Bodo/Glimt membuktikan predikat pembunuh raksasa bukanlah kebetulan belaka. Inter jadi korban terbaru setelah City dan Atletico. Peluang Inter ke 16 besar mengecil.
19 Feb 2026 07:40 WIB · Olahraga
AP
BODO, KAMIS — Jangan pernah remehkan Bodo/Glimt saat tampil di markasnya. Dinginnya suhu Kota Bodo di Norwegia bahkan mampu membekukan Inter Milan sehingga takluk 1-3 dari Bodo/Glimt pada playoff 16 besar Liga Champions Eropa, Kamis (19/2/2026) dini hari WIB. Stadion Aspmyra, markas Bodo/Glimt, lagi-lagi jadi kuburan para raksasa Eropa.
Hasil tersebut memperberat langkah Inter melaju ke fase gugur. ”Nerazzurri” setidaknya perlu mencetak tiga gol tanpa kebobolan untuk lolos tanpa melalui drama adu penalti. Di sisi lain, kemenangan Bodo/Glimt tergolong mengejutkan lantaran mereka tidak lebih diunggulkan dibandingkan Inter jelang laga itu.
Bodo/Glimt bahkan mampu unggul lebih dulu melalui Sondre Fet pada menit ke-20. Terkepung oleh inisiatif menyerang Inter sejak awal laga, Bodo/Glimt justru sanggup mengancam lewat permainan bola-bola pendek cepat. Gol Fet berawal dari skema umpan pendek kombinasi antara Hakon Evjen, Kasper Hogh, dan diakhiri penyelesaian akhir yang tajam dari Fet.
”Saya pikir kami sedikit beruntung hari ini. Kami sangat efektif, tetapi ini hanya penampilan biasa saja bagi kami hari ini. Ini hasil yang bagus, tetapi penampilan yang biasa saja,” kata Pelatih Bodo/Glimt Kjetil Knutsen.
Kemampuan bermain di ruang sempit turut menjadi kunci sukses Bodo/Glimt membongkar pertahanan rapat Inter yang dikomandoi Manuel Akanji. Saat Bodo/Glimt sukses memecah kebuntuan, para pemain Inter bak termakan suhu dingin Kota Bodo karena tidak kunjung bisa mencairkan kreativitas serangan yang membeku.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/19/30c864b2f0d10815f20584aa7a55b004-download_1_.jpeg)
Alih-alih kreatif dengan kombinasi umpan pendek, gol balasan Inter yang dilesakkan Pio Esposito 10 menit berselang lebih pada memanfaatkan kelemahan Bodo/Glimt dalam mengantisipasi umpan silang. Bola liar hasil umpan silang gagal dihalau bek Bodo/Glimt dan disambar Esposito.
Penampilan Inter lebih meningkat di babak kedua. Pelatih Cristian Chivu menginstruksikan dua bek sayap, Carlos Augusto dan Matteo Darmian, maju sejajar dengan dua penyerang, Lautaro Martinez serta Esposito. Dengan adanya empat pemain di lini depan, fokus penjagaan bek Bodo/Glimt terpecah.
Absennya para pemain yang biasa menjadi pusat kreativitas pun tidak begitu mereduksi ketajaman Inter. Tanpa Hakan Calhanoglu yang cedera serta Federico Di Marco yang dicadangkan, Inter bermain lebih berani. Dua bek, Alessandro Bastoni dan Francesco Acerbi, memulai serangan dari belakang, sedangan Akanji berposisi sedikit lebih maju di sayap kanan.
Hanya saja, Bodo/Glimt tampil lebih rapat sekaligus disiplin dalam mengantisipasi serangan Inter. Bodo/Glimt menggunakan formasi dasar 4-3-3 yang berubah menjadi 4-4-2 saat bertahan. Formasi 4-4-2 membuat area tengah Bodo/Glimt sangat padat sehingga Inter lebih banyak memusatkan serangan dari area sayap.
Di saat Inter fokus mengejar ketertinggalan, mereka dikejutkan dengan gol kedua Bodo/Glimt yang dicetak Jens Hauge pada menit ke-61. Gol Hauge memanfaatkan kelengahan bek Inter yang terlambat menutup celah besar di sisi kanan.
Belum hilang keterkejutan Inter, tiga menit kemudian Bodo/Glimt sukses menjauh setelah Kasper Hogh mencetak gol ketiga. Keunggulan Bodo/Glimt dalam bermain di ruang sempit lagi-lagi sulit dihentikan Inter setelah perangkap offside mereka dimentahkan Didrik Bloomberg yang kemudian menyodorkan bola kepada Hogh.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/19/76dd48fbc7396ad33d19fa8f8ad1c269-download.jpeg)
Unggul selisih dua gol, Bodo/Glimt memilih bermain aman dengan mempertebal pertahanan. Skor terebut dinilai sudah cukup sebagai modal bertandang ke markas Inter pada pertemuan kedua pekan depan. Mentalitas juara Inter sangat dibutuhkan untuk membalikkan keadaan.
”Kami terkejut dengan dua serangan balik mereka. Kami tahu mereka akan melakukan itu dan mereka sangat pandai melakukannya. Dalam tiga menit, mereka mencetak gol kedua dan ketiga dan kami mencoba melakukan yang terbaik agar bisa memperkecil selisih, tetapi sayangnya kami tidak berhasil. Namun, kami masih memiliki satu pertandingan lagi untuk dimainkan,” papar Chivu.
Kekalahan ini mengakhiri rangkaian enam kemenangan beruntun Inter di seluruh kompetisi. Setelah meraih kepercayaan diri dengan mengalahkan Juventus dalam lanjutan Liga Italia, langkah Inter justru terganjal tim semenjana dari Norwegia.
Bodo/Glimt sekali lagi membuktikan predikat pembunuh raksasa yang disematkan kepada mereka bukanlah kebetulan belaka. Setelah sukses memecundangi Manchester City dan Atletico Madrid, kali ini giliran Inter yang menjadi korban. City sudah lebih dulu membeku di Stadion Aspmyra saat kalah dengan skor yang sama seperti Inter.
Berkat kemenangan ini, Bodo/Glimt kian dekat sebagai tim Norwegia pertama yang melaju ke fase gugur Liga Champions sejak Rosenborg pada musim 1996-1997.
Pada laga lainnya, Newcastle United menang telak 6-1 atas Qarabag, Atletico Madrid ditahan Club Brugge, 3-3; sedangkan tuan rumah Olympiacos Piraeus dibekap Bayer Leverkusen, 0-2. (REUTERS)
Penulis:
I Gusti Agung Bagus Angga PutraEditor:
Yulvianus HarjonoPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra