyiakannya. Antonsen menang 22-20, 21-14.

Anders Antosen usai mengalahkan Tien Chen Cou dalam partai final di Istora Senayan, Jakarta, Minggu (8/6/2025). Pebulu tangkis tunggal putra Denmark Anders Antonsen meraih gelar juara Indonesia Terbuka 2025, setelah mengandaskan perlawanan tunggal Taiwan Tien Chen Chou dua gim langsung, 22-20 dan 21-14.

Laga itu disebut sebagai ”Battle of Istora Boys” oleh penggemar bulu tangkis Indonesia. Alasannnya, Antonsen dan Chou adalah atlet asing yang mempunyai banyak penggemar di Indonesia dan selalu senang setiap tampil di Istora. Mereka menikmati teriakan ”ea! ea! ea!” dari penonton yang selalu mengiringi sesi pemanasan sebelum pertandingan.

Kemenangan dari Chou menjadi third time lucky bagi Antonsen dalam final Indonesia Terbuka. Gelar juara pada 2025 membayar kekalahannya dari Shi Yu Qi pada final 2024.

Selain Indonesia Terbuka, atlet berusia 28 tahun itu mempunyai catatan yang cukup baik dalam turnamen lain di Indonesia, yaitu Indonesia Masters yang berlevel Super 500. Dia dua kali juara, pada 2019 dan 2024, dari empat final.

Salah satu final, pada 2021, dicapai ketika turnamen diselenggarakan dalam sistem ”gelembung” di Bali karena pandemi Covid-19. Maka, Indonesia, khusunya Istora, menjadi tempat yang berkesan bagi Antonsen.

”Luar biasa. Saya sangat bersyukur atas bagaimana tempat ini telah mengubah hidup saya berkali-kali. Itu sangat berarti bagi saya,” katanya.

Dominasi Se-young

Pada persaingan tunggal putri, An Se-young menegaskan dominasinya dalam turnamen BWF World Tour dengan meraih gelar kelima pada tahun ini. An mengalahkan pemain China, Wang Zhi Yi, 13-21, 21-19, 21-15.

Pemain nomor satu dunia asal Korea Selatan itu memperlihatkan mental juaranya ketika bisa bangkit setelah berada di ambang kekalahan. Seusai kehilangan gim pertama, dia tertinggal 9-17 pada gim kedua. Setelah itu, An memenangi sepuluh dari 11 perebutan poin hingga menyamakan skor menjadi 18-18, lalu berbalik unggul. Adapun gim ketiga dimenanginya setelah melepaskan diri dari tekanan Wang sejak setelah interval.

”Laga yang tidak mudah menghadapi Wang Zhi Yi. Beruntung, saya bisa menemukan kepercayaan diri dan menang. Sepanjang pertandingan, saya mendapat motivasi dari pelatih untuk terus semangat. Saya mencoba menyerap semangat pelatih saya tersebut,” kata An.

Pemain tunggal putri Korea Selatan, An Se Young, berusaha mengembalikan kok ke arah pebulu tangkis China, Wang Zhi Yi, pada babak final Kapal Api Indonesia Terbuka 2025 di Istora Gelora Bung Karno, Jakarta, Minggu (8/6/2025). An Se Young menjuarai Indonesia Terbuka 2025 setelah menang 13-21, 21-19, dan 21-15.

An kembali ke podium tertinggi setelah 25 kemenangan beruntun sejak awal tahun dihentikan Chen Yu Fei pada perempat final Singapura Terbuka, sebulan sebelum Indonesia Terbuka.

”Saya mendapat ’pecutan’ dengan tidak naik podium pada turnamen sebelumnya. Sebagai seorang yang tidak mau kalah, saya menatap ke depan dari kekalahan tersebut,” kata pemain berusia 23 tahun tersebut.

Kemenangan pada lima babak di Indonesia Terbuka mempertegas dominasi An pada persaingan tunggal putri. Dia hanya dua kali kalah dari 34 pertandingan dan menjuarai semua turnamen Super 1000, yaitu Malaysia Terbuka, All England, dan Indonesia Terbuka. Satu turnamen Super 1000 tersisa pada tahun ini, China Terbuka, akan berlangsung 22-27 Juli.

Sementara gelar juara ganda putri didapat Liu Sheng Shu/Tan Ning (China) setelah memenangi persaingan ketat dengan pasangan Malaysia, Pearly Tan/Thinaah Muralitharan. Liu/Tan menang 23-25, 12-21, 21-19 setelah berjuang selama satu jam 27 menit.


Kerabat Kerja

Penulis:

Yulia Sapthiani, Rebiyyah Salasah
 | 

Editor:

Yulvianus Harjono
 | 

Penyelaras Bahasa:

Rosdiana Sitompul