Iran Kini dan Revolusi Islam 1979

Unjuk rasa dengan korban tewas mencapai ribuan pada awal 2026 mengingatkan kita pada peristiwa serupa di tahun 1979.

14 Jan 2026 10:50 WIB · Internasional

AP

Oleh Ignatius Danu Kusworo

Seiring dengan dibukanya saluran komunikasi secara terbatas, jumlah korban tewas akibat unjuk rasa di Iran melonjak hingga mencapai lebih dari 2.000 orang. Beberapa hari sebelumnya, kelompok hak asasi manusia yang berbasis di Amerika Serikat, HRANA, memverifikasi kematian 490 demonstran dan 48 personel kemanan.

Unjuk rasa yang dimulai sekitar dua minggu lalu awalnya adalah bentuk kemarahan atas perekonomian Iran yang memburuk. Dimotori para pedagang di Grand Bazaar, aksi ini segera mendapat simpati banyak kalangan.

Dalam foto yang diperoleh The Associated Press ini, warga Iran menggelar protes antipemerintah di Teheran, Iran, Jumat (9/1/2026).
Dalam foto dari Associated Press ini terlihat sebuah kertas bertuliskan ”Hiduplah Shah” (dalam bahasa Farsi), mengacu pada dinasti Pahlavi yang digulingkan dalam Revolusi Islam 1979, tergeletak di atas batu saat protes antipemerintah terjadi di Teheran, Iran, Jumat (9/1/2026).
Dalam foto yang diperoleh oleh Associated Press ini, terlihat warga Iran menggelar unjuk rasa antipemerintah di Teheran, Iran, Jumat (9/1/2026).
Dalam foto yang diperoleh oleh Associated Press ini, warga Iran terlihat berjalan bersama dalam rangkaian unjuk rasa antipemerintah di Teheran, Iran, Kamis (8/1/2026).

Dalam perkembangannya, unjuk rasa ini segera menargetkan rezim teokrasi, khususnya Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei yang berusia 86 tahun. Rekaman video yang beredar di media sosial menunjukkan para pengunjuk rasa di Teheran membuat grafiti dan nyanyian yang menyerukan kematian Khamenei, sebuah tindakan yang dapat berujung pada hukuman mati.

Data jumlah kematian terakhir yang mencapai 2.003 serta penahanan terhadap 16.700 orang selama unjuk rasa selama dua minggu ini mengejutkan dunia internasional. Jumlah itu mencapai empat kali lipat jumlah korban tewas dalam unjuk rasa Mahsa Amini yang berlangsung berbulan-bulan.

Foto yang diambil dari video antara Jumat (9/1/2026) dan Minggu (11/1/2026) serta beredar di media sosial menunjukkan gambar puluhan kantong mayat setelah tindakan keras di pinggiran ibu kota Iran, di Kahrizak, Provinsi Teheran.
Gambar yang diambil dari video UGC pada 12 Januari 2026 dan pertama kali muncul secara daring pada 10 Januari 2026 serta diverifikasi oleh tim AFPTV di Paris pada 11 Januari 2026 ini menunjukkan halaman Pusat Diagnostik dan Laboratorium Forensik Provinsi Teheran di Kahrizak dengan puluhan mayat dalam kantong yang diletakkan untuk anggota keluarga. Kelompok hak asasi mengatakan, mereka adalah korban dari tindakan keras dan brutal otoritas Iran terhadap pengunjuk rasa.
Gambar yang diambil dari video UGC pada 12 Januari 2026 dan pertama kali muncul secara daring pada 10 Januari 2026 serta diverifikasi oleh tim AFPTV di Paris pada 11 Januari 2026 ini menunjukkan halaman Pusat Diagnostik dan Laboratorium Forensik Provinsi Teheran di Kahrizak dengan puluhan mayat dalam kantong yang diletakkan untuk anggota keluarga. Setidaknya 192 pengunjuk rasa telah terbunuh dalam gerakan terbesar di Iran melawan republik Islam dalam lebih dari tiga tahun. Unjuk rasa, yang awalnya dipicu oleh kemarahan atas kenaikan biaya hidup, sekarang telah menjadi gerakan melawan sistem teokratis yang ada di Iran sejak revolusi 1979 dan telah berlangsung selama dua minggu.

Jumlah korban diperkirakan akan terus bertambah seiring makin represifnya aparat menanggapi pengunjuk rasa. Jumlah korban tewas tersebut jauh melampaui jumlah korban tewas dari aksi protes atau kerusuhan lainnya di Iran dalam beberapa dekade terakhir. Ini juga mengingatkan pada kekacauan yang terjadi saat Revolusi Islam tahun 1979 di negara itu.

Ayatollah Khomeini melambaikan tangan di luar rumahnya di Qom, Iran, 15 Desember 1979.

Revolusi 1979

Saat kepemimpinan Shah Mohammad Reza Pahlavi yang dimulai pada September 1941 setelah mewarisi kekuasaan dari ayahnya, masyarakat Iran mulai gerah dengan situasi politik serta korupsi dan pelanggaran HAM yang dilakukan rezim ini. Unjuk rasa yang awalnya kecil berubah menjadi besar dan merata di seluruh wilayah Iran.

Unjuk rasa yang mulai berlangsung dari tahun 1978 berlangsung berbulan-bulan hingga memasuki tahun 1979. Ayatollah Ruhollah Khomeini, yang berada di pengasingan selama 14 tahun setelah sempat dipenjara selama 10 bulan oleh Shah, menjadi salah satu motor penggerak unjuk rasa dari Paris, Perancis. 

Dalam foto file 19 Januari 1979 ini, lebih dari satu juta pendukung Republik Islam berkumpul di sekitar monumen Shayad, di Teheran, Iran.
Loyalis Khomeini memenuhi jalan di depan Kedutaan Besar Amerika Serikat pada 15 Februari 1979 di Teheran untuk melindunginya dan para penghuninya dari serangan orang Iran.
Shah Iran Mohammad Reza Palhavi dan Permaisuri Farah Palhavi (Farah Diba) tersenyum di akhir upacara pernikahan mereka di Teheran pada 21 Desember 1959.
Mohamed Reza Pahlavi dan istrinya, Permaisuri Farah Diba, disambut oleh Presiden Perancis Charles de Gaulle dan istrinya, Yvonne, ke acara seremonial sebagai bagian dari kunjungan kenegaraan resmi, di Paris, 12 Oktober 1961.
Dalam foto 9 Oktober 1978 ini, para pengunjuk rasa Iran berdemonstrasi melawan Shah Mohammad Reza Pahlavi di Teheran, Iran.

Khomeini melarikan diri dari Iran pada pertengahan tahun 1960-an karena takut ajaran-ajarannya akan ditindak oleh Shah. Setelah 37 tahun berkuasa, Shah diam-diam meninggalkan Iran pada 16 Januari 1979. Tak berselang lama, Khomeini kembali dari pengasingan pada 1 Februari 1979. Jutaan warga menyambut kedatangan Khomeini dan mengarak dari bandara sampai ke kota.

Sepuluh hari kemudian, pemerintahan Shah jatuh. Revolusi Iran mengubah secara mendasar struktur politik dari monarki menjadi sebuah republik Islam yang dipimpin oleh otoritas agama yang diproklamirkan pada 1 April 1979 dengan Khomeini sebagai pemimpin tertinggi pertama negara itu.

Foto file Senin, 15 Januari 1979 ini, ribuan orang menyanyikan "Hidup Khomeini" dan "Kematian bagi Shah" di depan sebuah masjid di Teheran.

Satu hal yang menarik adalah Reza Pahlevi, putra sulung Shah Mohammad Reza Pahlavi, yang digulingkan saat Revolusi Islam 1979, kini menyerukan unjuk rasa besar-besaran dari Amerika Serikat. Ini mirip yang dilakukan Khomeini dari Perancis waktu itu.

Ribuan korban tewas dalam unjuk rasa selama 1978-1979. Situasi Iran saat ini mengingatkan publik pada situasi yang  juga mirip di tahun 1979. (AP/AFP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Ignatius Danu Kusworo
 | 

Editor:

Iwan Setiyawan
 | 

Penyelaras Bahasa:

Teguh Candra