Tanpa mengurangi peran pemain lain, ketajaman Ole Romeny ialah kunci timnas Indonesia guna lolos ke Piala Dunia 2026. Kualitas serangan ”Garuda” masih mengecewakan.
09 Sep 2025 13:59 WIB · Olahraga
Dua pertandingan uji coba di Stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya, Jawa Timur, September ini, menegaskan gelagat kecanduan tim nasional Indonesia akan Ole Romeny. Ia ibarat opium bagi ketajaman lini serang anak asuhan Patrick Kluivert. Tanpa dia, cakar ”Garuda” menumpul.
Hasil imbang tanpa gol alias 0-0 kontra Lebanon, Senin (8/9/2025) malam, adalah potret kualitas timnas Indonesia. Jay Idzes dan kawan-kawan semakin kompak dan tangguh dalam bertahan, tetapi kehabisan akal dalam kreasi peluang.
Alhasil, kemenangan besar atas Taiwan, tiga hari sebelumnya, tidak lebih dari sebuah pertandingan hiburan. Gol-gol itu menyunggingkan senyum kepada pencinta timnas Indonesia sebelum kembali seret gol ketika menghadapi laga sesungguhnya di putaran keempat pra-Piala Dunia 2026, Oktober nanti.
Bermain tanpa Ole yang masih dalam tahap pemulihan cedera, Kluivert mencoba Mauro Zijlstra sebagai penyerang utama untuk menembus pertahanan Lebanon. Bermain selama 56 menit, Mauro yang membela tim Liga Belanda, Volendam, gagal memiliki peluang ciamik. Hanya sebuah tembakan tidak tepat sasaran yang mewarnai debutnya sebagai pemain inti tim Garuda.
Penyerang lainnya, Ramadhan Sananta, bermain hanya tujuh menit. Tidak ada upaya ofensif menonjol yang ditampilkan pemain DPMM FC di Liga Malaysia itu. Sananta sekadar berkontribusi untuk menyodorkan dua operan sukses.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/09/08/d2b61698b507e3e2c3481505d35b60f0-20250908BAH11.jpg)
Penampilan Mauro dan Sananta memperlihatkan mereka belum berada di level setara dengan Ole. Tentu, hal itu tidaklah sepenuhnya kesalahan para pemain.
Mauro masih perlu waktu bermain dengan rekan di timnas karena baru disumpah sebagai warga negara Indonesia beberapa hari sebelum laga, sedangkan Sananta juga butuh terus mengasah kemampuannya. Secara usia dan pengalaman, keduanya masih di bawah Ole.
Berusia 25 tahun, Ole adalah penyerang tengah paling senior dimiliki Indonesia saat ini. Kontrol bola, penempatan posisi, penciuman gol, hingga ketenangan di depan gawang, adalah atribut khas milik Ole.
Kami terus bermain ofensif, mencoba mencetak gol, tetapi gagal. Ini adalah kesempatan kami untuk memetik pelajaran. - Patrick Kluivert -
Tak heran, tiga gol yang diciptakan Indonesia dalam lima laga kontra tim setara—minus Taiwan—di era Kluivert hanya dihasilkan oleh pemain Oxford United itu. Australia, Bahrain, dan China telah merasakan ketajaman Ole. Ia hanya tidak berkutik ketika berjumpa Jepang yang berakhir kekalahan 0-6, 10 Juni lalu.
Melihat catatan gol itu, timnas Indonesia sangat bergantung kepada Ole. Kluivert belum mampu mengasah sumber gol lain Garuda. Bahkan, pemain seperti Marselino Ferdinan, Ragnar Oratmangoen, Thom Haye, dan Sandy Walsh, yang mencetak gol di putaran ketiga kualifikasi Piala Dunia 2026, gagal melanjutkan ketajaman mereka setelah estafet rezim dari Shin Tae-yong ke Kluivert.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/04/a5a11e92d76c4d2df879a7aebd00660e-20250604YGA01.jpg)
Jika tidak ingin menyebut lebih banyak pemain, Kluivert seharusnya bisa membantu untuk mengakselerasi kualitas permainan Mauro dan Sananta sesuai kebutuhan timnas. Berbekal predikat salah satu penyerang murni terbaik Belanda dalam sejarah, Kluivert ternyata belum mampu menularkan kemampuannya kepada dua penyerang mudanya itu.
Padahal, Kluivert dibekali ”kabinet” staf kepelatihan paling gemuk dalam sejarah timnas Indonesia. Juru taktik asal Belanda itu dibantu 14 tangan kanan, mulai dari asisten pelatih, pelatih pengembangan, pelatih kiper, pelatih fisik, analis performa, analis laga, nutrisionis, dokter tim, hingga fisioterapis.
Jumlah itu belum termasuk Direktur Teknik Alexander Zwiers, Penasihat Teknik Jordi Cruyff, Kepala Pencari Bakat Simon Tahamata, Manajer Sumardji, serta asisten teknik Gerald Vanenburg.
Kluivert menyebut gaya permainan ultradefensif Lebanon adalah biang keladi kegagalan timnya mempersembahkan kemenangan kedua untuk publik sepak bola Surabaya. Lebanon bermain dengan menempatkan lima pemain di jantung pertahanan.
Indonesia hanya bisa menciptakan sembilan tembakan dari 81 persen penguasaan bola. Parahnya, tidak ada satu pun tembakan itu yang tepat sasaran.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/07/17/306afe10-d08e-484a-89c7-08aaed0319fd_gif.gif)
Jadi, meskipun mayoritas durasi laga menyaksikan 10 rekan di depannya lebih sering mengejar bola, kiper Lebanon, Mostafa Matar, sama sekali tidak melakukan tepisan atau tangkapan.
”Kami kesulitan menciptakan peluang untuk mencetak gol. Kami terus bermain ofensif, mencoba mencetak gol, tetapi gagal. Ini adalah kesempatan kami untuk memetik pelajaran,” ucap Kluivert seusai laga.
Hasil akhir dalam sepak bola memang bisa disebabkan berbagai variabel. Pertahanan kuat lawan tentu menjadi penyebab Indonesia sulit membongkar pertahanan Lebanon. Selain itu, keberuntungan tidak memihak skuad Garuda.
Lebih dari itu, Indonesia seperti kehabisan akal untuk membongkar pertahanan Lebanon. Serangan hanya bersumbu dari kedua sisi sayap. Umpan silang jadi andalan.
Akan tetapi, pemain belakang Lebanon mampu menghalau atau membuat pemain Indonesia dalam situasi tidak ideal menerima umpan di dalam kotak penalti mereka.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/09/08/ae618149ddcc2978ed587412d867adf3-20250908BAH6.jpg)
Merujuk catatan Lapangbola, tidak ada satu pun umpan terobosan yang diciptakan pemain Indonesia. Padahal, bola-bola daerah adalah kegemaran Sananta, Mauro, Marselino, dan Miliano Jonathans. Bola terobosan membelah pertahanan sejatinya bisa menjadi alternatif mengacaukan blok pertahanan rendah lawan.
Jika membandingkan kuantitas operan di sepertiga akhir pertahanan lawan, duel melawan Lebanon menampilkan perbaikan dibandingkan menghadapi Taiwan. Indonesia menghadirkan 33 persen operan sukses di zona akhir pertahanan Lebanon. Jumlah itu berbanding 25 persen ketika unggul 6-0 atas Taiwan.
Namun, operan di dalam kotak penalti menurun. Melawan Taiwan, Thom Haye dan kawan-kawan melepaskan 27 operan sukses di kotak 16 meter. Menghadapi Lebanon, Indonesia hanya mencatatkan 12 operan akurat di dalam kotak penalti lawan.
Salah satu penyebab Garuda gagal menghasilkan satu pun tembakan tepat sasaran adalah buruknya akurasi umpan silang. Menempatkan dua pemain di tiap-tiap sisi sayap dalam formasi 4-2-3-1 tidak dibarengi umpan silang yang memadai untuk memanjakan pemain depan.
Skuad Indonesia hanya mengoleksi 20 persen umpan silang akurat. Persentase itu menurun dibandingkan rerata 26 persen umpan silang tepat sasaran pada 10 laga putaran ketiga kualifikasi Piala Dunia 2026 lalu.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/17/1c294bf4-72ee-4df4-aada-4c343992a1c3_png.png)
Sejumlah catatan statistik itu tentu menjadi bahan evaluasi bagi Kluivert. Apalagi, dua lawan Indonesia di putaran keempat, yaitu Arab Saudi dan Irak, memiliki kualitas jauh di atas Lebanon.
Hal itu bisa merujuk dari posisi peringkat FIFA terkini. Irak duduk di peringkat ke-58 dan Saudi ada di posisi ke-59. Adapun Lebanon hanya enam tingkat di atas Indonesia yang berada di peringkat ke-118.
Tak ayal, pemain Indonesia bakal kesulitan menguasai bola dominan seperti kontra Taiwan dan Lebanon. Dengan begitu, kualitas operan dan serangan harus lebih baik demi memanfaatkan durasi penguasaan bola lebih sedikit.
”Masih ada waktu untuk membenahi sentuhan akhir. Ada beberapa peluang, tetapi sentuhan akhir masih kurang. Mudah-mudahan, mereka (tim pelatih) bisa diskusi dan perdalam strategi apa yang akan disajikan (pada putaran keempat),” ujar Ketua Umum PSSI Erick Thohir.
Penulis:
Muhammad Ikhsan MaharEditor:
Yulvianus HarjonoPenyelaras Bahasa:
Nur Adji