Tuntutan penghentian kekerasan terhadap perempuan menggema pada peringatan Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan Sedunia di banyak negara.
27 Nov 2025 12:50 WIB · Internasional
AP/Emrah Gurel
Ratusan pasang sepatu berwarna pink berjajar rapi memenuhi tangga sebuah bangunan kuno di Lyon, Perancis, Selasa (25/11/2025). Empat perempuan berpakaian serba hitam dengan topeng berdiri mengacungkan poster di tangga paling tinggi dalam aksi memperingati Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan Sedunia.
Di Turki, lebih dari 2.000 pengunjuk rasa turun ke jalan mengecam masih terjadinya tindak kekerasan berbasis jender. Setengah dari kasus pembunuhan perempuan masih belum terpecahkan di negara ini. Sambil meneriakkan nama-nama korban, para demonstran, sebagian besar perempuan, berbaris di sepanjang Jalan Istiklal yang ramai.
Sebelumnya, unjuk rasa di Turki untuk memperingati Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan Sedunia dan Hari Perempuan Internasional pada bulan Maret,diwarnai tindakan keras polisi dan banyaknya pengunjuk rasa yang ditangkap.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2025/11/27/5b77737a-bfa9-4b48-9c18-d8f449f56ff5.jpg)
Sementara itu, di Meksiko pengunjuk rasa turun jalan dengan membawa tuntutan yang sama, hentikan kekerasan terhadap perempuan. Angka kriminalitas di Meksiko tercatat rata-rata 10 perempuan atau anak-anak tewas setiap hari.
Alejandra Perez, perempuan pengacara, mengatakan, dia hidup dalam ketakutan setiap hari karena kekerasan yang dialaminya dari mantan pasangan membuatnya cacat sementara.
Namun, perempuan berusia 37 tahun itu memberanikan diri untuk bergabung dalam unjuk rasa guna mengecam impunitas banyak pelaku kekerasan berbasis jender di Meksiko. Ia berbaris sambil memegang poster yang memperlihatkan pria yang dituduh telah menyerangnya.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melaporkan bahwa 70 persen perempuan Meksiko berusia di atas 15 tahun pernah mengalami beberapa bentuk serangan setidaknya sekali dalam hidup mereka. Catatan parlemen Meksiko menyebutkan, 3.430 perempuan meninggal karena kekerasan pada tahun 2024. Sebanyak 829 tergolong kejahatan femisida, kejahatan yang didefinisikan sebagai pembunuhan yang dimotivasi oleh jenis kelamin korban.
Meksiko sedang mengalami gelombang semangat feminisme. Hal ini dipicu oleh kemarahan atas tingginya jumlah penyerangan terhadap perempuan dan impunitas atau pengampunan terhadap para pelaku.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/11/27/8efcae01-1d57-4c61-9f98-3fbc378d7e78_jpg.jpg)
Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum baru-baru ini meluncurkan gerakan nasional melawan pelecehan dan kekerasan seksual. Gerakan ini dipicu beredarnya video yang memperlihatkan seorang laki-laki mabuk menyentuhnya saat sedang berpidato di tempat umum.
Perempuan pemimpin negara pertama di Meksiko itu menyampaikan rencana untuk memastikan hukuman penjara bagi kasus pelecehan seksual di seluruh Meksiko dan mendorong perempuan untuk melaporkan insiden tersebut kepada polisi.
Momen Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan, yang jatuh pada 25 November setiap tahun, dimanfaatkan kalangan aktivis dan perempuan di seluruh dunia untuk mencegah dan menghentikan kekerasan terhadap perempuan. (AP/AFP/REUTERS)
Penulis:
Ignatius Danu KusworoEditor:
Heru Sri KumoroPenyelaras Bahasa:
Nanik Dwiastuti