Ajang Indo Defence 2024 juga menjadi tempat untuk mengintip industri dirgantara di masa depan. Salah satunya melihat rancangan ”taksi terbang” yang segera mengudara.
12 Jun 2025 10:18 WIB · Politik & Hukum
Dikelilingi para raksasa teknologi pertahanan dari berbagai negara tidak mengendurkan rasa percaya diri anak bangsa dalam memamerkan produknya di ajang Indo Defence 2024 Expo and Forum. Ketika visi dan komitmen dijalankan dengan konsisten, satu demi satu jalan itu terbuka.
Wajah semringah terpancar dari wajah Moh Arif Faisal, Direktur Niaga PT Dirgantara Indonesia (PTDI), pada Rabu (11/6/2025) siang. Sebab, di pagi hari, Kementerian Pertahanan meneken kontrak pembelian 6 helikopter angkut berat AW189 dengan PTDI di ajang Indo Defence 2024 Expo and Forum dengan disaksikan Presiden Prabowo Subianto. Pameran militer tersebut berlangsung 11-14 Juni 2025.
AW189 adalah helikopter bermesin ganda yang memiliki kecepatan jelajah maksimum 155 knot. Helikopter diproduksi Leonardo Helicopters atau sebelumnya bernama AgustaWestland yang berbasis di Italia. Helikopter tersebut dirancang untuk berbagai tugas, seperti operasi lepas pantai, pencarian dan penyelamatan, hingga transportasi personel.
Keenam helikopter itu nantinya terdiri dari 2 unit helikopter VVIP, 2 unit helikopter VIP, dan 2 unit helikopter untuk transportasi. Selain menyediakan 6 unit helikopter, PTDI juga memberikan pelatihan dan penyediaan suku cadang. Jika tidak ada aral melintang, helikopter tersebut akan mulai diserahkan ke Kemenhan maksimal 3 tahun setelah kontrak ditandatangani. Meski begitu, Arif tidak bisa mengungkap nilai kontrak pembelian 6 helikopter tersebut.
China itu hanya mengembangkan pesawat-pesawat jet. Sementara untuk yang sifatnya ’general aviation’, mereka tidak mengembangkan ke arah sana.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/11/db236505f8c2e58796b4dabd3535d8dc-WhatsApp_Image_2025_06_11_at_21.42.33_1_.jpeg)
Dalam kontrak tersebut, kata Arif, PTDI akan merakit komponen helikopter AW189. Ke depan, secara bertahap PTDI akan meningkatkan kapasitasnya untuk bisa memiliki fasilitas approved maintenance center guna merawat helikopter itu di dalam negeri.
”Ini merupakan kepercayaan Pemerintah Indonesia, dalam hal ini Kemenhan, terhadap PTDI, termasuk untuk meningkatkan kapabilitas PTDI karena ke depan sebenarnya targetnya pesawat ini harus dijaga sustainability-nya,” tutur Arif.
Selain penjualan, kata Arif, PTDI juga berupaya untuk mendorong penjualan pesawat N219 ke kancah pasar yang lebih luas, baik di dalam negeri maupun global. Berbeda dari kakak-kakaknya yang sudah lebih dulu merajai pasaran, yakni CN235 dan NC212, PTDI ingin N219 tidak hanya digunakan untuk kepentingan militer, tetapi juga kebutuhan penerbangan sipil atau komersial.
N219 adalah pesawat dengan dua mesin yang didesain agar mampu melayani wilayah terpencil dengan infrastruktur yang terbatas. Untuk itu, N219 dapat menampung sampai 19 penumpang dan dapat lepas landas dan mendarat di landasan pendek, yakni 600-800 meter. PTDI juga mengembangkan N219 varian amfibi yang mampu mendarat dan lepas landas di air.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/14/12e849fb6111d4c023068c6bb0e250db-WhatsApp_Image_2025_03_14_at_22.53.03_1_.jpeg)
Saat ini, PTDI tengah mengerjakan pesanan dari Kemenhan sebanyak 6 unit N219. Pesanan juga datang dari PT Indo Aviasi Perkasa sebanyak 2 unit, serta dari Pemerintah Demokratik Republik Kongo melalui Setdco Group sebanyak 5 unit.
Progres terkini, kata Arif, PTDI juga tengah memproses letter of intent (LoI) dari salah satu operator penerbangan di China untuk pembelian 25 unit N219. Ketertarikan itu datang setelah PTDI mengikuti ajang pameran kedirgantaraan di Zhuhai tahun lalu. Salah satu yang penting dalam proses pembelian itu adalah tentang sertifikasi pesawat yang saat ini tengah dibicarakan otoritas penerbangan China dengan otoritas penerbangan di Indonesia.
”China itu hanya mengembangkan pesawat-pesawat jet. Sementara untuk yang sifatnya general aviation, mereka tidak mengembangkan ke arah sana,” kata Arif.
Arif menuturkan, untuk melayani kebutuhan pembeli dari luar negeri, PTDI dapat menyesuaikan kebutuhan dan persyaratan yang diberikan, seperti kemungkinan untuk perakitan dan perawatan pesawat di China. Tak hanya itu, PTDI juga membuka kemungkinan pembuatan beberapa suku cadang di China. Saat ini, tingkat komponen dalam negeri (TKDN) pesawat N219 mencapai 44 persen.
Sementara untuk pasar komersial di dalam negeri, menurut Arif, pihaknya tengah berupaya membangun ekosistem. Untuk itu, PTDI menjadikan ajang Indo Defence 2025 sebagai momentum untuk mengundang para pihak terkait, seperti operator, pengguna pesawat, pemilik pesawat, serta manufaktur untuk memperluas kemitraan, termasuk menjajaki kemungkinan perluasan pasar, termasuk ke pemerintah daerah.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/11/031536f7172753f90aa9b03fff1d0d49-WhatsApp_Image_2025_06_11_at_21.42.32.jpeg)
Selain memenuhi kebutuhan masa kini, ajang Indo Defence 2024 juga menjadi tempat untuk mengintip industri dirgantara di masa depan. Gambaran manusia yang lalu lalang dari satu gedung ke gedung lain di perkotaan dengan kendaraan terbang yang diawaki dua orang tampaknya tidak lama lagi akan terwujud.
Di ajang Indo Defence 2024, PTDI juga memamerkan prototipe pesawat taksi terbang, sebuah pesawat berkonsep e-VTOL atau lepas landas dan mendarat secara vertikal. Pesawat itu merupakan kerja sama PTDI dengan PT Vela Prima Nusantara (Vela) untuk mengembangkan Vela Alpha.
Direktur Program dan Operasi PT Vela Prima Nusantara Kevin Phang menuturkan, pesawat yang kini tengah dirancang tersebut memiliki konfigurasi lift and cruise atau perpaduan antara helikopter dan pesawat sayap tetap. Pesawat tersebut dirancang untuk menampung 6 penumpang untuk mobilisasi di kawasan perkotaan dan sekitarnya.
”Kami memberikan 2 opsi jenis tenaga, satu, tenaga listrik sepenuhnya atau, satu lagi, hybrid. Pesawat listrik jelas akan dioperasikan di dalam kota. Sedangkan untuk hybrid adalah untuk antarkota dengan jarak maksimum 160 km untuk listrik dan 500 km untuk hybrid,” tutur Kevin.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/11/79a02d872cd0a247e6355135b7d98f6b-WhatsApp_Image_2025_06_11_at_21.42.33.jpeg)
Saat ini, kata Kevin, pihaknya sudah menyelesaikan pesawat demonstrator dengan skala 1:3 yang saat ini sedang menjalani program uji terbang. Sementara itu, kini tengah dibangun pula pesawat dengan skala 1:1 menggunakan komponen yang ada di pasar bersama dengan PTDI.
Menurut Kevin, direncanakan pesawat itu akan mulai dipasarkan pada akhir 2028 untuk yang bermesin listrik. Di sisi lain, pihaknya juga mengawal regulasi terkait dengan pesawat jenis VTOL tersebut.
Selain pesawat taksi terbang besutan Vela, PTDI juga menjalin kolaborasi dengan PT Intercrus Aero Indonesia (Intercrus) dalam pengembangan Intercrus SOLA, sebuah multicopter berkapasitas tiga penumpang yang juga berada dalam kategori Advanced Air Mobility (AAM). Di Indo Defence, dihadirkan prototipe skala 1:7.
Menurut Founder dan CEO Intercrus Jeremy Hasian Saragih, desain multicopter yang diusung memang berbeda dengan pesawat VTOL karena lebih ringkas. Hal itu dimaksudkan agar Intercrus SOLA dapat dioperasikan untuk kebutuhan perkotaan. Ke depan, pihaknya akan terus menyempurnakan pesawat itu hingga skala penuh dan dapat dioperasikan dengan kecepatan dan ketahanan lebih tinggi.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/11/bc4f994b78ea9ae26372ea8e731d4d93-WhatsApp_Image_2025_06_11_at_21.42.33_2_.jpeg)
”Target market kami awalnya ini akan masuk ke militer. Di 2027 dan 2028 kami targetkan sudah ke market,” ujar Jeremy.
Jeremy melihat, mobilitas masyarakat ke depan akan berubah dan berkembang sementara infrastruktur jalan terbatas. Oleh karena itu, pesawat rancangannya tersebut diharapkan dapat memenuhi kebutuhan mobilitas masyarakat urban di masa depan.
Terkait dengan hal itu, Arif meyakini, gambaran masyarakat perkotaan yang lalu lalang dengan kendaraan terbang bukan lagi fantasi yang terlalu tinggi. Teknologi yang terus berkembang akan segera mewujudkan bayangan itu. Dia meyakini, anak-anak muda Indonesia akan segera mewujudkannya.
Penulis:
Norbertus Arya Dwiangga MartiarEditor:
Cyprianus Anto SaptowalyonoPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .