Pengeluaran yang makin tinggi bertolak belakang dengan penghasilan yang terbatas. Hidup hemat dengan menyesuakan kebutuhan adalah pilihan agar bisa tetap bertahan.
10 Mar 2025 05:30 WIB · Investigasi
JAKARTA, KOMPAS — Hidup dengan penghasilan yang pas-pasan, memaksa warga melakukan penghematan pengeluaran sehari-hari. Ada sejumlah komponen pengeluaran yang dapat dikurangi sesuai dengan pilihan masyarakat. Ada juga komponen lain, seperti pajak, asuransi, dan perumahan yang justru mengisi porsi pengeluaran semakin besar karena besarannya tergantung dari kebijakan pemerintah.
Tim Jurnalisme Data Harian Kompas mengolah data rata-rata bulanan pengeluaran per kapita tahun 2015-2024 dari Badan Pusat Statistik (BPS). Pada pengeluaran bukan makanan, proporsi pengeluaran untuk pembelian barang tahan lama, aneka barang dan jasa, serta pakaian, alas kaki, dan tutup kepala, nilainya terus menurun.
Tahun 2015, proporsi konsumsi masyarakat untuk membeli barang tahan lama, seperti peralatan rumah tangga dan olahraga, buku, mainan, barang elektronik, dan kendaraan bermotor, sebesar 10,5 persen. Tahun 2024, angka ini turun menjadi 7 persen dari total pengeluaran non-makanan.
Hal yang sama terjadi pada pengeluaran untuk pembelian aneka barang dan jasa, seperti biaya obat dan pendidikan, serta jasa hiburan, transportasi, dan akomodasi. Semula tahun 2015 proporsinya sebesar 25,1 persen dan tahun 2024 turun menjadi 24,1 persen. Begitu juga proporsi pembelian pakaian, alas kaki, dan tutup kepala yang semula 5,6 persen pada tahun 2015 menjadi 4,7 persen di tahun 2024.
Alia (36), warga Jakarta Selatan, terpaksa menghentikan sekolah anaknya yang duduk di bangku pendidikan anak usia dini (PAUD). ”Anak saya berhenti sekolah karena biayanya mahal, hampir Rp 4 juta per bulan,” ucapnya, Kamis (13/2/2025).
Hal itu terpaksa dilakukan setelah Alia mengalami pemutusan hubungan kerja dari sebuah perusahaan marketing technology pada Oktober 2024. ”Namun, nanti kalau (anak saya) sudah usia taman kanak-kanak harus sekolah lagi,” ujar Alia.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/09/d7d8a278-bb4b-4b49-a9d0-6b179f0a4753_png.png)
Di sisi lain, proporsi pengeluaran perumahan dan fasilitas rumah tangga, serta pengeluaran pajak, pungutan, dan asuransi justru semakin naik. Tahun 2015, proporsi pengeluaran untuk perumahan dan fasilitas rumah tangga, seperti untuk kredit rumah, sebesar 51,3 persen dan tahun 2024 menjadi 52,3 persen.
Begitu juga dengan proporsi pengeluaran untuk pajak, pungutan, dan asuransi. Semula tahun 2015 hanya 4,2 persen dari total pengeluaran bukan makanan. Tahun 2024 proporsinya naik menjadi 8,1 persen. Pengeluaran ini dibayarkan sesuai dengan kebijakan yang diatur pemerintah.
Indikasi penghematan oleh warga terlihat salah satunya pada penurunan penjualan mobil penumpang, jenis barang tahan lama. Penurunan penjualan mobil penumpang ini di antaranya terjadi pada mobil sedan, mobil berpenggerak 4x2 dan 4x4, serta mobil hemat energi dan terjangkau (LCGC). Hal ini merujuk pada data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) dua tahun terakhir.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/12/14cf2184-7437-443b-bac4-a915a366c251_jpg.jpg)
Tahun 2024, jumlah penjualan mobil penumpang sebanyak 672.986 unit. Angka ini turun 13,6 persen dibandingkan dengan jumlah penjualan tahun 2023 sebanyak 779.326 unit. Angka ini pun masih lebih rendah 0,5 persen dibandingkan dengan penjualan mobil di tahun 2022 yang mencapai 783.563 unit.
Pertumbuhan penjualan sepeda motor juga melambat beberapa tahun terakhir. Data Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) mencatat, tahun 2024 total penjualan motor di pasar domestik sebesar 6,3 juta unit. Angka ini hanya tumbuh 1,5 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Padahal, tahun 2023 pertumbuhannya mencapai 19,4 persen.
Indikasi lainnya dari pengeluaran konsumsi rumah tangga untuk transportasi dan komunikasi dalam struktur produk domestik bruto (PDB), pertumbuhan tahunannnya melambat tiga tahun terakhir ini. Tahun 2022, konsumsi untuk transportasi dan komunikasi tumbuh menguat 9,38 persen dari tahun 2021 yang hanya tumbuh 2,59 persen. Namun, tahun 2023, tumbuh melambat menjadi 7,59 persen dan tahun 2024 kembali melemah menjadi 6,56 persen.
Hal serupa terjadi pada konsumsi rumah tangga untuk pakaian, alas kaki, dan jasa perawatan. Tahun 2022, pertumbuhan untuk pengeluaran ini sebesar 4,3 persen. Tahun 2023 menguat menjadi 4,5 persen, tetapi tahun 2024 melemah cukup tajam menjadi 2,5 persen.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/10/30/ec86c9d5-69bf-4055-8aff-9b82ad5e4547_jpg.jpg)
Maskel (26), warga Kabupaten Tangerang, Banten, sudah setahun ini menghentikan hobi otomotifnya. Sebelumnya dia sering melakukan modifikasi spare part pada sepeda motornya. Sejak dia mulai membayar kredit rumah, hobi tersebut dihentikan.
”Udah cukup (hobinya). Pokoknya pernah merasakan di fase itu. Sekarang pokoknya (keluar) uang untuk yang penting-penting saja,” kata perawat rumah sakit swasta tersebut.
Sementara Iyus (40) menjual mobil satu-satunya yang ia beli secara kredit setelah kena pemutusan hubungan kerja (PHK). Ia terpaksa melakukan itu untuk mengurangi beban utang agar dua anaknya tetap bisa sekolah. Setelah tak memiliki mobil, mereka sekeluarga harus beralih mengandalkan transportasi umum.
”Pengeluaran apa pun (termasuk cicilan mobil) yang sifatnya bukan untuk kebutuhan pokok harus dikurangin. Toh, kalau engga punya mobil, saya masih punya banyak opsi lain, misalnya naik motor atau transportasi umum,” ucapnya, Senin (17/2/2025).
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/02/03c0a53a59193b1765af1589aa0e81ca-DSC08439.jpg)
Sementara nilai impor pakaian bekas meningkat. Data BPS tahun 2024 menunjukkan, nilai impor pakaian bekas di Indonesia sebesar 1.350.710 dollar AS atau setara Rp 21,6 miliar. Angka ini tercatat paling tinggi dalam lima tahun terakhir. Sebelumnya tidak pernah mencapai lebih dari 500.000 dollar AS.
Tingginya nilai impor pakaian bekas di Indonesia tidak lepas dari minat dan permintaan warga pada produk itu. Pakaian bekas menjadi salah satu opsi warga untuk memenuhi kebutuhan pakaian, alas kaki, dan tutup kepala dengan harga lebih terjangkau.
Yunita (24), karyawan swasta bergaji setara upah minimum di Jakarta, mengaku sudah lama tidak berbelanja baju di mal. Hampir setiap bulan, ia menyempatkan berbelanja baju bekas atau thrifting di sejumlah lokasi, seperti Blok M, Jakarta Selatan, dan Pasar Senen, Jakarta Pusat.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/07/2324454cb2cb823b89e85322b85fb607-IMG_8084_Edit.JPG)
Alasan Yunita berbelanja baju bekas salah satunya karena harganya lebih ekonomis. Ia juga paham saat ini banyak tren fast fashion atau mode cepat yang menuntut Yunita mengikuti gaya model berbusana kekinian. Maka dari itu, dengan uang yang terbatas, ia dapat tetap memiliki baju-baju model terbaru.
”Daripada beli baju di mal terus, kayak cuma dapat satu doang. Kenapa enggak beli di Pasar Senen, dengan harga yang sama, tapi dapat banyak baju,” cerita Yunita ketika ditemui Kompas pada Kamis (20/2/2025).
Andika (21), mahasiswa tingkat akhir asal Sulawesi Tengah, mengaku sudah jarang berbelanja baju di mal. Belanja di mal hanya dilakukannya sebagai self reward, penghargaan pada diri sendiri. Kebutuhan baju kini biasa ia dapat dari lokapasar. Selebihnya ia berbelanja baju bekas ketika berkunjung di Jakarta.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/07/c281283172c96553150ca3f42e2828a1-IMG_8077.JPG)
Selain mengunjungi kakak tertuanya, setiap ke Jakarta Andika tidak pernah absen membeli baju bekas di Pasar Senen. Setiap kali berbelanja, ia biasanya mematok anggaran maksimal Rp 250.000. Dengan uang itu, ia bisa memperoleh empat hingga enam potong kemeja.
”Setiap ke Jakarta, wahana liburan yang paling menarik, ya, belanja baru di Pasar Senen ini. Alasannya, yang pasti lebih murah. Selain itu, paling mentok di Shopee aja. Jarang sih kayak, misalnya, nyari baru di mal. Udah jarang banget,” kata Andika, Kamis (20/2/2025).
Andika hidup hemat karena uang saku orangtuanya masih terbatas. Agar dapat memiliki uang jajan lebih, ia bekerja sampingan sebagai barista di sebuah kafe di Sulawesi Tengah.
Penghematan yang dilakukan warga terjadi karena nilai upah yang mengalami stagnasi. Peneliti senior The PRAKARSA, Setyo Budiantoro, mengatakan, merasa bersyukur inflasi di Indonesia tahun ini tidak terlalu tinggi, tetapi akibatnya ekonomi juga tidak terlalu jalan. Akibatnya, daya beli warga melemah.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/07/fe3e4364d3b6fb9153f4e5a8d3a8463c-IMG20250214164303.jpg)
”Hal ini menyebabkan persentase konsumsi untuk makanan itu meningkat. Sementara untuk kebutuhan sekunder dan tersier berkurang. Pendapatan (yang stagnan) itulah yang mengubah perilaku hidup masyarakat,” kata Budi, Jumat (14/2/2025).
Menurut Budi, warga kategori miskin biasanya berkonsumsi paling banyak untuk makanan. Jika kondisi ekonomi sudah relatif baik, konsumsi akan merambah lebih banyak ke kebutuhan sekunder, seperti sepatu, topi, dan pakaian. Kemudian lanjut ke konsumsi lebih mewah, seperti barang elektronika, motor, atau mobil.
”Semua turun konsumsi kebutuhan non-makanan itu. Karena itu, ketika ekonomi kemudian bermasalah, bagaimanapun juga warga itu melakukan adjustment (penyesuaian) supaya tetap bisa survive (bertahan),” lanjut Budi.
Untuk mengikuti liputan tema ini selengkapnya, kami mengajak Anda bergabung dalam grup Whatsapp Pembaca Kompas ”Investigasi & Jurnalisme Data” dengan mengeklik tautan link ini.
Kami juga ingin mendengarkan pandangan Anda tentang artikel ini melalui survei lewat berikut ini.
Penulis:
Albertus Krisna, M Paschalia Judith, M Puteri Rosalina, Pandu WiyogaEditor:
Andy Riza Hidayat, Margaretha Puteri RosalinaPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .