Menghadapi Messi jadi hal istimewa bagi para pemain Jordania, Aljazair, dan Austria di Grup J. Namun, mereka tak boleh silau dengan sang bintang Argentina.
10 Jun 2026 14:00 WIB · Olahraga
AFP
Seorang bocah belum jua meniup lilin ulang tahun ketujuhnya, tetapi begitu lantang dan percaya diri ketika berbicara di depan kamera. Aksinya di atas lapangan lebih memesona.
Si bocah yang pernah mendapat polesan dari akademi Barcelona disebut sudah punya mentalitas profesional sedari belia. Ketika berada di kakinya, si kulit bulat seolah jadi kepanjangan dari tubuhnya.
”Dia memiliki cara berpikir yang membuatnya merasa bahwa bola adalah bagian dari dirinya dan dia bermain dalam semangat tim,” demikian kesaksian seorang pelatih yang membina bakat bocah muda tersebut.
Kita tak sedang berbicara tentang talenta spesial dari Rosario, Argentina, yang kemudian tumbuh jadi legenda Barcelona dan megabintang sepak bola dunia, Lionel Messi. Talenta itu bernama Odeh al-Fakhouri.
”Saya ingin menjadi lebih baik dari Messi dan lebih baik dari Cristiano Ronaldo,” kata Fakhouri pada 2013 dalam wawancara dengan televisi Jordania, Roya News.
Fakhouri (20), yang kini bermain untuk klub Mesir, Pyramids, mungkin masih jauh dari level Messi. Akan tetapi, ia sudah jadi bagian dari sejarah dengan turut mengantar Jordania lolos ke Piala Dunia untuk pertama kali.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/10/140baccdce49941600f7a497a6c80cdf-1000241544.jpg)
Jalan takdir membawa Jordania satu grup dengan sang juara bertahan Argentina di Piala Dunia 2026. Fakhouri yang masuk daftar skuad sementara Jordania pun berkesempatan mewujudkan mimpinya pada 2013 untuk mengungguli Messi.
”Tentu saja, kami berharap Messi akan hadir karena berita yang beredar sekarang tidak mengonfirmasi kehadiran atau ketidakhadiran Messi. Saya berharap ia hadir karena ia masih menjadi ikon sepak bola. Jadi, pertandingannya akan sangat menarik,” ujar pelatih Jordania yang berpaspor Maroko, Jamal Sellami.
Potensi pertemuan dengan Messi jadi seperti ”kemenangan” yang datang lebih awal. Hasil undian Piala Dunia 2026 yang digelar di Washington DC, akhir tahun 2025, pun dirayakan oleh kubu Austria dan Aljazair, dua tim lain yang melengkapi komposisi Grup J.
”Menghadapi Lionel Messi dalam ajang yang mungkin akan menjadi Piala Dunia terakhirnya adalah sesuatu yang istimewa bagi kami. Kami sangat menantikannya,” kata pemain Austria, Christoph Baumgartner, di Kronen Zeitung.
Peramu taktik Aljazair, Vladimir Petkovic, meminta pemainnya untuk merasakan betul setiap momen perjumpaan dengan Messi yang akan jadi laga pembuka tirai Grup J pada 16 Juni 2026 di Kansas City, Amerika Serikat.
”Grup yang sangat menarik. Sebuah grup yang terdiri atas tiga tim yang harus bermain untuk posisi kedua,” tutur Petkovic.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/05/29/f4676223-8344-4f89-9f38-071a7fe95001.jpg)
Messi sendiri terus berusaha berada di level tertinggi. Dalam usia menjelang kepala empat, Messi diharapkan bisa memimpin Argentina mengikuti jejak Italia (1934, 1938) dan Brasil (1958, 1962) sebagai negara yang sukses menjuarai Piala Dunia dalam dua edisi berurutan. Pertanyaan tentang partisipasi Messi pun memenuhi bahasan seputar timnas Argentina menjelang Piala Dunia 2026.
Tak ada yang meragukan kualitas Messi, pemilik delapan Ballon d’Or. Namun, pemain tersubur sepanjang masa Argentina dengan 115 gol itu sadar fisiknya tak lagi sama. Sejak bergabung dengan Inter Miami pada 2023, waktu bermain Messi benar-benar diatur. Ia tak harus selalu melahap 90 menit.
Bersama Rangnick, Austria berkembang menjadi mesin pressing efektif yang bisa memukul lawan dengan skema transisi.
Messi terkadang hanya muncul sejenak untuk memuaskan antusiasme penonton atau bahkan menyaksikan laga di tribune stadion karena cedera hamstring yang beberapa kali menerpanya.
Messi mengatakan tak mau jadi beban untuk tim di Piala Dunia 2026. Di sisi lain, Pelatih Argentina Lionel Scaloni pernah bilang bahwa ia siap melakukan segala cara untuk memastikan partisipasi Messi.
Messi tak bisa dimungkiri adalah nyawa tim ”Tango”. Namun, Scaloni telah menunjukkan bahwa Argentina tetap jadi tim yang sama bahayanya ketika Messi tak ada dalam susunan pemain utama.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/06/8c4d2daece8a630b3e6d54ceeaa01d49-FOI_SOC_SPO_ARGENTINA_TRAINING_CAMP_138763424.jpg)
”Ya, ini adalah malam ketika tak ada seorang pun yang mengingat Messi,” tulis Andres Eliceche, jurnalis media Argentina, La Nacion.
Penilaian itu muncul sesaat setelah Argentina yang mentas tanpa Messi menghajar Brasil, 4-1, pada laga kualifikasi Piala Dunia 2026, Maret 2025.
Minus Messi, Argentina yang masih memiliki bakat-bakat seperti Emiliano Martinez, Alexis Mac Allister, Enzo Fernandez, Rodrigo De Paul, Lautaro Martinez, dan Julian Alvarez masih tahu caranya bermain bola dan mengejawantahkan ”Scaloneta”, gaya yang selama ini terbangun di era kepelatihan Scaloni.
Argentina tak kehilangan identitas sebagai unit yang kuat dalam penguasaan bola dan mengelola ruang.
Karena itu, pesaing Argentina di Grup J pun pantang terlalu silau dengan kebesaran Messi. Pelatih Austria, Aljazair, dan Jordania mungkin bisa mereplikasi kata-kata pelecut semangat milik Herve Renard.
Ketika membawa Arab Saudi menuai kemenangan mengejutkan atas Argentina di Piala Dunia 2022, Renard tak ingin melihat pemainnya beraksi di lapangan hanya untuk berfoto dengan Messi.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2022/11/24/f03cc5ec-cfd5-4a3f-9c41-987ce07f8b04.jpg)
Austria yang dilatih maestro gegenpressing, Ralf Rangnick, punya modal. Bersama Rangnick, Austria berkembang menjadi mesin pressing efektif yang bisa memukul lawan dengan skema transisi.
Austria menonjol dalam aspek passes per defensive action (PPDA). PPDA merupakan metrik untuk mengukur intensitas pressing sebuah tim dengan melihat berapa banyak operan lawan di lini tengah atau lini serang sebelum tim bertahan mematahkan konstruksi permainan itu.
Di sisi lain, Aljazair memiliki talenta ofensif apik, seperti Riyad Mahrez, dan bakat muda Ibrahim Maza, yang kerap dilabeli julukan ”Mazadona”, merujuk kepada legenda Argentina, Diego Armando Maradona.
”Aljazair adalah tim yang sangat bagus dengan pemain-pemain luar biasa dan kumpulan talenta yang mengesankan, yang memasok pemain ke Perancis dan negara-negara lain,” ujar Scaloni.
Sementara bagi Jordania, kemampuan analitis Sellami menjadi bekal untuk mengagetkan Argentina. Sarjana sains itu mengandalkan pakem 3-4-3 yang bisa bertransformasi menjadi 5-4-1 saat bertahan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/04/10c22d74005d64fde89edcd7536f80aa-20260604_ANU_Top_Skor1_Piala_Dunia_mumed.jpg)
Tujuannya adalah meredam lawan di area tengah, lalu memukul begitu bola kembali direbut, memanfaatkan penetrasi bek sayap yang berubah fungsi sebagai unit ofensif di sisi terluar. Selama kualifikasi, Jordania menuai kemenangan nyaman atas Oman dan Palestina, serta mampu mencuri poin dari langganan Piala Dunia, Korea Selatan.
”Austria menjalani kualifikasi yang hebat, mereka juga lawan yang tangguh. Jordania adalah yang paling kurang dikenal, tetapi kami tidak menganggap remeh. Jika mereka sampai sejauh ini, pasti ada alasannya,” kata Scaloni.
Jordania pun boleh percaya diri menatap partisipasi perdana mereka di Piala Dunia. Mereka atau tim-tim lain di Grup J bisa berpegang pada mimpi tinggi seorang Odeh al-Fakhouri walaupun jelas tak akan pernah mudah untuk menjadi lebih baik daripada Messi. Meminjam kata Petkovic, tiga tim lain di Grup J sudah akan sangat bahagia untuk satu tempat di peringkat kedua.
Penulis:
Sem Bagaskara Wartawan Tabloid Bola 2013-2018Editor:
Prasetyo Eko Prihananto, Yulvianus HarjonoPenyelaras Bahasa:
Amin Iskandar